Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.49 Getaran


__ADS_3

Matahari pagi mulai menyinari ibukota, An yang baru saja pulang tepat jam 4 pagi membalikkan badan agar tak terkena remang remang cahaya dari balik jendelanya.


Tiba tiba, suara hentakan kaki menggema di telinga An, ia menyadarinya namun berpura pura selayaknya tak mendengar. Umpatan kasar terus terdengar dari balik pintu kamarnya.


"dasar tak berguna! kemana si Arum itu pergi?! kenapa pula aku yang harus mengurusi anak haram ini?!" oceh si pelayan yang agaknya menggantikan Arum membangunkan An.


"padahal tugasku sudah banyak! walaupun dia adik kesayangan dua tuan muda, tetap saja berdarah kotor! menjijikkan!" lanjutnya kembali, ada beberapa orang pelayan di paviliun An yang mendengar ocehan itu, namun mereka tak menghiraukan dan beranggapan tak pernah mendengarnya.


Si gadis pelayan berhenti tepat didepan pintu kamar An, ia diam sejenak dan mengetuk pintu dengan sopan, "nona keempat.. saatnya bangun dan sarapan." ujar pelayan itu ramah.


dasar b*bi. masih belum bangun juga?' umpat pelayan itu dihatinya. Ia membuka pintu kamar An pelan, kamar yang hanya memiliki barang sederhana tanpa adanya perabotan mewah, rak rak penuh buku yang tersusun rapi membuat kamar An tampak berbeda, tentu jika ia tak melihat lemari pakaian dan perhiasannya.


Dengan berat hati, gadis pelayan itu menggoyangkan tubuh An berharap dia bangun tanpa banyak alasan, "Nona.. ayo bangun.."


"uh.. bangunkan aku saat makan siang saja.." gumam An yang masih memeluk kasurnya.


"tapi Nona! ini sudah pukul 7, anda harus bangun dan sarapan.." sahut pelayan itu dengan sedikit meninggikan suara.


"..mana Arum?" tanya An saat melihat seseorang yang asing baginya.


"saya juga tak tahu dimana kak Arum, yang jelas ayo bangun Nona!"


"pergilah, bilang pada Arum untuk membangunkan ku sewaktu jam makan siang." titah An tak ingin dibantah.


Bulu kuduk pelayan itu tampak berdiri, ia meneguk ludahnya kasar dan segera pergi dari sana tanpa menjawab perkataan An, "apa itu? kenapa aku merasa ngeri seolah sedang melihat Nona Qiongli.."


Kamar itu terasa sunyi kembali, An memerintahkan beberapa pelayan untuk menutup pintu setelah selesai bersih bersih. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap jendela kamar yang tertutup, "ah, ngantuknya.." gumam An memandang kosong jendela, ia lalu meraba perutnya yang terluka dan sedikit mengerang.


Tentu dia lelah, An yang baru saja pulang pukul 4 dini hari harus langsung membersihkan semua buku dan membersihkan bau anyir darah dari tubuhnya, ia juga harus menulis surat agar kakek tua itu dapat bekerja dengan semestinya.


"aku tahu membuat boneka bukanlah hal susah baginya, jika dia tak menyelesaikan itu sampai jam makan siang, aku akan membuat perhitungan." An kemudian menarik selimutnya dan kembali menutup mata untuk menyambung mimpi yang terputus di tengah jalan.


Tak terasa, waktu makan siang telah tiba. An yang masih tertidur pulas di ranjangnya tiba tiba terbangun karena suara langkah kaki yang mendekat.


Pintu diketuk pelan dan suara Arum tampak terdengar dari balik ruangan, "Nona Lian, ayo bangun dan makan siang! saya akan membantu Nona untuk mandi dan mengganti pakaian."


Gadis pelayan itu membuka pintu kamar dan masuk kedalam, ia mengarah ke jendela dan membukanya lebar lebar. Arum berjalan kembali dan mengangkat selimut yang menyelimuti tubuh An, "ayo bangun Nona!" serunya dengan ceria.


An diam memandangi Arum dan menunjukkan senyum lebarnya, "pagi Arum~"


"ini sudah siang, Nona." Arum menaikkan satu alisnya dan mulai merapikan ranjang An.


"Arum, kenapa kau berpakaian panjang? bukankah pakaian biasa saja sudah sangat panas?" tanya An kala melihat Arum yang berpakaian tak seperti biasanya.


"saya agak tak enak badan Nona, tubuh saya sensitif terhadap cuaca.." jawab Arum ringan, ia kemudian keluar kamar terlebih dahulu untuk menyiapkan air hangat.


Sementara An masih terduduk di ranjangnya berusaha untuk menahan tawa, "aku tak menyangka akan menjadi sebaik ini.."


dia seperti seseorang yang hidup'


Setengah jam kemudian, An telah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, tentu ia menolak dibantu untuk melakukan semua itu, jadi dia melakukannya sendiri.


"Nona, apa anda mau makan camilan?" tanya Arum yang habis membersihkan perlengkapan makan siang.

__ADS_1


"perutku bisa meledak kalau ditambah lagi, aku mau jalan jalan saja," An merenggangkan tubuhnya dan pergi keluar paviliun, cuaca hangat dan jalanan yang sunyi menghiasi matanya siang ini.


Arum mengikuti An dengan diam, para pelayan yang biasanya menatap tajam juga menundukkan kepala ketika bertemu dengan An.


"tempat ini jadi sepi karena tak banyak lalat." gumam An, ia hanya tersenyum tipis jika bertatapan mata dengan para pelayan.


"menjadi gadis polos tak sesuai denganku, apa aku harus menjadi gadis misterius yang tak bisa disentuh?" gumamnya lagi karena tak ada yang bisa dia kerjakan.


"oh? kakak!" teriak seorang gadis berambut ikal dari kejauhan, Mingmei berlari kearahnya dengan cepat dan tergesa gesa.


"kau tak perlu sampai berlari begitu bukan, Adik Ming?" ucap An heran melihat tingkah Mingmei yang berubah dalam waktu semalam.


"aku--aku senang bisa bertemu dengan kakak keempat, kupikir aku akan berjalan sendirian sampai malam." gadis ikal itu kemudian menghela nafas panjang dan mengelap keringatnya.


aku juga berpikir begitu.' batin An merasa memiliki nasib yang sama.


"kenapa sendirian? dimana kesatria dan para dayangmu?" sindir An sambil menatap sekeliling Mingmei yang kosong tanpa satupun dayang.


"ah.. mereka.. sedang sibuk? ksatria ku sedang membantu kak You dan para dayangku.."


"membantu apa?" potong An saat mendengar sesuatu yang menurutnya menyenangkan.


"itu, katanya kak You sedang menyelidiki lapangan di tengah pasar. Ada sesuatu.. apa ya, itu.. " ujar Mingmei seraya mengetuk keningnya.


"ah! kak You menemukan kristal aneh ditengah lapangan itu! terus katanya, tempat itu adalah bagian dari pasar gelap. Kakak tahu pasar gelap?" jelas Mingmei seakan ia menang selangkah dalam informasi ini.


"hm.. memangnya kenapa jika itu termaksud teritori pasar gelap? lagipula, mereka menemukan kristal?"


gawat, aku tak menyangka jika kristal itu akan menjadi masalah.' batin An cemas.


"belum ada yang tahu bagaimana cara membuat ruang sihir sebesar itu, bahkan seharusnya tak ada yang bisa! dan sekarang, ada kristal aneh yang tiba tiba muncul.. bukankah sangat mengerikan?! sebenarnya apa yang terjadi di dunia malam itu?!" jelas Mingmei dengan wajah panik, setelah mengatakan itu ia mulai melantur bagaimana nasib hidup dan juga kekasihnya.


"telingaku.. apa sebaiknya kutinggalkan saja ya?" gumam An lirih, ia lalu melirik Arum yang hanya diam menatap lantai, masih untung dia bisa berjalan seperti biasanya.


tapi bagaimana jika aku meninggalkan sesuatu yang lebih buruk di sana? apa mereka juga akan memeriksa pasar nanti malam? kalau rencanaku gagal bagaimana?!' kepala An yang semula kosong menjadi penuh dengan pertanyaan, ia terus memikirkan nasib rencananya malam ini jika Chyou berniat untuk memeriksa pasar.


"tak bisa, aku harus melihatnya." gumam An yang memiliki firasat tak enak.


"apa? kakak bilang apa tadi?"


"Adik Ming.. apa kau mau berbelanja denganku?" ajak An sembari menggenggam kedua tangan Mingmei semangat.


Mingmei terpaku saat tangannya tiba tiba digenggam dengan hangat, bibirnya langsung gemetar dan ia melepaskan tangannya dengan cepat, "ha--hah? apa kakak yakin ingin mengajakku belanja? kenapa tak pergi sendiri?"


"kau kan adikku, lagipula kita harus menjadi akrab untuk kedepannya.. Aku juga menyukaimu." An kembali menggenggam tangan Mingmei dan membuat gadis itu kembali salah tingkah.


An melihatnya, tingkah kecil yang selalu ada pada dirinya, rasa tak biasa yang dirasakan ketika seseorang tiba tiba mendapatkan sebuah ikatan.


"ya.. kalau kakak bilang begitu apa boleh buat.. ayo!" seru Mingmei dengan wajah merona, ia lalu menarik An agar bergegas untuk berjalan.


Saat mereka ingin pergi, tamu tak diundang datang dan menghentikan rencana mereka.


"wah.. bukankah ini keponakan tersayangku Ming dan.. Lian?" ucap bibi pertama yang didampingi empat dayangnya.

__ADS_1


Tampak raut wajah Mingmei yang awalnya santai berubah menjadi tak nyaman, ia memang tersenyum dan tertawa tapi entah kenapa itu seolah tak nyata.


"senang bisa bertemu dengan Anda, bibi pertama.." sapa An dan Mingmei bersamaan, bibi Bao terlihat mengernyitkan alisnya kala bertatapan mata dengan An.


"apa yang kalian rencanakan? sepertinya seru?" tanya Bibi Bao tanpa perlu basa basi.


"kami akan berbelanja bibi.." sahut Mingmei sopan, padahal ia hanya menjawab perkataan itu saja, tapi terlihat dengan jelas jika jari jarinya gemetar dengan hebat.


"belanja? sepertinya menyenangkan.. apa.."


"kami akan berbelanja berdua ke pasar, untuk mendekatkan hubungan kakak adik, tanpa satupun orang di sisi kami." potong An dengan jelas, jika wanita itu pintar ia dapat melihat beberapa kata yang diberikan penekanan.


Mingmei langsung menatap An, seakan berkata apa yang kau katakan?!


Gadis itu hanya tersenyum dan menatap kembali Bibi Bao yang juga hanya menatapnya, "oh.. sayang sekali, padahal kupikir aku bisa ikut.. tapi tak mungkin aku mengganggu hari kalian kan?"


"setelah kulihat, ternyata kalian memang mirip.. satu anak yang tertinggal dan satu lagi aib keluarga." sindir Bibi pertama lantang, dua dari pelayannya tertawa kecil saat mendengar perkataan tuannya.


Mingmei hanya diam, ia menatap lantai dan tak berani mendongakkan kepalanya. Lain halnya dengan An yang tersenyum cerah dan melakukan hal gila.


kupikir karena mereka keluarga, hubungan mereka juga seperti keluarga, ternyata tidak ya?' batin An sambil menganggukkan kepalanya.


"iya kan? Terima kasih Bibi! aku tahu kami benar benar cocok!" seru An seraya memeluk Bibi pertama dengan erat.


Semua orang terkejut saat menyaksikan adegan yang terjadi dengan sangat cepat itu, Mingmei, Arum dan beberapa pelayan yang melihat berusaha untuk menahan tawa mereka sebisa mungkin.


Tak terkecuali Bibi Bao yang diam mematung setelah mendapat pelukan mendadak dari An.


"kalau begitu kami pergi dulu, dah bi!" An menarik lengan Mingmei dan berlari secepat yang mereka bisa hingga tak terlihat dari mata Bibi mereka.


Beberapa detik setelahnya, Bibi Bao berteriak histeris dan mengelap seluruh wajahnya, "ahh!! dasar hama sialan!! padahal ini baju favoritku!" pekik Bibi Bao sambil berusaha membersihkan bajunya.


"cepat siapkan peralatan mandiku! buang pakaian ini setelah kita sampai! bila perlu bakar saja! menjijikkan!!" lanjutnya dengan amarah membara, para pelayan yang ikut secara sigap berlari untuk menyiapkan apa yang diperintahkan.


Terdengar dari balik taman, seorang wanita tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat kejadian sebelumnya, "apa?! apa ini lucu bagimu?!" cetus Bibi pertama pada saudarinya.


"yah.. sangat? haha! kau terlalu berlebihan jika ingin membakar barang milikmu, saudariku.." tegur Bibi ketiga yang masih tertawa.


"berisik! aku tak pernah meminta pendapatmu!" Bibi Bao lalu meninggalkan Bibi ketiga yang masih menertawakan dirinya.


"dasar.. tak perlu semarah itu karena sebuah pelukan, apalagi itu keponakan kesayangannya."


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...

__ADS_1


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...


...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...


__ADS_2