
"kau! seharusnya kau sudah mati! bagaimana kau?! Arghh!!" Jiao Yun geram, ia langsung menyerang An dengan chi secara menggila.
An menghindari semua serangannya dengan mudah, ia juga melihat keanehan pada tubuh Jiao Yun. Kulitnya memerah seperti terbakar, wajahnya juga dibanjiri dengan keringat.
"apa aku harus mengatakannya lagi? kau tuli ya?" cemooh An dengan terus menghindar.
tidak! bukan seperti ini! harusnya dia telah mati karena racun itu! kenapa?' Jiao Yun kemudian menyadari sesuatu dan menatap Ying dengan tajam.
Ying yang menyadari tatapan Jiao Yun menjadi gelagapan, ia berusaha untuk pergi menjauh seraya membawa kedua kepala milik adiknya.
"jadi benar karena kau ya? beraninya kau mengkhianati ku?" Jiao Yun yang semula menyerang An, kini berbalik untuk menyerang Ying, ia benar benar ingin menusuk jantungnya sekarang.
"hah?! kau mengabaikan ku?" An yang kesal karena diabaikan melihat celah pada Jiao Yun, ia langsung menancapkan belatinya ke perut Jiao Yun seperti yang Jiao lakukan pada Ying sebelumnya.
Jiao Yun meringis, tusukan itu benar benar menyakitkan, padahal hanya ditusuk oleh belati kenapa bisa sesakit ini? ' ia kemudian meraba tusukan itu dan menemukan cairan lengket di lukanya.
racun?'
"bagaimana rasanya? enak bukan?" An menatap Jiao Yun remeh.
"aku tak ingin bertarung dengan orang yang sudah sekarat." lanjutnya.
Jiao lalu berbalik sembari memegangi lukanya, ia menunduk dan tertawa kecil, dan lama kelamaan tawa itu menggema di semua arah.
"haha.. apa katamu? sekarat? kau tak boleh meremehkan ku, sebelum tau perbandingan antara kau dan aku!" teriak Jiao Yun, ia merentangkan lengannya dan merapalkan sebuah mantra.
Tak lama, awan hitam berkumpul di wilayah sekitar Kota Chengse, hujan pun mulai turun dengan deras, warga kota itu berlarian mencari tempat berteduh, beberapa warga kesal dan membicarakan seseorang yang digadang gadang sebagai [ Gadis Cuaca ].
Seluruh kota kini didatangi oleh badai, tak terkecuali bukit tempat pertarungan sedang berlangsung.
...****************...
Aku menatap Jiao Yun lekat, jujur.. aku sedikit kagum dengan kekuatan yang dimiliki olehnya, tapi kekaguman itu sirna ketika aku mendapat serangan dari gadis itu.
Angin yang menyerupai pedang dengan mudahnya menembus lenganku, untunglah itu bukan luka yang parah. Aku tak bisa melihat arah angin itu datang, Pandanganku terhalangi dengan derasnya hujan.
dasar hujan sialan.' gerutu ku, mungkin aku masih dapat menghindar jika tak ada hujan yang menghalangi pandangan ini, satu satunya cara menghentikannya ialah mendekat dan membuat konsentrasi Jiao hilang sepenuhnya.
Jiao Yun memang dapat membuat cuaca menjadi senjata, itu adalah hal yang mengagumkan, menurut informasi yang diberikan Jie, orang yang dapat mengendalikan cuaca sangat jarang, bahkan bisa dibilang langka. Bagaimana dia dapat menggunakannya? Tentu saja karena 'sesuatu' yang ia sembunyikan.
Adalah mustahil seseorang seperti Jiao Yun memiliki kekuatan seperti itu. Aku bukannya iri, tapi itu memang kenyataan.
__ADS_1
Tak ada yang bisa kulakukan sekarang, bagaimana caraku menghentikan nya? chi saja tak cukup untuk mengakhiri badai ini.
Sampai aku menyadari, hujan yang turun perlahan reda, angin yang semula menyerang ku pun perlahan menghilang, awan awan hitam yang berkumpul juga hilang entah kemana.
Tampak dari kejauhan Jiao Yun yang terduduk lemas, dengan nafas berkejaran. Dengan melihat sekilas saja, aku dapat mengetahui bahwa ia telah termakan kekuatannya sendiri.
Seperti yang kupikirkan, 'semua' ini bukanlah kekuatan miliknya, tapi milik alat sihir yang berada ditubuhnya. Benda itu semacam parasit yang menggerogoti inang secara perlahan.
Awalnya itu hanya perkiraan saja, tapi setelah 'suara' itu datang, aku menjadi yakin jika hal yang kupikirkan benar.
..."orang itu menggunakan alat sihir terlarang. Jangan rusak alat sihir maupun tubuhnya jika tidak ingin kerepotan."...
Aku masih tak mengerti, apakah itu sebuah ancaman atau peringatan. Yang jelas, itu adalah kenyataan.
...****************...
An berjalan mendekati Jiao Yun, gadis itu tampak menyedihkan. Ia terduduk dilantai seolah mengalami sakit yang luar biasa, seluruh tubuhnya juga melepuh seakan habis tersiram air panas.
An memandangi Jiao Yun dalam diam, entah apa yang dipikirkannya, ia lalu mengarahkan sebuah pedang yang dipungutnya tepat di jantung Jiao Yun.
"kau menyedihkan." gumam An.
"kau akan mati, tidakkah kau tau itu.. kak?"
"aku tahu.."
"padahal aku sudah bilang padamu, aku tak ingin melawan orang yang telah sekarat."
Jiao Yun tak merespon, ia hanya menatap tanah dengan tajam, seolah tak terima dengan apa yang telah terjadi.
"aku hanya ingin mempertahankan tempatku, aku tak ingin digantikan oleh orang seperti mu. Aku tak ingin tinggal dijalan yang dingin lagi.. Semua orang mencintaiku, mereka membutuhkanku.. " Jiao Yun terus bergumam, ia bahkan tak menyadari jika tubuhnya telah melepuh sepenuhnya.
ah.. entah kenapa, aku melihat sosok diriku yang menyedihkan darinya..' An merasa muak melihat Jiao Yun yang merengek seperti orang bodoh.
Tiba tiba suara langkah kaki berjalan mendekat ke arah mereka, muncul dua ekor monster dari balik bebatuan dengan aroma darah yang menyengat dari kedua monster itu.
"A-An! Lari!" teriak Ying dari kejauhan.
An masih terdiam di tempat, itu adalah pertemuan pertamanya dengan makhluk selain manusia selama ini. Tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak kencang, dan matanya berbinar.
"jadi.. itu 'monster'?" Sekali lagi An dibuat terpukau malam ini.
__ADS_1
Kedua monster itu mulai berlari mendekat ke arahnya dengan nafsu membunuh yang amat kuat.
"ha.. menakjubkan!" An lantas mengangkat pedangnya dan berlari ke arah monster itu dengan cepat, ia berpikir mungkin dapat menuangkan rasa kesalnya pada makhluk ini
An lalu menyerang monster itu dengan membabi buta, ia bahkan memotong monster itu layaknya memotong sayuran.
Jiao Yun serta Ying yang melihat pertarungan sepihak ini hanya bisa diam dan tak berani ikut campur.
"hah.. leganya." An mencabut pedangnya dari tubuh monster yang telah terpotong potong itu, ia membersihkan noda darah diwajahnya dengan perasaan senang. An bahkan melupakan kedua orang yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"sudah malam, pulang ah.. " dan benar saja, setelah menumpahkan kekesalan pada para monster malang itu, ia langsung pulang dan tak menghiraukan apapun lagi.
...•...
...•...
...•...
...•...
ILUSTRASI MONSTER MALANG YANG TERKENA PEMBANTAIAN SEPIHAK :
@CREDIT TO ORIGINAL ARTIST.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA.]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA NOVEL INI~]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^
__ADS_1