My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 25. Kekhawatiran nenek


__ADS_3

Rasanya begitu hangat dan nyaman ketika Rani menyandarkan wajahnya di dada King. Ia bergerak perlahan, dan mulai menyesuaikan posisi tubuhnya dengan tangan masih memeluk pinggang King.


“Apa Kau keberatan kalau Aku tertidur saat ini?” Mata Rani perlahan terpejam. “Rasanya mata ini berat sekali.”


Tanpa menunggu persetujuan King, Rani terlelap cepat. King memegang tali kekang kudanya dengan santai, Rani bahkan tak merasakan guncangan di tubuhnya karena jalan yang tidak rata.


“Tidurlah, Aku akan membangunkanmu saat kita sampai nanti.”


Angin berembus perlahan, tak sekencang pagi tadi. Langit biru sebagian mulai tertutup awan putih, dan matahari pun bergerak menjauh. Cuaca tak seterik sebelumnya, mata King memicing dengan wajah mendongak ke atas. Bibir laki-laki itu melengkung naik, alam hari ini begitu bersahabat.


Sejenak King menundukkan wajahnya menatap kaki Rani yang menjuntai dan menindih sebelah kakinya. Wanita itu duduk miring dan bersandar dengan nyaman di dadanya. Matanya terpejam rapat, napasnya turun naik dengan teratur. King menggelengkan kepala tak percaya, bisa-bisanya Rani tertidur begitu lelap saat berada di atas kuda bersamanya.


Rasanya sudah lama King tidak merasakan lagi perasaan yang satu ini. Beberapa hari ini ia menghabiskan malam-malam yang sulit saat benaknya dipenuhi pikiran mengingat betapa manisnya rasa bibir Rani saat ia menciumnya.


King sudah berjuang melawan rasa ketertarikan dirinya dengan Rani, dan ia sadar satu hal kalau ia sudah kalah. King sadar sepenuhnya, Rani datang ke peternakan dengan niat berlibur dan membantu neneknya. Rani hanya sementara tinggal bersama mereka dan tidak lama lagi wanita itu akan kembali ke kota.


Rani terbiasa hidup di kota besar yang punya banyak fasilitas modern, butuh waktu lama agar ia bisa dengan mudah beradaptasi di tempat ini. Badai kerap kali datang melanda desanya, King masih bisa mengingat dengan jelas raut ketakutan di wajah Rani.


Tapi tidak ada salahnya mencoba dan maju perlahan untuk mendekat, King meyakinkan hatinya dan bertekad akan membuat Rani melihat padanya.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah peternakan, King menarik tali kekang kudanya dengan perlahan dan kuda itu meringkik sebelum menghentikan gerakan kakinya, lalu mengibaskan ekornya dan terdiam tenang di tempatnya.


“Hei, Nona. Kita sudah sampai,” bisiknya pelan di telinga Rani, dari kejauhan tampak beberapa pekerja menatap ke arah mereka dan tersenyum sambil berbisik-bisik.


King tak peduli mereka menggosipkan dirinya, fokusnya kini lebih tertuju pada wanita di pelukannya itu. Senyum tertahan terukir di wajah King begitu mendengar bunyi halus napas Rani yang hangat, menyentuh sisi lengan kirinya yang terbuka.


Gemas, King mengecup pucuk hidung mancung Rani lalu berpindah ke pipinya. “Bangun Nona, apa Kau ingin terus berada di atas kuda?”


Bulu mata lentik itu bergerak-gerak dan perlahan terbuka. Rani mengerjap, bola matanya berputar melihat sekelilingnya. Sedetik kemudian ia tersadar dan langsung menegakkan punggungnya, begitu mendengar erangan tertahan King di telinganya.


“Maaf, sepertinya Aku menindih kakimu dan tertidur cukup lama.” Kata Rani dengan wajah tersipu, seringai tipis tampak di wajah King saat laki-laki itu mencoba menggerakkan kakinya.

__ADS_1


“Cukup lama untuk membuat kebas paha ini,” sahut King sambil memijat pelan pahanya.


Rani melirik gerakan tangan King, terkesiap saat menyadari kakinya belum berpindah dan masih berada di atas paha King yang keras. Ia menggeser kakinya cepat dan berdeham sejenak, mengatur napas agar tetap terlihat tenang meski jantungnya bergemuruh.


King belum beranjak turun, masih betah duduk di atas kuda dan berlama-lama di sana. Ia memegang sejumput rambut Rani yang panjang dan melilitkannya di jarinya.


“Aku suka melihat rambutmu tergerai dan menyentuh lenganku,” kata King sambil menatap Rani, dan melepaskan lilitan di jarinya dengan perlahan. Lalu dengan gerakan tak terduga, laki-laki itu melompat turun dari kudanya.


King memegang pinggang Rani dan membantunya turun dari kuda. Rani meringis saat kakinya menginjak tanah di bawahnya. Tangannya mencengkeram kuat kerah kemeja King dan laki-laki itu melihat padanya.


“Aku akan menggendongmu masuk ke dalam rumah.”


“Tidak perlu, King. Aaa ..” suara Rani menggantung di udara, King dengan cepat meraih tubuhnya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.


“King, Kau tak perlu melakukannya. Aku bisa berjalan sendiri,” protes Rani. Tapi laki-laki itu hanya diam saja, dan terus melangkah menaiki undakan tangga rumah.


King berhenti sejenak di anak dan menatap Rani, “Aku akan tetap melakukannya meski Kau berteriak melarang.”


Dengan mudah King membuka pintu, nenek yang sedang berada di balik meja kerjanya menjerit kaget melihat keadaan Rani.


“Apa yang terjadi dengan cucuku?” tanya nenek bergegas berdiri, dengan wajah cemas berjalan mendekati Rani. “Apa Kau terjatuh dari kuda?” Nenek menyentuh kaki Rani yang terluka.


“Aow, sakit Nek.” Rani mulai drama, meringis memperlihatkan wajah kesakitan.


“Kau apakan cucuku? Kau berjanji akan menjaga Rani dengan baik selama ia di sini!” nenek mendelik, mengeplak lengan King dengan keras.


“Nyonya Maggie, Kau salah paham.” King mencoba membela diri, ia menatap sebal pada Rani yang masih berada dalam gendongannya. King pikir ia tak mungkin melemparkan wanita itu dari gendongannya dan membuat nyonya Maggie berteriak marah padanya lagi.


Rani melepaskan pelukannya dan melompat turun dari gendongan King, wajahnya kembali meringis. Tapi ia yakin kali ini King akan membiarkannya.


Rani menghela bahu neneknya dan berjalan tertatih di sampingnya, “King tidak bersalah, Nek. Rani saja yang tidak hati-hati.”

__ADS_1


“Kalian sebenarnya dari mana, kenapa bajumu basah seperti ini?” nenek meraba pakaian Rani, wanita itu menggeliat geli berusaha menghentikan gerakan tangan neneknya.


“King membawaku ke kolam pemandian warga yang ada di balik bukit sana.” Rani mulai menjelaskan pada neneknya, sementara King hanya duduk diam di depan mereka. Wajahnya masih tampak kesal.


“Kalian membuatku terkejut,” kata nenek terlihat menarik napas lega. “King, apa Kau marah padaku. Wajahmu terlihat masam seperti itu?” nenek menolehkan wajahnya, menatap King di kursinya.


King hanya menggeleng, ia bangkit berdiri lalu melangkah ke dalam rumah dan kembali lagi tak lama kemudian dengan membawa kotak obat di tangannya. “Aku tidak marah pada kalian, karena mengobati luka di kaki Rani jauh lebih penting untuk saat ini.”


King membantu mengobati luka di kaki Rani, meski tidak parah tapi jika dibiarkan akan terjadi infeksi. Dan King tak mau itu terjadi.


“Aku akan mengganti kemejamu yang rusak suatu hari nanti,” kata Rani melihat lengan kemeja King yang rusak.


“Tidak perlu, Aku punya banyak kemeja seperti ini di rumahku.” Balas King.


“Tapi Aku ingin menggantinya,” sahut Rani lagi.


King membalut kaki Rani dengan perban di tangannya, dan memberinya perekat agar tak mudah lepas. King mengusap perlahan kaki ramping itu dan tersenyum melihat hasil kerjanya. Ia mendongak dan menatap Rani lama. “Terserah Kau saja, Nona. Jika Kau ingin melakukannya untukku, Aku akan menunggu hari itu tiba.”


Nenek yang duduk di sebelah Rani terdengar menghela napasnya, “Aku bersyukur Rani tidak mengalami cedera serius. Kalian tahu, Gaby tidak datang ke peternakan hari ini.”


King dan Rani langsung menolehkan wajahnya cepat, menatap nenek bersamaan.


“Apa telah terjadi sesuatu dengan Gaby hari ini? Apa sakit tuan Philips kambuh lagi?” tanya King.


“Apa Nenek tahu sesuatu, kenapa Gaby tidak datang hari ini?” Rani menatap neneknya, lalu beralih menatap King.


“Aku dengar kabar, kalau Parker menolak pengunduran diri Gaby.” Ungkap nenek. “Aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Gaby di sana.”


King berdiri, ia bergegas keluar rumah. “Aku akan segera ke sana untuk melihatnya.”


Tanpa menunggu persetujuan Rani dan neneknya, King melompat cepat naik ke atas kudanya dan memacunya dengan cepat. Langit sore masih terlihat cerah, King harus cepat sampai di sana sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Gaby seperti yang dikhawatirkan nyonya Maggie.

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2