
Rani tak bisa membayangkan apa yang ada dalam pikiran tuan Philips ketika melihat kemunculannya di rumah itu, sampai Tony berkata kalau ia adalah cucu dari pemilik peternakan Maggie yang baru datang dari kota.
“Apa dia putri Simon?”
Tony mengangguk dan wajah tuan Philips seketika berubah, menatap Rani penuh haru. “Mendekatlah.” Lelaki itu merentangkan kedua tangannya lebar. “Kau cantik seperti ibumu, dan Kau memiliki mata seperti Simon. Boleh Aku memelukmu?”
Dan setelahnya Rani tak ingat detail-detail yang sudah dilewatinya, tahu-tahu ia sudah berada dalam pelukan tuan Philips. Lelaki itu menangis terisak, membuat trenyuh hati Rani yang balas memeluknya sambil mengusap-usap punggung kurus itu.
Tony memalingkan wajahnya, dan menghela napas. Ia membiarkan kedua orang itu saling berpelukan dan bicara dengan leluasa hanya berdua saja tanpa dirinya, dan memilih keluar menunggu di beranda rumah sambil menyalakan rokoknya.
Lama keduanya saling berpelukan, dan tuan Philips perlahan meregangkan pelukannya sambil terus menatap Rani. “Maafkan Aku,” katanya sambil memegang bahu Rani. “Aku terbawa emosi, melihatmu tiba-tiba saja mengingatkan Aku akan sosok ayahmu.”
Rani hanya bisa tersenyum dan mengangguk maklum, ia pun larut dalam suasana haru dan tak bisa menahan air matanya.
“Kau pasti punya sesuatu yang penting sampai harus datang sendiri ke rumah ini.” Tuan Philips mengajak Rani masuk ke dapur rumahnya dan berhenti di depan sebuah lemari pendingin.
“Sebenarnya kedatanganku kemari karena ingin bertemu langsung dengan Gaby. Ada hal yang ingin kubicarakan dengannya,” jelas Rani tanpa menyampaikan tujuan dirinya yang sebenarnya.
“Gaby sedang tidak ada di rumah, ia bekerja dan akan kembali sore hari.” Jawab tuan Philips.
__ADS_1
Rani mengikutinya, dan untuk ke sekian kalinya ia mengedarkan kembali pandangannya. Tak ada yang istimewa pada barang-barang di tempat itu, tuan Philips masih memakai peralatan dapur model lama.
“Kami tidak mampu membeli peralatan masak yang lebih modern, Gaby pikir barang-barang yang ada di dapur ini masih layak pakai.” Kata tuan Philips seperti bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Rani.
Rani tersipu malu, ia mengalihkan pandangannya ke atas meja di mana tersaji hasil masakan sederhana Gaby. Sepertinya hanya telur dadar biasa, tapi tampak menggiurkan karena tekstur warna dan tampilannya yang istimewa. Tanpa sadar Rani meneguk liurnya, ia tergoda ingin mencoba hasil masakan Gaby.
“Aku pikir Gaby koki terbaik, ia bisa membuat masakan sederhana menjadi istimewa. Dan ia pandai membuat biskuit,” imbuh tuan Philips lagi, ia memberikan satu kaleng minuman dinginnya pada Rani.
"Terima kasih."
“Silah kan, Aku tahu Kau ingin mencoba masakan Gaby. Kau pasti akan menyukainya,” ujar tuan Philips terlihat bangga saat berbicara tentang putrinya. Ia menyodorkan piring berisi telur dadar ke depan Rani dan sekaleng biskuit beserta selai apelnya.
“Cobalah,” kata tuan Philips lagi, dan Rani tak bisa menolaknya lagi. Ia makan dengan lahap dan Rani harus mengakui kalau ucapan tuan Philips itu memang benar adanya. Rasa masakan Gaby memang enak, dan biskuit buatannya luar biasa.
“Apa nyonya Maggie yang mengutusmu untuk datang menemui Gaby?” tanya tuan Philips sembari membuka penutup minuman di tangannya. Buih minuman langsung keluar dan mengenai tangannya, tapi laki-laki itu hanya mengibaskannya dan meneguk cepat minuman langsung dari kalengnya.
Rani tertegun sejenak, ia menghentikan gerakannya mengunyah biskuit dan menelannya dengan cepat. “Nenek merasa sangat kehilangan dan berharap Gaby mau kembali bekerja di peternakan kami lagi.”
Tuan Philips meneguk minumannya lagi, dan melempar kaleng kosong itu ke tempat sampah. Tanpa bicara ia memutar kursi rodanya kembali, berjalan menuju ruangan lain rumahnya. Di ambang pintu dapur ia berhenti, “Aku tahu nenekmu orang yang sangat baik, dia menyayangi Gaby seperti cucunya sendiri. Tapi Aku tidak bisa memaksa Gaby untuk kembali bekerja di sana, Kau pasti tahu apa penyebabnya.”
__ADS_1
Rani mengelap ujung tangannya ke kain lap yang tergantung di dinding, meneguk minumannya sejenak lalu berjalan masuk mengikuti tuan Philips kembali.
“Aku tahu, itulah sebabnya Aku datang kemari untuk mengatakan padanya kalau kami sangat ingin ia kembali bekerja di peternakan Maggie.”
Tuan Philips menatap jam dinding, masih jam tiga sore. Sementara Gaby pulang jam setengah enam sore. Itu artinya Rani harus menunggu Gaby selama dua setengah jam lagi. “Apa Kau ingin menunggu Gaby pulang sore ini?”
Rani tak mendengar ucapan tuan Philips, ia sedang berdiri di depan sebuah foto yang terpasang di dinding rumah. Foto usang warna hitam putih, yang pada bagian sisi-sisinya sudah banyak yang rusak dan menggelembung.
Tangan Rani terulur begitu saja mengusap gambar diri ayah dan mamanya bersama tuan Philips, sedang berada di tengah-tengah tanah lapang yang banyak ditumbuhi rumput tinggi.
“Aku dan ayahmu bersahabat sejak kami masih kecil, tumbuh bersama dan bersekolah di tempat yang sama. Saat kelulusan, ayahmu mengajakku untuk melanjutkan sekolah di kota. Tapi Aku tak bisa bersama lagi dengannya, karena saat itu Aku harus membantu kedua orang tuaku mengurus peternakan. Beberapa tahun kemudian Aku menikah dan Gaby lahir setahun setelah pernikahan kami.”
“Awalnya semua baik-baik saja, hingga kecelakaan itu terjadi. Aku harus menerima kenyataan pahit, lumpuh dan kehilangan istri juga kedua orang tuaku. Saat itu Gaby sedang kuliah tahun kedua, ia pulang dan memutuskan untuk berhenti.”
Terdengar helaan napasnya yang berat. Tuan Philips memutar kursi rodanya dan berhenti di depan sebuah jendela besar yang terbuka, yang berderit nyaring ketika angin berembus kencang dan menghantam daun jendela.
Ia terdiam beberapa saat lamanya, hingga tak lama kemudian terdengar seruannya. “Itu Gaby datang, tak biasanya ia pulang cepat!”
Rani mengikuti arah yang ditunjuk tuan Philips, ia tersenyum menatap Gaby yang terlihat berjalan tergesa-gesa. Saat mencapai pintu rumahnya, Gaby terkejut melihat kehadiran Rani di dalam rumahnya. Sama terkejutnya dengan Rani yang melihat mata Gaby merah dan sembab, juga ada luka kecil di sudut bibirnya yang mengering.
__ADS_1
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎