Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.43 Sang Dalang


__ADS_3

Sang Goblin kembali ke atas panggung dengan senyum yang tersimpul di wajahnya, "maaf atas ketidaknyamanannya, tanpa basa-basi lagi saya persembahkan barang spesial hari ini!"


Beberapa orang pelayan membawa sebuah kandang besar yang tertutup dengan kain hitam, para tamu mulai bergemuruh dan meminta untuk segera diperlihatkan isi dari kandang tersebut.


Dengan senang hati, Sang Goblin menarik kain kandang, terlihatlah seorang wanita cantik tanpa busana dengan penuh luka cambukan di punggungnya menatap datar semua orang.


Tanpa menghiraukan tatapan kosong wanita itu, banyak bangsawan segera menaruh harga atas dirinya, wanita itu bergumam, selalu bergumam. An yang sedari tadi mendengarkan ocehan wanita itu memiringkan kepalanya dan berbicara pelan, "mau aku bantu? keluar dari sana."


Seakan bisa mendengarkan An, wanita itu menatapnya dan mengangguk pelan. Penawaran wanita itu kini sudah menembus angka 20.000 Dang, penawaran keenam hari ini. Para lelaki bangsawan sangat berminat pada wanita itu, apalagi setelah melihat lekukan tubuh yang menggoda.. siapa lelaki yang tak tertarik?


"30.000 Dang" seru An seraya mengangkat papan angka miliknya, keheningan melanda tempat itu, semua mata penuh rasa penasaran dan benci tertuju pada An.


"wah! penawaran ketujuh dengan total 30.000 Dang! apakah ada yang ingin menawar kembali?!" teriak Goblin membara, tak mau kalah dengan orang baru, para bangsawan hidung belang itu mulai menaikkan harga dengan cepat, yang awalnya 30.000 dang, dalam hitungan detik menjadi 35.000 dang. Itu adalah harga gila untuk seorang budak dari rakyat jelata.


"50.000 dang." potong An dalam semua kegaduhan itu, semua orang membelalakkan matanya, walaupun mereka sangat menginginkan tubuh wanita itu, mereka tak akan mau membayar seorang rakyat jelata seharga dengan satu rumah mewah.


Mereka diam, Sang Goblin yang awalnya penuh semangat kini juga keheranan, "dari mana datangnya orang gila ini?!" batin semua orang yang ada di sana.


Wanita bercadar yang sedari tadi diam pun, mencoba untuk melirik An sekilas, di saat itu bulu kuduknya merinding karena tatapan mata yang seakan berkata, "kau mengerti?"


"a.. apa ya?" tanyanya seolah tak tahu.


"bayarkan itu untukku ya, rekan." sahut An tanpa dosa sedikitpun.


dasar siluman!'


"te--tentu.. apapun untuk rekanku.. " balas Wanita itu dengan terpaksa.


jika saja mata pedagang ku ini melihat kau tak berguna, aku akan membuangmu jauh jauh! ' batin kakek tua yang memantau jauh dari tempat itu.


"kau mirip cucuku ya.. "


"kenapa?"


"kurang ajar." sindir Wanita itu sembari tersenyum.


"terimakasih, jangan lupa bayar wanita itu." ucap An acuh tak acuh dengan sindiran wanita marrionet.


Lelang berakhir dengan hadiah utama yang dibawa oleh pria rubah dan wanita bercadar merah, di saat mereka keluar, semua mata tertuju pada mereka.


Entah karena mereka acuh atau tak peka, An juga wanita bercadar itu sama sekali tak menghiraukan semuanya.


Mereka akhirnya sampai di kasir tempat pengambilan barang, wanita bercadar itu mewakili An untuk mengambil barang miliknya, sedangkan Gadis itu sendiri kini bersandar di dinding dengan wajah kusutnya.

__ADS_1


"hah.. aku benci insting baik tubuh ini." gumam An menggaruk rambutnya yang tak gatal.


An yang sedang melamun dikejutkan oleh wanita itu dari depan, "kenapa sih? ayo! disini benar benar sesak." terlihat dibelakangnya seorang wanita berambut perak yang memakai baju compang camping, dengan tatapan kosong dan sebuah rantai di lehernya berjalan mengikuti wanita bercadar itu.


"lepaskan benda itu." tunjuk An pada rantai yang dipegang wanita itu.


"apa? nanti dia kabur bagaimana?! " seru wanita bercadar itu geram.


"biarkan saja. Lagipula itu uangmu bukan uangku, cepat lepas." titah An yang sepertinya tak mau dibantah.


Dengan berat hati, wanita bercadar itu melepaskan rantai budak yang terpasang di gadis berambut perak tersebut.


An mendekat dan bertanya pelan, "siapa namamu?" karena gadis itu sedikit lebih tinggi, An harus mendongak untuk melihat wajahnya.


"saya.. tak memiliki nama, master." tuturnya pelan.


master? siapa, aku?' batin An yang menatap heran pada gadis itu.


"kau bilang apa?" tanya An.


"saya.. tak punya nama, master." ucap Gadis itu lagi dengan kepalanya yang miring.


"bisa gila aku.. " gumam An memegangi kepalanya.


"anda bisa membuatkan saya nama, master.."


"wah.. dia kurang ajar sama sepertimu." timpal Wanita bercadar itu dari belakang.


An melirik tajam padanya dan memusatkan kembali pikirannya pada gadis itu, "nama.. " An menatap rambut perak gadis itu yang bersinar terkena cahaya bulan, "bulan.. sinar.. perak.. ah! Xia?" lanjut An.


"Xia.. Xia.. terima kasih master, saya sangat senang.. " ujar Xia dengan wajah merona.


hm.. apa reaksinya jika tahu aku wanita? ' batin An.


"Xia, karena aku sudah membebaskan mu, kau harus membalas kebaikanku bukan?"


"tentu master, apapun untukmu." sahut Xia sopan, jika ia didandani dan dibawa ke pesta bangsawan tak akan ada yang tahu kalau dia adalah seorang budak.


"ikutlah orang itu, pelajari semua yang kau lihat darinya." perintah An sembari menunjuk wanita bercadar yang ada dibelakangnya.


"ya--tunggu! apa?! bukankah kau keterlaluan? aku juga butuh privasi!" geram wanita bercadar itu tak Terima.


"kenapa? aku hanya minta kau untuk menampungnya sebelum aku menjemputnya."

__ADS_1


"kau kira itu! ah sudahlah! aku lelah berdebat denganmu semalaman!"


"makasih." ucap An dengan nada yang lembut.


"hentikan, aku jijik mendengarnya." terlihat bulu kuduk wanita itu berdiri, mereka akhirnya sepakat untuk membiarkan Xia ikut dengan kakek tua itu selama An membuatkan posisi mantap untuknya.


Mereka pun berpisah setelah pembicaraan yang panjang, di saat Xia ikut dengan kakek tua itu, An kini mengarah ke sebuah tempat yang nantinya akan rata dengan tanah.


"sampai, kedai budak." gumamnya ketika melihat puluhan orang mengantri untuk masuk kedalam, "orang orang gila.. " lanjut An lagi disaat melihat tubuh manusia baik itu mati, atau hidup bertaburan dimana mana seolah mereka sedang berjualan sayuran.


Gadis itu lalu berjalan masuk lebih dalam dan menemukan segerombolan orang yang mungkin adalah inti dari semua kegilaan ini, banyak orang mendekat pada gerombolan itu yang sepertinya ingin membuat kesepakatan dagang bersama.


"Jiang.. ternyata benar ya." gumam An masih mengendalikan emosinya.


Sebelum mampir ke sini, ia sempat mendapat informasi dari kakek tua itu bahwa Lee Jiang menggunakan topeng kulit manusia untuk menutupi wajahnya, "jika dilihat sekilas memang terlihat seperti wajah asli."


Lelaki itu juga dengan tak tahu malunya datang secara terang terangan dan menandatangani kontrak dengan orang orang ditempat terbuka, "aku benar benar ingin mencabik tubuhnya dan mengeluarkan semua organnya." emosi An hampir saja meluap, namun ia menahannya karena melihat beberapa orang yang baru tiba di sana.


Orang orang yang memakai jubah hitam panjang dengan liontin teratai emas pada bahu mereka, "itu.. Chyou!" An bergegas pergi dari sana tanpa melihat lebih jauh apa yang terjadi.


"ada apa ketua?" tanya salah satu prajurit disamping Chyou.


"tak apa, aku hanya merasakan sesuatu yang familiar."


aura tadi terasa seperti milik An.. apa itu dia? ' batin lelaki itu, tapi ia segera membuang jauh jauh pemikiran itu dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


"daripada itu, ayo selesaikan ini dulu." titah Chyou pada semua prajurit dibelakangnya.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...


...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...

__ADS_1


__ADS_2