My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 20. Wanita King


__ADS_3

Rani mengepalkan tangannya, gemas mendengar cerita Tony. Ia tak menyangka apa yang dilakukan manajer Gaby itu sangat keterlaluan.


“Laki-laki itu sudah memiliki istri, dan dia sering mencoba menggoda Gaby. Aku tidak mengerti bagaimana Gaby kuat bertahan dengan gaji yang dia terima selain harus menghadapi ulah Parker.”


“Laki-laki itu harus mendapat pelajaran!”


“Aku setuju!” Ujar Tony mengiyakan. “Apa Kau ingin menemuinya sore ini? Aku rasa toko itu masih buka. Masih ada waktu satu jam sebelum ia menutup tokonya jam setengah enam sore nanti.”


Tony menunjuk arloji di tangannya, dan Rani bersemangat mendengarnya. “Rasanya Aku sudah lama tidak bertemu lelaki model seperti ini. Kita berangkat sekarang!”


“Siap, Nona!”


Tony membawa Rani melewati jalan pintas menuju toko pakan ternak tempat Gaby bekerja. Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sudah sampai di sana.


Tony menepikan mobilnya di depan pintu masuk toko, sejajar dengan satu mobil lainnya. “Apa Kau yakin ingin masuk ke dalam sana?”


Tony menoleh pada Rani, wanita itu sibuk mengibaskan tangannya ke depan hidungnya. Ia tersenyum lebar dan meraih kotak tisu yang ada di belakang jok mobilnya. “Sepertinya Kau butuh benda ini.”


“Terima kasih,” sahut Rani seraya menarik beberapa lembar tisu dari tempatnya, melipatnya dan memasukkan ke dalam genggaman tangannya.


Tony berdiam diri sejenak, menatap ke arah dalam toko seolah sedang mengamati sesuatu. Ia tersenyum miring saat melihat orang yang diincarnya kelihatan sedang melayani salah seorang pembeli di dalam tokonya. “Kau lihat, itu dia. Lelaki itu yang bernama Parker!”


Rani menatap ke arah yang ditunjuk Tony. Pria itu setengah botak dengan perut buncit dan memakai kemeja ketat, terbuka di bagian perutnya. Kancing kemejanya sepertinya copot karena tak mampu membendung perutnya yang buncit.


Tony turun dari mobil, berjalan memutar membukakan pintu untuk Rani lalu melangkah bersama-sama masuk ke dalam toko. “Lihat apa yang akan kulakukan padamu,” katanya setengah bergumam.


Baru saja sampai di depan etalase pertama, Rani harus menutup hidungnya dengan jari telunjuknya. Ia tak tahan dengan bau menyengat ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam pakan ternak.

__ADS_1


Benar-benar mengerikan tempat seperti ini, penuh debu dan tak terurus dengan baik. Pakan ayam berhamburan di lantai, begitu juga dengan tumpukan jerami yang miring dan tersusun tinggi yang bisa saja sewaktu-waktu akan jatuh tiba-tiba.


“Silah kan, ada yang bisa kubantu?” Parker bertanya pada Tony sambil melirik penuh minat ke arah Rani, ia sengaja bergeser mendekati tempat Rani berdiri dan menawarkan sekotak tisu padanya.


Rani menggeleng cepat dan membuka telapak tangannya, ada lembaran tisu dalam genggamannya.


Tony berdeham, menarik sekop yang tergantung tali di dinding dan mengentakkannya ke lantai. “Asli apa kw?” tanyanya sambil membolak-balik sekop di tangannya, sebelum mengangkatnya dan mengarahkannya ke depan wajah Parker.


Rani melipat bibir, berusaha menahan tawanya. Ia teringat ulah King setiap melihat benda itu. Wajah Parker berubah masam dan ia berjalan menjauhi Rani lalu berdiri di hadapan Tony.


Parker mendengus, dan Rani langsung teringat hewan ternak milik neneknya. “Aku tidak menjual barang kw, ini asli. Kami mendatangkannya langsung dari negara asalnya.”


“Berapa harganya? Aku butuh banyak untuk menggali tanah,” kata Tony masih saja membolak-balik sekop di tangannya.


Lelaki itu menyebutkan harga, “Memang mahal, tapi layak untuk barang asli seperti ini.”


Rani yang sedari tadi diam saja, langsung mendekati Tony dan berbisik padanya. “Kau benar-benar ingin membeli benda ini?”


Tony mengangguk, “King yang menyuruh membeli, kami perlu untuk membersihkan sisa-sisa lumpur di peternakan.”


Rani membulatkan bibirnya, ia berjalan menjauh dan berdiri di sudut toko dekat pintu masuk. Ia yang berniat memberi pelajaran pada Parker malah berbalik ingin muntah saat berada di dalam tokonya.


Tak bisa dibayangkan bagaimana Gaby setiap harinya harus berkutat di tempat ini. Benar-benar tidak sehat.


“Tony, sekalian saja Kau beli sepuluh untuk keperluan di peternakan!”


Suara itu, Rani langsung balik badan dan terbelalak melihat kemunculan King.

__ADS_1


“King?” seru Rani memanggil namanya, ia berjalan menyambut King yang hendak turun dari mobilnya. Hampir seharian ini ia tidak melihat lelaki itu. Perban di lengannya yang terluka sudah tak tampak lagi.


King tersenyum menatapnya, lelaki itu kelihatan lelah sekali. Kaos putih yang dikenakannya basah keringat. Di bak belakang mobilnya penuh hewan ternak yang terikat.


King membuka tutup botol minuman yang dibawanya, bukan untuk diminum tapi ia guyurkan ke atas kepalanya. Cuaca hari itu memang panas, setelah dilanda badai hujan dan angin kencang malam harinya.


Tak berhenti hanya di situ, lelaki itu lalu menyerahkan botol minuman kosongnya pada Rani dan setelah itu merangkul bahu Rani untuk berjalan masuk ke dalam toko bersamanya.


Rani menahan napasnya, bukan karena bau dalam ruangan toko. Tapi karena ia tak ingin King mendengar bunyi detak jantungnya yang berdegup kencang.


“Aku hanya membawa uang untuk tiga sekop,” kata Tony memperlihatkan lembaran uang di tangannya.


King mengambil dompet dari saku celana jeansnya, dan mengeluarkan satu gepok uang. “Biar Aku yang membawa mobilmu, dan Kau ganti bawa ternak itu pulang ke peternakan.”


King menyerahkan kunci mobilnya pada Tony dan laki-laki itu menurut, ia berpamitan pada Rani dan langsung bergegas keluar toko.


“Bisa Kau lebih cepat menyediakan sekop yang Aku minta?” tanya King menatap lurus lelaki di hadapan mereka.


Hanya berselang lima belas menit, sepuluh sekop sudah berpindah ke mobil King. Lelaki itu menyandarkan punggungnya sejenak ke sandaran kursi di belakangnya, lalu menatap Rani dengan lembut.


“Aku lelah sekali hari ini, Andai Kau bisa menggantikanku menyetir mobil ini.” Kata King tersenyum menyentuh helai rambut di pipi Rani.


“Tenang saja, King. Aku bisa melakukannya untukmu.” Rani balas menatap King, ia serius dengan ucapannya.


King bergeser ke samping, membiarkan Rani mengambil alih kemudi. Ia tersenyum menatap Rani yang dengan tenang menjalankan mobil pulang menuju peternakan.


“Kau memang wanitaku, Aku senang sekali bisa menemukanmu di tempat ini,” ucap King sebelum ia memejamkan mata, tertidur kelelahan.

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2