
"nona! tuan muda pertama meminta saya untuk membuatkan anda teh hangat!" teriak Arum dari balik pintu.
sudah tidur ya?' batin Arum dengan menaikkan sebelah alisnya, ia diam menatap pintu sejenak dan membukanya untuk memastikan.
"tidur toh.." gumam Arum melihat An yang terbaring lelap bersama tumpukan buku di ranjang.
Ia mendekat, menaruh cangkir teh di meja dan menarik selimut An sampai menutupi setengah wajahnya, "kau bilang aku harus memilih bukan? kalau begitu buktikanlah, kepantasan mu untuk menjadi tuanku." bisik Arum sembari membelai rambut An.
"padahal jika diam begini anda imut.. Nona." Arum tersenyum, ia beranjak dari ranjang An dan pergi meninggalkan secangkir teh yang tadi ia bawa.
Kamar itu seketika hening, An masih tertidur dengan lelap. Dari balik pintu yang telah lima menit ditinggalkan, terdengar gerutu dari seseorang, "kukira dia akan bangun, ternyata beneran tidur ya..tak seru." keluh Arum seraya berjalan pergi.
Ketika dipastikan tak ada orang di sana, An membuka mata dan merenggangkan ototnya, "fanatik, aku juga tak mau menjadi tuannya."
An membiarkan semua buku berserakan dan tak lupa ia memakai topeng rubah dan pakaian serba hitam miliknya, ia melirik secangkir teh yang disiapkan oleh Arum dan mencium aromanya, "teh biasa."
Gadis itu melompat keluar jendela dan bergerak sesuai peta yang telah tertanam di kepalanya, setelah sampai di gerbang ia berusaha untuk tak mencuri perhatian penjaga dan melompat keluar. Tak lupa An memakai anting safir pemberian dari Chyou dan berjalan dengan riang menuju patung emas.
An akhirnya sampai di alun alun kota, di sana semua orang masih ramai berlalu lalang, tepat di depan sebuah patung emas, banyak pemuda, orang yang menggunakan topeng juga berjubah berdiam diri tanpa suara, ia mendekati rombongan itu dan berbisik dengan salah seorang pria didekatnya, "kenapa kalian berdiam diri disini?"
Pria itu hanya melirik An sekilas dan membuat isyarat tangan agar An diam, tak lama mata patung emas tersebut berubah menjadi gelap, sebuah pelindung muncul dari atas kepala patung itu dan seakan menelan orang yang berada didalam jangkauannya.
An merasakan pusing sesaat ia menutup mata, tubuhnya berguncang dan matanya menjadi berat. Setelah beberapa waktu mengalami hal itu, ia dapat membuka matanya dan melihat bahwa ia telah masuk ke area pasar malam, sama halnya dengan di kota Chengse, yang membedakan hanyalah kedai kedai besar layaknya pasar ibukota.
"tenang saja, sakitnya akan hilang ketika kau telah melihat keindahan tempat ini." ujar Pria yang tadi meminta An untuk tak bersuara, ia memakai topeng hitam setengah wajah dan jubah biru panjang.
"yah, sekarang tak sakit lagi." balas An seraya mengambil jarak aman dengan Pria itu.
"apa kau tak penasaran kenapa hal itu terjadi? atau bagaimana ada orang yang bisa membuat itu terjadi?" Pria itu memegang dagunya sambil berjalan mendekat.
"tidak, lagipula tak ada kaitannya denganku bukan?" An merenggangkan otot lehernya dan berjalan pergi meninggalkan Pria itu, seakan tak mau kalah, pria itu ikut berjalan pelan mengikuti An dari belakang.
"hei, kau mencari apa? aku tahu seluk-beluk tempat ini, mau kedai informasi? pelelangan? toko senjata? tempat budak?" tawar Pria asing itu.
Langkah An terhenti saat ia mendengar tempat budak yang dikatakan Pria itu, "budak?" tanya An sinis.
__ADS_1
"oh! kau tertarik?" Pria itu mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar, "Yelu! kau?"
"An." balas gadis itu singkat dengan suara datarnya, ia hanya membalas uluran tangan itu dengan tepukan tangan yang secepat kilat.
".. namamu manis ya, jadi kau mau tahu tentang budak?" tanya Yelu memastikan.
"bukan, aku ingin tahu siapa ketua yang mengoperasikan perbudakan itu."
"kenapa? bukankah kau juga tak mengenal orang orang yang dijadikan budak? lagipula, semua budak itu adalah keluarga bangsawan bangkrut dan rakyat jelata." Yelu mengucapkannya ringan, ia melirik An namun tak dapat melihat reaksi yang diberikannya.
"aku tak pernah bertanya tentang itu, yang ingin kutahu adalah orang yang mengoperasikannya."
"kalau begitu maaf ya, aku tak bisa memberitahumu, itu adalah privasi milik pasar ini." ucap Yelu sambil menggaruk kepalanya.
An hanya menatap Yelu dan pergi tanpa berkata sepatah katapun, "waktuku terbuang sia sia hanya untuk obrolan tak berguna." gumamnya.
Melihat An yang semakin pergi menjauh, Yelu tersenyum kecil dan bergumam, "An.. An ya?"
Tak lama, seseorang berjubah hitam panjang datang dan memberi hormat pada lelaki itu, "tuan, tuan muda Wu pertama sedang menunggu anda."
Setelah pergi meninggalkan orang asing tadi, An masih berjalan ringan menyusuri jalanan malam itu, ia melihat kedai kedai disekelilingnya sembari mencari pelelangan hijau yang dikatakan orang orang tadi siang.
"pelelangan hi.. hoo.." kalimatnya terputus ketika melihat sebuah bangunan besar yang dipenuhi batu zamrud gemerlap, tepat didepan bangunan itu semua orang berkumpul menunggu untuk masuk ke sana.
An mencoba ikut mengantri dan sampailah giliran ia masuk ke sana, seorang penjaga yang menjaga pintu masuk kemudian mengulurkan tangannya, "silahkan tiket anda."
"aku tak punya, tiket itu. " jawab An dengan enteng.
"kalau begitu anda tak bisa masuk, silahkan pergi." ucap penjaga itu acuh tak acuh.
"dimana aku bisa mendapatkannya?"
"terserah."
"nada bicaramu menyebalkan ya?" gumam An masih menahan emosinya, penjaga itu hanya melirik dan tak menghiraukan.
__ADS_1
Melihat terjadinya keributan, seorang wanita yang merupakan salah satu pelanggan menghampiri An, "aku ada dua tiket, kau mau satu?" timpal wanita itu disela sela perdebatan.
An menatap wanita itu dan mengerutkan keningnya, " dua menit, kau jaga tempatku." ia lalu berbalik dan pergi dari sana meninggalkan kerumunan orang yang sedang menggerutu menunggu untuk masuk ke dalam.
Dua menit telah berlalu, semua orang sudah mulai kesal karena mereka masih belum bisa masuk, "sudah dua menit, berikutnya." seru penjaga itu.
Tiba tiba, beberapa tamu yang ada di bagian belakang berteriak secara histeris, "astaga! orang gila!" teriak salah seorang wanita bangsawan.
An muncul dengan tangan mengepal yang berlumuran darah, ia maju ke depan tanpa menghiraukan tamu tamu yang berkomentar terhadapnya, ia mendekati pelayan itu dan memberikan sebuah tiket berlumuran darah dari tangannya, "puas?"
Penjaga itu menelan saliva nya kasar, ia yang pada awalnya menatap An dengan angkuh kini menatap tanah, "silahkan tuan, selamat bersenang-senang."
Gadis itu masuk tanpa menghiraukan penjaga, sebelum membuka pintu ruang lelang ia berhenti dan melirik seorang wanita dibelakangnya, "kau mau ini?" ujar wanita itu sambil memberikan saputangan nya.
An menerima sapu tangan itu dan mengelap seluruh darah yang menempel pada lengannya, "kau ini selalu nganggur ya, kakek tua." ucap An pelan, dari balik topeng, ia melirik wanita itu yang sekarang tersenyum layaknya orang gila.
"padahal aku sudah memakai tubuh asli loh, bagaimana kau tahu?" wanita itu mengambil saputangan dan membuangnya di sembarang arah.
"mau itu plastik ataupun daging asli, tak bisa dipungkiri jika sebuah boneka tetaplah boneka."
Wanita itu tersenyum, ia membukakan pintu dan menunduk memberi hormat pada An, "sebaiknya kita masuk dan mencari tempat duduk, semua orang tengah menunggu giliran mereka."
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^