Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.35 Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Mimpi.. apa kalian pernah merasakan mimpi? tentu saja iya. Setiap manusia akan mengalami mimpi ketika ia sedang tidur, tapi menurut kalian.. apakah mimpi hanya sebatas bunga tidur saja?


Bagiku, mimpi itu seperti sebuah ramalan masa depan, juga sebuah ingatan masa lalu. Ketika aku bermimpi, aku selalu diperlihatkan kisah suram ku pada masa lalu. Seperti, pertengkaran orang tuaku, pembunuhan yang pertama kali kulakukan, mencuri, ataupun.. mengorbankan seseorang demi keuntungan ku sendiri.


Setiap orang pasti akan melupakan mimpinya ketika telah terbangun dari tidur, tapi aku.. masih tetap akan mengingat sesuatu yang telah ku mimpikan itu.


Kini tubuhku tak bisa bergerak sesuai perintahku, mulutku tak berbicara sesuai arahan ku. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah sedang duduk dan memainkan bunga mawar dengan tubuh bocah yang sekiranya berumur 5 tahun.


"Lian! kemarilah sayang!" teriak seorang wanita muda padaku, lalu entah bagaimana aku secara spontan menoleh, dan membalas teriakan wanita itu.


"iya ibu!" sahutku, aku pun berdiri, mengambil mahkota mawar yang telah ku buat dan menghampiri wanita itu.


Dari situ aku baru saja menyadari, jika aku sekarang tengah berada di ingatan Lian Wu sang pemilik tubuh ini.


Aku terus berlari secepat yang ku bisa, denyut jantungku berdetak cepat, keringat mulai keluar membasahi wajahku. Tapi tubuh ini tak berhenti sama sekali.


"astaga sayang, kenapa kamu berlari? ibu sudah bilang untuk tidak menghabiskan tenaga mu kan?" ucap wanita itu panik ketika melihatku menghampirinya dengan penuh keringat.


Wanita itu---ibuku, adalah orang yang sangat cantik. Dia memiliki rambut perak berkilauan, mata safir yang sedalam lautan, senyuman manis yang dapat membuai semua orang, ia memiliki segalanya.


"ibu! ibu juga harusnya jangan keluarkan! bagaimana jika sakit ibu tambah parah? bukankah ibu mau bertemu ayah?" omel ku, namun ibuku hanya tersenyum dan mengelap keringatku menggunakan tangannya yang kurus dan dingin.


"ibu kan sudah sehat, memangnya ayahmu berani mengomeli ibu sepertimu? haha.." seru ibuku penuh tawa, aku melirik tubuhnya, tubuh itu kurus, hanya berbalut kan baju tidur sederhana juga selendang yang tipis, ia bahkan tak menggunakan alas kaki.


"ibu! kenapa dirumahnya bibi ketiga ramai sekali? kenapa dirumah kita hanya ada kita berdua saja?" ujar ku penasaran, ibu kemudian membungkukkan badannya dan mencubit pipiku gemas.


"ternyata tadi kamu pergi ke tempat bibi ketiga lagi ya? ibu sudah bilang untuk tidak merepotkan nya kan? kenapa kamu kesana kemari terus sih!"


"habis.. aku bosan, makanya aku ke sana!" jawabku terbata bata, ibu pun akhirnya melepaskan cubitannya dan menggandeng tanganku memasuki sebuah paviliun yang terbuat dari kayu dan dikelilingi taman bambu juga mawar.


"kamu tahu Lian? mengapa kita tinggal disini, mengapa hanya ada kita dan bukan orang lain, mengapa pelayan hanya memberikan bahan makanan seminggu sekali, mengapa.. kita berbeda dari yang lain.. kamu tahu alasannya?" tanya wanita muda itu dengan senyum tipis dibibir nya, aku hanya menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"karena kita spesial, kita berbeda, kita tak sama seperti orang lain. Kita lebih.. beruntung dibanding yang lain." ujar Ibu dengan mata berkaca kaca, ia lalu memalingkan wajahnya, tangan dingin itu gemetar, sesekali ia akan menghela nafas yang amat panjang.


"lagipula, bukankah menyenangkan tinggal disini? tak ada yang mengganggu kita, disini juga nyaman dan hening. Iya kan?" serunya dengan mata sembab, aku tak tahu harus membalas apa, aku dapat merasakan jika aku sedang memilah kata yang akan keluar dari mulutku.


"iya! aku lebih suka disini! apa ayah akan mengunjungi kita seperti yang dia katakan pada ibu?" tanyaku lagi, berusaha untuk mengalihkan topik. Ibuku hanya diam, senyum tipis yang ada diwajahnya seketika pudar dan menghilang, digantikan dengan senyum yang penuh keputusasaan.


"iya.. pasti." gumamnya seraya menggenggam tanganku erat memasuki rumah kayu itu.


Lalu, mataku tiba tiba tertutup, ketika aku membuka mata, aku tak bisa melihat apapun, pandanganku telah dipenuhi air mata yang tak berhenti keluar.


Aku terus menangis, aku tak tahu sebabnya, saat itu ada beberapa orang yang terlihat menggunakan pakaian hitam, salah satu orang yang ada disana adalah nenek, bibi dan paman ketiga, kak Chyou juga kak Jiazhen-- anak dari bibi dan paman ketiga, juga kakak dari adik Qiongli.


Rumah yang biasanya terlihat sepi itu seketika ramai, ah.. aku mengerti sekarang, mereka.. sedang melakukan upacara pemakaman. Tadi aku tak bisa berpikir jernih karena tangisan yang terus keluar dari mulutku.


Mereka yang pergi dan berlalu lalang tak mempedulikan ku, mereka hanya datang, memberikan salam terakhir, dan pergi membawa jasad ibu untuk dimakamkan tanpa menoleh padaku sama sekali.


Kini hanya ada nenek dan aku saja disini, beliau duduk membelakangi ku dan berbicara selayaknya orang dewasa, "hiduplah. jangan berputus asa hanya karena tak ada yang peduli denganmu, balas lah dunia yang kejam ini menggunakan kekuatan mu. Jangan.. berakhir seperti dia yang pergi hanya karena tak mendapat kepedulian orang lain." tegas wanita tua itu, walau samar aku dapat merasakan jika nenek saat itu memiliki emosi yang bercampur aduk, marah, sedih, juga bingung. Tangannya pun bergetar dan ia selalu menundukkan kepalanya selama upacara pemakaman.


Tanpa mendengarkan jawaban ku, ia pergi dan meninggalkan aku yang masih sekiranya berumur 10 tahun itu sendirian. Waktu terus berlalu seperti angin yang mencari tempat baru, aku telah mengalami banyak hal sejak kematian mendiang ibuku, mulai dari bertahan dari kelaparan, mencuri makanan di dapur, menguping pembelajaran yang dilakukan adik adikku secara personal, ditindas, bahkan dipermalukan.


Setelah kematian ibu, emosiku seakan hilang dimakan waktu, aku hanya bisa tersenyum layaknya boneka dan menatap kosong jika tak melakukan apapun. Hidupku hampa, satu satunya alasan bagiku saat itu untuk hidup adalah menunggu kepulangan ayahku.


Aku terus menunggunya, pria itu.. pria yang bahkan tak pernah kutemui. Kenapa aku mau bertemu dengannya? apakah untuk menanyakan alasan kenapa kau berbohong pada ibuku?, aku tak tahu.


Hingga pada suatu malam, malam yang dingin dan berkabut. Tepat pada tengah malam, aku yang saat itu masih berjalan jalan tiba tiba dibawa oleh beberapa orang bertopeng hitam dengan lambang teratai.


Aku takut, aku tak bisa melakukan apapun, karena kelebihan yang kumiliki, aku tak dapat menguasai chi yang seharusnya sudah ku kuasai 8 tahun yang lalu, aku telah berusaha melawan mereka, tapi mereka dengan mudahnya mematahkan kedua lengan dan kakiku lalu menyeret ku masuk kedalam sebuah karung goni.


Orang orang itu kemudian terus berjalan, aku dapat mendengar jika mereka seperti sedang berbicara dengan petugas perbatasan, aku mengenalinya suara orang orang yang berada di ibukota, aku tahu orang ini. Setelah 10 menit berjalan menggunakan kuda, mereka melewati jalan penuh lubang dan bebatuan, setelah 20 menit, mereka berhenti memakai kuda dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


"ah, bagian barat yang dekat dengan ibukota.. Kota Chengse, bukit belakang ya?" gumam ku pelan, nafasku berat, mataku tak dapat melihat lagi, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu ajal ku dan mendengar menggunakan telingaku.

__ADS_1


"apa yang harus kita lakukan dengan mayat ini?" ujar salah seorang dari mereka.


"mana ku tahu! galikan saja sebuah makam kecil di bukit ini, takkan ada yang mengira kok. Lagipula kita tinggal menyuntikkan pengawet pada tubuhnya agar tak membusuk bukan?" sahut yang lain.


"hah.. kenapa Nyonya Wu pertama nekat melakukan hal kejam ini?"


"kau tak tahu? dulu sekali ada rumor jika suami dari Nyonya pertama berselingkuh dengan Nyonya kedua keluarga Wu. Walau rumor itu menghilang seiring berjalannya waktu, mungkin Nyonya pertama masih tak sudi akan hal itu?"


"bukankah suami Nyonya pertama sudah meninggal tepat setahun setelah Nyonya kedua?"


"iya! karena penyakit kan??" timpal temannya yang telah sampai duluan di bukit.


"ah! sial, kau mengagetkan kami!" seru kedua orang itu bersamaan.


"haha.. maafkan aku, tapi.. kuberikan kalian sebuah masukan.." Pria yang menggunakan sebuah topeng bersimbol teratai itu mendekat dan memegang salah satu pundak mereka, "jika kalian tak mau menghadap Tuhan, maka tutuplah mulut kalian dengan rapat. Mengerti?" bisiknya pelan.


Orang orang itu hanya diam dan mengangguk cepat, mereka lalu dengan tergesa gesa menyuntik ku menggunakan sebuah cairan pengawet disaat kesadaran ku masih tersisa.


"bibi.. pertama?" batinku dengan kesadaran yang semakin menipis.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...

__ADS_1


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...


^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^


__ADS_2