
Rani datang menemui King, membawa bekal makan siang untuknya bukan tanpa tujuan. Ia ingin meluruskan kesalahpahaman di antara mereka berdua karena kehadiran Andre, sang mantan tunangan di tengah-tengah hubungan manis mereka yang baru saja terjalin.
Apa yang terjadi selanjutnya begitu cepat, pertemuan yang diawali dengan perdebatan kecil itu harus terjeda saat Rani berniat ingin pulang.
“Kalau Kau sudah selesai, Aku akan segera pulang.” Rani membereskan bekas makan King dengan tangan bergetar dan wajah terus menunduk, tak kuat menatap dada telan jang King yang berada begitu dekat dengannya.
King tersenyum saat menyadari kalau Rani begitu terpengaruh dengan tampilan dirinya. Ia bergegas bangkit, berdiri dengan cepat menyambar lengan Rani. Tidak ingin membiarkan wanita itu berlalu pergi begitu saja dari hadapannya.
“Aku harus membuktikannya sendiri,” kata King sambil bergumam tidak jelas. Lengan King yang kuat merengkuh pinggang ramping Rani, menariknya masuk dalam pelukannya hingga dada Rani yang lembut membentur dadanya yang liat.
“Tuan Hardy!” Rani tersentak kaget, memprotes tindakan King. Kotak kosong bekas makanan di tangannya terlempar jatuh ke tanah. Tubuh mereka kini menempel ketat.
“Biarkan saja,” kata King menahan wajah Rani agar menatapnya, lalu lelaki itu menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Rani.
Rani tidak sempat memprotes ketika mengangkat wajah memberanikan diri menatap wajah tampan King yang kini tengah memeluk pinggangnya erat, untuk ke sekian kalinya lelaki itu mencium bibirnya lagi sebagai pembuktian. Entah apa maksudnya, hanya King seorang yang tahu.
Rani merinding merasakan sensasi yang mendebarkan hatinya saat bibir King yang keras menyentuh bibirnya yang lembut, mendesak bibirnya untuk membuka. Detak jantungnya meningkat dengan cepat, deru napasnya terdengar memburu saat King menggigit bibir bawahnya. Tangan Rani terulur begitu saja melingkari leher kokoh King, begitu lelaki itu memperdalam ciumannya.
Napas Rani tersengal, saat lidah King masuk dan mendesak dengan lembut. “King,” bisik Rani gemetar, ketika King tiba-tiba menarik wajahnya menjauh.
Tatap mata keduanya bertemu, dan Rani semakin yakin dengan perasaan hatinya kalau ia benar-benar jatuh cinta pada King.
King mengusap sudut bibir Rani yang basah, lalu keseluruhan bibirnya yang bengkak. Tatapannya lalu beralih naik, tangannya terulur menarik ikatan rambut Rani dan melepasnya dengan cepat. Membuat rambut panjang hitam itu tergerai jatuh di bahunya.
__ADS_1
King meraup rambut lembut Rani dan menggenggamnya di tangan untuk sesaat lamanya. “Aku suka saat angin mempermainkan rambutmu, Aku suka melihatnya tampak berkilau di bawah sinar matahari. Aku juga suka saat Kau tertawa dan memejamkan matamu.”
“Dan Kau senang melihat rambutku berantakan!” Rani membuka mulut, memprotes tindakan King meski hatinya bersorak senang. Sungguh, pesona King telah membiusnya. Apa yang dilakukannya selalu membuat hatinya bergetar.
King tertawa mendengar protes Rani, dan kesempatan itu digunakan King untuk mencium bibir Rani lagi. Dan Rani tidak memprotesnya lagi, ia bahkan menikmati setiap momen saat King menyentuh bibirnya dan merekamnya dalam ingatannya.
“Kau yang membuatku seperti ini, tapi Aku tak peduli. Aku bisa gila karena terus memikirkanmu bersama laki-laki itu,” gumam King disela ciumannya yang panas.
“King,” bisik Rani parau, saat tubuh mereka bersentuhan. Dengan berani, Rani menyapukan sebelah tangannya di dada King yang telan jang.
“Kau sadar apa yang Kau lakukan?” King menggeram, meraih tangan Rani. Dadanya turun-naik dengan cepat, berusaha keras untuk mengendalikan dirinya.
“Aku sadar sepenuhnya, apa yang Aku lakukan.” Tatapan mata Rani meredup, sudah cukup sebagai jawaban. Ia meraih tengkuk King dan menariknya turun, memintanya mengulang apa yang telah dilakukan laki-laki itu sebelumnya.
“King,” suara Rani berbisik. King mendudukkannya di lantai traktor, rasa dingin langsung menyengat begitu bo kongnya bersentuhan dengan lantai besi di bawahnya.
King menunduk dan menciumnya lagi, ciumannya begitu manis kali ini hingga membuat Rani lupa diri dan membalasnya dengan semua kelembutan yang dimilikinya.
Beberapa saat kemudian King tersadar. Bayangan wajah Andre melintas di benaknya, membuat King tersentak dan dengan cepat meregangkan pelukan mereka. Dilepasnya pegangan tangan Rani di lehernya, dan melangkah mundur tiba-tiba.
“Ini salah, apa yang kita lakukan ini sebuah kesalahan.” King tersentak mundur, mata birunya berpendar liar.
King balik badan, wajahnya mengeras. Ia berusaha mengatur napas, mencoba mengendalikan diri ketika rasa cemburu itu kembali menguasai hatinya.
__ADS_1
Rani menatap bingung punggung lebar King yang tampak bergetar. “Aku yakin itu bukan suatu kesalahan, kita sama-sama menginginkannya.”
King menoleh, dan apa yang tampak di wajah tampan itu membuat Rani ingin menangis. Wajah tampan itu datar tanpa ekspresi, tak terlihat wajah bahagia atau rasa cinta yang terpancar seperti saat ia menyentuh bibir Rani. Yang terlihat justru penyesalan dan rasa muak karena percaya apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan dan pengkhianatan pada seseorang.
“Aku memang menginginkanmu, tapi Aku masih bisa berpikir waras dan tak akan melakukan hal gila ini lagi yang hanya akan menghancurkan pertunangan kalian.” King percaya ucapan Andre dan mengira Rani masih bertunangan dengan laki-laki itu.
“King, bagaimana Aku harus menjelaskannya padamu, kami sudah lama putus. Aku bebas, dan tidak terikat hubungan dengan lelaki mana pun.” Rani berusaha menjelaskan, tapi King tetap tak percaya.
King menggeleng, “Jangan memperburuk keadaan. Kau tidak benar-benar jatuh cinta padaku, dan Aku pun tak yakin dengan perasaanku padamu. Kau hanya sedang kesepian dan butuh penghiburan setelah rasa kecewa yang Kau rasakan padanya, lalu Aku hadir mengisi kekosongan itu. Saat Kau sadar dan rasa kecewamu hilang, Kau akan pergi meninggalkanku dan kembali padanya lagi.”
Wajah Rani merah padam, sudut matanya menggenang air mata. Ia tak percaya King mengatakan hal itu padanya, lelaki itu meragukan perasaannya dan menganggap dirinya hanya persinggahan sesaat.
“Kau tidak benar-benar mengenalku, dan Aku sangsi apa Kau pernah mengerti perasaan hatimu sesungguhnya saat seorang wanita jatuh cinta padamu.”
Rani berlari cepat, melewati arah saat ia datang tadi. Air matanya mengalir deras. Rasa kecewa, sakit hati menguasai dirinya. King tak pernah benar-benar menginginkan kehadirannya, atau menyukainya. laki-laki itu hanya mempermainkan dirinya saja saat menciumnya tadi.
Ia tak peduli ketika King berteriak mengingatkan, Rani terus berlari melewati semak dan padang rumput luas. Tak sanggup lagi menahan air matanya, pandangannya mengabur hingga tak menyadari bahaya sedang menghadang di depan mata.
“Aarghk!” Rani terjatuh saat kakinya tanpa sengaja menginjak sesuatu yang menyentak dan membuatnya hilang keseimbangan.
Suara desisan di belakangnya membuat Rani menoleh cepat. Ia membeku di tempatnya, rasa takut luar biasa menyergapnya. Ia menatap ular sepanjang satu meter lebih yang kini berdiri tegak di hadapannya, hingga tak menyadari sekelebat bayangan melintas dengan cepat dan tahu-tahu tubuh ular itu sudah terbelah dua.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1