
"jadi.. berapa banyak yang tuan inginkan?" Pria janggut itu menatapku dengan mata yang telah berbentuk uang, dasar mata duitan!
"yah.. harga satu koin berapa?" karena tatapannya itu mau tak mau aku harus membelinya walau hanya satu bukan? mungkin saja ini hari terakhirnya.
"satu koin hanya 100 Dang!"
Duar! terdengar di kepalaku tali yang mempertahankan kewarasan ku terputus sepenuhnya.
"hoi.." aku maju dan mencengkram kerahnya kuat.
"kau mau merampok ku pak tua?" aku menatap pria itu kesal, lama kelamaan cengkraman ku semakin kuat.
Entahlah, aku juga tak tau kenapa aku kesal sekarang, walau memang harganya diluar batas normal, firasat ku mengatakan ada sesuatu yang menyenangkan terjadi di suatu tempat, dan aku bisa saja melewatkannya.
"hii! tu-tuan! tenanglah.. tenang tuan!" tubuh pria janggut itu gemetar, keringatnya mulai bercucuran keluar.
"apa? kau jelas jelas mau menipuku hanya karena aku orang baru. Sepertinya kau meremehkan ku karena bukan seorang bangsawan ya?"
"ti-tidakk!! tidak pernah tuan!! ta..tapi.. harga 'koin' itu memang sangat mahal disini! 100 Dang adalah harga termurah yang pernah saya berikan!!" dalih Pria itu sambil menggeleng geleng kan kepalanya cepat.
"ho.. termurah ya?"
"iya!!"
"kalau begitu berikan harga yang lebih murah."
"ya?" dia melihatku seperti orang bodoh, mungkin pria janggut itu tak mengerti apa yang ku katakan.
"satu 'koin' satu Dang."
"ya?!??" mata pria itu membulat sempurna ketika mendengar perkataan ku, memangnya ada yang salah? aku hanya mengurangi dua nol yang tak berarti.
"tak bisa begitu tuan!!" teriak pria itu, karena teriakannya perhatian semua orang kini tertuju pada kami, bisikan demi bisikan mulai terdengar dan itu membuat kepalaku menjadi sangat sakit.
Aku menepis lenganku dan tubuh pria itu terjatuh ke tanah, "hei.. kau mau mati ya?" bisik ku pelan dibawah kios kecilnya.
Pria janggut itu menelan saliva kasar, aku bahkan bisa mendengarnya dengan jelas. Sialan, aku harus segera mencari cara untuk mengurangi pendengaran berlebihan ini.
"a.. ah.. ma-maaf.. saya tak bermaksud tuan.. si-silahkan ambil sesuka anda! saya mohon ampunilah saya!!" pinta Pria itu seraya gemetar, dia bahkan tak berani menatapku dan hanya menatap tanah, padahal jika diingat tadi dia menatapku dengan sangat berani.
__ADS_1
Orang yang akan melakukan apapun agar dapat bertahan hidup.. ha! menyedihkan sekali.
"ha.. kau menghabiskan banyak waktuku," aku berdiri, membuka kantong uangku lalu mengeluarkan 50 Dang.
Pria berjanggut itu bergegas bangun dan memberiku satu kantong penuh 'koin', "si-silahkan tuan.. anggap saja hadiah minta maaf saya"
"hm.. kau yakin? padahal tadi kau bersikeras satu koin 100 Dang."
"ti-tidak! hahaha! saya hanya bercanda kok!"
"ya sudah, makasih ya pak tua!" ketika aku menerimanya, pria itu menghela nafas panjang, mungkin dia bersyukur karena aku akan pergi? lagipula aku tak bisa menghabiskan waktu hanya karena koin koin ini.
Baru saja pergi beberapa langkah, aku pun kembali berbalik, "apa kau tau dimana [ Gāoguì de rén ]?"
Pria itu agak terkejut ketika mendengar kalimat yang kukatakan, dan pada saat yang sama dia dapat menjawab pertanyaan ku dengan tenang.
"di sana." ia menunjuk tepat ke seberang tempat kami berada, sebuah toko kecil yang nyaris tak dapat dilihat karena terhimpit dua toko disampingnya.
"ah.. makasih!" aku pun langsung mengambil langkah dan berjalan ke seberang.
Saat sampai, An disambut dengan ruangan yang sangat kacau, lantai berdebu, jendela rusak, bahkan atap dan lantainya hampir hancur tak tersisa. Hanya beberapa orang saja yang duduk dan mengobrol di sana.
"berikan aku alkohol termurah." An menyodorkan beberapa uang dan sebuah tiket dengan nama toko itu diatasnya.
Si pelayan hanya melirik dan memberikan alkohol yang diminta oleh An, ia meneguk minuman itu hanya dalam dua tegukan. Pelayan itu tersenyum kecil dan berbisik, "ikuti aku."
An mengangguk dan pelayan itu terlebih dahulu pergi ke arah kamar mandi, ketika berselang beberapa menit ia berdiri dan mengikuti pelayan itu.
Ketika sampai, si pelayan telah menunggunya di samping sebuah anak tangga, "ikuti saja tangga ini dan anda akan sampai." pelayan itu lalu pergi kembali ke tempatnya.
An sedikit heran tapi ia tetap berjalan dan memasuki tangga itu. Saat masuk, pintu yang ia lewati tertutup dan berubah menjadi tembok kembali.
"sihir ya.." gumamnya merasa tertarik, An telah tak sabar untuk melihat apa yang akan menyambutnya nanti.
Satu persatu anak tangga mulai ia turuni, sudah sekitar 10 menit dan An masih belum bisa melihat ujung lorong ini.
"sialan, kenapa jauh sekali sih?" An lalu memiliki ide gila untuk langsung meloncat kebawah, tangga ini hanya lurus ke depan bahkan bisa dikatakan lumayan curam.
Tanpa berpikir lama, An langsung meloncat dan terus meloncat, hal itu dapat menghemat beberapa anak tangga. Saat ia ingin melakukan loncatan ketiga, tanpa disadari ia telah sampai kesebuah ruangan megah dengan papan emas bertuliskan [ Gāoguì de rén ].
__ADS_1
"sepertinya aku pernah melihat tempat yang sama" gumam An tanpa menunjukkan rasa terkejutnya.
"anda orang pertama yang datang dengan meloncat seperti itu ya." ucap seorang kakek tua seraya memberikan sebuah nomor pada An.
"yah, aku suka menjadi yang pertama.." An tersenyum dan mengambil nomornya.
"hoho.. anda juga orang pertama yang tak kagum dengan tempat ini.. biasanya semua orang akan membelalakkan mata dengan apa yang mereka lihat." lanjut kakek itu.
"hahaha.. aku sangat tersanjung telah menjadi yang pertama untuk kedua kalinya malam ini.."
Kakek itu lalu tersenyum tipis, ia membungkuk dengan sopan dan mempersilahkan An untuk duduk dimana pun ia mau, "silahkan pilih tempat duduk yang paling nyaman tuan muda.."
"baiklah."
Aku senang karena dapat memberatkan suaraku, tapi kenapa 'tuan muda'?' batin An bingung.
Sejauh ini semua orang yang bertemu dengan An akan memanggilnya menggunakan sebutan 'tuan' dan hanya kakek itu yang menyebutnya 'tuan muda', apa kakek itu tau jika dia masih remaja?
An sempat melihat sekeliling dan sebagian orang menutup wajahnya baik menggunakan topeng ataupun cadar, tapi sebagian lainnya dengan penuh rasa bangga memamerkan jika mereka adalah 'orang terpandang'. Ia lalu mengeluarkan topeng rubah nya dan melepas cadar hitamnya.
Saat An duduk, lelang pun dimulai dengan penuh sambutan antusias dari para tamu.
...[ Selamat malam dan selamat datang saya ucapkan kepada para tamu sekalian!! tanpa berbasa-basi lagi mari kita mulai lelang yang ke-35 pada malam hari ini!! ]...
sudah kuduga ini deja vu.' batin An.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^