My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 9. Hey Jude


__ADS_3

Makan malam itu berlangsung lancar dan sangat menyenangkan, semua orang yang hadir di sana bergembira tidak terkecuali Rani dan neneknya. Hanya satu yang terasa kurang, King tidak ada di sana.


Para pekerja peternakan duduk bersama mengelilingi api unggun yang mereka buat, sambil memainkan beberapa alat musik. Gitar dipetik, harmonika ditiup. Tak lama musik country pun terdengar.


Reynard Hart putra nyonya Tessa langsung datang dan menemui Rani, begitu mendengar kabar kedatangan dirinya di tempat itu. Nenek mengintip dari balik pintu, tersenyum dan mengedipkan mata padanya.


Rani memutar bola matanya, jengah melihat ulah neneknya yang sepertinya sengaja membiarkan Rey mendekati dirinya. Ibu-ibu di sana pun tak kalah hebohnya, sengaja menggoda dirinya dan menjodohkannya dengan laki-laki itu.


“Kau harus mendengar kata ibu-ibu di sana.” Rey mengarahkan telunjuknya ke belakang dengan wajah jenaka, tubuhnya bersandar di tembok.


“Mereka hanya bercanda, tak usah diambil hati.” Rani menatap keluar rumah, berharap bisa melihat wajah tampan lelaki yang tadi siang berniat ingin menikah dengannya. Mengingat hal itu, tanpa sadar Rani senyum-senyum sendiri.


“Kau lihat, Aku muda dan tampan juga mapan. Aku tahu bagaimana cara menyenangkan hati seorang wanita tanpa menjadikannya sebagai sebuah masalah.” Rey melebarkan tangannya, menatap lurus ke arah Rani dengan bibir tersenyum dan penuh percaya diri.


“Sepertinya Kau juga seorang yang baik hati.” Rani menambahkan dan menanggapi dengan santai, memicingkan mata balas mengamati.


Lelaki di hadapannya itu memang terlihat tampan, tubuhnya tinggi tegap dengan senyum menawan dan tiba-tiba saja mengingatkannya pada seseorang. Pasti banyak wanita yang berharap akan jadi kekasihnya. Alis matanya tebal, hidungnya mancung, dan Rey memiliki sepasang mata yang tajam. Sayangnya Rani tak tertarik!


“Tepat sekali, Aku memang baik hati.” Rey tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi.


Rani mengernyit, melirik sekilas pada Rey. Tak mengira, lelaki itu bahkan memuji dirinya sendiri.


“Ada banyak tempat yang indah yang ingin kutunjukkan padamu, jadi bagaimana kalau malam Minggu ini kita jalan-jalan berdua?” ucap Rey lagi.


“Hah?” Bukannya senang, Rani malah terkejut dengan tawaran yang tiba-tiba itu. Ia sempat bengong dan urung menjawab kalau saja neneknya tidak segera memanggilnya masuk.

__ADS_1


“Rani, ada telpon untukmu!” panggil neneknya sambil mengacungkan ponselnya ke udara.


“Rani, bagaimana dengan tawaranku tadi?” tanya Rey lagi, ia menghadang langkah Rani saat wanita itu bergegas akan mendatangi neneknya.


Rani mendongak menatap Rey, berusaha menampilkan senyumnya dan bersikap sewajar mungkin padanya. “Kau memang pria yang baik, pandai menyenangkan hati wanita. Tapi Aku rasa, itu bukan ide yang bagus untukku.”


“Kenapa? Apa Kau tak nyaman orang-orang akan membicarakan dirimu, Kau wanita singel dan Aku pun sama. Tidak akan ada orang yang merasa terganggu saat Kau jalan bersamaku.” Senyum manis di wajah Rey menghilang, berganti dengan senyum kecut.


“Aku tahu, tapi tetap saja Aku tak bisa menerima tawaranmu tadi. Aku tak perlu menjelaskan alasannya padamu dan Aku harap Kau bisa menghargai keputusanku ini,” ucap Rani tegas, ia harus mengakhiri pembicaraan ini dan segera menemui neneknya. “Maaf, Aku harus menemui nenekku.”


Rey bergeming, ia hanya terdiam bahkan saat Rani melewatinya. Tak menyangka akan menerima penolakan dari wanita itu, apa ia terlalu percaya diri hingga mengira semua wanita akan dengan senang hati menerima ajakannya.


Rani menghela napas, sebelum menerima telepon dari mamanya lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya. “Ya, Ma. Rani baik-baik saja, betah malah. Nenek membuatkanku pesta dan memasak banyak makanan untuk kami.”


Kalau Rani pikir Rey akan pergi setelah mendapat penolakan darinya, Rani salah. Rey masih ada di sana dan dengan setia mengikutinya. Membantunya membawakan makanan juga minuman ke meja.


Rani tak bisa berbuat apa-apa, dan membiarkan saja lelaki itu dengan keinginannya. Lebih baik ia menghilang dari sana, toh pestanya juga sudah selesai.


Rani duduk menyepi di sudut beranda rumah neneknya, seorang diri menikmati minuman coklat panasnya. Hanya satu lampu saja yang dibiarkan menyala di sana, dan Rani sengaja memilih tempat itu agar terhindar dari incaran Rey yang terus saja mengikuti dirinya sejak sore tadi.


“Hem, begini lebih baik.” Rani menghirup coklat panasnya, tersenyum kecil seraya membetulkan letak selimut di kakinya.


Udara di tempat itu semakin dingin sewaktu malam hari, Rani memilih untuk mengganti gaun yang dikenakannya tadi sore dengan sweter tebal yang menutup hingga bagian lehernya. Rambut panjangnya dibiarkannya tergerai. Angin nakal memainkan helai rambutnya, dan Rani membiarkannya saja.


Sinar bulan menerangi pelataran rumah peternakan, cahayanya keperakan menimpa benda-benda di sekitarnya. Musik pun masih terus dimainkan, kali ini lebih bersemangat.

__ADS_1


Rani tersenyum mendengarkan, hingga ia merasa ada sesuatu yang berbeda hadir di tempat itu. Rani mengarahkan pandangannya pada seorang laki-laki yang duduk di atas kayu bulat dengan gitar di tangan, menatapnya dengan seksama. Seolah menyadari kalau sedang diperhatikan lelaki itu menatapnya. Pandangan keduanya bertemu.


“King?” ujar Rani tak mempercayai penglihatannya, melotot menatap sosok King yang tersenyum ke arahnya.


Lelaki itu datang, Rani ingin mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan kalau ia tidak sedang bermimpi. King melambaikan tangan padanya sebelum ia memetik gitar dan mulai bernyanyi.


Hey Jude, don’t make it bad. Take a sad song and make it better. Remember to let her into your heart. Then you can start to make it better.


(Hei Jude, jangan perburuk keadaan, nyanyikanlah lagu sedih dan perbaiki keadaan. Ingatlah untuk membiarkannya masuk ke dalam hatimu. Lalu kau bisa mulai membuatnya lebih baik).


Hey Jude, don’t be afraid. You were made to go out and get her. The minute you let her under you skin. Then you begin to make it better.


(Hei Jude, jangan takut. Kau tercipta untuk mengejar dan mendapatkannya. Sebentar saja kau memeluknya, lalu kau mulai membuatnya lebih baik).


And anytime you feel the pain, hey Jude, refrain. Don’t carry the world upon your shoulders. For well you know that it’s a fool who plays it cool. By making his world a little colder.


(Dan kapan pun kau merasakan sakitnya, hei Jude, bertahanlah. Jangan pikul dunia pada pundakmu. Karena kau tahu kalau itu bodoh yang sok keren. Dengan membuat dunia sedikit lebih dingin).


Hey Jude, don’t let me down. You have found her, now go and get her. Remember to let her into your heart. Then you can start to make it better.


(Hei Jude, jangan kecewakan Aku. Kau telah menemukannya, kini kejar dan dapatkanlah dia. Ingatlah untuk membiarkan dia masuk ke dalam hatimu. Lalu kau bisa mulai membuatnya lebih baik).


Nah nah nah nah nah.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2