
"hah.. hah.. hah.. capek.. " ucap An dengan nafas tergesa gesa, "tubuh sialan! kenapa lemah sekali? aku harus menambah latihan fisik untuk menambah imun tubuh loyo ini." serunya sembari mengelap keringat yang mulai bercucuran.
Padahal ia hanya berkeliling rumah utama, dan sekarang masuk ke area tempat latihan kediaman Wu, namun nampaknya ia tak mengetahui hal tersebut.
Suara suara pelan lainnya kini kembali memasuki indra pendengar An, suara hentakan kaki, suara nafas yang terputus putus, suara hentakan pedang yang tak berhenti disertai suara perintah dari seorang lelaki.
"apa itu?" gumam An, ia lalu melanjutkan langkah berat untuk melihat apa yang ada didepannya, ketika sampai An disambut dengan sekumpulan prajurit yang tengah berlari tanpa memakai pakaian atasnya, "hah? area latihan?" dengan mata masih menatap lekat para prajurit muda yang berotot dan penuh keringat itu.
sial mataku ternodai..' batinnya, ia lalu merasakan sebuah tatapan tak jauh dari sana, dibawah sebuah pohon yang rindang tampak seorang lelaki berpakaian rapi tengah menatapnya dari atas sampai bawah. Dia Jiazhen Wu--- anak dari bibi ketiga, sekaligus kakak laki laki kedua An, yang merupakan Tuan muda kedua keluarga Wu. Memiliki paras rupawan, berambut perak, dan mata sebiru safir, terkenal acuh pada wanita dan memiliki kebiasaan buruk jika sedang melatih para prajurit lain.
"kenapa dia melihatku begitu?" bisik An, langkahnya terhenti di sana, ia tak mau mendekat lebih dari itu, tapi siapa yang menyangka? Lelaki itu---Jiazhen Wu kini sedang berjalan lurus mendekat ke arahnya.
Beberapa menit sebelum An datang, Jiazhen sedang dalam perasaan kesal karena ibunya selalu menegaskan untuk ikut dalam pertandingan perebutan hak ahli waris keluarga, tapi ia yang lebih memilih menjadi seorang Jenderal militer berusaha untuk menolak tegas permintaan itu, sampai sampai terjadi keributan di kediaman bibi ketiga pagi ini.
"hei kalian! cepat keliling lapangan sampai 30 putaran! jika ada yang berhenti, aku akan mencambuk orang itu dengan tanganku sendiri!" teriak Jiazhen pada para prajurit.
"BAIK WAKIL KETUA!" seru semua prajurit itu, mereka kemudian berbaris dan berlari secara teratur di lapangan yang seluas stadion sepak bola.
"sepertinya mood Tuan Muda kedua tengah buruk." bisik salah seorang prajurit dengan nafas tak teratur.
"ya.. makanya cepat lari sebelum kau dicambuk." balas temannya dengan berbisik bisik.
sial.. jika begini mereka tak akan ada kemajuan! orang orang payah!' batin Jiazhen kesal dan terus mengoceh tanpa henti.
Ocehannya terhenti ketika ia sadar ada seseorang yang sedang menuju kemari dengan nafas tak beraturan seperti baru saja selesai berkeliling lapangan, ia melirik orang itu, "dia?"
Jiazhen tahu anak itu, baru kemarin ia melihatnya dan selalu dibicarakan oleh para pelayan di sepanjang perjalanannya ke tempat latihan. Lian Wu, seseorang yang digadang gadang sebagai anak dari bibi kedua yang telah lama hilang.
Entah apa sebab bocah itu hilang beberapa tahun lalu, sekarang kakak pulang dan membawanya tanpa bertanya terlebih dahulu.' batin Jiazhen menilai An yang tengah terengap-engap.
lihat dia, dia kecil dan kurus sekali.. aku bahkan tak bisa merasakan chi ditubuhnya.. tubuh anak itu juga pucat seperti seorang mayat.' ujar Jiazhen telah selesai menilai An.
__ADS_1
kenapa dia diam disitu? bukankah dia mau berjalan kemari?' Lelaki itu menatap para prajurit yang tengah berlari dengan malas dan kembali menatap An, menegurnya sedikit bukan hal buruk bukan? lagipula kami saudara' lanjut Jiazhen dengan niat jahil yang menyelimuti tubuhnya.
Ia berjalan mendekat, menatap gadis kecil didepannya dengan mata penuh keingintahuan, "yo!" sapanya pada gadis itu.
haha! lihat mata kebingungannya itu!' batin Jiazhen makin tertarik.
"ngapain kau? kok nafas mu tak beraturan begitu?" tanyanya seraya melempar minum pada An.
"aku.. habis jalan.. jalan, Tuan muda kedua." ucap An dengan pelan masih kelelahan.
Pemuda itu membelalakkan matanya dan tertawa kencang, "haha! apa kau bilang? tuan muda kedua? haha!" ujarnya masih tak bisa menahan tawa.
apa sih? dasar orang gila, untung saja dia memberiku minum kalau tidak sudah ku tumbuk wajah tampan menyebalkan itu.' oceh An dihatinya seraya meremas botol minum pemberian Jiazhen.
"apa.. ada yang lucu? kenapa anda tertawa?" tanya An masih menahan emosinya dengan senyuman yang amat manis.
"ah.. tidak, aku hanya kaget kau memanggilku begitu. Padahal kau memanggil kak You dengan sebutan kakak." jelas Jiazhen menghapus air matanya.
"jadi.. anda tertawa karena saya memanggil anda Tuan muda kedua?" tanya An lagi, tapi Jiazhen tak menghiraukan pertanyaan itu dan malah tertawa lebih kencang lagi. Bahkan para prajurit yang tengah berlari seketika berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
orang ini..' batin An dengan tangan yang terkepal, siap untuk memberikan hadiah pada Lelaki didepannya itu.
"ah.. maaf maaf.. kau sungguh unik. Bicara santai saja tak usah formal begitu, kita kan saudara." ucap Jiazhen berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat kebanyakan tertawa.
"memangnya boleh begitu?" balas An spontan karena rasa kesalnya.
Lelaki itu memiringkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan itu, "tentu? kenapa tidak?"
"semua orang sepertinya tak suka jika aku bergaul dengan semua anggota keluarga lain, jadi aku bertanya untuk berjaga jaga saja." gumam An dengan membuang mukanya.
anak ini.. dilihat dari mana pun dia adalah anak kecil, kenapa dia bicara seakan sudah merasakan pahit manis kehidupan begini?' batin Jiazhen, ia kemudian menatap sekitarnya, dan ternyata memang benar, para pelayan dan penjaga, semua orang yang lewat ditempat itu akan menatap ke arah mereka dengan tatapan sinis sekaligus tak suka. Seakan berkata, "dasar anak rendahan!".
__ADS_1
"kau tak perlu mendengarkan perkataan orang lain, selama kau memiliki kekuatan yang lebih dari mereka, orang orang itu tak bisa menyentuh mu dengan mudah." tegas Pemuda itu sambil membukakan tutup botol yang dipegang An, "lagipula kau itu 'Wu', tak akan ada orang yang berani menyentuhmu. Kau juga tak perlu memikirkan perkataan mereka, karena seseorang yang berhak atas dirimu adalah kau sendiri." lanjutnya sembari menepuk kepala An pelan.
Semua orang yang awalnya menatap sinis sekarang menatap An dengan tatapan tak percaya, mata mereka membulat sempurna dengan mulut yang menganga. "Tuan muda kedua?!" seru mereka kompak didalam hati.
Ditengah pembicaraan itu, Jiazhen yang tadinya terbuai dengan perkataan An mendapatkan kesadarannya kembali, ia menarik kembali tangannya dan membuang muka ke arah tempat latihan, "jika sudah selesai minum, ayo ikut aku. Akan aku tunjukkan cara melatih prajurit kediaman Wu!"
sial! apa yang kulakukan! sudah sok akrab, sok menasihati pula!' batin Jiazhen meronta ronta. Ia kemudian melihat para prajurit yang dengan serius melihat aksinya, tingkat malu Jiazhen saat ini pun telah sampai batas maksimal.
"hei kalian! hebat ya berhenti di tengah latihan! putaran kalian ku tambah menjadi 50 putaran! cepat ulang dari awal!" teriak Jiazhen dengan muka yang amat merah.
Para prajurit yang terkejut mulai berlari karena takut terkena semburan wakil ketuanya.
"kak.. wajahmu kok merah? gerah ya?" tanya An menggoda Jiazhen.
"a.. apaan sih?! iya gerah karena kau membuatku berdiri dibawah matahari terlalu lama!" seru Pemuda itu sambil mengipas ngipas wajahnya.
haha lihat bocah ini, dia malu ya?' batin An puas berhasil menipu kakaknya dengan sikap sok memprihatinkan.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^