
"sampai, kedai budak." gumam An berjalan pelan menuju sebuah tenda besar yang berada di tengah tengah kios yang memperjualbelikan budak, terpampang jelas di atas tenda besar itu [ kedai budak ] inti dari semua masalah yang ada di Ibukota.
An lalu berhenti disebuah lapak kecil, dimana lapak tersebut menjual banyak sekali organ manusia. Lapak yang paling dekat dengan tenda utama, lantas penjual dari tempat yang didatangi An angkat suara dan mencoba menjajakan dagangannya, "tuan apakah ada yang menarik perhatian anda? saya akan memberikan harga bagus karena anda adalah orang pertama yang datang!"
Gadis itu melirik wanita paruh baya yang ada disampingnya, "benarkah? maaf ya aku lebih suka yang masih segar." cibirnya sambil tertawa.
"maaf?" ucap wanita itu terkejut, An kemudian tersenyum dan berjongkok agar dapat melihat wanita itu dengan jelas, "aku bercanda bibi~"
Mereka berdua kemudian tertawa dengan canggung dan suasana menjadi berubah, "daripada itu apakah kau pernah masuk ke sana?" tunjuk An ke tenda utama.
Wanita itu membelalakkan matanya dan menggeleng secepat yang dia bisa, "ti--tidak! saya tak akan pernah mau masuk ke sana!"
"kenapa? kalau begitu apakah kau tahu sesuatu tentang orang orang yang biasa berkunjung ke sana? atau melihat sesuatu.." ucapan An terpotong karena wanita yang ada dihadapannya berbisik padanya.
"diam! saya tak tahu apapun! jika anda tak ingin membeli, sebaiknya anda pergi dari sini!" bisik bibi itu dengan penuh rasa takut, An menatapnya dan dapat dilihat tangan dan bibirnya yang gemetar itu.
dia tahu sesuatu.' batin An, ia lalu menyeringai dan mendekatkan bibirnya tepat ditelinga wanita itu, "jangan bohong bibi~"
Akan tetapi, wanita itu tetap kukuh tak mau memberitahu apapun, hampir meluapkan emosinya, An teringat kembali suatu cara agar wanita tersebut mau memberikannya sebuah informasi.
Gadis itu menarik lengan penjual dan memberikannya sekantung kecil yang penuh dengan dang, mata wanita paruh baya itu berbinar dan membulat sempurna, ia lantas melirik An yang masih dengan sabar menunggu keputusannya.
"saya.. secara tak sengaja mendengar pembicaraan orang orang itu, yang berkata akan membuka beberapa cabang di kota terdekat." wanita itu menarik nafasnya panjang dan melihat sekeliling.
"mereka, akan mengadakan rapat hari ini bersama dengan para koleganya. Dan.. salah satu kolega yang mereka maksud.. adalah seseorang yang berasal dari salah satu keluarga inti, keluarga Wu." wanita itu kemudian menarik lengan An secara kasar agar ia dapat membisikkan sesuatu.
"tolong.. tuan, jangan beritahukan ini pada siapapun.. kumohon, saya masih ingin hidup.." wanita paruh baya itu memohon dengan mata yang berkaca kaca.
An mengangguk dan memegang pundaknya sambil bertanya kembali, "tenanglah, lalu apakah kau pernah melihat seorang laki laki berambut oranye yang berumur sekitar 20 tahunan? dia mempunyai luka didekat bibirnya."
"a--apa maksud anda Tuan Rushin? saya pernah beberapa kali melihatnya, dia salah satu orang yang bisa dengan bebas keluar masuk ke sana." kata bibi itu agak tenang, ia lantas melihat sesuatu dan berbisik kembali, "itu dia!" bisiknya dengan hati hati menunjuk.
An melirik seseorang yang dipanggil Rushin itu dan ternyata ia adalah orang yang sama dengan orang yang memberikan budak padanya di pelelangan si kakek tua, An tersenyum dan tertawa pelan, "wah.. beruntungnya.."
Karena An terlalu memandang lelaki itu dengan tatapan membunuh yang belum bisa dikondisikan, lelaki itu kemudian menatap balik ke arahnya, ia pun tersenyum dan masuk ke tenda utama.
"ah.. seharusnya aku tak melihatnya seperti itu.." An mendengus kesal, ia lalu melepaskan anting safirnya dan masih berdiam diri didepan lapak kecil wanita itu.
Setelah lima menit berlalu, An pun berdiri dan merenggangkan ototnya.
"anda sudah mau pergi tuan?" tanya bibi penjual padanya.
"tidak juga~ aku masih ada urusan di sini, aku akan pergi sebentar.. ngomong ngomong, apakah aku boleh meminjam ini?" ujarnya seraya menunjuk tongkat kayu dibelakang penjual itu, dengan sigap wanita itu mengambilkan tongkat kayunya berharap An cepat pergi dari lapak jualannya.
__ADS_1
An akhirnya pergi dari sana dan berjalan santai mengitari kios kios yang ada, ia pun tanpa sengaja menemukan sebuah area kosong disekitar wilayah budak itu yang sepertinya akan dibuat untuk memperluas wilayah.
Ia melangkah sampai ke titik tengah lapangan kosong itu dan membalikkan tubuhnya, entah itu disengaja atau tidak, Rushin sudah ada di sana dengan memegang sebuah cambuk dan rantai ditangannya, "aku tak tahu dendam apa yang kau simpan tapi, aku tak suka dengan orang yang menatapku dengan tajam seperti itu." lelaki itu masih berbicara pada An.
"begitukah? tapi aku tak ingat pernah menatapmu seperti yang kau katakan." ledek An sambil memainkan tongkat kayunya.
"tuan, aku tak punya banyak waktu. Tapi aku akan meladeni mu dan.." Rushin diam sejenak dan kembali melanjutkan perkataannya, "tunggu.. bukankah kau adalah orang yang membeli budak di kota Chengse sekitar dua minggu yang lalu?" lanjutnya.
dia punya ingatan yang bagus.' batin An agak kesal.
Lelaki itu kemudian tertawa seperti orang gila, "haha! benar! seharusnya aku mengenali topeng bodoh itu! bagaimana dengan budak budak mu? apakah kau puas menggunakan tubuh mereka?"
"apa?" cela An masih menatap Rushin dengan tajam.
"eh? jangan malu tuan~ bukankah melakukannya dengan anak kecil itu menyenangkan? aku tahu semua bangsawan itu memiliki hobi yang aneh. Kau---" sebelum Rushin sempat melanjutkan perkataannya, An sudah lebih dulu menyerang menggunakan tongkat kayunya.
apa ini? padahal itu hanya tongkat kayu, bagaimana dia bisa menembus kulitku? dia bahkan tak menggunakan chi pada tongkat itu.' batin Rushin mengelap darah yang mengalir diwajahnya.
"kenapa kau menghindar? seharusnya tetap lanjutkan omong kosongmu agar aku dapat menembus mulutmu tadi." hina An masih bersiap untuk menyerang.
beraninya dia menganggap jika aku seorang homo?! aku akan memotong kepunyaannya!' batin An dengan wajah yang menyeramkan.
"ah.. haha.. kau benar benar pelanggan yang tak tahu diri.." Rushin kemudian berlari ke arah An dan mengayunkan rantainya.
"kenapa kau terus menghindar? bukankah kau yang menginginkan ini?!" teriak lelaki itu mengarahkan cambuk dan rantai bersamaan.
ini momen yang pas untukku mencobanya.' batin An masih berusaha untuk menjaga jarak serangnya.
"kau pikir, hanya kau yang mempunyai rantai?" gumam An, ia lalu mengarahkan lengannya ke depan tepat ke arah Rushin. Tak lama, rantai rantai kristal hitam pekat keluar dari tangannya dan langsung menargetkan Rushin sebagai mangsanya.
Lelaki itu terlihat terkejut, karena hal itu ia kehilangan keseimbangan dan terperangkap didalam rantai kristal milik An.
"ugh.. apa.. bagaimana kau melakukan ini?! AH--" pekiknya ketika rantai kristal itu seolah mengeluarkan api hitam yang membakar tubuhnya.
"kau.. kau pikir hanya karena trik bodoh ini aku akan kalah?!" dengan tubuh yang hampir setengah terbakar, ia menyiapkan sebuah kuda kuda yang belum pernah dilihat An, lelaki itu membaca sebuah mantra kecil dan seluruh energi disekitarnya seakan tersedot secara paksa, masuk ke dalam tubuh lelaki itu.
"apa itu?" bisik An kala melihat tubuh Rushin yang bertransformasi, tubuhnya menjadi lebih besar, rambut yang terus tumbuh, cakar panjang hingga pupil mata lelaki itu yang seketika berubah menjadi gelap.
Orang yang dihadapi An kini menjadi seperti makhluk lain, tanpa kesadaran yang cukup Rushin melepaskan rantai kristal dan mulai menyerang An dengan membabi buta, "benar.. inilah, siluman." gumam An merasa takjub dan bergairah.
Seluruh tubuhnya bergetar dan berkeringat, napas An sekarang tak beraturan namun ia masih bisa menghindari gerakan cepat itu, "musuh kuat.. sungguh.. menakjubkan!" seru An mengeluarkan rantainya kembali untuk mengikat Rushin di tempat.
Sangat disayangkan karena itu tak mempan, seperti yang tertulis dibuku kristal akan menjadi kuat seiring dengan kekuatan pemiliknya, gadis itu dari awal memang tak terlalu berharap, karena ia tak menduga akan melihat transformasi siluman secepat ini.
__ADS_1
"kau.. lihat bukan? inilah perbandingan jauh antara manusia dengan siluman! sejak dulu sampai sekarang, akan terus ada jarak untuk kalian melawan kami!" Rushin kembali mendapatkan kesadarannya.
"bukankah sekarang kau kelelahan? kau selalu menghindar tanpa melawan sedikitpun! walau kau menguasai 'teknik' itu, kau masih jauh di bawahku!" lanjut Rushin, ia kemudian mengeluarkan cakar panjang yang dilapisi chi dan mengarahkannya lurus pada An yang sudah tak punya tempat lari lagi.
"iya~ kau benar jika aku lemah sekarang, tapi.. kau salah jika menganggap ku kelelahan. Kau pikir aku akan mengeluarkan tenaga hanya untuk melawan makhluk sepertimu?" tegas An bersandar seolah memang menunggu Rushin sampai ke tempatnya, terpancing emosi dan tanpa mengingat bahwa yang ia lawan sekarang adalah manusia.
Rushin dengan cepat berlari dan siap menerkam An seperti mengincar mangsa yang tak berdaya, belum sempat ia menyentuh topeng An, kedua lengannya telah terkunci bersama rantai rantai yang berkumpul di sana.
"kau?! beraninya--" Lelaki itu memuntahkan banyak darah ketika An menusuk dadanya dengan tongkat, yang di ujungnya telah di tancapkan sebuah kristal.
"kami manusia, lebih suka menggunakan otak dibandingkan tenaga." bisik An pada Rushin yang sudah tak berdaya, dia lantas menarik tongkat itu dan mendorongnya jatuh ke tanah. Ketika itu juga, tubuh besar Rushin berubah kembali menjadi tubuh manusia normal, dengan luka tusukan yang sangat dalam.
Lelaki itu masih berusaha untuk bernapas dan memegang lukanya, ia dapat merasakan jika luka tusukan yang dialiri darah itu bercampur dengan cairan lengket seperti sebuah racun.
"kau suka? itu racun yang kubuat sendiri.. berasal dari tanaman yang sama sekali tidak dilirik siapapun." jelas An, gadis itu lalu menginjak tubuh Rushin hingga ia merintih dan mengerang kesakitan.
"ah! hentikan! aku tak pernah memiliki salah padamu! tolong.. lepaskan aku!" pintanya berharap An melepaskan dirinya.
An hanya diam, ia kemudian menekan luka Rushin lebih kuat lagi dan mendekatkan wajahnya, "kau juga kan? kau menculik dan menjual anak anak yang tak memiliki kesalahan padamu. Kau tahu? sekejam kejamnya aku, aku tak akan sudi untuk memperjual belikan manusia." gadis itu berhenti menginjak luka Rushin dan berjongkok dihadapannya, "kau.. apa kau tahu sesuatu tentang teknik yang kugunakan?"
Tak bisa dipungkiri, ketika Rushin berkata seolah dia mengetahui teknik itu, An menjadi penasaran dan ingin mendengar sesuatu yang berkaitan dengan teknik suku Velma itu.
Lantas Rushin pun tertawa dan mengatakannya dengan sangat menyedihkan, "aku tak tahu kau mendapatkan teknik itu darimana, yang jelas.. teknik itu adalah sebuah kutukan bagi pemiliknya!"
Setelah mengatakan itu, ia pun pingsan untuk selamanya, "dasar makhluk gila.. dia membuatku tambah penasaran.." An lalu mengarahkan lengannya ke mayat lelaki itu dan menyimpannya di penyimpanan pribadi miliknya.
"tetaplah di sana, aku akan mencarikan teman untukmu." gumam An sebelum ia pergi dari lapangan kosong itu.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...
__ADS_1