
Malam itu King datang menemui tuan Philips di rumahnya. Lelaki itu tengah berbaring di sofa tuanya, ketika King datang. Mata birunya bergerak-gerak seperti mencari-cari seseorang di belakang punggung King.
“Aku datang ingin menjemput Tuan untuk tinggal di rumah peternakan Maggie,” kata King menyampaikan maksud kedatangannya malam itu.
Lelaki itu meminta pada King untuk membantunya bangun dan duduk di kursi rodanya.
“Apa yang terjadi pada Gaby, mengapa dia belum juga pulang sampai malam hari seperti ini?” Tuan Philips memutar kursi rodanya, berjalan menuju pintu. Derit suara pintu terbuka terdengar jelas, lelaki itu diam di sana menunggu Gaby pulang.
“Tuan, Gaby sekarang berada di rumah peternakan Maggie bersama Rani.”
King lalu menceritakan kejadian yang menimpa Gaby putrinya tadi siang di toko pakan ternak milik Ed. Seperti kata nyonya Maggie padanya, tuan Philips harus mengetahui kejadian yang menimpa putrinya akibat ulah Parker.
Lelaki itu menyimak dengan serius semua cerita King, berkali-kali terdengar tarikan napasnya yang berat. “Parker tahu kalau Gaby tidak bisa berhenti bekerja dari sana, dan dia membuat kehidupan kerja putriku seperti di neraka.”
“Tuan, Parker sudah mendapat balasannya. Ia harus menjalani hukuman akibat perbuatannya, dosa masa lalunya terlalu banyak. Bukan hanya pada Gaby, tapi juga pada wanita lain di tempat kerjanya dulu.” Ungkap King, ia mendapat laporan dari sumber terpercaya yang pernah menangani kasus pelecehan yang dilakukan Parker sebelumnya.
“Penyakit ini sudah menggerogoti tubuh tuaku, apalah daya lelaki tak berguna ini. Hanya bisa menyusahkan dan tidak pernah memberi kebahagiaan hidup pada putrinya sendiri.” Kata-kata penyesalan terlontar dari bibir tuan Philips.
“Gaby akan kembali bekerja di peternakan Maggie, ia akan merasa lebih tenang jika ayahnya berada dekat dan dalam pengawasannya.”
“Akan sangat merepotkan Maggie bila harus mengurus lelaki tua ini lagi, sudah cukup ia membantu Gaby selama ini. Aku tidak mungkin membebani hidupnya dengan tinggal di rumahnya. Itu tidak mungkin kulakukan,” tolak tuan Philips.
“Tuan tidak tinggal percuma di sana, nyonya Maggie punya keinginan untuk membeli tanah peternakan Tuan. Dan selama proses berlangsung, Tuan akan tinggal di rumahnya.”
Pada akhirnya King mampu membujuk tuan Philips dan lelaki itu mau menurut ketika King membawanya pergi. King membantu membereskan koper tuan Philips, tak lama kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah peternakan Maggie.
Di peternakan Maggie, terdapat banyak petak rumah yang berjajar rapi di belakang rumah utama. Petak rumah itu disediakan untuk para pegawai peternakan yang ingin tinggal di sana. Masing-masing rumah terdapat dua kamar tidur di dalamnya, berikut fasilitas seperti rumah pada umumnya.
Di salah satu petak rumah, Gaby ditemani Rani sedang sibuk berbenah. Meski nenek sudah melarang dan mengatakan akan menyuruh orang lain yang melakukan, tapi kedua wanita itu tetap saja pada maunya.
__ADS_1
Gaby akan tidur di sana malam itu bersama ayahnya, ia menolak halus permintaan Rani untuk tidur bersamanya karena ada ayahnya yang butuh perhatian darinya.
“Berhenti berlompatan seperti itu, Rani. Kau mengingatkanku pada hewan berkantong yang ada di balik bukit sana,” tegur nenek melihat Rani terus melompat dengan satu kaki.
“Berhenti melarangku melompat seperti ini, Nek.” Rani melompat lagi, dan langsung memeluk neneknya yang hanya bisa mengeplak gemas lengan cucunya itu.
Gaby hanya bisa tersenyum melihat tingkah Rani, sikapnya yang selalu ceria membuatnya nyaman dan merasa senang.
Sebenarnya, bisa saja Rani berjalan biasa. Tapi perban di kakinya membuat langkah kakinya tak nyaman. Alhasil Rani lebih senang melompat dengan satu kaki.
Rani tidak menyadari akibatnya, hingga malam menjelang tidur betisnya terasa kencang dan pahanya pegal-pegal. Ia terbangun tengah malam sambil mengeluh kesakitan.
Suara-suara ramai dari rumah belakang terdengar jelas, Rani berusaha bangun dan ingin melihatnya. Tapi nyeri di kakinya membuatnya urung ke sana, ia berjalan perlahan keluar kamarnya, mencari sesuatu di kotak obat untuk meringankan rasa nyeri di kakinya.
“Aaaargh ... kenapa jadi sakit begini?” Keluh Rani, ia duduk berselonjor kaki sambil memukul-mukul pelan pahanya secara berulang.
Diambilnya krim yang bisa menghangatkan kaki, lalu mengolesnya dari pangkal paha menurun hingga mata kaki kemudian memijatnya pelan. “Uuuhh sakitnya.”
“Sini Aku bantu.” King tiba-tiba saja sudah berada di dekatnya, berjongkok di dekatnya dan mengambil alih krim dari tangannya.
Rani membuka matanya cepat, terkesiap melihat kehadiran King di dekatnya dan tanpa sadar menarik cepat kakinya yang berada dalam cekalan tangan King.
“Aaoww!” Embun di matanya akhirnya mengalir turun di pipinya. Rani mendengkus kesal dan spontan mengeplak bahu King. “Gara-gara Kamu, kan. Jadi tambah nyeri!”
“Loh, kok gara-gara Aku.” King menjauhkan tubuhnya, menghindari pukulan tangan Rani di bahunya. “Itu akibatnya kalau tidak menurut apa kata orang tua. Sudah besar masih saja senang lompat-lompat.”
“Apa, sih!” Rani melengos, memalingkan wajahnya. Ujung jemarinya mengusap pelan pipinya yang basah.
King tersenyum melihatnya, ia tahu bagaimana rasa sakit yang dirasakan Rani. Ia sedang berjalan hendak pulang ke rumahnya setelah membantu tuan Philips pindah di rumah barunya, dan telinganya mendengar keluhan Rani di dalam rumah.
__ADS_1
“Sudah jangan menangis, tahan ya. Aku pijat uratnya biar kakimu lebih nyaman.”
King mulai mengolesi kaki Rani dan memijatnya pelan. Awalnya Rani meringis dan berontak, tapi lama-kelamaan pijatan tangan King membuat rasa nyeri di kakinya berkurang.
Matanya perlahan terpejam, lalu tak lama kemudian kepalanya terkulai di sandaran kursi. Rani tertidur sementara King masih memijat kakinya.
King tersenyum melihatnya, ia menghentikan pijatannya lalu bangkit berdiri. King menyelipkan kedua tangannya di antara pinggang dan paha Rani, lalu menggendongnya masuk ke dalam kamarnya dan membaringkannya ke atas ranjang.
Untuk sesaat ia hanya memandang wajah cantik itu. Perlahan tangannya terulur menyibak rambut di pipi Rani, lalu King merendahkan tubuhnya dan mengecup kening dan sudut bibir Rani. “Selamat tidur, sayang. Mimpi indah.”
King menarik selimut di kaki Rani dan menutupi tubuhnya, ia lalu melangkah keluar kamar. Perlahan Rani membuka matanya, dan tersenyum lalu kembali memejamkan matanya lagi.
Keesokan harinya, nenek dan Rani dikejutkan dengan kehadiran Gaby di ruang kerjanya. Wanita itu sudah duduk manis di balik meja kerjanya yang lama yang hingga kini masih tertata apik. Tak ada yang berubah sedikit pun, karena nenek yakin Gaby akan kembali ke sana.
“Hari ini tidak ada yang boleh bekerja di meja ini, baik Rani atau Gaby. Apa yang terjadi pada kalian kemarin, sudah cukup membuatku berpikir ulang untuk memberikan waktu istirahat demi memulihkan kondisi kesehatan kalian.”
“Tapi, Nyonya. Saya merasa cukup sehat untuk mulai bekerja hari ini.” Kata Gaby.
Sayangnya nenek tidak ingin mendengar ada kata bantahan dari Gaby atau pun Rani, “Aku sudah memanggil dokter untuk memeriksa kesehatan kalian. Setelah itu Aku akan memutuskan kalian bisa bekerja atau tidak hari ini.”
Kedua wanita muda itu menurut, Rani senang ia bisa beristirahat lagi. Sementara Gaby merasa tak nyaman bila harus berdiam diri saja di sana.
Sekitar pukul sepuluh pagi dokter yang ditunggu datang, “Tidak ada luka serius, hanya memar biasa. Dan kalian bisa kembali bekerja seperti biasa.”
Dokter itu menatap Gaby untuk sesaat lamanya, “Aku harap Parker mendapat hukuman setimpal, dia tidak bisa berbuat itu lagi pada wanita-wanita lain di luar sana.”
“Terima kasih, Dokter.” Sahut Gaby.
Setelah mendengar penuturan dokter dan yakin kalau Gaby sudah bisa bekerja lagi, nenek menugaskannya untuk melanjutkan laporan pembukuan lanjutan yang sudah dibuat Rani. Sementara Rani beristirahat di kamarnya sambil sesekali membantu Gaby.
__ADS_1
Belum lama rasanya Gaby merasa tenang melakukan pekerjaannya, suara ribut di beranda rumah menarik perhatiannya. Ia berjalan keluar dan terkejut melihat Hary ada di sana. Laki-laki itu hendak masuk ke dalam rumah peternakan, tapi para pekerja menghadangnya dan mengusirnya pergi.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎