My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 13. Pakaian ganti King


__ADS_3

Rani bergegas masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian, sementara King berjalan cepat menuju dapur dan bertemu Ben di belakang rumah saat lelaki itu sedang memeriksa kandang ternak.


“Ben, bagaimana keadaan di sini. Apa ada banyak kerusakan yang terjadi?!” tanya King setengah berteriak, seraya melepaskan topi juga sepatu botnya yang basah lalu melemparnya ke samping pintu.


Ben berlari kecil mendatangi King, ia melepas topinya dan mengusap rambutnya yang basah. Air hujan menetes dari wajahnya. Ben menoleh ke belakang sambil mengarahkan ibu jarinya dan bicara dengan suara tersengal.


“Aku sudah memeriksa kandang kuda dan ternak kita, sebagian pagar ada yang rusak dan runtuh saat hewan-hewan itu panik ketakutan dan berlarian hendak keluar kandang ketika badai itu datang.” Lapor Ben kemudian.


“Apa mereka berhasil keluar dan melarikan diri dari kandang?” tanya King dengan nada suara terkejut.


“Ada beberapa sapi dan kuda yang hilang. Aku sudah memanggil beberapa orang pekerja kita untuk membantu mencari, dan mereka akan mulai melakukannya setelah badai mereda.”


King mengumpat keras, ia bergegas memakai sepatu dan topinya kembali dan berjalan menuju kandang. “Aku akan memeriksanya lagi.”


“Aku ikut!” Ben berbalik dan segera menyusul King. Mereka berjalan berdua tak peduli air hujan yang turun deras seperti menyengat kulit dengan tajam.


Mereka sampai di kandang kuda terdekat dan mulai memeriksa pagar yang rusak, tak ada jejak kaki hewan di sana karena tersapu air hujan.


“Ben, jika badai ini tak segera berlalu. Hewan-hewan itu akan semakin jauh tersesat, dan kita akan semakin kesulitan mencarinya.” Teriak King, suaranya teredam oleh hujan yang turun deras.


“Ya, Aku tahu itu. Bagaimana pun juga kita tak bisa mencari mereka sekarang, tunggu sampai hujan reda dan badai itu pergi.” Sahut Ben.


King mengangguk, mereka bergegas masuk ke dalam kandang dan memeriksa hewan ternak lainnya. Syukurlah hewan-hewan itu mulai tampak tenang, King berjalan mendekat dan mengusap-usap salah satu surai kuda warna hitam yang sedang mengunyah makanannya.


“King, lihatlah!” Ben berteriak memanggil King, ia berada di dalam salah satu kandang kuda yang terpisah dan berjongkok di sana. “Sepertinya kaki Summer terluka saat berlari keluar kandang tadi.”


Kuda betina bernama Summer yang sedang hamil itu memang ditempatkan di dalam kandang tersendiri, ia terlihat gelisah dan terus meringkik dengan posisi badan setengah berbaring ketika merasakan kehadiran orang lain di dekatnya.


“Ada apa dengan Summer?” King berjalan mendekat dan ikut berjongkok di dekat Ben. Ada bekas darah kering di jerami dekat kaki kuda itu, dan King melihatnya.

__ADS_1


Summer menyentakkan ekornya ketika Ben mencoba menyentuh kakinya, King langsung memperingatkan Ben untuk berhati-hati dan menyuruhnya menjauh.


Ben menurut, ia berdiri di belakang King dan membiarkannya laki-laki itu mendekati Summer. King perlahan mengulurkan tangannya, mengusap-usap tubuh Summer dan berbisik lembut di telinganya.


Kuda itu menjadi lebih tenang dan sepertinya mengerti ucapan King dengan mengendus tangan King lewat hidungnya. King tertawa dibuatnya. Ia mulai memeriksa kaki Summer dan melihat ada luka gores cukup dalam di bagian dalam telapak kakinya.


“Kapan Smith pulang, Summer butuh perawatan.” King menutup kembali seluruh kandang kuda setelah mereka keluar dari dalam sana dan menggantung kuncinya di tempat biasanya.


Smith adalah dokter hewan yang bekerja di peternakan Maggie, selain tiga kru mekanik juga lima orang mandor peternakan yang memiliki tugas masing-masing. Ada mandor yang khusus mengawasi ternak, ada pula mandor yang khusus mengawasi kuda.


“Sore nanti dia datang, ia baru saja selesai membeli peralatan untuk kelahiran bayi Summer.” Jawab Ben.


King mengangguk, berdua berjalan beriringan keluar dari tempat itu. Hari sudah menjelang pagi, tapi langit masih tertutup awan hitam. Hujan masih juga belum reda dan tanah di bawah mereka sudah terendam air dan terlihat seperti lautan lumpur.


“Aku harap badai ini segera pergi dan kita dapat segera mencari ternak yang hilang,” ucap King seraya menghela napas, mendongak menatap langit pagi kemudian melangkah turun diikuti Ben di belakangnya.


Bledaar!


Sepatu bot yang King dan Ben kenakan terendam dalam lumpur yang mereka pijak, tapi King tak peduli. Ketika hendak melangkah dan berusaha menarik kakinya keluar, sebelah sepatu bot milik Ben tertinggal dan tertanam di sana.


“King, sepatuku!”


“Tinggalkan saja, Ben!” teriak King.


Keduanya melanjutkan perjalanan dengan Ben yang bertelan jang kaki, hingga akhirnya berhasil melewati lautan lumpur itu dan sampai di beranda rumah peternakan Maggie.


“Huuh!” King mengembuskan napas lega, terduduk di lantai. Ben tertawa melihat keadaan mereka. “Kau bahkan masih bisa tertawa di saat-saat seperti ini.” Dengus King, ia melepaskan topi dan sepatunya yang penuh lumpur lalu melemparkannya begitu saja ke beranda.


“Aku teringat saat badai terjadi tahun lalu, kita sedang berada di tengah-tengah ladang jagung mengejar ternak yang tersesat dan terjebak di sana selama berjam-jam. Bukan hanya kaki saja yang terendam lumpur, tapi seluruh tubuh kita penuh terendam lumpur.” Ben merebahkan tubuhnya di lantai beranda, ia menoleh menatap King yang duduk berselonjor kaki di sampingnya.

__ADS_1


“Kau tahu, King. Aku sampai harus berulang kali mandi untuk menghilangkan kotoran ternak yang menempel di rambutku. Jeny tidak tahan dengan bauku, dia bahkan tak ingin Aku mendekatinya dan menyuruh Aku tidur di sofa waktu itu.” Imbuh Ben lagi.


King meringis mendengarnya, ia hanya tinggal seorang diri di rumahnya. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sejak lama, jadi ia tidak perlu khawatir ada orang yang akan terganggu dengan keadaan dirinya.


“Bagaimana keadaan di luar sana, King?” Tanya Ben kemudian.


“Buruk! Listrik padam di mana-mana. Badai itu membuat hampir separuh desa terendam banjir. Banyak pohon tumbang, dan kami harus menyingkirkannya terlebih dahulu sebelum sampai ke tempat ini,” kata King.


“Sepertinya badai mulai menjauh,” ucap Ben bangkit berdiri dan menegakkan tubuhnya sambil menatap langit.


Gemuruh halilintar masih terdengar meski dari kejauhan. Angin pun sudah bertiup lebih tenang, dan hujan mulai mereda meski masih menyisakan air yang merendam tanah peternakan dan sekitarnya.


“Sebaiknya kita segera membersihkan diri, Aku tidak ingin Jeny menjauhiku lagi seperti waktu itu.” Imbuh Ben lagi.


“Apa Kau masih menyimpan pakaian ganti milikku, Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini?” tanya King.


“Tenang saja, King. Aku masih menyimpannya dengan baik,” sahut Ben. “Aku akan mengambilkannya untukmu.”


King masih duduk dengan kedua tangan bertumpu di lantai beranda rumah, kakinya terlihat pucat. King mengulurkan tangannya, wajahnya langsung meringis saat merasakan lengannya yang tiba-tiba berkedut.


“King?”


King menolehkan wajahnya, dan bergegas berdiri ketika melihat Rani muncul di hadapannya dengan membawa pakaian ganti untuknya.


“Ben memberikan pakaian ganti milikmu ini padaku, kami berpapasan saat ia hendak ke kamar mandi tadi.” Jelas Rani sambil menyerahkan pakaian ganti di tangannya pada King. Ia berusaha terlihat wajar meski tadi sempat bingung karena pakaian dalam King terjatuh dari tangannya dan ia harus melipatnya kembali.


Ekor mata Rani melirik pakaian basah yang dikenakan King yang meneteskan air ke lantai. “Sebaiknya Kau segera berganti pakaian, Aku sudah menyiapkan handuk untukmu di kamar mandi. Kau bisa memakainya.”


King mengumpat dalam hati, mengapa Ben harus memberikan pakaian gantinya pada Rani di mana ada pakaian dalam miliknya juga di sana.

__ADS_1


“Oh, ya satu lagi. Aku akan membantumu mengganti perban di lenganmu itu.” Ucap Rani sebelum berbalik pergi. Ia cepat-cepat berlalu dari hadapan King sebelum laki-laki itu memanggilnya dan melihat wajahnya yang memerah.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2