
Pada waktu yang sama, tepatnya di area pasar gelap yang tertembus oleh sebuah kristal besar mengerikan. Banyak orang datang untuk menyaksikan apa yang terjadi di sana.
"mengerikan, jadi kristal itu yang membuat gempa tadi malam?"
"daerah ini tak aman, bukankah kaisar harusnya mengirim lebih banyak pasukan?"
"ini bukanlah perang, lagipula putra mahkota, jendral muda dan orang orang hebat lainnya sudah ada di sini!"
"wakil jendral---Tuan Jiazhen Wu dan adipati Kekaisaran---Tuan Jun juga ada di sini! jika mereka berempat ada di satu tempat yang sama, bukankah itu sama saja dengan dilindungi kesatria para dewa?!"
Para rakyat yang mencoba menenangkan hati mereka terus menerus membanggakan pahlawan Kekaisaran, Kaisar sendiri---Shao Qi tak terlalu menampakkan diri dalam kasus ini, ia malah meminta putra mahkota untuk mengambil alih dan tak berniat menyentuhnya sama sekali.
"itulah pikiran orang yang tak mengerti jalannya cerita.." gumam sang putra mahkota---Aiguo Qi, ditengah keramaian yang menyesakkan dan sinar matahari yang membakar kulit, ia harus berada di sana sampai sang Jendral muda berhasil meledakkan kristal besar dihadapannya.
Dengan pakaian yang rapi dan bersih ia tetap mengawasi, sangat berkebalikan dengan Chyou Wu yang saat itu sudah terlihat berantakan dan tertutupi oleh debu.
"toh jika aku tak hadir juga, Chyou akan menyelesaikan tugas ini." oceh Aiguo sembari melipat tangannya kesal.
"kalau seperti itu, rakyat akan tak mempercayai anda sebagai calon kaisar dan lebih mempercayai Tuan Chyou yang hanya sebatas jendral Kekaisaran." potong sang adipati yang tak tahan mendengar celotehan tak berguna putra mahkota.
"berisik Jun, aku tak pernah meminta kau bergabung dalam ucapanku," Aiguo terhenti sejenak dan mengedipkan mata oranyenya berulang kali saat melihat keramaian.
bukankah itu Nona Lian Wu?' batinnya saat melihat siluet seseorang ditengah keramaian, tapi ia langsung menyangkal pemikirannya dan membicarakan hal yang harusnya dibicarakan.
"tapi.. ini terlalu rapi untuk dibilang ketidaksengajaan, kedai budak yang telah lama ku pertimbangan untuk dihancurkan, malah hancur dengan sendirinya tanpa ada satupun korban dari para budak." Aiguo melirik beberapa anak yang diangkat melewati kristal besar itu menuju tempat aman yang lain.
"kristal yang seolah bencana bagi orang yang terlibat malah menjadi penyelamat bagi anak-anak itu, apa mereka masih tak memberitahukan sesuatu?" lanjutnya yang kembali melihat Jun.
"tidak, kami sudah membujuk mereka sebisa mungkin, tapi ucapan mereka selalu saja sama, mereka tak mengetahui apapun." sahut Jun datar.
Lelaki berambut biru tua itu dengan pasrah mengacak-acak rambutnya, "satu hal yang bisa dipastikan, dia.. membenci bangsawan." ucap Aiguo dengan pelan.
"sudahlah, apa orang menyebalkan itu memahami situasi kita?" sela Aiguo malas.
"ya.. Tuan Gong sudah menyetujui untuk menampung para korban sebagai permohonan maaf karena segel pasar buatannya rusak."
"hm, baguslah. Tapi kau tak perlu memanggil saudaramu sendiri dengan kaku begitu bukan? walau bagaimana pun, Yelu Gong tetaplah saudaramu." sindir putra mahkota, Jun tak berkutik dan hanya menghela nafas pelan.
"benar, saya juga mengkhawatirkan nasib Kekaisaran jika berada di bawah tangan Anda." Jun kembali menyerang dengan perkataan yang tak kalah menyakitkan.
"hah? apa kau bilang?" senyum kecil putra mahkota kian menghilang dan dari matanya tersorot setitik api kekesalan.
__ADS_1
Disaat sedang sibuk beradu mulut satu sama lain, Chyou dan Jiazhen menghampiri mereka berdua untuk memberitahukan jika para korban sudah selesai evakuasi dan meminta kedua lelaki itu untuk ikut andil menghancurkan semua kristal dihadapan mereka.
Karena hampir semua warga ingin ikut menyaksikan penampilan para pahlawan, jalanan pasar kini sangat sepi. Hanya ada beberapa warga yang berlalu lalang, hal itu tentunya memudahkan An untuk pergi ke tempat yang biasanya terlihat ramai.
"dasar.. kau bahkan tak menutup jendela dengan benar ya, kakek tua?" cetus An pada Wenhua yang tengah asik minum teh sendirian.
"jika ditutup juga akan kau rusak, apa kau tak tahu seberapa mahal jendela itu?" kakek tua itu mengerutkan keningnya lalu membiarkan An untuk masuk dan duduk disampingnya.
"ngomong-ngomong, angin apa yang membuatmu datang tanpa menggunakan topeng badutmu?" goda Wenhua yang berusaha bersikap biasa saja saat melihat wajah dari teman seperjuangannya.
"entahlah? lagipula cepat atau lambat kau juga akan melihatnya kan. Dan, apa kau tak mau memberikan sesuatu padaku?" pinta An yang selalu tanpa berbasa-basi.
"dasar, padahal sebagai bangsawan harusnya kau belajar tentang basa-basi dari saudaramu, Nona Lian Wu." Wenhua dengan pasrah mengambil beberapa kantong dang dan menyerahkannya pada gadis kecil itu.
"iyakah? aku tak punya waktu melakukan transaksi melelahkan seperti ini dalam waktu yang lama," setelah selesai menghitung semua uangnya, ia kemudian membuka segel teratai hitamnya dan mengeluarkan banyak sekali lukisan dan vas antik.
Sontak pria tua yang awalnya cemberut itu kegirangan dibuatnya, "ha! dimana kau mencuri semua benda cantik ini, aku bahkan tak tega untuk melelang semuanya."
"dasar, bukannya berterima kasih karena aku telah menghilangkan dokumen kejahatanmu, kau malah mengatakan hal bodoh." sindiran yang dilontarkan An bak panah di siang bolong bagi Wenhua.
Memang benar, karena semua surat perjanjian itu memiliki segel yang mengekang pihak kedua. Mudah saja mematahkan segel itu jika tahu formula segelnya, dan secara kebetulan An mengetahui formula itu dari buku yang ia dapat melalui perpustakaan tua di kediamannya.
"iya iya, aku sangat berterimakasih karena kau tak menyerahkan ku pada Kekaisaran~" ujar kakek tua itu dengan terpaksa.
"eh, gadis? oh gadis berambut perak itu? yah.. dia ada dibawah, sepertinya sedang latihan. Aku akan memanggilnya." tutur kakek Wen yang langsung memerintahkan salah satu pelayan untuk memanggil Xia.
Keheningan terjadi untuk beberapa saat, tak lama pria tua itu membuka pembicaraan kembali dengan fakta yang tak masuk akal, "hei apa kau sudah mengetahui hal ini, makanya kau membelinya?"
"apa maksudmu?" sahut An keheranan dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"fakta jika gadis perak itu, adalah mantan seorang elf,"
"APA?!" potong An dengan nada yang memekikkan telinga. Ia lantas memukuli dadanya yang terkejut dan hampir mati akibat tersedak kue kering.
"kukira kau tahu, ternyata hanya hoki ya?" sedikit aura penyesalan menyelimuti kakek Wen, seolah ia mengatakan hal yang harusnya disembunyikan.
"ku perjelas saja sekarang, dia itu mantan Elf. Entah keberuntungan apa yang diberikan padamu, tapi dia itu seperti harta karun!" Wenhua memperjelas kalimatnya dengan mengatakan jika budak yang diambil dari makhluk selain manusia dan siluman sangat jarang, apalagi menggunakan makhluk hutan yang dianggap suci diberbagai tempat.
"darimana kau mengetahuinya?" tanya An yang masih tercengang.
"telinganya.. juga kekuatan alam yang benar-benar tak masuk diakal," setelah mengatakan itu, pintu didobrak dan seorang gadis berambut perak bergelombang masuk ke dalam.
__ADS_1
Dengan mata hijau muda yang menenangkan dan berbinar, ia langsung berlari dan memeluk An dengan erat, "saya merindukan Anda, master!" sapa Xia ceria.
"huh?! kau kenal denganku?" celetuk gadis yang masih mempertahankan posisi duduknya.
"tentu saja! aroma anda sangat harum, persis seperti pertemuan pertama kita!" sahut Xia yang mendapatkan gelengan pelan dari satu satunya pria di sana.
"kau ini, padahal jika denganku tak pernah tersenyum." cibir kakek Wen merasa dibedakan.
Xia dan kakek Wen terus beradu mulut seperti kucing dan tikus, An yang duduk bersebelahan dengan Xia terus memandangi telinganya yang seolah dipotong untuk menutupi kebenaran tentang kaumnya.
pasti ada alasan mengapa dia pergi dari hutan, setahuku Elf adalah kaum yang rasa persaudaraannya sangat tinggi. Jarang sekali mereka membuang saudara sendiri..' batin An yang membuatnya termenung lama.
"..lalu, master! kapan anda membawa saya pergi dari sini? disini membosankan sekali~" ungkap Xia dengan melebarkan kedua lengannya dan menekankan kata bosan.
"hm.. apa kau sudah mendapat semua tekniknya?"
Xia mengangguk kegirangan, "tentu saja! saya sudah menguasai semuanya!"
dengan spontan, gadis perak itu berdiri dan memamerkan sebuah teknik benang sutra yang tajam bak pisau, benang itu sangat ringan dan indah, dibalik semua itu benang ini juga berfungsi sebagai pemotong yang tajam.
An sontak bertepuk tangan, ia mengacungkan kedua jempolnya dan membuat Xia makin senang.
"cepat bawa dia! aku bisa mati kekeringan jika dia tetap ada disini!" pinta kakek Wen seraya memijat keningnya yang berkerut.
"ya.. dari awal itulah tujuanku kemari, tapi.. kau harus melakukan sebuah pertunjukan terlebih dahulu, Xia." ucap An penuh senyuman.
Seperti tahu apa yang akan gadis itu lakukan, kakek Wen hanya dapat menggelengkan kepalanya sebagai tanda syukur jika salah satu bebannya hilang dari pandangan.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
...@tharazerow (๑'ᴗ')ゞ...