
"kenapa kakak lama sekali? sebenarnya apa yang dia bicarakan?" gumam An yang melipat tangannya kesal.
"mungkin sedang membicarakan tentang dalang dibalik semua ini Nona.." jawab Lang lalu spontan memberikan beberapa buah potong.
"memangnya kenapa? bukankah dia menolong para budak itu? dia juga menjebloskan para bangsawan bersalah ke penjara." kesal gadis itu dan menjauhkan camilannya.
"itu memang benar, tapi beliau harusnya memperhatikan lingkungan sekitar juga, jika saja dia tak membuat api yang terlalu besar dan sulit dipadamkan, mungkin beberapa rumah penduduk akan selamat," Shu menjeda ucapannya karena melihat raut wajah An yang tak bersahabat.
"tapi.. saya juga setuju dengan orang itu yang bersikap adil pada para penjahat! dia juga sudah menyelamatkan orang-orang yang tak bersalah, benarkan Lang?" lanjutnya seraya meminta bantuan pada Lang untuk menjelaskan, namun sayang lelaki itu tak mengerti dan malah mengangguk seadanya.
An hanya dapat menghela nafasnya dan mulai mengemil buah potong yang diberikan. Namun entah mengapa, perasaan An selalu gelisah, tak tahu apa yang salah di sana, dia terus melihat ke arah gelas teh kosong yang telah ia minum.
Gadis itu mengangkat gelasnya kembali dan berpura-pura untuk minum guna mengendus gelas tersebut, "baunya terasa familiar, tapi ini bukanlah teh yang biasa ku minum.."
"bisakah kau menuangkan tehnya?" pinta An pada pelayan yang sedari tadi melayani kebutuhannya, ia tak kenal pelayan itu, pelayan itu terlihat sangat tenang dan sama sekali tak menatapnya dengan tatapan sinis, terlalu tenang dan membuatnya merasa tak nyaman.
Dia terus memperhatikan pelayan itu saat menuangkan tehnya, tak ada yang salah, aromanya pun masih sama. Namun dengan cepat mata An menangkap sebuah tato kecil di lehernya yang berbentuk bunga teratai hitam.
"hei, aku baru pertama melihatmu, apa kau orang baru?" ucap An sembari mendekatkan wajahnya pada pelayan itu.
Dengan sedikit terkejut, gadis pelayan itu menjauhkan wajahnya dan tak membiarkan An untuk mendekat sedikitpun, "saya bekerja di paviliun utama Nona, saya jarang keluar, ini pertama kalinya.."
"oh baiklah aku mengerti." potong An, ia kemudian melirik Lang dan Shu untuk memberikan pandangan yang seolah berkata agar waspada, mereka berdua mengangguk tanda mengerti.
Di saat pelayan itu ingin membuatkan teh baru, Shu mengikutinya dan membiarkan Lang untuk tetap berada di sisi An.
"kau merasakannya? sepertinya dia bukan pelayan biasa.." bisik An tenang.
"ya Nona, orang itu memiliki tingkatan Chi yang cukup tinggi dan bisa menyembunyikannya dengan baik." sahut Lang pelan.
"kau bisa melihatnya?" imbuh An agak terkejut.
Lang menggeleng dan mendekatkan sedikit wajahnya, "saya bisa mengendus aromanya, sama seperti anda sekarang yang memiliki aroma yang cukup pekat." ia kemudian menjauhkan kembali wajahnya, dan memberikan tanda agar rahasia ini tak diketahui orang lain.
"aroma ya.. ternyata bisa begitu.."
Tak lama, Chyou keluar dari tenda yang berhubungan dengan tenda An, dibelakang lelaki itu terdapat beberapa prajurit, salah satu prajurit itu berhasil membuat An membelalakkan mata dan menaikkan emosinya.
Lelaki bertopeng putih yang memiliki simbol teratai hitam di bawah mata kanan itu, sangat familiar di mata An. Lelaki itu adalah satu dari anak buah bibi Bao yang ada didalam mimpinya, sekaligus salah satu dalang dibalik kematian 'dirinya'.
__ADS_1
Karena menatap terlalu tajam, mata An bertemu dengan mata lelaki itu, tampak ia sedikit menyipitkan matanya dan mengangguk pelan. Ingin rasanya ia tak membalas anggukan itu, namun untuk menghilangkan segala kecurigaan, ia pun ikut mengangguk kecil dan melambaikan tangannya pada Chyou.
Setelah mereka keluar, An memfokuskan pandangannya pada Lang dan bertanya dengan sinis, "siapa dia?"
"jika anda bertanya tentang pria bertopeng itu, dia adalah komandan pertama dari pasukan teratai milik Tuan You. Komandan teratai hitam, Tuan Hong Shen." jelas Lang singkat dan padat.
An mengindahkan perkataan Lang, ia terus memutar otaknya dan beberapa saat kemudian memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan.
Lang yang melihat itu seketika panik dan ingin pergi keluar untuk mencari bantuan, di saat itu juga An menarik lengan Lang dan membuatnya terdiam.
"jangan mengatakannya pada siapapun, ini perintah." ancam gadis itu sambil melotot pada Lang, lelaki itu dengan pasrah mengangguk dan memapah An untuk keluar dari tenda.
aku harus bergegas pulang, efek samping teknik gila itu kembali muncul. Dan malah semakin parah!' batinnya, kepala An terasa mau pecah, penglihatannya kabur dan tubuhnya terasa panas. Seakan anting pemberian Chyou tak berfungsi, semua suara dengungan masuk ke pendengarannya yang membuat An semakin tak tahan.
"ini berbeda.." gumam An dengan nafas terengah-engah.
"apa? Nona apa yang kau katakan?"
"ini bukan efek samping.." ketika bersusah payah melangkah ke kereta, An baru menyadari jika sakit yang ia rasakan bukan sekedar efek samping dari teknik yang digunakannya, melainkan sesuatu yang baru masuk ke tubuh mungilnya.
"...ini, racun." bisik An pada Lang yang tengah membopongnya, lelaki itu membulatkan mata dan merasakan jika An tak lagi bergerak, dia telah pingsan ditempat setelah mengatakan hal tersebut.
"Nona? Nona! Tuan! Tuan Chyou tolong!" teriak Lang yang menarik perhatian semua orang, bahkan seseorang yang baru sampai di tempat itu.
"APA?" Jiazhen menghentikan langkahnya dan menjatuhkan dua sate buah ditangannya, matanya bergetar dan ia langsung berlari menuju gadis yang tengah pingsan itu.
"bagaimana bisa dia pingsan?! bagaimana kau menjaga adikku brengsek!" teriak Jiazhen dengan merebut paksa tubuh An dari Lang.
"racun! teh Nona Lian diracuni!" seru Shu berlari menghampiri mereka dengan sekuat tenaga, dengan masih terengah-engah ia mengeluarkan sebuah tas serut kecil berisi bubuk racun, "seorang pelayan memasukkan racun ini pada teh yang diminum Nona, Tuan muda!"
"apa katamu?" tekan Chyou, dengan dua kata itu, semua orang yang ada di sana bergidik ngeri, mereka lalu memusatkan pandangan mereka pada Chyou yang menunjukkan kemurkaan di wajahnya.
"seorang pelayan.. memasukkan racun ini pada teh Nona Lian." ulang Shu yang merasa mual karena aura yang ditekankan oleh Chyou di sekitar tempat itu.
Dia hanya bisa terdiam, ia melirik sekilas racun itu dan kembali memusatkan perhatiannya pada tubuh An yang pucat dan panas, Jiazhen lalu memberikan tubuh adiknya itu pada Chyou dan memasang kembali pedang di pinggangnya.
"cari orang itu, jangan sampai aku turun tangan dan membunuh semua pelayan yang datang kemari." titah Chyou yang berbicara dengan datar, sudut matanya berkerut dan pembuluh darah tampak tegang di lehernya.
Secara perlahan aura yang ia keluarkan menghilang dan semua prajurit bisa bernafas lega.
__ADS_1
"laksanakan, Ketua." sahut Jiazhen yang berusaha menahan emosinya, berbanding terbalik dengan Chyou yang telah terlihat tenang, pria satu ini benar-benar menunjukkan amarah di wajahnya, matanya melotot dan rahangnya menegang.
Dengan langkah yang mantap, ia mendekati Shu dan Lang, "salah satu diantara kalian, ikut denganku." perintahnya yang kemudian membawa Shu untuk ikut menangkap pelayan itu.
Lang lalu memikirkan apa yang dikatakan An di tenda, ia ingin mengatakan jika ada orang yang dapat dicurigai, tapi instingnya mengatakan untuk tidak membicarakan apapun.
"kenapa? kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Chyou tanpa melihatnya karena masih melindungi kepala An dari goncangan kereta, dia mau saja membawa An menggunakan kuda, tapi Lang melarangnya karena dapat membahayakan keselamatan gadis itu.
"tidak.. tidak ada ketua. Saya hanya.. mengkhawatirkan Nona.." lirih Lang, mata cokelatnya bergetar saat menatap gadis yang ada dihadapannya itu.
"kau tak perlu mengkhawatirkan adikku, tugasmu disini hanya melindunginya, dan kau sudah satu kali membuat kelalaian," Chyou mendongakkan kepalanya dan menatap sinis pada Lang.
aku tak membunuh mereka karena Lian tampak sangat menyukainya, jika saja ada sesuatu yang terjadi pada adikku..'
"kuharap kau dan temanmu tak membuat kesalahan kedua. Karena tak ada alasan bagiku untuk tak membunuhmu di kesempatan kedua." lanjut Chyou masih mengernyitkan wajahnya.
"baik Ketua, sekali lagi.. maafkan saya." Lang menundukkan kepalanya, ia tak mampu menatap kedua orang didepannya.
padahal ini pertama kalinya kami bertemu setelah sekian lama, apa gunanya janji itu jika aku membiarkan tuanku menderita?' batin Lang yang merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan gerbang kediaman Wu, terlihat beberapa pelayan yang telah menunggu di sana, Xia termaksud didalamnya.
Dengan hati yang gembira ia ingin menyambut kedatangan tuannya, tapi yang dia dapatkan adalah tubuh seorang gadis yang telah terkulai lemah dalam pelukan kakaknya sendiri.
"panggilkan tabib! cepatlah!" teriak Chyou seraya berlari menuju paviliun.
Xia yang melihat itu ikut bersama kepala pelayan pergi ke tempat pengobatan keluarga Wu dan memanggil tabib Chang untuk pergi ke paviliun bambu, tempat di mana An tinggal.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
__ADS_1
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@tharazerow (๑'ᴗ')ゞ...