My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 21. When You say nothing at all


__ADS_3

Rani dan King terlambat tiba di peternakan dan sampai di sana menjelang malam hari. Rani kesulitan karena belum terbiasa membawa kendaraan bak terbuka seperti sekarang ini.


Rani juga harus menyesuaikan pandangannya dengan jalan di depannya, karena tak semua lampu jalanan yang mereka lewati menyala. Tak mungkin juga bagi Rani untuk membangunkan King dan menyuruh laki-laki itu yang menyetir mobilnya lagi karena sepanjang perjalanan King terus tertidur lelap.


“King, bangun. Kita sudah sampai.” Rani menyentuh bahu King, berniat membangunkannya. Tapi laki-laki itu bergeming dan malah memalingkan wajahnya menghadap Rani.


Rani tersenyum, King kelihatan lelah sekali. Tangannya jatuh di kedua sisi tubuhnya, napasnya terlihat naik turun dengan teratur.


Mengikuti nalurinya, Rani mendekatkan wajahnya dan menatap King lama. Cahaya terang lampu beranda membantunya melihat dengan jelas wajah King yang tampan.


Rambut ikal bergelombang itu tampak berantakan, menjuntai di keningnya. Garis wajahnya yang tegas, alis tebal, hidung mancung, dan bibir yang terpahat sempurna. Tanpa sadar tangan Rani terulur menyibak helai rambut King yang jatuh di keningnya, lalu turun ke pipi dan menyentuh sudut bibirnya.


King bergerak, merasa terganggu dengan ulah tangan Rani dan mengerjapkan matanya. Rani terkesiap menyadari kalau laki-laki itu ternyata sudah bangun, dan langsung menarik tangannya. Jarak mereka begitu dekat, Rani bahkan bisa merasakan napas King yang hangat menyentuh keningnya.


King tiba-tiba saja bergerak cepat dan menarik tengkuk Rani. Gerakannya itu mengejutkan Rani, belum sempat ia berpikir apa yang akan dilakukan King selanjutnya, tahu-tahu laki-laki itu sudah menciumnya. Menyentuhkan bibirnya dengan lembut tanpa memaksa.


“King.” Suara Rani melemah. Ciuman King memabukkan, dan membuatnya terlena.


King tersenyum menatapnya, pendar cinta terpancar di bola matanya. Rani tak menyadari itu semua, ia terbuai oleh kelembutan sikap King. Tangannya terulur begitu saja, mengunci leher King begitu laki-laki itu mengulang lagi perbuatannya. Kali ini lebih lembut dan lama.


King melepaskan tautan bibirnya secara tiba-tiba, dan Rani tersengal dibuatnya. King tersenyum menatapnya, menangkup wajah Rani yang masih memejamkan matanya. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap bibirnya yang bengkak.


“Jika Kau tak suka Aku melakukannya, Kau bisa menghentikannya sekarang juga.”


Rani menggeleng, perlahan membuka matanya. Wajah itu begitu dekat dengannya, tatapan keduanya bertemu.


“Kau tahu?” King mengusap-usap pipi Rani. “Aku butuh istirahat, tapi berada di dekatmu membuatku tak punya cukup waktu. Kau kerap mengganggu konsentrasiku, bahkan hanya dengan melihatmu tersenyum.”

__ADS_1


“Kau tertidur sepanjang perjalanan, sementara Aku menyetir mobilmu.”


King tertawa, “Aku masih terjaga dan terus memperhatikanmu, meski mataku terpejam.”


“Bagaimana Kau bisa melakukannya, Aku mendengar Kau mendengkur,” sahut Rani.


“Kau harus bisa membedakan suara dengkuran dengan bunyi ban yang berderit,” sergah King.


Rani tersenyum mendengarnya, “Sepertinya Aku harus segera pergi ke dokter dan memeriksakan telingaku.”


“Aku akan menemanimu, bila perlu kita ke sana dengan menunggang kuda.”


Rani tak dapat menyembunyikan tawanya lagi, dan King pura-pura tak mengerti. “Apa Kau tak ingin berkuda denganku? Tenang, Kau akan aman bersamaku. Kau akan kujaga dengan sepenuh hatiku, tak akan kubiarkan serpihan batu atau percikan lumpur badai mengenai kakimu.”


Rani tersipu malu, wajahnya menghangat. Ucapan King melambungkan hatinya, tapi Rani berusaha bersikap wajar. Beruntung tubuhnya kini bersandar di sandaran kursi, hingga King tak melihat perubahan pada raut wajahnya.


“Bukankah Kau katakan tadi kalau kehadiranku mengganggu konsentrasi kerjamu. Jika demikian, Aku tak akan berani muncul di hadapanmu. Aku akan bersembunyi, sampai Aku yakin Kau tak akan melihatku di sana.”


“Kau memang punya tanggung jawab besar, mengingat begitu banyak pekerjaan yang harus Kau lakukan di peternakan ini.” Rani menatap King, laki-laki itu tengah menatap keluar mobil.


“Dulu Aku tak peduli, siang malam terus bekerja. Hanya sesekali beristirahat, itu pun karena seseorang yang terus datang padaku. Aku berusaha mengabaikannya, tapi dia tak pernah menyerah sampai-sampai Aku sendiri yang lelah melihatnya.”


“Saat Aku mencoba membuka hatiku untuknya, dia malah pergi dengan laki-laki lain. Katanya ia tak sanggup menghadapi sikapku yang tak pernah berubah, dingin dan kaku.”


“Aku tak peduli lagi dengan cinta dan sejenisnya, dan menyibukkan diri lagi dengan pekerjaan. Sampai Kau muncul di sana, dan membuatku harus berpikir ulang.” King menoleh dan melembutkan pandangannya pada Rani.


“Aku menghabiskan malam panjang yang sulit setiap mengingat rasa manis bibirmu. Aku pikir akan mudah melupakan semua itu, tapi nyatanya tidak. Aku baru bisa terlelap setelah melihatmu, dan tiba-tiba saja semua masalah di kepalaku menghilang.”

__ADS_1


“Apa Kau sedang mencoba merayuku, King?” Rani berusaha menutupi rasa hatinya yang membuncah oleh ucapan manis bibir King.


“Apa Kau berpikir Aku sedang melakukan hal itu padamu, Nona?”


“Aku tidak tahu, King. Saat itu Kau menciumku di hadapan mantan kekasihmu, berdalih untuk meyakinkan semua orang tentang hubungan kita dan membuat wanita itu menjauh darimu. Aku butuh pembuktian, bukan hanya sekedar kata-kata manis yang memabukkan.”


King meraih pinggang Rani, dan menyatukan kening mereka. “Kau tahu, Aku sedang mencoba membuktikan semua ucapanku padamu.”


Kedua insan manusia di dalam mobil itu saling bertatapan, mereka tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi sambil tersenyum lega. Nyonya Maggie berharap King bisa menyembuhkan luka hati Rani dan membuatnya jatuh cinta lagi. Ia berharap banyak pada King.


Rani turun dari mobil dan menunggu King selesai menurunkan barang. Lelaki itu meraih tangannya dan membawanya ke bibirnya. “Aku pulang,” pamitnya kemudian seraya mencium kening Rani.


Rani mengangguk, berdiri menunggu King dan mobilnya berlalu dari hadapannya. Ia terus menatapnya hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.


Rani masuk ke dalam rumah, di sana ada nenek yang sedang menunggunya. Rani berhambur ke dalam pelukan nenek yang tersenyum menyambutnya dengan kedua tangan terentang lebar.


“Tak butuh waktu lama jika cinta itu datang menyapa, sambut dan rangkul dia dalam dekapan. Jangan biarkan pergi begitu saja.” Nenek mengusap punggung Rani sayang, ia tahu hati cucunya sedang ragu mengingat sikap King padanya.


It’s amazing how you can speak right to my heart. Without saying a word, you can light up the dark. Try as I may I could never explain. What I hear when you don’t say a thing.


(Sungguh menakjubkan bagaimana Anda dapat berbicara langsung ke hati Saya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Anda bisa menerangi kegelapan. Cobalah sebisa mungkin Saya tidak pernah bisa menjelaskan. Apa yang Saya dengar ketika Anda tidak mengatakan apa-apa)


The smile on your face let’s me know that you need me. There’s a truth in your eyes saying you’ll never leave me. The touch of your hand say’s you’ll catch me where ever I fall. You say it best, when you say nothing at all.


(Senyum di wajahmu memberitahuku bahwa Anda membutuhkanku. Ada kebenaran di matamu yang mengatakan Anda tidak akan pernah meninggalkanku. Sentuhan tangan Anda mengatakan Anda akan menangkap Saya di mana pun Saya jatuh. Anda mengatakan yang terbaik, ketika Anda tidak mengatakan apa-apa)


All day long I can hear people talking out loud. But when you hold me near, you drown out the crowd. Old Mr. Webster could never define. What’s being said between your heart and mine.

__ADS_1


(Sepanjang hari Saya bisa mendengar orang berbicara dengan suara keras. Tapi saat Anda memeluk Saya, Anda menenggelamkan kerumunan. Pak tua Webster tidak pernah bisa menjelaskan. Apa yang dikatakan antara hatimu dan hatiku)


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2