
Tubuh An ditaruh ke atas ranjang kamarnya, dengan wajah yang pucat, Chyou memegangi tangan adiknya yang berkeringat dan bergumam pelan, "bangunlah.. bangunlah.. Li..An."
Tak berselang lama, Xia dan kepala pelayan datang dengan tabib Chang di belakang mereka. Tubuh pria tua itu penuh keringat karena baru saja berlari untuk sampai ke sini, walau sudah tua ia sangat berwibawa, dia termaksud orang yang telah berjasa pada keluarga Wu sejak nenek menduduki kepala keluarga.
Chyou bergegas beranjak dari kursi agar sang tabib mendapat posisi yang tepat untuk memeriksa pasiennya. Tabib Chang memegang dahi An yang basah akan keringat, ia kemudian memegangi urat nadi yang ada di lehernya dan mengerutkan kening keheranan.
"ada apa tabib? kau bisa membuat penawarnya bukan?" seru Chyou yang sedang berdiri di belakang pria tua itu.
"ya.. saya bisa membuatnya tuan muda, tapi.." gumam Chang gelagapan.
"tapi apa?! jangan membuat orang kesal!" potong Xia kesal, kepala pelayan kemudian menutup mulut gadis itu dan membungkukkan kepalanya.
"tapi, tak biasanya gejala racun ini seperti yang dialami Nona sekarang, jika saya boleh tahu, berapa banyak Nona meminum racunnya?" lanjut pria itu lalu menatap Lang di seberang ranjang.
"dua.. Nona Lian meminum dua gelas teh yang berisi racun itu.." lirih pria itu sambil menatap lantai.
"kenapa?! apakah itu dosis tinggi? apa berbahaya?" tanya Chyou beruntun, membuat tabib didepannya memijat kening yang tak lagi muda itu.
"bukan begitu tuan muda! tak ada masalah apapun ditubuh Nona, itulah yang ingin saya katakan!" ucap tabib Chang seraya menoleh ke para tamu yang terperangah.
"benarkah?! Nona baik-baik saja?!" teriak Xia dengan antusias.
"iya.. Nona ke empat dalam keadaan baik, nadinya berdetak dengan semestinya dan tak ada gejala yang menurut saya berbahaya." jelas pria tua itu sambil memasukkan alat-alat medisnya.
"tapi.. sekarang tubuh Nona basah akan keringat, ketika saya melihat Nona sebelum pingsan pun, ia seolah sedang menahan sakit kepala. Apa benar tak ada masalah?" terang Lang masih khawatir.
"iya, mungkin Nona sedang berusaha untuk melawan racun ditubuhnya, makanya tubuh beliau berkeringat dan panas. Racun ini juga tipikal biasa, saya akan segera meracik obatnya.."
"jika kau bilang ini hanya racun biasa, kenapa adikku sampai sekarang belum siuman? dia juga terlihat sangat kesakitan sewaktu di perjalanan tadi, apa kau tak salah tabib?" potong Chyou masih tak percaya.
"Tuan! saya ini memang sudah tua, tapi jiwa tabib saya masih sangat muda! saya memang tak terlalu tahu apa yang terjadi, tapi bukankah kita harus bersyukur jika racun itu telah hilang dari tubuh Nona?" cela pria tua itu emosi, ia mendengus kesal dan mencoba menenangkan dirinya kembali.
"sekarang kita hanya bisa menunggu sampai beliau siuman, saya akan mengecek kesehatan Nona besok pagi sekalian memberikan penawar dan obat penurun panas." ucapnya seraya membuka pintu kamar untuk pergi. Tepat didepan pintu masuk, nenek, dan bibi ketiga berdiri di sana dengan tampang cemas mereka.
"bagaimana dengan Lian? apa dia baik-baik saja?" lirih bibi Jingmi sembari mendekat untuk melihat An.
nenek juga ikut mendekat dan mengekor pada anak ketiganya, ia dengan ragu duduk di kursi tepat disamping tubuh An yang sedang berbaring dan menatapnya dengan lembut, "dia terlihat seperti sedang tertidur, seolah tak ada beban apapun dipundaknya." gumam nenek sambil mengelus tangan gadis itu.
Chyou tertegun, disaat ia beradu mulut dengan tabib, tubuh An yang awalnya pucat kian membaik. Seperti kata nenek, dia seolah sedang tidur, tidur pulas yang tak dapat diganggu.
"syukurlah.. sekarang kita harus membiarkannya beristirahat, ayo semuanya keluar sekarang!" perintah Bibi Jingmi lalu mendorong semua orang untuk keluar dari kamar dan membiarkan An untuk beristirahat.
Kini An sendirian, lampu kamarnya juga sudah dimatikan dan hanya menyisakan lampu tidur kecil di samping ranjangnya, ia kemudian bergumam dan terus berada di alam bawah sadar yang selalu ia benci.
"hm, sudah jelas jika ini mimpi.." gumam An yang melihat sekeliling, di atas sebuah gedung hotel yang tinggi, ia dapat melihat pemandangan malam Shanghai yang mulai ia lupakan, lampu warna warni, suara kendaraan yang berisik dan ramainya jalanan.
__ADS_1
Ia kemudian melihat lengannya yang memakai perlengkapan lengkap seperti seorang pembunuh kelas kakap.
"kau siap Tina? ini adalah hari yang kau tunggu bukan?" ujar seseorang yang memakai kursi roda di belakang An.
dia.. ' An menyeringai dan turun dari pinggiran gedung itu untuk mendekat ke arah pria yang sedang menatapnya.
"tentu saja, saya sangat menunggu hari ini, dokter." sahut gadis itu sambil tersenyum.
An lalu melewati pria itu dan meloncat ke bawah, melewati banyaknya tangga dan menapaki balkon balkon hotel tersebut.
Diapun sampai ke bawah dan mulai berjalan menuju salah satu hotel bintang lima yang tak jauh dari sana, "hari dimana neraka kehidupan ku dimulai." bisik An dengan darah yang mendesir naik ke wajahnya.
Gadis itu memasuki pintu hotel, berbeda dari suasana diluar, hotel tersebut sangatlah sunyi dan sepi. Hotel tempat ia berada sekarang adalah tempat terfavorit para orang besar untuk menghabiskan malam dengan para wanita panggilan mereka, tempat teduh yang kedap suara dan tak terlihat dimata dunia.
"untunglah mereka membuat bangunan ini tak terdengar dari luar, aku kasihan dengan orang-orang yang berlalu lalang didepannya." ucapnya dengan santai.
"siapa kau?! beraninya ka---"
Belum sempat para bodyguard itu bertanya, suara tembakan terdengar dan tubuh mereka terkapar dilantai dengan kepala bersimbah darah, mati, itulah kata yang akan menjadi raja malam ini.
"susah juga ya, tanganku agak kram karena sudah lama tak memegang benda ini." dilihat An pistol yang ada di tangannya masih mengeluarkan asap, ia pun melirik tubuh tak bernyawa di depannya dengan darah segar yang masih mengalir keluar.
"sudah lama juga.. aku tak merasa segila ini." ucap An yang melepas pelatuknya dan mengarahkan beberapa tembakan ke orang-orang yang mendekat ke arahnya. Ia terus membunuh, membunuh semua yang menghalangi jalannya, aksi gila itu terhenti saat ia memasuki lift dan tak melihat lautan darah lagi.
Sama seperti lantai sebelumnya, di sana An melakukan pertumpahan darah kembali, dengan wajah tanpa ekspresi ia menembaki semua orang yang dilihatnya, mengisi peluru dan terus menembak, tubuhnya kemudian terhenti didepan sebuah pintu kamar bernomor 99, diatas nomor itu, terdapat tanda jika mereka sedang menggunakan ruangan.
Dengan tatapan sendu dan tanpa berpikir panjang, ia menembaki gagang pintu itu dan mendobraknya sekuat tenaga, sambil berjalan masuk ke dalam ia melihat beberapa helai pakaian berhamburan di lantai, wajah An berkerut saat melihat kedua orang yang masih melanjutkan hubungan cinta mereka tanpa memedulikan dobrakan yang dia berikan.
Otot rahangnya menegang dan dengan segera ia menarik pelatuk pistolnya, karena tersulut emosi, tanpa sadar ia kembali melubangi kepala seorang pria di atas ranjang malam ini.
"sayang!" teriak wanita yang menjadi teman kencan pria itu.
An menatapnya, seorang wanita berumur yang masih tetap cantik dan awet muda, tentu saja itu adalah hasil yang ia dapatkan dari perawatan selama ini, wanita yang sekarang juga menatapnya dengan tajam, wanita yang sangat dikenali oleh An.
"jangan menatap saya seperti itu, lama tak bertemu, bagaimana kabar anda, Ibu?" sapa An dengan senyum tipisnya.
"ibu? beraninya monster sepertimu memanggilku begitu, beraninya kau!" pekik wanita itu sambil melotot ke arah An.
"teganya, padahal ini pertemuan kita setelah bertahun-tahun tak bertemu, bagaimana hadiah saya? tubuh itu masih bisa digunakan sampai anda puas malam ini." sindir gadis itu sembari membersihkan tangannya yang penuh darah.
"kau! dasar makhluk menjijikkan! pergi dari hadapanku sialan!" pekik wanita itu lagi, kali ini ia menunjuk nunjuk An dengan tubuh yang gemetar.
"ibu.. apa kau tak ingin mengucapkan sesuatu? seperti.. maaf, atau selamat ulang tahun?" lirih An dengan menatap sendu.
"kita lahir pada hari yang sama, itu sangat he--"
__ADS_1
Ucapan An terhenti, kala sebuah vas bunga membentur kepalanya, darah hangat mengalir dari keningnya, ia mengoles sedikit darah itu dan memberi senyum merendahkan.
"kau.. padahal kau hanya perlu hidup seperti orang mati! kenapa kau selalu datang dan membawa kesialan di hadapanku?!" teriaknya kembali, kali ini ia melakukan itu dengan menangis, seperti seorang korban dari sebuah cerita.
Dengan wajah yang masih berlumuran darah, An bercerita "bu.. aku bermimpi.. aku terbangun ditempat asing, tempat yang jauh berbeda dari Shanghai yang ibu kenal, tempat itu masih alami dan sangat indah, kuno dan menenangkan. Tempat itu juga hebat, di sana ada sih---"
"DIAM! dasar orang gila! kau tak waras! setelah membunuh seseorang di depanku, kau mengajakku berbicara?! apa apaan kau ini?!" terulang kembali, ucapan An yang belum selesai selalu terpotong dengan amukan wanita itu, ia hanya bisa berhenti dan menatap ibunya yang sedang waspada.
"ibu.. kenapa ibu melahirkan saya?" tanya An pelan, ia tak berharap banyak, tapi hanya sedikit saja, jawaban apa yang akan didapatkannya, tak masalah untuk penasaran bukan?
"kau bertanya karena tak tahu? aku terpaksa! aku ditekan! janji manis yang pria itu berikan padaku, kebodohan yang telah kuakui! karena melahirkan mu, aku dibuang. Setelah susah payah aku berjuang untuk mencapai puncak itu, aku seakan terjatuh kedalam jurang yang dalam, itu semua karena kau!" hina wanita itu penuh kekesalan.
An tersentak, matanya bergetar hebat setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut ibunya, "ibu, jika.. takdir berubah, kehidupanmu tak sehancur ini walau telah melahirkanku, apakah anda akan mencintai saya, walau dunia membenci saya?"
apa sih yang kukatakan?! padahal aku tahu pasti jawabannya, kenapa aku masih berharap?' batin An dengan tatapan tanpa ekspresi.
"jika itu benar terjadi, aku akan tetap menganggap kau sebagai aib, dan menjadi orang pertama yang akan membunuhmu!" tekan wanita itu sambil memeluk pasangannya.
An diam, dia secara perlahan mengarahkan pistol yang ia genggam pada wanita dihadapannya, "apa kau tahu ibu? didalam mimpiku, kau adalah orang pertama yang membuatku membenci dunia." ucap An seraya melepaskan satu tembakan tepat ditengah kepala wanita itu.
Jantung An berdetak kencang, ia menundukkan pandangannya karena tak berani melihat mayat yang ada di depan wajahnya, ia lalu melihat jari jarinya yang gemetar, tanpa ia sadari air mata mulai menetes dan menggantikan darah yang semula mengering di wajahnya.
Dia terisak, perlahan tubuhnya mulai lunglai dan tak kuasa untuk berdiri tegap. An pun terjatuh diantara pecahan vas dan masih menangis sesenggukan.
"ha.. sial. Aku sudah muak.." ia memegang kedua telinganya dan berteriak dengan kencang, "HENTIKAN!"
Tiba-tiba, dunia itu hancur, semuanya retak bagai kaca dan perlahan menghilang, kini hanya tersisa dirinya sendiri yang masih tergeletak lemas di lantai, pakaian yang ia pakai pun telah berganti kembali dengan pakaian terakhir sebelum dia pingsan.
Dengan tatapan kosong, ia menatap ruangan gelap itu, ia menggosok matanya beberapa kali dan menghela nafas lega, karena ia pikir semua ini telah berakhir.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ ***MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@tharazerow (๑'ᴗ')ゞ***...
__ADS_1