
Pertemuan dengan calon kakak berlangsung baik, kini An dan Chyou Wu akan bertemu satu minggu lagi untuk pergi ke kediaman Wu di ibukota. An sekarang telah keluar dari zona 'pasar malam' ia sedang berada di tengah keramaian, berdiri disekitar orang orang tanpa bergerak sedikitpun.
An mendongak, ia menatap langit dan membuka topengnya, "ternyata berguna ya." gumam An meraba telinganya. Sebuah anting dengan kristal berwarna safir persis dengan matanya melekat di sana. Ia kemudian berjalan seraya melepas jubah dan membuangnya di sudut jalan.
Ia terus berjalan, tak ada kerutan di wajahnya, hanya sebuah senyuman manis tertera di sana, semua orang terpana dengan senyuman yang ia tampilkan. An tak menghiraukan pandangan pandangan itu dan mengingat kembali kejadian satu jam yang lalu.
...****************...
"haa.. benar benar.." gumam Chyou dengan memijat kening, terlihat wajah tampannya yang masih memerah.
Tiba tiba ia mendengar suara langkah kaki dan mengangkat kepalanya, terlihat seorang gadis bertopeng rubah sedang mengintip dari balik dinding kedai yang rapuh.
"hei.. apa aku bisa meminta tarif awalnya Youyo?" ucapnya pelan tapi masih dapat didengar.
Chyou terkekeh sembari menggeleng geleng kan kepalanya, ia lalu mendekati gadis itu dan bersandar disalah satu tiang, "apa yang kamu inginkan adikku?"
An membuka jubah, menyingkap rambutnya dan menunjukkan telinganya, "apa kau punya sesuatu untuk menghalangi banyaknya suara masuk ke sini?"
"hm? apa kebangkitan mu membuat indera pendengar menjadi lebih kuat?" tanya Chyou seraya memegang telinga An.
dingin!'
"iya! makanya aku tambah tak suka keramaian.." jelas An sambil menjauhkan kepalanya, "tapi.. kenapa kau bisa tau Youyo?"
padahal aku sudah menekan auraku sebelum kemari..'
"kau pikir hanya dengan sedikit menekan auramu, kau bisa menipu mataku?" seru Chyou bangga.
"itu tak menjawab pertanyaan ku si paling hebat!"
"haha.. anggap saja aku sama sepertimu.." Chyou lalu membuka tangan dan keluar sebuah simbol teratai tepat di telapak tangannya, "nih, mungkin ini dapat membantu.. tapi ku sarankan agar kau tak memakainya di acara khusus.. Akan ada banyak informasi terlewat jika kau memakainya." jelas Chyou dengan memberi An sepasang anting berwarna safir, anting yang sederhana namun sangat elegan.
"ini alat sihir? bagaimana bisa keluar dari tanganmu?"
"aku akan jelaskan jika kau sudah ikut denganku." Chyou melipat kedua lengannya dan tersenyum puas.
"dasar manusia picik." gumam An.
"begini begini aku kakakmu." Chyou tersenyum penuh kemenangan.
Dengan perasaan jengkel An lalu mendekatkan anting itu ke telinganya dan tanpa disangka, anting itu menempel dengan sendirinya, "a--apa??"
"anting itu dapat merasakan chi yang mengalir di tubuhmu, makanya ia berinisiatif untuk tinggal, yah pada dasarnya semua benda pusaka akan memilih tuannya, makanya tadi aku sudah menyiapkan beberapa lagi jika anting itu tak mau bersamamu." ucap pria itu dengan santai.
"benda pusaka?? aku mintanya alat sihir sederhana, apa kau mau aku tak lepas darimu karena balas budi?" An geram dan tanpa sadar ia mulai menunjuk nunjuk dada Chyou.
"hm~ entahlah, sepertinya itu ide bagus?"
__ADS_1
Di saat An ingin melepaskan anting itu, antingnya seakan seperti sebuah lem yang tak dapat dilepaskan, "he.. hei! kenapa tak mau lepas??"
"kan tadi sudah kubilang dia itu mau menempel denganmu, dia tak mau denganku lagi."
"ugh.. tapi aku tak mau.." gumam An dengan menatap Chyou tajam.
"Terima saja, itu adalah tarif paling tepat yang bisa kuberikan padamu." pinta Pria itu dan hanya dibalas anggukan pelan oleh An.
"aku pergi ya, makasih!" seru An yang berniat pergi.
Chyou berjalan mendekati An dan berbisik di telinganya, "jangan tekan auramu, itu hanya akan membuatnya meledak kapanpun.. Rasakan dan serap aura yang keluar agar pertumbuhan chi mu berkembang. Itu lebih baik daripada meledak."
An mengangguk kembali dan bergumam, "makasih.. kak."
...****************...
"keluarga.." gumam An, "itu adalah satu satunya hal yang tak boleh kumiliki ya?" ia terus berjalan, pikirannya kusut seperti benang, sampai sampai An tak menyadari jika ia telah menabrak seseorang.
Suara tabrakan itu mengundang tatapan penasaran orang sekitar, An tersungkur jatuh dan meringis, "ah! siapa.." saat ia mendongakkan kepalanya seorang lelaki tampan berambut hitam panjang, sebuah tahi lalat kecil di samping mata sebelah kiri dan bermata hitam pekat, ia juga memakai sebuah anting giok dengan rumbai sutra di telinganya.
"ma.. maafkan aku nona, maaf aku akan membantumu untuk berdiri" lelaki itu menjulurkan tangan.
An menatap pria itu sinis lalu tersenyum kembali, tanpa satupun aba aba, An langsung menggenggam tangan lelaki itu berharap ia ikut terjatuh, namun hasilnya ia malah dapat berdiri tanpa membuat pria itu bergetar sama sekali.
apa apaan? kuat sekali dia. aku bahkan tak melihat sedikit chi pun..'
"tak masalah, ngomong ngomong apa ada yang terluka? sakit tidak?" tanya pria itu dengan memeriksa tubuh An.
"tidak.. aku baik kok."
sepertinya aku pernah lihat orang ini, dimana.. ya?'
"--na.. "
"nona!" teriak lelaki itu dan cukup membuat An untuk kembali sadar dari lamunannya.
"ah.. ada apa?" tanya An sambil memiringkan kepalanya.
"ini sudah tengah malam, apa yang dilakukan gadis sepertimu disini?"
"aku.. aku sedang lihat festival! meriah ya? haha.." An tertawa dengan canggung.
"astaga.. kau bisa melihatnya besok atau kapanpun.. ini benar benar sudah larut bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" ucap Pria itu iba.
"apa maksudmu?"
aku tak suka nada bicaranya itu, menyebalkan!'
__ADS_1
"kau bisa saja dirampok ataupun dibawa ke rumah bordil kan? bukankah itu hal yang menakutkan?!" Pria itu memasang muka memelas.
"oh.. ya? haha.. sepertinya itu buruk." An melirik sekitarnya, banyak orang sedang memperhatikan mereka berdua, karena belum terbiasa dengan keheningan didalam keramaian, perlahan ia jadi agak kurang nyaman.
"kalau begitu aku akan pulang saja, Terima kasih sudah mengingatkanku." disaat An ingin pergi, pria itu menahan tangannya dan berbisik, "itu.. apa aku boleh mengantarmu?" ucapnya grogi.
An secara tak sengaja memasang wajah jijiknya tanpa mengingat jika ia tak mengenakan topeng, Lelaki itu seketika berbicara gagap dan menjadi salah tingkah.
"a--aku tak memiliki maksud aneh kok! ha--hanya saja aku merasa bersalah karena menabrak mu, makanya izinkan aku berjalan bersamamu, ya?"
tidakkah itu lebih aneh lagi?!' protes An dihatinya, walau demikian ia tetap mengizinkan pria itu ikut dengannya sampai ke 'penginapan' tempat ia tinggal.
"ah aku lupa namaku Lu! kamu?" seru Lu menjulurkan lengannya untuk bersalaman.
"Aku Yan.."
sial.. daftar namaku bertambah lagi.' batin An pasrah.
"Yan.. nama yang cantik, tapi aku punya nama yang lebih pas untukmu." Lu berjalan menghadap langit dan memutar mutar jarinya, ia kemudian menatap An dan menampilkan senyuman manis di bibirnya, "Annchi! kamu tau artinya?"
An menggeleng geleng kan kepalanya, "apa?"
"artinya seorang bidadari yang cantik.."
Wajah An yang mulanya datar tanpa ekspresi kini berubah menjadi merah, "ha.. haha itu nama yang cantik."
aish aku geli mendengarnya!' seru An dihatinya berusaha sekuat tenaga untuk tak memecahkan tawa yang tersimpan ini.
Selama diperjalanan mereka mengobrol satu sama lain, obrolan yang dapat dianggap aneh jika orang lain mendengarnya. "hei.. kau tau wakil penasihat Kekaisaran? ia dirumorkan ia... " jelas Lu panjang lebar.
mulutnya seperti Jie, bahkan lebih parah lagi.. aku kasihan pada teman temannya yang selalu curhat. Tapi, ini sangat berguna untukku yang sebentar lagi akan pergi ke sana.. "ibukota".'
An terus mendengarkan ocehan Lu yang menurutnya sangat bermanfaat, mungkin anak ini terlalu suka membaca koran sampai sampai banyak topik yang keluar dari mulutnya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^