
Rani membeku di tempatnya berdiri saat itu, setengah tak percaya melihat kehadiran Andre di sana. Sosok lelaki yang menjadi alasan terbesarnya hadir di peternakan neneknya, kini justru muncul di hadapannya.
Suasana tegang terasa menyelimuti ruangan itu. Tuan Philips duduk di kursi rodanya, hanya diam menyimak. Sementara King, siapa yang bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Wajahnya kaku, pandangan matanya tajam menusuk, menatap dua orang di depannya.
Seolah mengerti apa yang sedang terjadi di tempat itu, Gaby bergegas ke dapur beralasan hendak membuatkan minuman untuk tamu yang baru datang.
“Tunggu, Aku akan membantumu.” Nenek melangkah cepat menyusul Gaby ke dapur, meninggalkan Rani sendiri di sana. Nenek hanya beralasan saja, hal sebenarnya yang ingin dilakukannya adalah menguping pembicaraan di balik sekat dinding kayu rumah tinggal Gaby.
“Apa yang Nyonya lakukan di situ?” tanya Gaby heran.
Nenek menutup mulut dengan ujung jarinya, memberi isyarat pada Gaby untuk tak bicara. Gaby menurut, dan melanjutkan membuat kopi untuk King.
“Rani, akhirnya Aku menemukanmu.” Andre tersenyum lebar, matanya terlihat bersinar begitu mengetahui keberadaan Rani di dekatnya.
Laki-laki itu berdiri, berjalan mendekat. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana suasana hati Rani saat itu, ia terlalu terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa ketika Andre tiba-tiba saja sudah memeluknya dan mencium kedua pipinya.
“Aku merindukanmu, sayang.” Bisik Andre, meraih tangan Rani dan membawanya ke bibirnya. “Apa yang Kau lakukan di tempat ini?”
Rani tersentak marah, menarik tangannya kuat. Ingin rasanya mencuci tangannya saat itu juga, jijik karena ada bekas tanda bibir laki-laki itu di sana. “Apa yang kulakukan di tempat ini bukan urusanmu!” sentaknya gusar.
“Aku minta maaf, Aku mengaku salah. Tak seharusnya membuatmu kesal dan marah seperti ini,” kata Andre, membuat banyak pasang mata yang sedari tadi menyaksikan drama di antara mereka berdua menatap penuh tanya ke arahnya.
“Aku tak pernah menyangka, dunia begitu sempit.” King menyela, ia tertawa keras. Berdiri dan membuka lebar kedua tangannya. “Ternyata calon pembeli lahan peternakan tuan Philips adalah kekasih nona Rani.”
“Tepatnya tunangan, karena Aku dan Rani akan segera menikah.” Tegas Andre, lalu meraih tangan Rani dan menggenggamnya kuat tak peduli Rani menyentaknya berusaha melepaskan diri.
“King!” Rani menggeleng kuat. “Ini tidak seperti apa yang Kamu pikirkan. Percaya padaku,” kata Rani dengan nada memohon.
Ada kilatan emosi di balik mata King saat tatapan mata mereka bertemu. King, Rani menyebut namanya tanpa suara, mencoba tersenyum padanya. Tapi King langsung membuang muka. Wajahnya tampak mengeras.
__ADS_1
Rani menatap King dengan rasa khawatir yang begitu kentara, kedatangan Andre telah menghancurkan harapan manis yang mulai tumbuh di antara mereka berdua. Malam indah yang baru saja mereka lewati bersama, sepertinya hanya akan menjadi kenangan saja.
“Kau tahu, Aku tak pernah berhenti mencarimu. Dan kali ini, Aku tak akan membiarkanmu lari dariku lagi.” Bisik Andre di telinga Rani, matanya lurus menatap King. Ia menyadari kedekatan laki-laki itu dengan Rani, dan tak akan membuat hubungan keduanya menjadi berkembang lebih jauh. Ia memutuskan untuk merebut Rani kembali.
“Aku membencimu, selamanya akan terus membencimu!” desis Rani di dekatnya. “Apa yang sudah Kamu lakukan di depan mataku, tak akan pernah kumaafkan. Camkan itu baik-baik!”
Uhuk uhuk!
Suara batuk tuan Philips mengalihkan perhatian semua orang, Rani menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan menjauh dari hadapan semua orang. Tapi lagi-lagi tangan Andre berhasil menangkap lengannya, dan menahannya untuk tetap tinggal.
“Aku perlu bicara denganmu nanti,” kata Andre tak melepaskan cekalan tangannya di lengan Rani.
“Lepaskan, Kau menyakiti lenganku!” desis Rani, tapi Andre benar-benar tak peduli dan hal itu membuat Rani bertambah marah.
King mengepalkan tangan, ingin sekali memisahkan Rani dari lelaki di sebelahnya. Tapi apa haknya kini, lelaki itu tuangan Rani dan mereka akan segera menikah. Sementara dirinya bukan siapa-siapa, kedekatan mereka selama ini pun seperti tak berarti apa-apa.
Rani menghela napas, ia paham maksud ucapan King. Kehadirannya di tempat itu tak diinginkan, hanya akan membuat Andre semakin hilang fokus karena dirinya ada di antara mereka.
“Aku pikir kita bisa menundanya besok, karena ada yang harus Aku bicarakan dengan Rani. Ini menyangkut kelangsungan hubungan kami berdua, Aku rasa Tuan Philips mengerti yang Aku maksud.” Timpal Andre, yang membuat emosi King meninggi.
“Aku rasa ada sedikit kesalah pahaman di sini.” King menatap tajam Andre, dan lelaki itu dengan enggan melepaskan cekalan tangannya di lengan Rani.
“sejak awal sudah kukatakan hanya mereka yang berkepentingan dengan urusan lahan milik tuan Philips saja yang bisa tinggal di sini. Aku tidak peduli dengan kisah asmara kalian yang tertunda, Aku harap kalian paham ucapanku.”
“Aku siap,” sahut Andre.
“Rasanya Aku perlu bicara terlebih dahulu dengan King, untuk meminta pendapatnya.” Kata tuan Philips angkat bicara, setelah sedari tadi hanya duduk diam mengamati.
Rani yang berjalan terburu-buru masuk ke dalam rumah menyusul Gaby di dapur, hampir saja menabrak neneknya yang berdiri mengintip di balik sekat dinding. Beruntung ia cepat menahan tubuh neneknya hingga tidak sampai jatuh ke lantai.
__ADS_1
“Apa yang Nenek lakukan di sini, menguping pembicaraan?” tanya Rani gemas, membantu neneknya berjalan ke dapur mendekati Gaby yang tengah duduk di kursi makan tersenyum memperhatikan.
“Apa dia orangnya?” tanya nenek setelah Gaby menarik kursi untuknya dan membiarkannya duduk dengan tenang.
“Dia siapa maksud, Nyonya?” Gaby bertanya dengan kening berkerut.
“Hanya ada tiga laki-laki di ruangan itu, pasti bukan ayahmu atau King yang Aku tanyakan.” Jawab nenek kemudian, menatap Gaby dengan kening berkerut lalu beralih menatap Rani dengan sorot mata menyelidik.
Gaby senyum dikulum, dan Rani mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan neneknya. “Ya, dia orangnya. Lelaki yang sudah membuatku muak karena terus saja mengejarku setelah apa yang dia lakukan di belakangku.”
“Beraninya dia melakukan itu pada cucuku!” geram nenek, tanpa sadar tangannya menggebrak meja hingga membuat Rani terlonjak kaget di kursinya. “Kau harus mencegah ayahmu untuk tidak menjual lahan peternakan miliknya pada laki-laki mesyum itu,” kata nenek pada Gaby.
“Baik, Aku akan bicara pada papa nanti. Saat ini, biar King yang mengurus semuanya. Aku percaya, King mampu mengatasi laki-laki itu.” Jawab Gaby menenangkan nenek.
Rani mengembuskan napas berat, “Apa yang harus kulakukan sekarang, King pasti mengira Aku akan kembali dengan Andre. King percaya ucapan laki-laki itu, dia percaya pada apa yang tadi dilihatnya kalau kami masih bertunangan dan akan segera menikah.”
Nenek menatap Rani dan bisa menebak apa yang terjadi dengannya. Wajah Rani tampak ceria saat jalan berdua dengan King, demikian pula sebaliknya. Namun setelah kehadiran Andre, sikap King berubah dingin dan kaku pada cucunya. King bahkan enggan menatap Rani saat cucunya itu berlalu dari hadapannya.
“Katakan padaku, apa kalian berpacaran. Apa King bilang kalau ia menyukaimu dan memintamu jadi kekasihnya?” Tanya nenek.
Rani menggeleng, tertunduk lesu. “King tidak pernah mengatakan suka padaku, tapi dia menciumku. Dan bodohnya Aku, Aku terlanjur suka padanya tapi tak sanggup mengatakannya pada King. Apa yang harus kulakukan, Nek?”
“Kau jatuh cinta pada King?”
Rani mengangguk, “Aku akui, Aku jatuh cinta padanya. Dan sekarang dia menjauhiku bahkan sebelum dia tahu perasaanku padanya.”
Nenek menghela napas, biar bagaimana pun juga ia tak bisa membiarkan Andre mendekati Rani lagi dan membuat King semakin menjauh. Bukan itu yang ia inginkan, karena sejak awal ia ingin mendekatkan Rani dengan King dan berharap laki-laki itu yang akan menjadi pasangan Rani.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1