Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.47 Rencana (2)


__ADS_3

"aku kembali bibi." sapa An pada bibi penjual yang menghela napas ketika melihatnya.


"astaga.. bagaimana bisa pakaianmu itu menjadi seperti ini?" tanya bibi saat ia melihat pakaian An yang sobek di mana mana, "kau seperti pengemis!"


"haha.. makasih loh bibi." sahut An dengan mencoba untuk tak berkata kasar, "bibi, bisakah kau membantuku? belikan baju yang sesuai untukku. Kalau bisa baju formal dan jubah panjang," An kemudian memberikan satu kantong kecil dang pada wanita itu.


Dengan berat hati, bibi penjual setuju untuk membelikan An pakaian dengan syarat dia akan menjaga lapak untuknya.


kalau kutolak dia tetap akan kukuh memaksaku.' batin wanita itu pasrah.


"tentu, aku akan menjaganya untukmu!' An menyahut dan duduk ditempat bibi itu menunggu, beberapa menit sejak wanita itu pergi, belum ada perubahan di sana, dia lalu melihat jam besar yang ada didekat tenda dan menunjukkan pukul satu malam.


"jika yang kudengar benar, 'dia' akan sampai.. sekarang." setelah mengatakan itu, sebuah kereta kuda bangsawan datang, kereta yang amat mewah dan dijaga oleh tiga pengawal yang terlihat seperti orang orang kuat.


Kereta mewah itu terhenti tepat di depan tenda utama, persis seperti yang An dengar dari pembicaraan Rushin dan rekannya jika mereka akan mengadakan rapat bersama kolega besar tepat jam satu malam.


Sesaat setelah kereta berhenti, seorang wanita yang memakai topi lebar dengan kain yang menutupi wajahnya keluar dan berjalan masuk ke tenda, terlihat pula beberapa orang datang untuk menyambut wanita itu. Hanya dengan melihatnya sekilas saja, An sudah sangat yakin jika orang itu adalah bibi pertama.


"selamat datang, Nyonya Bao." bisik salah satu dari mereka.


"ha! menggelikan." An tertawa kecil ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut orang itu, tiba tiba salah satu penjaga yang dibawa oleh bibi pertama menengok ke arah An dan menatapnya dengan sinis.


"wo~ lihatlah anjingnya itu.." An lalu melambaikan tangan padanya yang berjalan masuk mengikuti tuan mereka.


"nah, aku akan bersabar untuk menunggu salah seorang dari kalian keluar," gadis itu kemudian bersandar dan memejamkan matanya.


15 menit berlalu sejak ia mulai tertidur, An terbangun kala mendengar suara gaduh yang berasal dari sekitarnya, tentu salah satu suara itu berasal dari tenda utama.


"uh.. apa? sudah selesai? padahal aku baru memejamkan mata.." keluh An, ia merenggangkan otot dan berusaha untuk mengalahkan rasa kantuknya.

__ADS_1


Ketika itu, rombongan kolega mulai berhamburan keluar dengan Lee Jiang yang mengantar mereka. Emosi An seakan tersulut setelah melihat wajah dari pemilik kedai budak itu, "aku ingin mencabik kulitnya itu.. bagaimana wajahnya jika kubuat cacat ya?"


Gadis itu lalu memalingkan wajahnya dan melihat rombongan yang lain, ia kemudian melihat rombongan bibi pertama yang berjumlah 3 orang termaksud wanita itu sendiri, An menyadarinya, sebuah hawa membunuh melihatnya dari kejauhan.


An beranjak dari tempatnya, dan tersenyum layaknya orang gila, "mungkin kali ini aku harus melakukannya dengan lebih cepat."


Gadis itu lalu mulai berjalan kembali ke lapangan kosong tempat ia menghabisi nyawa Rushin, sesaat ia memasuki lapangan yang berantakan itu, dua buah belati menghampirinya dari arah yang berlawanan dengan amat cepat, seperti sebuah bumerang dan pedang yang tercampur menjadi satu.


An menghindarinya dengan langsung menundukkan tubuhnya hingga ke tanah, ia lalu meloncat ke depan dan menoleh kebelakang, sedetik setelah ia menoleh, seorang wanita yang berpakaian serba hitam seperti dirinya menyerang dengan dua buah belati secara bersamaan.


"cekatan huh?" ujar wanita itu yang langsung meloncat kebelakang, ia kemudian berlari kembali ke arah An dan menyerangnya dengan ganas.


tunggu.. sepertinya aku familiar dengan suara ini?' batin An seolah kenal dengan orang di depannya, namun ia tak menghiraukan itu dan mulai menyerang balik.


"jangan sombong hanya karena kau menang di awal." cemooh An, ia lalu mengeluarkan tongkat kayu yang diambilnya dan diarahkan ke depan, sewaktu wanita itu ingin menyerang An menggunakan belati lagi, An menodongkan tongkat dan membuat sebuah kristal tajam tumbuh diujung tongkatnya.


Wanita itu terkejut dan meringis, walau ia cepat, ia tak akan bisa menghindari sesuatu yang sudah ada didepan mata. Karena hal itulah, mata kiri wanita itu tertusuk dan terluka sangat parah.


dia telaten. Hanya karena matanya terluka bukan berarti kalah ya?' batin An cukup kagum dengan wanita itu.


"kenapa kau menyerang ku?" ucap An ditengah pertarungan.


"topeng jelekmu itu mengganggu." cibir wanita itu masih bertahan menggunakan satu belati, ia terus memegangi matanya dan tak bisa menyerang balik.


Karena mendapat jawaban tak terduga, An terus menyerangnya dengan emosi yang meledak tanpa alasan.


Tanpa pernah ia bayangkan, sakit kepala yang telah lama hilang akhirnya kambuh disaat yang tak tepat. An seketika terhuyung dan hampir terjatuh.


Sakit kepala yang ia derita disaat ada banyak kerumunan orang, muncul ketika ia tengah bertarung melawan satu orang wanita. Sakit yang lebih parah dari biasanya, seolah kepala gadis itu dihujani banyak pedang. Ia meringis, memegangi kepalanya dan hampir menjatuhkan tongkatnya.

__ADS_1


Wanita yang ada di depannya melihat celah itu dan langsung berlari untuk menusuk perut An, karena terfokus dengan sakit kepalanya, An yang tak menyadari serangan itu akhirnya tertusuk tepat diperut sebelah kanan.


Wanita itu mencabut belati nya dan menyeringai, "impas." bisiknya dan berniat ingin melarikan diri dari sana.


"sial." gumam An, seperti sedang kerasukan, An yang masih menahan sakit kepala dan tusukan diperutnya membacakan sebuah mantra pendek, ia menatap wanita itu yang tertatih karena kehilangan banyak darah. An meluruskan kedua tangannya dan menepukkan tangannya sekali, di saat itu juga kristal kristal hitam muncul dari tanah dan menusuk seluruh tubuh wanita itu.


Setelah melakukannya, An terduduk lemas di tanah, hidungnya mengeluarkan darah dan napasnya tak beraturan. Ia lantas merebahkan tubuhnya di tanah, melepas topengnya dan tertawa dengan keras.


"haha! gila.. kristal kristal itu menghabiskan chi di tubuhku, mungkin aku terlalu memaksakan tubuh ini. Jika saja masih berlangsung, akan ada organ yang terlepas dari tempatnya." gumam An masih tergeletak menatap langit mendung tanpa bintang.


Ketika dirasa sudah memiliki tenaga untuk berjalan, An mendudukkan dirinya untuk mengikat luka diperutnya dengan kain yang ia robek dari jubahnya, ia kemudian membersihkan hidung dan kembali memakai topeng kelinci kepunyaannya.


Dengan jalan tertatih, ia menarik tubuh wanita berpakaian hitam itu dan menaruhnya di penyimpanan pribadi miliknya. An lalu pergi dari sana dengan senyuman puas terpampang diwajahnya.


Ia tak akan menyangka, jika lapangan yang ia tinggalkan itu akan menjadi berita besar keesokan harinya.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...

__ADS_1


...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...


__ADS_2