My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 12. Terperangkap badai


__ADS_3

Kamis pagi ...


Rani terjaga dari tidurnya, tersentak bangun ketika mendengar suara halilintar menggelegar di susul hujan yang turun tiba-tiba dan deras sekali. Ia tertidur di kamar loteng malam itu, hendak bernostalgia sambil mengenang masa kecilnya.


Rani melihat jam, pukul empat pagi. Tubuhnya menggigil tiba-tiba, bukan karena suhu rendah pendingin ruangan di kamarnya, tapi karena angin kencang yang berembus masuk ke dalam kamarnya. Rani ingat, ia lupa menutup jendela kamarnya yang semalam sengaja di biarkannya terbuka.


Saat cuaca cerah di malam hari, dari kamar loteng tempatnya kini Rani bisa melihat langsung pemandangan langit malam yang indah. Ia juga bisa melihat pemandangan nun jauh di bawah sana, tanah lapang yang dipenuhi rerumputan tebal di sekitar area rumah peternakan neneknya.


Bledaarr!


Kilatan halilintar menyambar tanah di bawahnya, silih berganti menggetarkan sebelum akhirnya kembali dan menghilang di balik awan. Langit tiba-tiba saja tertutup sepenuhnya oleh awan hitam kelam.


Derasnya air hujan seperti jarum tajam menghantam kaca jendela kamar loteng, sebagian airnya masuk dan membasahi pinggiran tempat tidurnya. Rani Bergegas bangun dan menarik pengait lalu menutup cepat kusen jendela. Ia pun menarik tali korden kamarnya hingga menutup sempurna dan hanya menyisakan bayangan halilintar yang terlihat dari luar sana.


Cirap cirap ... pet!


Astaga!


“Neneekk!” teriak Rani ketika lampu di kamarnya padam, semua menjadi gelap gulita. Tak ada cahaya sedikit pun, dadanya tiba-tiba sesak.


Tangannya menyasar dinding di dekatnya, dan menyentuh ujung nakas yang ada di sana. Rani meraba rak teratas, teringat kalau ia meletakkan ponselnya di sana. Berhasil! Tubuh Rani melorot turun, ia menarik napas lega. Benda pipih itu kini berada dalam genggaman tangannya.


“Ini dia!” Rani cepat-cepat menyalakan ponselnya, cahaya berpendar menyinari ruang kamar itu. Rani melihat bayangan besar dirinya, meringkuk di samping nakas sambil menekuk kedua kakinya.


“Rani! Apa Kau di atas sana?” suara neneknya mengalihkan perhatian Rani. “Cepat Kau arahkan senter ke atas tangga!” perintahnya pada seseorang.


“Nenek!” Rani bangkit dan berdiri, bergegas menuruni anak tangga dengan penerangan cahaya senter ponsel di tangannya.


Di bagian tengah tangga, cahaya berbentuk bulat menyorot lurus ke tubuh Rani. Ia memicingkan matanya dan sontak memalingkan wajah ketika cahaya yang datang padanya justru menghalangi pandangannya.


“Ben! Arahkan sentermu ke bagian kakinya, bukan wajahnya!” perintah nenek lagi, kali ini dengan nada lebih kencang.

__ADS_1


Lelaki itu menurut, Ben salah satu mandor peternakan yang tinggal di rumah peternakan Maggie mengarahkan lampu senter di tangannya turun ke arah kaki Rani.


Rani mempercepat langkahnya, ia langsung memeluk tubuh neneknya ketika sampai di bawah tangga.


Bledaarr!


“Aarghk!” Rani terpekik dan langsung menutup telinganya.


“Ssh ssh tenanglah, Rani. Tidak akan terjadi apa-apa, kita akan aman di dalam rumah ini.” Ucap nenek menenangkan, meski ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.


Nenek bisa merasakan ketakutan yang dialami Rani saat ini, ia lalu menuntun cucunya itu berjalan ke sofa dan duduk di sana sementara Ben memeriksa bagian belakang rumah.


Selama menunggu badai reda, mereka hanya bisa berdoa semoga saja badai cepat berakhir dan cuaca kembali cerah.


Menurut prakiraan cuaca yang tayang pagi tadi, badai disertai hujan deras dan angin kencang akan melanda wilayah mereka. Seperti tahun-tahun sebelumnya, badai itu akan mereda dalam beberapa menit.


Tapi hujan turun semakin deras, dan angin bertiup kencang. Kain korden meliuk-liuk tertiup angin, bunyi derit meja kursi yang bergeser terdengar jelas. Rani bahkan bisa mendengar suara degum pintu belakang rumah yang terempas keras terkena hantaman angin kencang.


Setiap kali halilintar menyambar dan menggetarkan kaca-kaca jendela rumah, Rani terpekik kencang. Berbagai kemungkinan buruk berkelebat dalam benaknya, Rani menangis ketakutan.


Hujan masih turun deras, namun suara halilintar kini terdengar hanya sesekali tapi angin masih bertiup kencang. Lalu terdengar suara gemuruh lagi berbarengan dengan lampu di rumah yang kembali menyala, dan Rani terpekik lagi.


Mulanya Rani mengira itu suara halilintar. Namun ketika ia mendengar suara seseorang memanggil namanya juga neneknya, Rani berteriak senang dan bergegas lari ke depan.


“Rani, nyonya Maggie, buka pintunya!” teriak King dari luar pintu.


‘King, Kau kah itu?” Rani balas berteriak dengan suara serak, memastikan kalau yang datang memang King.


“Rani, buka pintu!” teriak King lagi.


“Rani, buka sayang. Itu King yang datang,” ujar Nenek dengan suara bergetar, sejak tadi ia berdoa dan berharap King akan datang membantu mereka menghadapi badai ini.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar Rani membuka kenop pintu. Begitu pintu terbuka, King nyaris jatuh terjerembap terdorong angin kencang. Lelaki itu menggeram keras menahan sakit di lengannya, ia berusaha berdiri tegak dan menutup kembali pintu di belakangnya dengan sebelah tangannya.


“King!” pekik Rani dengan wajah berurai air mata, ia begitu senang melihat kedatangan King. Rani langsung menjatuhkan tubuhnya ke dada King dan memeluknya erat. Ia menangis terisak.


“King, terima kasih Kamu datang.”


King mengangkat sebelah tangan dan balas memeluk Rani. Wanita itu mengeratkan pelukannya, dan kembali menyebut namanya.


“Syukurlah akhirnya Kau datang.” Nenek berjalan mendekati keduanya, mengusap pelan punggung Rani dan menepuk bahu King, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan mereka berdua berjalan menuju kamarnya.


Lama mereka berpelukan, dan Rani tak berniat melepaskannya. Ia masih takut badai itu akan datang lagi. Baju King yang basah melekat di tubuhnya, sepatu botnya kotor penuh lumpur. Topinya basah dan meneteskan air ke lantai, tapi Rani tak peduli.


King mengusap rambut Rani, menempelkan wajah wanita itu ke lehernya. Ia membelai punggung Rani hingga tangis wanita itu mereda dan tak terdengar lagi.


Rani sudah lebih tenang, ia mengusap pipinya yang basah dengan ujung jarinya. King menangkup wajahnya dan menatapnya cemas. “Aku sedang berada di kandang kuda dan terjebak di sana ketika badai itu datang. Semua lampu tiba-tiba padam, Aku berusaha keluar dari sana.”


“Lalu Aku teringat pada kalian dan berusaha sampai lebih cepat di tempat ini. Tapi hujan deras menghalangi jarak pandangku, Aku kembali terjebak kemacetan bersama pengendara lainnya dan tidak bisa datang lebih cepat untuk membantu kalian di sini.” Imbuh King lagi, mengangkat dagu Rani dengan ibu jarinya dan mengusap wajah itu dengan ujung jari telunjuknya.


“Apa Kau terluka? Ben bilang Kau sedang berada di kamar loteng saat badai itu datang.”


Rani menggeleng, dan balas menatap King. “Aku baik-baik saja, hanya ketakutan. Aku tidak pernah mengalami badai seperti ini.”


King tersenyum lembut, “Jika Kau tinggal lama di tempat ini, Kau akan terbiasa dengan badai seperti ini. Menakutkan memang, tapi Kau tidak akan panik lagi.”


Rani tersenyum mendengarnya, “Aku harap badai itu tidak datang lagi saat Aku tinggal lebih lama di sini.”


King menghela napasnya, “Sepertinya rencanaku untuk mengajakmu berkuda bersama harus ditunda. Ada banyak kerusakan di jalan, dan banjir lumpur di mana-mana. Semua orang akan disibukkan dengan tugas baru, membersihkan sebagian jalanan kota. Aku harap Kau bersabar menunggu waktu itu tiba.”


Rani hanya mengangguk, hujan di luar mulai mereda. Angin pun mulai bertiup tenang. King melepaskan pelukannya dan tanpa melepaskan pandangannya pada Rani. “Sepertinya kita harus segera berganti pakaian.”


Rani menatap dirinya dan tersipu malu saat menyadari ia hanya memakai baju tidur tipis, dan ia bisa melihat sesuatu di mata King. Rani sadar, ia sudah membangkitkan gairah laki-laki itu. Tanpa diminta dua kali, Rani bergegas pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Sempat didengarnya tawa King yang renyah di belakangnya.

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2