
King keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambut kepalanya yang masih setengah basah dengan handuk yang disiapkan Rani untuknya. Ia terlihat segar dan wangi, perpaduan aroma sabun juga sampo yang dipakainya.
Lengannya yang terluka dibiarkannya terbuka, King sudah mengenakan celana jeans yang bersih. Sementara pakaian kotornya ia letakkan di bak besar yang ada di samping kamar mandi sesuai petunjuk Rani.
“Loh, kok gak pakai baju? Bukannya tadi sudah dis ...” Rani langsung memalingkan wajah dan menghentikan ucapannya, ia menggigit bibirnya melihat King berjalan ke arahnya dengan bertelan jang dada.
Wajah Rani merona, pemandangan di depannya itu sontak membuat dadanya berdesir. Bukan sekali dua kali ia melihat seorang lelaki memamerkan dadanya, bahkan saat Andre membuka baju di hadapannya pun jantungnya tidak berdebar kencang seperti ini. tapi anehnya, saat King melakukannya Rani merasakan hal yang berbeda.
King memiliki tubuh tegap seorang pria yang disukai banyak wanita. Dada King yang lebar juga bagian perutnya yang rata itu kini terpampang jelas di depan matanya dan mengusik ketenangan jantungnya.
“Bajunya terlalu sempit, leherku seperti dicekik saat memakainya.” Sahut King. “Tapi kalau Kau merasa terganggu dengan tampilanku yang seperti ini, Aku bisa menutupinya dengan handuk ini.”
King membuktikan ucapannya, ia berdiri di hadapan Rani dengan mengalungkan handuk yang dipakainya ke seputar lehernya. “Bagaimana kalau seperti ini?”
Rani menolehkan wajahnya, menahan senyum melihat gaya King yang mengingatkan dirinya pada sebuah iklan di televisi. Ia merasa sedikit lega karena handuk itu mampu menutupi sebagian dada King yang terbuka.
“Bagaimana kalau Aku ambilkan baju milik ayahku, Aku rasa nenek masih menyimpannya di ...”
“Tidak perlu, Rani. Aku tidak terbiasa memakai baju milik orang lain,” tolak King, membuat Rani mengalah dan akhirnya duduk kembali.
“Lebih baik Aku mengganti perbanmu sekarang,” kata Rani kemudian. Ia menepuk bangku kosong di sampingnya, dan meminta King untuk duduk di sana.
Di atas meja sudah tersedia kotak obat berikut cairan pembersih luka, juga krim untuk mengurangi bengkaknya. King menurut, ia duduk di samping Rani dan mengulurkan tangannya.
Rani mulai membersihkan sekitar lengan King yang terluka. “Apa yang Kau rasakan saat pertama kali ular itu menggigitmu?”
“Terkejut,” jawab King singkat.
“Lebih spesifik!” tanya Rani lagi.
“Merinding, lalu pusing sesaat.” King menatap Rani, wajah wanita itu begitu dekat dengan wajahnya. King bahkan bisa melihat hingga di kedalaman mata Rani.
__ADS_1
“Harusnya Kau lebih berhati-hati, banyak yang meregang nyawa akibat terkena gigitan ular.” Ucap Rani dengan nada cemas. “Kalau hal itu terjadi, banyak yang akan merasa kehilangan dirimu di tempat ini.”
King tertawa mendengarnya, “Apa itu termasuk dirimu juga?” tanya King yang sontak membuat Rani gelagapan.
“Apa maksudmu, Aku hanya mengingatkan. Kau salah satu orang kepercayaan nenekku, beliau berharap banyak padamu.” Kilah Rani. Ia bersiap mengoleskan krim di lengan King.
“Ular itu tidak berbisa, jadi tidak membahayakan nyawaku. Bengkak di tanganku ini akibat Aku terjatuh dari kuda,” ungkap King tersenyum penuh arti, ia bisa menangkap nada kekhawatiran dalam suara Rani.
“Tapi di lenganmu ini ada luka bekas gigitan ular, apa Kau tidak memperhatikannya?” Rani menyentuh bekas luka di lengan King, dan lelaki itu langsung mengernyitkan keningnya.
Ada luka kecil berbentuk seperti busur di lengan King, juga memar kebiruan di sekitar lengannya yang sudah mulai samar warnanya. Meski bengkaknya sudah tidak kelihatan lagi, tetap saja rasa nyeri itu timbul saat jemari tangan Rani menyentuh lengannya.
“Aku tahu, Aku melihatnya.”
Gemas, Rani sengaja menekan lengan King saat mengoleskan krim di sana. Dan lelaki itu terlihat meringis menahan nyeri.
“Sepertinya Kau sedang kesal dengan seseorang, dan Aku jadi pelampiasan kemarahanmu.” Ujar King kemudian.
King meringis dan memalingkan wajahnya, sementara Rani melanjutkan pekerjaannya. Ia sudah selesai mengoleskan krim dan kini tengah membalut lengan King dengan perban baru.
“Terima kasih, Kau sudah mengobati lenganku.” Ucap King tulus.
“Tunggu sebentar, sedikit lagi saja.”
King mengerutkan keningnya, “Apalagi, Rani?”
Rani mengambil spidol yang sudah disiapkannya, dan membuka tutupnya dengan cara menggigitnya. Lalu tanpa peduli pada mata King yang melotot ke arahnya, Rani mulai menuliskan kalimat pendek di lengan King tepat di atas perban barunya.
Cepat pulih King, Aku menunggumu untuk mengajakku berkuda bersamamu.
“Selesai, pekerjaan beres!” Rani tersenyum dan menutup kembali spidol di tangannya.
__ADS_1
King mengangkat lengannya dan mulai membaca tulisan Rani di sana, tawanya pecah seketika. “Sepertinya Kau sudah tidak sabar lagi ingin segera melakukannya.”
“Kau harus menepati janjimu, King.”
“Tentu saja, Kau tak perlu khawatir soal itu. Aku akan melakukannya dan menepati janjiku padamu,” kata King sebelum ia pergi ke rumah belakang untuk menemui Ben.
Pukul setengah delapan pagi, matahari mulai menampakkan sinar keemasannya. Para pekerja mulai berdatangan dan langsung disibukkan dengan pekerjaan membereskan sisa-sisa banjir semalam.
Tak lama kemudian, tepat jam delapan pagi sebagian pekerja ikut Ben dan King mencari dan mengumpulkan ternak juga kuda yang tersesat, sementara sisanya bekerja membetulkan pagar kandang yang rusak.
Begitu juga dengan Rani, pagi itu ia mulai membantu mengerjakan pembukuan neneknya. Tak butuh waktu lama, hanya hitungan jam Rani sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.
“Bagaimana Kau bisa melakukannya secepat itu, ini bahkan belum jam makan siang?” Nenek terkejut melihat hasil kerja Rani, ia menatap layar monitor di hadapan Rani dan melihat grafik angka di sana juga kolom-kolom di sampingnya.
“Nenek, Aku hanya melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan Gaby. Mencocokkan semua data yang ada di komputer ini dengan data laporan yang ada di lapangan. Hasilnya sudah sesuai, tidak ada yang salah dengan pekerjaan yang dilakukan Gaby. Ia melakukan pekerjaannya dengan baik, sangat disayangkan ia harus mengundurkan diri lebih cepat.”
“Hary mengacaukan pekerjaan kami semua. Lelaki itu selalu saja mencoba menggoda Gaby, dan King tak tahan dengan tingkahnya. Hary membuat takut Gaby dan membuat tak nyaman pekerja lain dengan ulahnya.” Nenek menghela napas dalam, lalu menatap Rani dan mengusap tangannya.
“Nenek tak menyalahkan sikap King meski pada akhirnya Nenek harus kehilangan salah satu pekerja terbaik di peternakan ini. Nenek berharap Gaby mau kembali bekerja di sini, karena Nenek tidak bisa berharap terus padamu. Setelah liburanmu berakhir, Kau pasti akan kembali ke kota dan melanjutkan pekerjaanmu di sana.”
“Sepertinya Aku bisa membantu Nenek kali ini,” kata Rani sambil menjentikkan jarinya. “Nenek hanya perlu memberi Aku alamat rumah Gaby, dan Aku akan membujuknya untuk kembali bekerja di peternakan ini.”
“Ia tinggal bersama ayahnya di desa yang ada di balik gunung sana, ibunya sudah lama meninggal. Jeny yang membawanya kemari dan mengenalkannya pada Nenek. Ia pernah kuliah namun harus berhenti di tengah jalan saat usaha peternakan ayahnya mengalami masalah, dan ia harus bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya juga ayahnya.” Ungkap nenek.
“Sepertinya Gaby orang yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama,” kata Rani menanggapi ucapan neneknya.
Nenek mengangguk mengiyakan, “Apa Kau akan melakukannya untuk Nenek, membawa Gaby kembali bekerja di sini?”
“Tentu saja, itu gunanya Rani datang ke tempat ini.” Rani tersenyum dan memeluk neneknya. “Nenek tenang saja, Aku janji akan membawa Gaby kembali bekerja di sini.”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1