
“Siapa laki-laki tadi, King. Kenapa dia terlihat begitu membencimu?” tanya Rani disela-sela langkah mereka melewati anak tangga.
Wajah King kelihatan tegang, beberapa warga setempat yang berpapasan dan menyapa mereka hanya dibalasnya dengan anggukan kecil dan lambaian tangan saja.
King menoleh sesaat pada Rani, lalu berpaling melihat ke belakang tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Matanya berputar mencari seseorang dan hanya melihat keramaian seperti di pasar malam. Tak terlihat lagi Hary di sana.
Matanya beralih menatap ke arah deretan kedai-kedai dadakan yang menjual makanan dan minuman. King mendengkus gusar saat matanya menangkap sosok Hary yang tengah minum di salah satu kedai dan juga sedang melihat ke arahnya. Tatapan mereka bertemu.
Lelaki itu mengacungkan botol minumannya dan tertawa lebar ke arahnya, King menggertakkan giginya berusaha menahan diri. Sempat dilihatnya tangan Hary meraih pinggang wanita yang sedang berjalan di sampingnya dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya.
Sayangnya perlakuannya itu mendapat perlawanan. Wanita itu menamparnya karena tidak terima diperlakukan seenaknya oleh Hary lalu pergi meninggalkannya begitu saja, dan orang-orang di kedai itu menertawakan dirinya.
“King!”
“Yuhuu!”
King memalingkan wajahnya lagi, tersenyum tipis menatap Rani yang terlihat mulai kelelahan karena harus mengikutinya berjalan cepat dengan sepatu hak tinggi yang dikenakannya.
“Ada apa?”
“Ish, sudahlah. Percuma saja bertanya denganmu, Kau juga tidak akan mendengarkan ucapanku!” rutuk Rani kesal, ia menepis tangan King di bahunya lalu melanjutkan langkahnya lagi dan kini ia sudah berada di pinggir jalan raya.
“Heii Nona, mengapa Kau cepat sekali naik darah?” King berkacak pinggang.
Rani balik badan dan mencebikkan bibir, ia menggerakkan bahunya dan menirukan ucapan King. “Yang Aku tahu, kata-kata itu lebih tepat ditujukan untukmu. Bukan Aku!”
King meringis mendengar ucapan Rani, “Aku melakukannya karena orang-orang itu yang memulainya duluan. Percayalah, Aku bukan orang yang mudah naik darah apalagi memukul orang lain tanpa sebab pasti.”
King berjalan cepat menyusul. Sekali lompatan ia sudah berdiri tepat di samping Rani. “Kita akan bekerja sama di peternakan, meski hanya sebentar Aku harap Kau betah tinggal di sana nanti.”
King meraih topi di kepala Rani dan memakainya kembali. Rani memicingkan matanya, mendongak menatap King. Jarak mereka terlalu dekat, dan jantung Rani kembali berdesir.
__ADS_1
“Kau belum menjawab pertanyaanku tentang laki-laki tadi,” ucap Rani berhasil bersikap wajar.
“Namanya Hary, dia karyawan baru di peternakan beberapa waktu lalu. Aku sengaja memecatnya hari itu karena sudah bertindak di luar batas, mengganggu salah seorang pekerja wanita kami. Sepertinya ia masih tidak terima dengan perlakuanku dan terus saja bertingkah menyebalkan setiap kali kami bertemu,” jelas King.
“Apa dia laki-laki yang sudah membuat karyawanmu Gaby, mengundurkan diri dari peternakan?” tanya Rani ingin memastikan, kuat dugaannya laki-laki bernama Hary itulah orang yang diceritakan oma.
“Bagaimana Kau bisa menebaknya dengan tepat?” King menaikkan satu alisnya, dan tersenyum menatap Rani.
Deg! Manis sekali senyumnya, lelaki ini memiliki senyum yang mampu membius orang lain untuk tak berpaling menatapnya selain bentuk tubuhnya yang kokoh. Rani tertegun beberapa saat hingga suara mobil yang melintas di dekatnya menyadarkan dirinya.
“A-ku mendengar cerita itu dari oma, dan Aku berjanji padanya untuk membantunya sementara di sini menggantikan pekerjaan yang sudah ditinggalkan Gaby sambil mengisi libur cutiku. Itulah salah satu alasanku datang ke tempat ini.” Rani berhasil menjawab pertanyaan King dengan lancar, meski ia tahu wajahnya memerah saat itu. Beruntung sekali lelaki itu tidak memperhatikan perubahan pada wajahnya.
“Aku senang mendengarnya, akhirnya satu masalah teratasi.” Ucap King menarik napas lega.
King mendongak menatap langit yang terlihat mulai berawan, cuaca memang sulit diprediksi. Sejak pagi hingga siang tadi cuaca panas menyengat, sekarang berubah menggelap.
“Sebaiknya kita segera berangkat ke peternakan, sebelum hujan turun.” Ujar King, ia menghela bahu Rani dan membawanya berjalan menuju mobilnya.
“Apa Aku yang terlalu cepat menilai dirinya, nyatanya dia bukan orang yang kaku-kaku banget.” Rani menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran aneh yang berkelebat dalam benaknya.
“Ada apa?” tanya King, dan Rani menggeleng lagi. Tingkahnya itu membuat King tertawa.
“Kingstone Hardy!” panggil seseorang.
Rani menoleh cepat dan tertegun menatap wanita cantik di hadapannya itu yang setengah berlari mengejar mereka hingga akhirnya sampai di undakan tangga atas.
“Sepertinya kali ini kita harus menunda keberangkatan kita lagi,” ujar Rani setengah bergumam, dan King mengerutkan keningnya.
“King!” Suara itu terdengar lagi.
King mengusap telinganya dan berpikir sepertinya ia salah dengar, pasti karena suara-suara di bawah sana di mana para koboi mulai sibuk membawa kuda-kuda mereka kembali dan perlahan mulai meninggalkan keramaian acara.
__ADS_1
“King! Apa Kau tidak mendengarnya, wanita itu berteriak memanggil namamu.” Rani menyikut pinggang King, dan berusaha menjauhkan diri dari rangkulan tangan laki-laki itu di bahunya. Tapi King tak melepasnya begitu saja, justru makin mengetatkan pegangan tangannya.
King terlihat menghela napasnya sebelum akhirnya berbalik menghadap ke asal suara di belakangnya. Kerutan di keningnya makin dalam ketika melihat siapa yang datang.
“Ada apa lagi, Kyla?” tanya King tanpa melepaskan pegangan tangannya di bahu Rani. Ia menatap dingin, jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya karena kehadiran wanita itu di dekatnya seolah mengganggu ketenangannya.
Wanita itu berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di dada, rambut pirang pucat sebahunya dikepang dua dan dibiarkan berada di atas dadanya. Ia memakai topi tapi dibiarkan menggantung di punggungnya.
“Aku harus bicara denganmu, berdua saja!” sahut Kyla melirik sekilas pada Rani. Wajahnya halus tanpa riasan, dan matanya kebiruan. Wanita itu mengatupkan bibir rapat dengan wajah serius, menatap King dengan bibir cemberut.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, hubungan kita sudah selesai.” Kata King tegas.
“Aku masih mencintaimu, dan Aku tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini. Beri Aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu,” rajuk Kyla dengan wajah memelas, ia berjalan mendekat dan berusaha menyentuh lengan King.
“Sebaiknya Aku menunggu di mobil saja.” Rani tidak ingin ikut campur dalam urusan orang lain, dan memutuskan untuk menjauh dari mereka. Mobil King berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat itu, lebih baik menunggu di sana.
“Tetap bersamaku di sini, kita akan pergi bersama-sama. Tunggu beberapa saat saja dan Aku akan menyelesaikan urusanku dengannya,” ujar King menahan lengan Rani agar tak menjauh darinya.
Lagi-lagi King melakukannya, tangan lelaki itu bahkan menggenggam jemarinya dan tak membiarkan Rani pergi.
“Tapi, King.” Rani melirik pada Kyla, ia merasa tak nyaman dengan situasi yang sedang dihadapinya saat ini. Terperangkap di antara dua orang yang sedang terbelit masalah asmara yang belum usai, itu menurut penilaiannya karena Kyla masih ingin mempertahankan hubungan mereka.
“Tidak ada tapi-tapian,” sahut King, ia menatap mesra pada Rani. Apa yang dilakukan King itu membuat jantung Rani kembali berdesir.
Entah untuk sekedar membuat panas hati Kyla agar wanita itu segera berlalu dari hadapannya atau ada maksud lain, yang jelas sikap King menjadi sangat lembut padanya. Dan apa yang diucapkan laki-laki itu selanjutnya, mampu membuat Rani mematung di tempatnya.
“Bukankah kita akan segera menikah, dan Aku harus memperkenalkan calon istriku pada mantanku agar ke depannya tidak akan terjadi kesalah-pahaman di antara kita.” Ucap King dengan penuh penekanan.
“A-pa maksudmu dengan semua ini, King?” Kyla merenggut lengan King dan menariknya ke pinggir.
Rani terus menggeleng, sadar betul kalau laki-laki itu tengah bersandiwara. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba saja pening, sepertinya liburannya di tempat ini akan banyak warna dan sangat menarik.
__ADS_1
🌹🌹🌹