
Suasana di sekitar api unggun malam itu semakin ramai dengan kehadiran King. Kemunculan lelaki itu di luar dugaan. Meski datang dengan tangan dibalut perban, tapi tak menyurutkan semangat King untuk menghibur semua orang dengan permainan apik gitarnya juga suara indahnya.
Rani bergegas menuruni anak tangga, berlari menuju King berada. Lelaki itu melambaikan tangan dan tersenyum padanya sambil terus bernyanyi. Hati Rani berdesir, pandangannya tak lepas menatap wajah tampan itu.
So let it out and let it in. Hey Jude, begin. You’re waiting for someone to perform with, and don’t you know that it’s just you. Hey Jude, you’ll do. The movement you need is on your shoulder.
(Jadi biarkan keluar dan biarkan masuk. Hei Jude, mulailah. Kau sedang menunggu seseorang untuk tampil bersama, dan tidak tahukah kau bahwa hanya ada dirimu. Hei Jude, kau melakukannya. Gerakan yang kau butuh kan ada di pundakmu)
Nah nah nah nah nah nah.
King mengakhiri lagunya diiringi siulan dan tepuk tangan semua orang. Terlihat sekali bagaimana antusiasnya warga melihat King bernyanyi, Rani kini tahu kalau semua orang menyukai dan memuja laki-laki itu. Ia memberikan tatapan pujian dan mengacungkan dua ibu jarinya.
“Thank you.” King menurunkan topinya dan mengusap rambutnya, membungkukkan setengah badannya dan tersenyum lebar menatap semua orang.
“We love you, King!”
King tertawa mendengarnya. “Thank you, thank you.”
King menyerahkan gitar di tangannya pada salah satu rekannya yang duduk di sebelahnya, berbisik sebentar sambil mengarahkan telunjuknya ke satu tempat. Lelaki itu mengangguk mengerti, lalu beranjak meninggalkan King.
“King!” panggil Rani.
“Hai, Rani.”
Rani tak dapat menyembunyikan rasa senangnya melihat kehadiran King di tempat itu. “Aku pikir Kau tak akan datang malam ini.”
“Tentu saja Aku harus datang malam ini. Aku tidak mungkin melewatkan pesta penyambutan dirimu di tempat ini,” sahut King, ia menarik bangku kosong di dekatnya dan menyuruh Rani untuk duduk di sana.
Rani tersenyum menanggapi, ia duduk di sebelah King dan menatap lengannya yang terbungkus jaket tebal. “Bagaimana dengan luka di lenganmu, Kau tampak sedikit pucat?”
__ADS_1
King meraih botol minuman di depannya, dan satu kali tegukan ia sudah menghabiskan separuh isinya. Ia menghela napas, dan menaruh botol minumannya lagi ke atas meja. “Aku bisa mengatasinya, bengkaknya sudah mulai berkurang.”
“Bagaimana Kau bisa terjatuh dari kuda dan digigit ular?” Rani memutar kursinya menghadap King, kini jarak di antara mereka cukup dekat. Bahkan lutut Rani yang terbuka hampir menyentuh kaki King.
King menolehkan wajahnya, tersenyum menatap wajah wanita di hadapannya itu. Ia menegakkan tubuhnya sejenak, mendongak melewati atas kepala Rani memindai sekelilingnya.
Ada sepasang mata tajam yang terus mengawasi kedekatan mereka, King dapat merasakannya. Nalurinya yang terlatih seolah merasakan bahaya, King mencari dengan ekor matanya dan tersenyum samar saat matanya menangkap pergerakan seseorang di antara kerumunan warga yang sedang berbenah membereskan sisa-sisa makanan setelah pesta.
“Aku terjatuh dari kuda saat mengejar ternak yang bersembunyi di semak-semak, dan reptil itu rupanya ada di sana dan terkejut melihatku.” Jelas King.
“Kau pasti kesakitan sekali, King. Aku pernah mengalaminya saat masih kecil, dan Aku tahu bagaimana rasanya.”
King tersenyum mendengarnya, “ Oh ya, Aku tidak pernah menyangka Kau pernah mengalami hal itu. Menarik, lalu bagaimana ceritanya Kau bisa sampai digigit ular?” King menanyakan hal yang sama pada Rani.
“Dulu Aku pikir kulit ular itu berlendir, sampai akhirnya Aku menyentuhnya.” Rani bergidik, membayangkan masa kecilnya. Ia takut sekali dengan makhluk melata yang satu itu, beberapa kali Rani nyaris terpatuk ular sewaktu mengikuti ayahnya bermain di ladang. Dan ia melihat bagaimana ayah menghalau mereka dan menangkap salah satunya.
Lagi-lagi King tersenyum mendengarnya. “Hampir semua orang mengira seperti itu, sampai mereka menyentuhnya.”
“Sepertinya Kau banyak tahu tentang cara hidup makhluk yang satu itu. Ceritakan padaku, selain kuda, sapi, dan sekarang ular, apalagi yang Kau ketahui tentang binatang-binatang lainnya Tuan Kingstone Hardy?” tanya Rani, mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menopang dagu dengan kedua tangannya. Kekagumannya bertambah pada laki-laki itu.
“Masa pengumpulan ternak adalah masa tersibuk untuk semua orang di peternakan ini. Selalu saja ada ternak yang tersesat dan bersembunyi di semak-semak, jadi kami harus mengumpulkan mereka dengan cara berkuda. Tak jarang ada ternak yang mengamuk, dan kami harus terlebih dahulu menjinakkannya.”
“Kingstone Hardy!”
Rey muncul di hadapan mereka berdua, King mendongak dan Rani menolehkan wajahnya.
“Tuan Hart, apa kabar?” King berdiri dan menyambut jabat tangan Rey padanya. Sempat dilihatnya tatapan mata Rey melembut pada Rani yang ikutan berdiri dan mengangguk padanya.
“Aku datang hanya untuk menyapa kalian.” Rey tertawa pelan, “King, suaramu bagus sekali. Aku suka lagumu, menginspirasi.”
__ADS_1
Rey menepuk pelan bahu King, ia tertawa lagi namun terdengar aneh di telinga Rani. Rey berpamitan tak lama kemudian, sikapnya yang terlihat ragu-ragu saat meninggalkan Rani berduaan dengan King membuat tanda tanya besar di hati King.
“Tampaknya Rey menyukaimu, sedari tadi kuperhatikan ia terus melihatmu. Dan Kau seperti ingin menghindar darinya,” ujar King tanpa basa-basi.
Rani menoleh cepat, mendelik pada King yang tertawa melihat reaksinya. “Apa itu terlihat jelas di wajahku? Rey menawariku jalan-jalan dengannya malam Minggu ini, tapi Aku menolaknya.”
King tergelak, dan wajah itu terlihat semakin tampan saja. Rani mendengkus sebal melihatnya, “Kenapa Kau malah tertawa?”
“Aku berharap Kau tidak akan menyesali keputusanmu menolak ajakan Rey berkencan denganmu.” King mengarahkan dagunya ke barisan kursi di bagian belakang mereka. “Kau lihat, Rey menjadi incaran banyak wanita muda juga ibu-ibu yang menginginkan putrinya mendapatkan jodoh lelaki kaya.”
Rani mengikuti arah pandang King, dilihatnya Rey sedang mendekati salah satu wanita muda dan tanpa ragu memulai perbincangan dengannya.
Rani menghela napas, menoleh sesaat pada King. Lelaki itu tengah menatap Rey, timbul niat di hati Rani untuk menggodanya. “Kau benar, sepertinya Aku telah menyia-nyiakan kesempatan emas.”
Rani memasang wajah nelangsa. Suaranya dibuat sesedih mungkin untuk meyakinkan King kalau ia menyesal menolak ajakan Rey. “Aku sudah merasa menyesal sekarang, menolak ajakan salah satu lelaki tampan di kota ini. Pasti akan sangat menyenangkan bisa jalan-jalan berduaan dengannya.”
Rani terus menatap ke arah Rey, King mengerutkan keningnya berusaha meyakinkan diri kalau ia tak salah dengar. “Ada yang aneh di sini, Atau Aku yang salah mendengarnya. Bukankah Kau tadi yang menolak ajakannya, lalu kenapa sekarang Kau menyesalinya? Apa Kau merasa perlu bersaing dengan para wanita muda di sana untuk menarik perhatiannya lagi?“
“Aku hanya baru menyadarinya sekarang, sepertinya Aku butuh seseorang untuk mengajakku jalan-jalan. Sayang Aku sudah menolaknya,” ujar Rani dengan wajah menyesal, tak melepaskan pandangannya sedikit pun pada Rey dan teman wanitanya.
King mengerutkan keningnya, lalu terdengar helaan napasnya. “Apa sejak dulu Kau selalu saja mendapatkan semua keinginanmu?”
Rani menggeleng pelan, “Tidak selalu, hanya mereka yang benar-benar menyayangiku saja yang bersedia menuruti keinginanku.”
“Baiklah Nona Maharani Putri.” King menatap dalam mata Rani, “Aku akan mengajakmu berkuda suatu pagi nanti, melihat-lihat pemandangan indah tempat ini seperti yang Kau inginkan. Kau hanya perlu mengenakan celana jeans dan sepatu bot. Apa Kau bisa menunggang kuda, Rani?”
Yess! Kena kau, teriak Rani dalam hati. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya. Rani senang telah berhasil membuat laki-laki di depannya itu menuruti keinginannya.
“Tentu saja Aku bisa menunggang kuda, Aku ingatkan Kau sekali lagi kalau Aku ini putri seorang koboi dan cucu seorang pemilik peternakan.” Ujar Rani dengan bangga.
__ADS_1
“Nah nah nah. Hey Rani, you do it again!” Dan Rani tertawa lebar mendengar ucapan King padanya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎