
Rani takut luar biasa, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar hebat. Ia tadi berlari sambil menangis, tanpa memperhatikan jalan yang dilewatinya. Air mata mengaburkan pandangannya, hingga tanpa sengaja ia menginjak tubuh seekor ular berbisa.
Bergerak menghindar atau tetap diam di tempat, ular itu akan tetap memangsa. Tak tahu apa yang harus dilakukan, kepala hewan menakutkan itu berdiri tegak dan terus menjulurkan lidahnya.
“Pergi, menjauh dariku. Kumohon,” bisik Rani dengan suara memohon. Rani memilih mundur perlahan, dan ular itu bergerak mengikuti. Suara gemeresik daun terdengar jelas di pendengaran.
Sekelebat bayangan bergerak cepat melintas di depannya, Rani tersentak. Tiba-tiba saja ular itu sudah terbelah dua. Rani menoleh, terkejut sekaligus senang melihat King datang.
King melompat turun dari kudanya, secepat kilat meraih Rani. Mengangkat tubuhnya dan lengan kuat King merangkum Rani dalam pelukannya.
“King!” Rani merangkul leher King erat, tak peduli tubuhnya yang berkilat-kilat diterpa sinar matahari dan basah keringat. Ia menempelkan wajahnya di dada King dan menangis terisak. “Aku takut sekali.”
King mundur selangkah, memutar tubuh Rani dalam pelukannya dan menggendongnya sambil berjalan mencari tempat yang aman. Ia menurunkan Rani dan memegang bahunya, wanita itu balas menatapnya.
“Aku sudah memperingatkan dirimu, tapi Kau tak mau mendengarkan ucapanku!” nada suara King meninggi.
“Kau menyalahkan Aku, setelah apa yang barusan terjadi padaku? Kau yang membuat Aku seperti ini!” balas Rani berteriak, tak menyangka kalau King akan memarahinya.
“Harusnya Kau perhatikan langkahmu! Bagaimana kalau Kau dipatuk ular berbisa itu dan Aku terlambat datang untuk menolongmu?!” sentak King gusar, ia mengguncang bahu Rani.
Rani menggeleng lemah, menelan ludah dengan susah payah. Air matanya deras mengalir, disekanya dengan punggung tangannya. “Jika Kau tak datang tepat waktu untuk menolongku, maka Aku akan mati. Dan Kau tak pernah bisa melihatku lagi di dunia ini.”
“Berani sekali Kau mengatakan itu padaku!” sahut King berang.
“Aku mengatakan yang sebenarnya, ular itu berbisa dan Aku bisa mati kapan saja jika ...”
“Hentikan, Aku tak mau mendengarnya. Kau harus menerima hukuman karena sudah membuatku khawatir padamu.” King menangkup wajah Rani yang berurai air mata, tak tahan melihatnya menangis. Ujung jemarinya mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Lalu King menunduk, bibirnya membuka dan mencari-cari bibir Rani. Rasa marah, takut, dan cemas, berbaur jadi satu. Napas Rani tersengal, ciuman King kali ini begitu menuntut. Jemari King pun mulai bergerak turun.
__ADS_1
Rani merasakan tubuh King menegang, saat wajah tampan itu turun dan menempel di ceruk lehernya. King mempererat pelukannya, membenamkan wajah Rani di dadanya. Deru napasnya memburu, menerpa rambut, telinga, dan kulit wajahnya.
“Kau tak bisa melakukan itu padaku,” gumam King dan kembali mencium Rani, dan baru berhenti ketika mendengar isak lirih Rani di telinganya.
“Kau terus menciumku, mengatakan kalau Aku kesepian dan butuh penghiburan darimu. Kau membuat semua yang kita lakukan ini tampak begitu murahan.” Rani mendorong kuat dada King yang telan jang, tapi laki-laki itu bergeming tak bergerak sedikit pun.
“Aku tidak pernah menganggap apa yang kita lakukan ini murahan,” balas King. “Aku hanya tidak yakin dengan perasaanmu padaku, Kau butuh tempat untuk menenangkan diri setelah pertengkaranmu dengan tunanganmu. Lalu setelah semuanya kembali tenang, Kau pun akan kembali padanya dan meninggalkan Aku di sini.”
“Aku memang butuh tempat untuk menenangkan diri, tapi Aku datang ke sini setelah Aku memutuskan pertunanganku dengannya. Aku bertemu denganmu, lalu jatuh cinta padamu.” Rani menyusut air matanya, memalingkan wajah dan melangkah pergi menjauh.
“Lalu dia datang menemuimu di sini, dan memintamu kembali padanya. Dan Kau pun mengiyakan, Aku melihatnya menciummu. Bekas bibirnya pun masih belum sepenuhnya menghilang dari lehermu,” balas King, tak berniat menahan langkah Rani.
Rani berbalik, balas menatap King. “Sudah kukatakan berulang kali padamu, kami sudah lama putus. Dan Aku tak pernah mengiyakan ajakannya untuk kembali padanya lagi. Apa yang Kau lihat hari itu sebuah kekeliruan, dia memaksa menciumku dan Aku berusaha menghindar.”
“Apa Aku bisa mempercayai semua ucapanmu itu, Kau terlihat senang saat bersamanya.”
“Dia tamu nenekku, dia datang dengan tujuan ingin membeli lahan peternakan milik tuan Philips. Tak ada hubungannya denganku,” jelas Rani lagi.
Rani tak peduli ia harus menyatakan terlebih dahulu perasaan cintanya pada King. Biar King tahu dan yakin padanya.
King berjalan menghampiri Rani, meraih lengannya dan menariknya cepat hingga dada lembut Rani kembali membentur dadanya. Ia mencengkeram bahu Rani, dan meminta wanita itu mengulang ucapannya.
“Katakan sekali lagi, Aku ingin mendengarnya.”
“Tidak mau!” tolak Rani, ia berusaha melepaskan diri. Namun King malah mengurungnya dan melingkarkan lengannya di pinggang Rani.
“Katakan, Aku mohon.” Pinta King sekali lagi.
Rani mendongak mengangkat wajah, dan mendapati King tengah menatap lekat matanya. Dadanya berdebar kencang, namun Rani memberanikan diri menyentuh wajah King. “I love you Mister Hardy.”
__ADS_1
Mata Rani melebar karena terkejut, lagi-lagi King menciumnya. Kali ini lebih lembut dan lebih mesra, membuat Rani terbuai dan kembali mengalungkan lengannya di leher King.
“Love you too, Maharani Putri.” Bisik King di telinga Rani. “Maafkan Aku karena sempat tak mempercayai semua ucapanmu. “Aku juga cinta padamu, sejak pertama melihatmu di bandara waktu itu. Dan Aku senang karena Kau mau kuajak bersandiwara di hadapan semua orang dan kuperkenalkan sebagai kekasihku.”
“Saat itu Aku mengira Kau sedang berusaha membuat cemburu mantan kekasihmu dan meyakinkan dia kalau kita memang pasangan sebenarnya.”
King tertawa, ia mengusap wajah Rani dan mengecup keningnya lama. “Aku senang bisa mengenalmu di sini.”
Rani melingkarkan tangannya di pinggang King, dan merebahkan wajahnya di dadanya. “Jangan sering-sering bekerja dengan bertelan jang dada seperti ini, Aku tidak ingin ada wanita lain yang melihatmu begini.”
King tergelak, ia melepaskan pelukan Rani dan berlari menghampiri kudanya. Tak lama kemudian ia kembali dan sudah mengenakan bajunya lagi, lalu merangkul bahu Rani mengajaknya pergi.
“Merasa lebih baik?” nada suara King melembut, ditatapnya mata Rani lekat.
Rani mengerjap, lalu mengangguk. King meregangkan pelukannya, dan Rani langsung bergerak menjauh. Tubuhnya masih sedikit gemetar, dan matanya langsung memandang tanah di sekitarnya.
“Kau tahu, ular tidak suka dengan cahaya matahari. Binatang itu akan mencari tempat yang sejuk untuk berlindung. Lain kali Kau harus lebih berhati-hati, dan pakai sepatu bot juga celana jeans saat Kau ingin datang melihatku di sini.”
Rani tersipu malu, kata-kata King tepat sekali mengena di hati. Ia memang datang untuk melihat King, tapi tak pernah menyangka akan bertemu dan berhadapan dengan hewan berbisa itu.
“Aku akan mengingatnya dengan baik,” sahut Rani, lalu memalingkan wajahnya. Tak kuasa menatap wajah tampan King saat laki-laki itu bicara padanya.
“Apa Kau bisa berjalan sendiri ke mobilmu, atau Aku harus menggendongmu lagi ke sana?”
“Aku bisa jalan sendiri.” Rani cepat-cepat melangkah pergi, dan hampir terjatuh karena kakinya masih gemetaran.
King sigap meraih tubuh Rani dan langsung menggendongnya. “Mengapa Kau suka sekali menentang ucapanku, apa Kau sengaja ingin memancing emosiku agar Aku menghukummu dan menciummu lagi di sini?”
Rani langsung menutup mulut King dengan jemarinya, ia menggeleng dan King mengernyit. Rani memberi isyarat untuk melihat ke belakang, dan King langsung meringis begitu melihat dari kejauhan para pekerja berdiri berjejer di dekat traktor menunggu mereka.
__ADS_1
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎