
"uh.. sepertinya aku tak bisa menunda hal ini ya.." gumam An sembari menutup matanya yang telah terkena cahaya redup celah jendela.
Tubuhnya masih tak bisa diajak untuk bekerja sama, ia membalikkan badan kesamping dan menikmati ranjang dingin nan empuk itu sendirian. An mengingat kembali mimpi yang baru saja ia lihat, mimpi yang telah terjadi semalaman namun terasa begitu singkat.
"wanita tua sialan, jika bukan karena dia aku tak akan kesusahan begini." gumam An dengan setengah kesadaran.
Kesadarannya baru datang ketika mengendus aroma lezat yang berasal dari luar kamar, langkahnya berat tapi tak bisa menghentikannya untuk mencari tau aroma apa itu.
An beranjak dari ranjang dan merenggangkan tubuhnya, ia kemudian berjalan keluar kamar dan melihat semuanya bersih mengkilap, An yang sadar jika ada orang lain selain dirinya mulai meningkatkan rasa kewaspadaan, yang ia dengar hanyalah suara memotong tanpa tambahan apapun.
Gadis itu dengan pelan berjalan ke dapur, dilihatnya seorang gadis muda berambut pendek tengah memasak makanan di sana. Ia melirik meja makan yang telah penuh dengan hidangan.
"siapa kau?" tanyanya dingin pada gadis itu.
Gadis muda itu tertegun, ia menoleh ke arah An, wajahnya menampakkan senyum sumringah yang tiada dua, "selamat pagi Nona kedua! apa tidur anda nyenyak?" sapanya ramah.
An diam sejenak dan akhirnya mengerti akan situasi sekarang, "iya, sangat nyenyak. Ngomong ngomong apa yang kamu lakukan disini? seingatku tak ada yang bersamaku selain kakak pertama sejak datang kemari." sahut An dengan kata kata yang lebih ramah lagi.
"astaga, saya lupa.. perkenalkan Nona, saya Arum.. orang yang akan menjadi pelayan anda mulai sekarang, senang bertemu dengan Anda!" ucap Arum antusias seraya memberi hormat, terlalu bersemangat sampai sampai matanya tak dapat dilihat.
Arum? nama yang sangat jarang untuk orang orang barat huh?' batin An heran, namun kewaspadaannya turun ketika melihat kembali meja yang telah penuh dengan makanan yang sama sekali belum pernah ia temui.
"oh, Arum ya? baiklah mohon bantuannya ya, Arum." balas An dan langsung duduk dimeja makan, "apa ini boleh ku makan?" tanya Gadis itu dengan sok polos.
"tentu saja Nona! ini tidaklah seberapa, tapi saya membuatnya dengan setulus hati saya!" timpal Arum langsung, ia lalu mendekat dan menuangkan sebuah jus jeruk yang sepertinya buatannya sendiri, "silahkan dinikmati Nona! saya akan membuat makanan penutup, jadi Anda bisa memakannya dengan santai." jelas Arum.
An hanya mengangguk menanggapi perkataan pelayan baru itu.
enak' batin An tanpa ekspresi, ia melirik gadis itu, menilainya dari atas kebawah dan mendapat sebuah kesimpulan, ternyata dia sungguh menyayangiku ya? sampai sampai mengirimkan orang paten begini.' batinnya puas.
__ADS_1
yah.. walau disini aku harus berlagak seperti pecundang, tapi tak masalah karena upah yang ku terima sepadan.'
Setengah jam telah berlalu, An telah selesai menyantap makanan dan juga selesai membersihkan tubuhnya. Tak ada keraguan lagi, Arum sangat kompeten sebagai pelayan, ia enerjik, cepat, antusias, juga cepat tanggap.
Dan.. selama berada disini, sepertinya ia tak perlu mempermasalahkan perhiasan, makanan ataupun pakaian. Karena sudah ada orang yang mengurus hal itu.
Kini An sedang duduk di taman, menyaksikan Arum yang sedang membersihkan semua daun di sana. "Arum.." bisik An pelan.
"iya Nona?" walau pelan ia mendengarnya, entah karena tempat itu sepi ataupun karena pendengaran gadis itu memang sebagus dirinya.
"kenapa kau mau menjadi pelayan ku?" tanya An dengan wajah manisnya sembari memiringkan kepala.
Arum masih terus menyapu, walau begitu ia tetap membalas perkataan An dengan santai, "karena saya berpikir ini hal yang menyenangkan!" serunya girang.
"menjadi pelayan seorang anak haram menyenangkan?" timpal An.
"bukan, maksud saya.. menjadi pelayan seorang Adik tuan muda pertama adalah hal yang menyenangkan." ujarnya dengan sedikit penekanan di salah satu kata.
"kalau begitu, jika aku bukan adik kak Youyo, apa kau tak mau lagi menjadi pelayan ku?" tanya An lagi.
"tergantung Nona, jika anda menyenangkan saya akan tetap melayani anda."
Dikala itu, An dapat menilai jika Arum memiliki sebuah ketertarikan maka ia akan mengejar ketertarikan tersebut sampai ia puas, itulah yang sekarang sedang ia lakukan.
"tanggung ya.. kalau gitu sekali lagi deh, apa saja yang kau bisa, Arum?" ujar An masih menampilkan senyum keahliannya.
"saya bisa memasak, bersih bersih rumah, sedikit bertarung jarak jauh, memberikan anda informasi, juga.. membasmi beberapa serangga yang nantinya akan menghalangi jalan anda." tegas Arum.
Angin berhembus ketika pembicaraan itu terhenti, dedaunan yang telah disapu oleh Arum kini berserakan kembali, namun gadis itu tak menghiraukan nya dan malah menatap An dengan rasa ingin tahu yang amat rumit.
__ADS_1
"hm.. bagus, aku suka orang sepertimu. Tapi kau harus tahu Arum, di dunia ini kita hanya membutuhkan satu orang pemimpin, tidak kurang, ataupun lebih." dilihatnya mata Arum yang bergetar setelah mendengar perkataan itu, "bersihkan serangga serangga yang ada disekitar paviliun, jangan sampai ada yang tersisa." titahnya pada Arum.
ketika telah selesai dengan obrolannya, An berdiri dan pergi keluar dari area paviliun sendirian tanpa meminta Arum untuk mengikutinya.
"ternyata.. dia benar benar adik ketua. Sifat yang menyebalkan itu sangat mirip" gumam Gadis itu, "hanya satu pemimpin kah? kira kira siapa yang bakal kupilih ya?" lanjutnya seraya kembali membersihkan halaman.
"dasar anak bodoh, harusnya ia langsung memilihku dong." umpat An sambil berjalan jalan didekat taman rumah utama.
"padahal paviliun ini jauh dari paviliun lain, tapi kenapa tempat ini yang paling dekat dengan rumah utama?" gumam An bertanya tanya, di saat ia tengah melihat sekeliling, suara bisik bisik yang samar memasuki telinganya.
"Nona.. anda tak boleh begini, anda adalah orang terhormat.. sedangkan saya.. " ucap ragu seorang Prajurit muda didepan gadis berambut ikal, yang tak lain adalah Mingmei Wu--- anak dari bibi keempat sekaligus saudara termuda yang ada pada keluarga.
"hei, diam lah. Bukankah aku sudah melarang mu untuk membahas hal itu jika kita tengah berduaan?" goda Gadis itu pada kekasih hatinya, mereka terus mengobrol tanpa mengetahui dibalik tembok tempat mereka bermesraan sudah ada sesosok setan bertanduk yang memiliki senyum licik mengerikan.
"dapat~" seru An girang, ia lalu pergi dari sana dengan santai dan melanjutkan perjalanan berkeliling kediaman.
Disaat yang sama, Mingmei yang memiliki kepekaan cukup tinggi memiliki firasat tak enak untuk masa depannya, kenapa aku merasa dingin ya?' batin Gadis ikal itu masih terus bermesraan dengan kekasihnya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
__ADS_1
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^