
Nyonya Maggie kembali ke rumahnya setelah pertemuannya dengan tuan Philips usai dan berhasil mencapai kata sepakat, ia meminta pada laki-laki itu untuk merahasiakan terlebih dahulu pada Rani atau pun Gaby, karena ingin membuat kejutan untuk mereka berdua.
Melihat kesibukan di dapur rumahnya, nyonya Maggie hanya melihat sesaat lalu pamit untuk kembali ke kamarnya.
“Apa Nenek tidak ingin bergabung bersama kami di sini?” Bujuk Rani, melihat sang nenek berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.
“Sudah ada Mala yang membantu kalian di sana, Kau bisa melakukannya bersamanya dan Gaby.” Sahut nenek sebelum menghilang di balik pintu.
“Hmm, padahal pagi tadi nenek bersemangat sekali mengajakku membantunya memasak. Sekarang malah pergi begitu saja,” kata Rani menatap pintu kamar sang nenek yang tertutup rapat.
Gaby hanya tertawa menanggapi, ia lalu menghela bahu Rani dan mengajaknya untuk segera menyelesaikan memasak pagi itu. “Ayolah, kita harus cepat. Sebelum jam sebelas, semua harus sudah siap.”
“Baiklah, Aku mengerti. Sekarang tunjukkan padaku bagaimana caranya, apa yang harus kulakukan dengan brokoli ini?” kata Rani memperlihatkan kemasan plastik di tangannya yang berisi potongan kecil brokoli.
Sementara di kamarnya, nyonya Maggie sedang membuka brankas besi miliknya yang terlindung di balik meja riasnya. Di mana terdapat banyak benda berharga di dalamnya. Surat tanah, kepingan emas batangan, dan surat berharga lainnya juga beberapa buah buku tabungan miliknya.
Ia mengeluarkan buku tabungan miliknya, meletakkannya di atas nakas lalu menutup kembali brankasnya seperti semula. Nyonya Maggie membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dan tersenyum seraya memejamkan matanya perlahan.
Ada yang berbeda saat makan siang berlangsung hari itu. Para pekerja memenuhi dapur rumah utama nyonya Maggie yang luas dan makan dengan lahap, memuji hasil masakan hari itu. Tapi sayang, King tidak tampak ada bersama mereka.
Sementara Andre memilih beristirahat di kamarnya setelah kakinya terkilir karena terjatuh dari kuda. Lelaki itu sudah sepatutnya berterima kasih pada King, karena King yang menolongnya menjinakkan kudanya hingga tidak membuatnya terluka lebih parah.
“Sudah kuduga,” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Rani ketika mendengar cerita salah satu pekerja yang mengabarkan kecelakaan yang dialami Andre saat berkuda.
__ADS_1
“Kau terlihat senang sekali mendengarnya,” sindir Gaby, melihat bibir Rani mengulas senyum sinis.
“Dia tidak pandai menunggang kuda, tapi berani menantang King. Laki-laki itu selalu terjatuh setiap kali mencoba naik di punggung kudanya. Kalau pun ia bisa melompat naik, itu karena ada orang lain yang membantunya dan berusaha menenangkan kudanya. Jika ia bisa bertahan lebih lama duduk di atas sana, Aku pastikan itu terjadi hanya selama lima menit saja.” Ungkap Rani, ia meraih gelas minumnya dan meneguk isinya hingga bersisa setengahnya saja.
“Kau sangat mengenal dirinya, ia berusaha menarik perhatianmu meski Kau selalu mengacuhkan dirinya.” Kata Gaby, menatap Rani untuk sesaat lamanya.
Sudut bibir Rani terangkat, ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. “Dua tahun kami bersama, Aku sangat tahu bagaimana keseharian dirinya.”
“Aku harap dia tidak mengalami patah kaki atau cedera serius lainnya,” kata Gaby menunjukkan sisi kepeduliannya pada nasib Andre.
“Hanya terkilir, tak akan membuatnya betah berdiam diri lama di kamarnya. Kecuali ada sesuatu yang membuatnya harus mendekam di sana,” balas Rani, menyelesaikan suapan terakhirnya. “Setidaknya kita bisa makan dengan tenang di sini, tanpa harus melihat wajah dan tingkahnya yang memuakkan.”
Gaby mengulum senyum mendengar ucapan terakhir Rani, ia tak lagi memperpanjang pembicaraan tentang Andre dan lebih memilih untuk menghabiskan makanannya.
“Ada dua orang lelaki yang tidak hadir di sini, siapa dia yang Kau maksud. King atau Andre?” tanya Gaby dengan mimik menggoda.
Rani mendelik sebal dengan bibir mengerucut. “Kau sudah tahu jawabannya.”
Gaby tertawa, “King sedang berada di ladang, mengumpulkan jerami dan ternak yang hilang bersama beberapa pekerja.”
“Bagaimana Kau tahu soal itu, bukankah sedari tadi Kau bersamaku di dapur rumah ini?” tanya Rani dengan kening berkerut.
“Hary yang mengatakannya padaku, King mengajak beberapa pekerja ikut bersamanya. Kalau Kau khawatir apa King akan kelaparan di sana, Kau bisa mengirimkan makanan untuknya.”
__ADS_1
“Sepertinya hubungan Hary dan para pekerja di tempatnya ini kembali membaik, dan sikapmu padanya pun mulai melunak. Apa ia sudah berhasil meraih hatimu dan mendapatkan balasan cintanya?” tanya Rani balas menggoda Gaby.
Wajah Gaby memerah, “Aku sedang berusaha membuka hati untuknya, sikapnya sudah banyak berubah dan ia tak lagi bertingkah menyebalkan seperti sebelumnya.”
“Aku senang mendengarnya, Aku akan mengirim makan siang untuk King. Tapi bagaimana dengan para pekerja lainnya? Aku tidak mungkin membawakan makanan untuk King seorang saja,” kata Rani terlihat menghela napas.
“Tenang, Kau tak perlu mengkhawatirkan mereka. Sebelum berangkat mereka selalu menyiapkan bekal makan siang terlebih dahulu. Itu sebabnya nyonya Maggie membiarkan para pekerja memasak sendiri makanan mereka saat hari libur seperti ini,” jelas Gaby.
Menit berikutnya Rani sibuk menata wadah makanan dan menyiapkan minuman untuk King, sementara Gaby dibantu pengurus rumah tangga nyonya Maggie sibuk membersihkan sisa makanan para pekerja.
Rani mengganti pakaiannya dengan kaus lengan pendek dan celana pendek denim di atas lutut, dan mengganti sandalnya dengan sepatu kets. Tak lupa topi lebar untuk melindungi wajahnya dari panas matahari, karena cuaca di luar sana sedang terik-teriknya. Jika ia bercermin, akan tampak wajahnya yang tegang meski tampilan dirinya terlihat lebih muda dan segar.
Rani mengendarai mobil bak terbuka menuju ladang, memilih pergi sendiri dan menolak diantar. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, debu beterbangan di belakangnya ketika ia melewati jalanan berbatu dan gersang.
Sepanjang jalan ia berbicara sendiri, menyusun kata saat nanti berjumpa dengan King. Ia berharap laki-laki itu akan berubah sikap setelah melihat kedatangannya dengan membawa bekal makan siang untuknya.
Rani menepikan mobilnya ketika melihat King mengemudikan traktornya dengan bertelan jang dada. Laki-laki itu seorang diri berada di tengah ladang. Tubuh tegapnya basah keringat, terlihat mengkilap saat terkena sinar matahari.
“King!” Rani melompat turun dari mobilnya, berteriak memanggil King sembari melambaikan tangannya.
King mematikan mesin traktornya, mengerutkan kening menatap Rani yang berlari ke arahnya dengan membawa bekal makanan di tangannya.
Menuruti hatinya, ingin rasanya berlari menyambut lalu memeluknya erat. Tapi itu tak mungkin dilakukannya karena Rani bukan miliknya. Ada seseorang yang menunggunya di rumah, mengingat itu membuat dadanya seperti teriris dan senyum yang sempat terbit di bibirnya perlahan memudar seiring kehadiran Rani di dekatnya.
__ADS_1
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎