My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 37. Tantangan sang mantan


__ADS_3

Rasanya waktu berjalan begitu cepat, tahu-tahu sudah jam sebelas malam. Waktu yang cukup larut untuk para penduduk desa, tapi tidak berlaku untuk ketiga laki-laki yang sedang serius berbincang di ruang tamu tempat tinggal tuan Philips sekarang.


Rani duduk melamun sambil bertopang dagu di meja makan, sementara Gaby masih betah menemani nenek menonton tayangan di televisi. Sesekali terdengar helaan napasnya. Pintu pembatas ruang tamu dan ruang tengah yang sengaja ditutup rapat membuat Rani tidak dapat leluasa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, dan itu membuat Rani bosan.


Rani masih linglung rasanya, hal tak terduga dialaminya. Ia sama sekali tak pernah menyangka akan kembali bertemu mantan di rumah peternakan neneknya.


“Nek, Aku ngantuk.” Rani bangkit berdiri dan pura-pura menguap, lalu menutup mulut dengan jarinya. Nenek tersenyum maklum dan segera mengajak Rani pulang, mereka memilih melewati pintu belakang yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah utama.


“Kabari kami secepatnya. Apa pun keputusan yang diambil ayahmu, semoga saja itu yang terbaik untuk kalian ke depannya.” Nenek menepuk tangan Gaby, yang mengantar mereka sampai di depan pintu.


Gaby mengangguk, “Pasti, Nyonya. Saya akan mengabari kalian secepatnya.”


Gaby menarik lengan Rani, lalu berbisik di telinganya. “Aku harap hubunganmu dengan King akan membaik.”


Rani menaikkan satu alisnya, menatap Gaby. “Maksudmu?”


Gaby menaruh ujung jarinya ke bibir dan tersenyum penuh arti. Ia meneruskan bicaranya masih dengan suara berbisik. “Kau pasti tahu apa yang kumaksudkan, dan Aku percaya Kau akan mampu mengatasi semua masalah dirimu dengannya dan membuat mantanmu itu segera angkat kaki dari tempat ini.”


“Apa itu berarti Kau tidak setuju ia membeli lahan peternakan milik ayahmu?” sahut Rani balas berbisik, tapi ia lupa neneknya seorang pendengar yang sangat baik dan dia bisa dengan mudah mendengar semua pembicaraan dirinya dan Gaby.


Gaby mengangkat bahunya, “Aku berharap bukan dia orangnya, apalagi setelah Aku tahu laki-laki itu mantanmu dan apa yang sudah ia lakukan padamu.” Dan Rani tersenyum mendengarnya.


“Aku pikir jarak rumah kita tidak jauh, tapi kenapa sampai sekarang kita tidak juga sampai di sana.” Nenek akhirnya bersuara dan angkat bicara, berkacak pinggang dan balik badan lalu mendelik menatap Rani dan Gaby yang masih terus bicara sambil berbisik-bisik.

__ADS_1


“Kau bilang mengantuk, tapi lihat dirimu sekarang. Mata bulatmu itu bahkan terlihat semakin melebar saat bicara tentang mantan!” kata nenek yang sontak saja membuat Rani meringis dan bergegas meraih lengan neneknya dan memeluknya. Ia melambaikan sebelah tangannya yang bebas pada Gaby yang menatapnya sambil menahan tawa.


“Barusan sih memang mengantuk, Nek. Tapi sekarang sudah enggak lagi,” kata Rani tersenyum manis sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, dan berakhir dengan tangan nenek yang mengacak gemas rambutnya.


Sementara di ruang tamu rumah tinggal tuan Philips telah terjadi perdebatan yang cukup alot. Lelaki itu tetap pada pendiriannya semula. Ia bersedia menjual lahan peternakan miliknya dengan harga miring, tapi dengan catatan dibayar tunai tanpa cicilan. Sementara Andre meminta waktu pembayaran sambil menunggu pengajuan kreditnya disetujui oleh pihak bank.


“Kami menghargai kesungguhan hati Tuan Andre, terkait masalah waktu pembayaran. Tapi ada kebutuhan lain yang harus segera kami penuhi, dan tidak menutup kemungkinan terhadap peminat lain yang juga punya keinginan yang sama dengan Tuan. Jadi intinya, siapa yang terlebih dahulu melakukan pembayaran tunai pada kami, maka dia yang akan jadi pemilik lahan peternakan ini nanti.” Tegas tuan Philips.


“Bagaimana kalau Saya beri uang muka terlebih dulu, sebagai tanda jadi.” Andre membuka tasnya dan mengeluarkan segepok uang, menyimpannya ke atas meja di hadapan mereka semua. “Saya benar-benar menginginkan lahan peternakan ini.”


King menahan napas, melirik sekilas. Bukan jumlah yang sedikit, ia bisa melihat dari ikatan lembar uang di depannya. Dilihatnya tuan Philips menghela napas, tersenyum menatap Andre.


“Begini saja Tuan, Saya beri waktu dua Minggu. Jika Tuan bisa melunasi jumlah pembayaran dalam kurun waktu tersebut, maka dengan senang hati Saya bersedia menjual lahan peternakan Saya pada Tuan.” Tuan Philips bergeming, ia bersikukuh dengan pendiriannya dan Andre tahu ia tidak bisa lagi memaksa laki-laki itu untuk mau menerima uang darinya.


Apalagi setelah tahu keberadaan Rani di tempat itu, keinginannya untuk menjadikan Rani miliknya lagi semakin kuat. Tak peduli sikap Rani padanya kini, ia yakin wanita itu masih mencintainya.


Meski negosiasi dirinya dengan tuan Philips tidak seperti apa yang diharapkannya, setidaknya malam ini ia bisa berbaring dengan tenang di kamar rumah nyonya Maggie karena menyadari ada Rani yang berada dalam jangkauannya bahkan tinggal satu atap dengannya. Ia pun bisa tersenyum dalam tidurnya.


Berbeda sekali dengan Rani yang terus berjalan mondar-mandir di kamarnya, rambut panjangnya dibiarkan terurai berantakan. Jarum jam di dinding menunjukkan angka 2, ia terbangun setelah tidur tak nyenyak dan harus segera menyudahi mimpi indahnya bersama King setelah wajah menyeramkan Andre muncul di antara mereka berdua.


Hingga beberapa jam kemudian kantuknya tak jua datang, meski sedari tadi mencoba untuk tidur kembali. Rani mengesah gusar, hari Minggu ini dipastikan akan menjadi hari terberat untuk dirinya.


Rencananya menikmati waktu santai di peternakan sepertinya terancam gagal. Sang mantan yang tiba-tiba saja muncul telah menyebabkan sikap King padanya berubah drastis. Tak lagi terlihat menatapnya lembut, lelaki itu justru berpaling muka enggan bertemu pandang dengannya.

__ADS_1


Ketika pagi hampir tiba, Rani baru bisa memejamkan matanya. Dan saat dapur rumah neneknya disibukkan dengan suara alat-alat masak yang saling beradu, Rani justru sedang lelap-lelapnya. Ia baru terjaga ketika mendengar suara Gaby yang berada di dekatnya.


“Hei, bangun Nona. Ini sudah jam delapan pagi. Apa Kau tidak melihat matahari bersinar cerah dan suara-suara nyaring dari arah dapur rumah ini?” kata Gaby, menarik selimut yang membungkus tubuh ramping Rani.


“Gaby, please. Biarkan Aku meneruskan tidurku.” Rani menarik selimutnya kembali, tapi tangan Gaby lebih gesit. Ia segera menggulungnya dan menaruhnya di sudut kamar tepat di atas keranjang pakaian Rani.


“Apa Kau tidak tertarik melihat King dan mantan tunanganmu itu bertanding menjinakkan kuda pagi ini? Andre secara terbuka menantang King di hadapan semua pekerja, entah apa yang diinginkan mantanmu itu. Dan King tanpa pikir panjang langsung menerimanya,” ungkap Gaby yang sukses membuat Rani membuka matanya lebar.


Tapi sayang hanya sesaat, sedetik kemudian Rani membenamkan wajahnya di bantal, dan bahunya terlihat berguncang hebat.


“Rani, apa Kau sedang menangis?” tanya Gaby khawatir, ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang seraya mengusap punggung Rani perlahan.


Rani memutar tubuhnya, dan berbaring menghadap Gaby. Ia menyibak helai rambut yang menutupi wajahnya, sudut matanya menggenang air mata.


“Kau!” seru Gaby gemas, bibirnya memberengut sebal dan spontan mencubit gemas pinggang Rani. “Aku pikir Kau sedang menangis memikirkan laki-laki itu, ternyata Aku salah.”


Bahu Rani memang berguncang hebat, tapi bukan karena ia sedang menangis. Rani sedang menahan gelaknya setelah mendengar cerita Gaby tentang Andre yang menantang King menjinakkan kuda.


“Kau tahu, kami pernah berkuda bersama. Dan Andre hampir celaka karena wajahnya tersepak buntut kuda saat ia terjatuh dan mencoba naik kembali. Aku berusaha menariknya untuk menjauh, tapi dia malah marah dan menyalahkanku. Sejak saat itu ia tak pernah lagi mau kuajak berkuda, dan lebih memilih bermain boling dengan ditemani sekretarisnya.” Rani berhenti sejenak, tertawa getir.


“Aku jadi curiga dengan niat laki-laki itu, menantang King melakukan sebuah permainan yang jelas-jelas tidak ia kuasai.” Kata Gaby setengah bergumam.


Rani bangun dan langsung menegakkan punggungnya, ia bergegas turun dari ranjang dan menyambar handuk mandinya. “Aku harus mencegah King melakukannya, pasti ada sesuatu yang direncanakan Andre saat ini. Dan Aku tidak ingin terjadi sesuatu, lalu laki-laki itu akan menyalahkan King karenanya.”

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2