My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 46. Saatnya harus kembali pulang


__ADS_3

Dua pekan berlalu cepat, liburan Rani pun akan segera berakhir. Besok siang ia harus pulang kembali ke kota, meninggalkan semua orang yang telah menemaninya menghabiskan masa liburnya di peternakan Maggie.


Andre telah pulang terlebih dahulu, setelah nyonya Maggie memastikan diri membeli lahan peternakan milik tuan Philips tepat di hari di mana ia mendapatkan kabar dari pihak bank kalau pengajuan kreditnya ditolak.


“Melihat caramu menatapnya, dan terus menempel ketat padanya seperti ini. Rasanya Aku tidak akan mampu bersaing dengannya, sekuat apa pun Aku berusaha mengacaukan hubungan kalian.” Kata Andre sesaat sebelum ia berpamitan pulang pada Rani dan King.


“Jujur, Aku sempat terpancing emosi dan tidak percaya padanya. Tapi semua sudah berlalu.” King merangkum bahu Rani dan menatapnya dalam, dan tanpa sungkan mengecup keningnya di hadapan Andre.


“Aku menyesal, Aku harap kalian memaafkan Aku. Dan terima kasih karena sudah menerima dengan baik kehadiranku di tempat ini,” kata Andre tulus menyampaikan penyesalannya.


King tersenyum mendengarnya, ia sudah memaafkan semua perbuatan Andre pada mereka berdua setelah mendengar pengakuan cinta Rani padanya. “Selamat jalan.”


King dan Rani mengantar Andre sampai ke mobil yang akan membawanya kembali ke kota.


Beberapa hari kemudian di hadapan notaris dan semua pekerja peternakan yang ada di sana, nyonya Maggie mengumumkan kalau dirinya telah membeli lahan peternakan tuan Philips.


Nyonya Maggie memperlihatkan bukti transaksi pembayaran darinya yang diperkuat dengan data dari pihak bank kalau sejumlah uang sudah masuk ke rekening atas nama tuan Mikael Philips.


“Aku juga akan menarik dan memperkerjakan kembali para koboi yang sebelumnya pernah bekerja dengan tuan Philips, dan Aku mohon kerja sama kalian semua untuk saling membantu.” Ungkap nyonya Maggie, ia lalu mengangguk pada King yang langsung datang mendekat.


“Aku juga sudah menunjuk King kembali sebagai kepala mandor di sini untuk bisa mengawasi dan tentunya menjalankan semua pekerjaan kita di sini,” imbuh nyonya Maggie lagi, yang langsung mendapat dukungan semua pekerja yang ada di sana.


“King, kami semua mengandalkanmu!” teriak mereka semua, yang disambut King dengan membuka topinya dan menempelkannya di dada sembari membungkukkan setengah badannya.


“Terima kasih sudah memberikan kepercayaan dan dukungan yang sangat besar ini kepadaku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin dan sekuat kemampuanku. Aku tidak akan mengecewakan harapan Nyonya Maggie juga kalian semua,” kata King semangat.


King tentunya akan semakin sibuk beberapa bulan ke depan, karena ia harus mengawasi lahan peternakan yang baru. Akan banyak pembangunan kandang, pagar, dan istal baru di sana, juga pengembang biakan ternak. Semua tugas dan tanggung jawab baru ada di pundak King saat ini.

__ADS_1


Malam terakhir di peternakan, Rani habiskan waktunya bersama King dan para pekerja di sana. Mereka membuat api unggun, suasana malam itu tampak seperti sebuah pesta. Nyonya Maggie dibantu pengurus rumah peternakan memasak banyak makanan untuk mereka semua, Rani begitu terharu melihatnya.


“Andai waktu bisa diputar kembali, Aku berharap bisa tinggal lebih lama di sini.” Rani memeluk lengan King dan menyandarkan pipinya di bahu laki-laki itu.


King tersenyum dan mengusap pipi Rani, mereka berdua tengah menikmati minuman hangat dalam satu wadah yang sama. Rani membetulkan letak selimut di kakinya, perhatiannya kini tertuju pada pasangan yang datang saling bergandengan tangan dan langsung menghampiri mereka.


Gaby terlihat malu-malu dan langsung melepaskan genggaman tangan Hary, begitu Rani menegakkan tubuhnya dan memintanya untuk duduk di dekatnya. King menepuk tanah di sebelahnya memberi isyarat pada Hary, sebelum laki-laki itu mulai bicara padanya.


“Aku sudah meminta izin pada tuan Philips dan beliau sudah memberi restunya pada kami.” Hary melirik sejenak pada Gaby yang menundukkan wajah menatap tanah di depannya, ia membasahi bibirnya sebelum lanjut bicara. “Aku akan segera menikahi Gaby, dan kami akan menjalankan usaha pakan ternak bersama-sama.”


Rani menoleh cepat pada Gaby dan langsung memeluknya erat, ia tak menyangka akan mendengar berita baik ini dalam waktu yang begitu cepat. “Selamat, sayang.” Bisik Rani di telinga Gaby.


“Pernikahan dilakukan bukan hanya untuk sesaat, tapi untuk selamanya. Aku harap kalian bersungguh-sungguh dan tidak ada yang merasa terpaksa dalam melakukannya,” kata King, melirik sekilas pada Gaby yang sedang membalas pelukan Rani. Ia sudah menganggap Gaby seperti adiknya sendiri.


Gaby melepaskan pelukan Rani, ia menatap King dan bicara padanya untuk meyakinkan laki-laki itu. “Aku bersedia menerima Hary untuk menjadi suamiku, tidak ada keraguan sedikit pun di hati ini setelah melihat keseriusan sikap yang ditunjukkannya padaku selama ini. Aku bersungguh-sungguh.”


Hary mengerutkan bahunya, meringis mendengar kata-kata King yang berbau ancaman padanya. “Kau harus percaya padaku, dan Aku berjanji sebagai seorang laki-laki sejati akan menghormati dan memperlakukan istriku dengan sebaik-baiknya.”


King lega mendengarnya, ia menepuk bahu Hary dan tersenyum lebar. “Kau pun mendapat restuku, sebagai seorang kakak lelaki dari calon pengantin wanita.”


Gaby tersipu mendengarnya, Rani tertawa bahagia. Setelah hal buruk yang terjadi pada Gaby sebelumnya, kini sahabatnya itu mendapatkan kebahagiaannya.


“Kapan rencananya kalian akan menikah?” tanya Rani kemudian.


“Dalam waktu dekat, setelah Aku menyelesaikan semua urusan.” Jawab Hary yang juga diangguki Gaby.


Hary dan Gaby pergi setelah merasa cukup berbicara dengan King dan Rany, mereka bergabung sejenak dengan para pekerja lalu tak lama kemudian berpamitan pergi.

__ADS_1


“Aku tidak yakin mereka bisa menahan diri sebelum hari pernikahan,” kata King sambil menyeruput kopinya, menatap lurus ke depan.


Rani mengernyit, lalu tersenyum begitu melihat sikap Hary yang terlihat begitu posesif melingkarkan lengannya di pinggang Gaby. Dan Gaby yang semakin merapatkan tubuhnya berjalan bersama hingga menghilang di balik tembok rumah peternakan.


“Apalagi kalau Hary sudah membuat keputusan,” sahut Rani menahan senyumnya.


King terkekeh, merangkul leher Rani dan mencium pipinya gemas. Rani membalasnya dengan melingkarkan lengannya dan mengunci pinggang King, merebahkan wajahnya sejenak di kehangatan dada laki-laki itu.


“King, Kau tahu Aku harus kembali ke kota besok.”


“Aku tahu.”


“Rasanya ingin terus bersamamu di sini,” kata Rani lagi, semakin menyusupkan wajahnya di dada King.


King menengadah, menatap langit malam yang tampak indah karena bulan terlihat begitu bulat sempurna di atas sana. Ia mengesah pelan, seperti tak rela karena harus berpisah dengan Rani besok.


“Besok waktunya Aku harus kembali mengumpulkan ternak yang hilang bersama para pekerja. Tapi, Aku akan berusaha menemuimu sebelum Kau pulang.”


“Aku akan menunggumu dan melihat Kau datang dan mengantarku pergi,” balas Rani, mendongak menatap King.


King menurunkan wajahnya, dan mencium bibir Rani yang terbuka. Menumpahkan semua rasa yang dimilikinya pada gadis itu, dan Rani pun membalasnya sama.


Hingga keesokan harinya, saat Rani selesai berpamitan pada semua orang di peternakan, King tak jua muncul. Bahkan saat Leo mengantarnya ke bandara, King tak terlihat. Rani berusaha tersenyum meski hatinya kecewa.


“Selamat jalan, Nona. Semoga selamat sampai tujuan.”


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

__ADS_1


__ADS_2