My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 24. Suara hati


__ADS_3

King membawa Rani ke satu tempat, dari kejauhan sudah terdengar suara air jatuh. King menambatkan kudanya di pohon besar dengan banyak rumput di bawahnya.


Rani mengikuti langkah King dari belakang, mereka melewati jalan setapak dan menurun hingga tiba di satu tempat. “Tempat apa ini, King?”


Rani memutar tubuhnya, terpana melihat pemandangan indah sekitarnya hingga ia harus menutup mulutnya.


“Ini kolam pemandian warga di tempat kami. Masih asli dan belum terjamah ulah tangan kotor manusia, dan kami akan terus menjaganya.”


“Apa ada orang yang berniat jahat dan ingin merusak tempat ini?” tanya Rani, dan King menggertakkan giginya.


“Beberapa orang dari luar daerah ada yang berniat membeli tanah di daerah ini, tapi warga menolaknya. Pemilik lahan aslinya sudah meninggal dunia, tapi ahli warisnya masih hidup. Dan tuan Adam tidak berniat menjualnya dan meminta kami untuk merawat tempat ini bersama seluruh warga,” ungkap King.


Rani mengangguk mengerti, dari cerita King ia bisa menebak apa yang menjadi keinginan orang yang berniat membeli tanah di daerah itu.


“Tempat ini benar-benar menakjubkan, bisa jadi wisata terbaik untuk warga sekitar. Tak perlu jauh-jauh pergi ke luar kota, karena kalian punya tempat ini.”


Rasanya Rani sudah tak sabar ingin segera turun dan menceburkan dirinya di dalam sana. Pemandangan di bawahnya sangat menakjubkan.


“Aku tidak pernah menyangka kalian memiliki tempat yang seindah ini,” ucap Rani dengan mata berbinar.


“Aku bisa melihatnya, matamu mengatakan itu.” Kata King, yang ditanggapi Rani dengan tersenyum lebar.


Tempat itu dikelilingi pepohonan besar, tersembunyi di antara alam sekitarnya. Air terjunnya jatuh dari balik sisi bukit. Percikan airnya yang melayang di udara seperti buih yang berkabut, menimbulkan pemandangan indah warna-warni seperti pelangi saat tertimpa cahaya matahari. Sementara air yang mengalir di bawahnya sebening kristal.


“Penduduk di daerah ini menggunakan tempat ini untuk melepas penat setelah lelah bekerja. Kau akan merasakan sensasi seperti dipijat saat air terjun itu jatuh dan menyentuh langsung kulitmu.”


Rani tak berhenti menggumamkan kekagumannya. Ia bergegas melepas jaket dan sepatu botnya, bertelan jang kaki siap menapaki jalan turun yang dipenuhi dengan batu-batu besar di sekitarnya. “Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin mencobanya.”


King mengulurkan tangannya, membantunya turun dan membimbing Rani masuk ke dalam air. Nyes! Sensasi dingin langsung terasa di kakinya.


Rani tertawa senang, membasuh wajahnya dengan air di bawahnya. King melangkah perlahan dan berjalan menjauh, membiarkan Rani bermain air seperti anak kecil. Ia duduk di atas batu besar dan terus mengawasi wanita itu.


Rani mencoba berdiri tegak dan mengembangkan tangannya. Arus air di sekitarnya begitu cepat, banyak batu-batu besar di bawahnya mengkilap seperti cermin tertimpa cahaya matahari.


“King, airnya dingin sekali.” Rani berteriak dengan tubuh gemetar, kedua tangannya menangkup wajahnya. Giginya gemeletuk kedinginan, tapi hanya sebentar karena selanjutnya ia merasakan air di bawahnya berubah menghangat.


“Apa Kau ingin keluar dari dalam sana?” King balas berteriak.


“Tidaak!” Rani menggeleng kuat, King tertawa mendengarnya.


Rani lalu merendahkan tubuhnya dan menekuk kedua kakinya, masuk ke dalam air hingga hanya bagian lehernya saja yang terlihat.

__ADS_1


“Hei Nona, hati-hati. Kau harus tetap berpijak di batu besar itu dan melihat batu lain di bawahmu, jangan sampai kakimu terluka!” Teriak King mengingatkan.


Rani tak mendengar teriakan King, karena ia sedang menenggelamkan wajahnya di air. Saat muncul di permukaan, Rani mengusap wajahnya dan mengibaskan rambutnya yang basah.


“Apa Kau mengatakan sesuatu barusan, King. Aku tak mendengarnya!” Rani menggerakkan tangannya dan memutar tubuhnya, baju yang dikenakannya menggembung dan naik ke permukaan membuat tubuh bagian atasnya terbuka.


“Hei!” King berdiri, suaranya tertahan di tenggorokan. Ia tak jadi melanjutkan ucapannya dan memilih kembali duduk, melanjutkan mengawasi Rani dari atas batu besar.


Rani larut dalam kegembiraan hingga melupakan mata King yang terus menatapnya dan tak bisa melepaskan pandangan darinya.


“King!”


Satu teriakan lantang Rani seperti orang ketakutan, menyentak kesadaran King. Laki-laki itu terperanjat dan langsung melompat ke dalam air, berenang mendekati Rani yang duduk meringkuk di atas batu.


“Apa yang terjadi?” tanya King dan terhuyung ke belakang begitu Rani menubruk dadanya.


“Aku melihat hewan itu lagi, dia bergerak-gerak di dalam air.” Jelas Rani menyembunyikan wajahnya di dada King, menunjuk ke sembarang arah dengan tangan masih memeluk pinggang King.


King memutar wajahnya, lalu melihat air di bawahnya. Bibirnya mengulas senyum begitu melihat ikan seperti belut panjang bergerak-gerak di celah batuan kecil. Namun senyum itu berubah menjadi kerutan di kening begitu melihat darah yang keluar dari kaki Rani.


“Sepertinya kakimu terluka, Aku harus melihatnya.” King meregangkan pelukan Rani di tubuhnya.


“Aku harus membalut lukamu.” King menatap Rani, “Apa Kau bisa berjalan sendiri?”


Rani langsung berdiri, dan lupa kalau batu yang dipijaknya licin dan ia hampir tergelincir. Beruntung ada tangan King yang sigap menangkapnya, Rani jatuh ke dalam pelukan King lagi.


“Sepertinya Aku harus menggendongmu,” kata King, dan tanpa meminta persetujuan Rani ia langsung menyelipkan kedua tangannya di pinggang dan lutut wanita itu.


Mereka saling pandang, mata King terarah ke bibir Rani yang bergetar. Sementara mata Rani tertuju pada bibir King yang tertutup rapat dan terlihat seperti garis yang terbentuk indah di wajah tampannya. Mereka berpura-pura tidak menyadari kontak fisik yang terjadi.


Mendadak King menggelengkan kepalanya dan bicara setengah bergumam, “Harusnya Aku terus berada di dekatmu, jadi Kau tak perlu mengalami luka seperti ini.”


“Aku merepotkanmu lagi dengan menggendongku seperti ini,” balas Rani tak kalah pelan.


King membawanya naik, dan menyelimuti tubuh Rani yang basah dengan jaket miliknya. “Harusnya Kau segera mengganti bajumu yang basah itu. Aku harap Kau tidak mengalami masuk angin atau terserang flu karena kedinginan.”


King melepas kemejanya, dan membiarkan dadanya terbuka sementara. Rani menggigit bibir melihat pemandangan tubuh tegap King yang tak biasa.


Sebelum ia sempat menebak apa yang akan dilakukan King selanjutnya, laki-laki itu sudah merobek lengan kemejanya dan membalutkannya di kaki Rani.


Rani tidak berani bergerak, meski hatinya ingin sekali. Rambut King basah dan menjuntai di dahinya, sekuat tenaga Rani menahan diri untuk tidak mengulurkan tangannya dan membelai rambut itu lalu menarik King untuk mendekat. Sebersit perasaan aneh melingkupinya, ia ingin King memeluk tubuhnya lagi.

__ADS_1


“Jangan terus menatapku seperti itu.” King bicara padanya.


“Seperti apa?” tanya Rani tak mengerti.


“Aku bisa saja lepas kendali dan menerkammu saat ini,” kata King dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Kau mengingatkanku pada film kartun yang ditonton keponakanku. Dinosaurus itu mencaplok tubuh korbannya dan menggantungnya di pohon tinggi. Apa itu yang akan Kau lakukan padaku?”


King tertawa mendengarnya, “Katakan pada keponakanmu itu, jangan menonton kartun dinosaurus lagi.”


“Aku juga berharap begitu, tapi kakakku selalu tak tahan setiap mendengar tangisannya.” Tiba-tiba saja Rani merindukan tingkah lucu keponakannya di rumahnya.


Tatapan King melembut, ia mengusap kaki Rani yang diperbannya. Ia bisa melihat kehangatan di mata itu saat pandangan keduanya bertemu.


King memutar punggungnya, dan merendahkan tubuhnya. “Naiklah ke punggungku, Aku akan menggendongmu pulang.”


Rani tertawa, ia mengalungkan lengannya di leher King dan memeluk laki-laki itu dari belakang. King membantunya naik ke atas kuda dan membawanya pulang kembali ke peternakan.


Sepanjang perjalanan Rani mencoba memejamkan matanya dengan merapatkan tubuhnya di dada King dan menempelkan wajahnya di ceruk leher laki-laki itu.


Kau menginginkan pria yang satu ini.


Aku baru saja putus cinta, tahu! Dan Aku sedang tidak berminat untuk menjalin hubungan serius dengan lelaki mana pun.


Kau tidak ingin menjalin hubungan dengan pria lain, tapi Kau suka saat ia ada di dekatmu dan menyentuh kulitmu.


Tidak.


Kau membohongi dirimu sendiri, Kau sedang menunggu dirinya datang dan memelukmu.


Aku hanya sekedar menguji hatiku, semudah itukah jatuh cinta lagi setelah dikhianati.


Omong kosong! Hei, Nona. Akui saja Kau memang jatuh cinta padanya.


King mengecup rambut kepala Rani, setengah berbisik ia bertanya, “Aku seperti mendengar Kau bicara sendiri.”


Rani membuka matanya lalu menggelengkan kepala, “Sepertinya Kau bisa mendengar suara hatiku saat bicara.”


King tertawa mendengarnya, dan Rani memejamkan matanya lagi. Mungkin memang benar ia sudah jatuh cinta pada King, seperti kata hatinya yang didengar King.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

__ADS_1


__ADS_2