My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 26. Kejadian tak terduga di toko pakan


__ADS_3

“King!”


Rani berteriak lantang memanggil King. Wanita itu berjalan cepat bahkan melompat dengan satu kaki, keluar rumah sambil meringis menggigit bibir menahan nyeri di telapak kakinya.


King melompat ke atas kudanya, kakinya menekan perut kudanya hingga hewan itu mulai bergerak maju. Ia menarik tali kekang kudanya begitu mendengar suara teriakan Rani.


“Wooo, sshhh!”


King membelokkan kudanya perlahan, ia menatap Rani dengan kening berkerut. Wanita itu berdiri sambil menekuk sebelah kakinya dan sebelah tangan berpegangan pada tiang rumah. “Ada apa?” tanya King.


Rani menelan ludah dengan susah payah, ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia kehilangan kata-kata, tak mampu dengan cepat menjawab pertanyaan King seperti biasanya hingga beberapa saat lamanya.


Melihat King yang langsung bereaksi cepat saat mendengar Gaby kemungkinan berada dalam bahaya, tiba-tiba saja mengusik hatinya. Ia tidak tahu perasaan apa itu, yang jelas Rani takut untuk mengakuinya saat ini.


“Hati-hati.” Rani akhirnya bisa menjawab pertanyaan King setelah ada jeda waktu yang cukup lama, dan laki-laki itu tersenyum menatapnya. “Aku hanya ingin memastikan kalau Kau akan membawa Gaby pulang kembali ke peternakan ini.”


Aahrgk! Haruskah ia mengatakan hal itu, terlalu biasa. Semua orang pasti mengharapkan hal yang sama akan dilakukan King untuk menolong Gaby. Rani menepuk keningnya sendiri.


Rani sibuk bicara sendiri dan tak menyadari King melompat turun dari kudanya dan berjalan mendekatinya. Satu gerakan tak terduga dilakukan King, laki-laki itu menggendong Rani kembali dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Kingstone Hardy!” jerit Rani, terkejut dengan apa yang dilakukan King padanya. “Apa yang Kau lakukan?”


King berniat membawa Rani ke kamarnya. Nenek yang sedang berada di sofa dan menonton acara televisi terkejut melihat mereka berdua.


“Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Rani lagi?” tanya nenek sambil menahan napas, “Apa kakinya berdarah sampai Kau harus menggendongnya seperti itu lagi?”


“Tidak, Nyonya. Cucu Anda hanya perlu beristirahat di dalam kamarnya dan berhenti berlompatan!” Kata King dan terus berjalan.


“Apa Rani melakukannya lagi? Sejak kecil ia memang suka berlompatan seperti kanguru meski kakinya terluka.” Kata nenek seraya menggelengkan kepala.


Rani mendelik gusar, ia menyembulkan wajahnya di balik lengan King dan berseru pada neneknya. “Aku hanya ingin mengingatkannya, tapi King tak suka Aku bicara.”


King mengayun tubuh Rani dalam pelukannya, wanita itu menjerit dan King tertawa ketika Rani langsung melingkarkan lengannya di seputar lehernya.


“Kau memang laki-laki baik dan pantas diandalkan, bawa ia segera ke kamarnya dan Aku akan memastikan ia beristirahat di dalam sana.” Nenek membantu membuka pintu kamar Rani, dan menyingkap selimut yang berada di atas tempat tidur.

__ADS_1


“Nenek kok gitu?” balas Rani dengan bibir cemberut.


“Begitu bagaimana? Kali ini Kau harus mendengarkan ucapan King, Nenek tidak akan mengizinkanmu berkuda lagi jika Kau tidak menurut padanya.”


Rani melirik sebal pada King, lelaki itu membaringkannya di atas tempat tidur. Nenek bicara pelan pada King, “Aku tidak yakin Rani akan diam tenang di kamarnya, ia bukan tipe yang mudah menurut apalagi saat dirinya merasa terancam musuhnya.”


“Nenek, Aku bisa mendengar Nenek bicara.” Kata Rani melirik pada neneknya, wanita itu tertawa dan segera keluar dari kamarnya. Sementara King masih berdiam diri di dalam kamarnya.


“Kenapa masih berada di kamarku, bukankah Kau ingin segera menemui Gaby di tokonya?”


King berjalan mendekat, ia duduk di tepi ranjang dan tersenyum menatap Rani. “Aku seperti mendengar nada cemburu di dalam ucapanmu.”


“Apa maksudmu, siapa yang cemburu? Apa ucapanku salah, bukankah benar memang Kau ingin segera menemui Gaby di tokonya? Lalu kenapa Kau mas .. sih hmpf!”


Rani tak bisa meneruskan ucapannya karena bibir King langsung menyergapnya. King menciumnya lagi, dan membungkam kata-katanya. Lelaki itu merangkum wajahnya dan menekan tengkuknya agar mendekat padanya.


Rani tak berkutik, ia terlampau terkejut tak bisa melakukan perlawanan saat mendapatkan serangan King yang tiba-tiba. Entah mengapa, saat berada dalam dekapan King tangannya dengan mudahnya terulur begitu saja melingkari leher laki-laki itu.


“Aku yakin, sekarang Kau akan duduk manis di kamarmu dan menungguku datang membawa Gaby ke rumah ini.” Kata King dengan tatapan mata hangat, ia mengusap bibir Rani yang bengkak.


Rani menekan kedua pipinya yang memerah lalu meraba bibirnya, ia masih bisa merasakan rasa bibir King di sana.


“Apa Kau baik-baik saja?” Nenek mengintip dari balik pintu kamar Rani, matanya bersinar-sinar geli menatap wajah Rani yang memerah.


“Nenek, berhenti menggodaku seperti itu.” Rani menarik selimut di kakinya dan menutupi seluruh tubuhnya hingga batas leher, nenek tergelak melihatnya dan segera melenggang pergi dari sana. Rani masih bisa mendengar tawanya bersamaan dengan suara ringkik kuda King yang berlari menjauh.


King memacu kudanya cepat, meninggalkan kabut debu yang menggumpal di belakangnya. ia harus segera membawa Gaby keluar dari toko pakan itu. Kali ini ia tak mau kecolongan lagi, setelah peristiwa sebelumnya saat Hary mencoba menggoda gadis itu.


Wanita itu sudah seperti adik baginya. Orang tua mereka bersahabat, dan King berpikir semua warga di daerah itu juga saling bersahabat dan saling kenal dengan baik.


“Harusnya gadis itu tetap bertahan di peternakan Maggie, bukannya mengundurkan diri dan malah bekerja dengan Parker!” gerutu King.


King memang tidak kenal dekat dengan Parker, tapi ia kenal baik dengan Ed Donovan sang pemilik toko pakan.


Parker bersama istrinya belum lama tinggal di daerahnya. Ia bekerja di sana menggantikan manajer toko pakan yang lama, setelah Ed mengetahui akal bulusnya memanipulasi nota penjualan barang dan mengusirnya keluar dari tokonya.

__ADS_1


Hari belum begitu sore ketika King sampai di sana, ia menambatkan kudanya di seberang jalan tak jauh dari toko pakan itu berada.


Dari depan toko suasana terlihat sepi, tak ada kendaraan terparkir di sana. Hanya ada satu kendaraan seperti biasa, berada di depan toko. Sepertinya itu milik manajer Parker.


King menyeberang jalan, dan berdiri sebentar di depan toko. Tak terlihat kegiatan apa pun di dalam sana, benar-benar sepi.


King melangkah masuk, tangannya langsung bergerak mengibaskan debu sisa sarang laba-laba yang berada di atas kepalanya.


King berdeham sejenak sebelum berteriak memanggil nama penghuni toko. “Heii, apa tidak ada orang di dalam toko ini? Gaby, tuan Parker. Aku butuh sepuluh sekop lagi!”


Tak terdengar sahutan, tapi King mendengar jerit tertahan seseorang dari dalam gudang yang ada di belakang toko. King menajamkan telinganya, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.


“Apa yang kalian lakukan di dalam gudang sana, membiarkan pelanggan berteriak meminta barang?”


King berjalan perlahan, menyusuri koridor yang menghubungkan toko pakan dengan gudang. Pencahayaan di tempat itu sangat buruk, bola lampu yang menempel di atas tiang kayu itu berwarna kehitaman dan tampak sangat redup.


Ada pintu kayu yang sudah lapuk dibiarkan terbuka lebar, King menuju ke sana. Di depannya terdapat tanah kosong dan sebuah gudang tua. King mendengar keributan itu berasal dari dalam gudang di depannya.


King mendorong pintunya dan terkejut melihat keadaan di dalam gudang yang tampak porak-poranda seperti habis tersapu badai. Karung besar berisi pakan ternak berhamburan di lantai. Di tengah-tengah ruangan terdapat rak-rak lemari kayu.


King melihat dua orang lelaki saling berhadapan. Parker bersandar di dinding tembok, berdiri menghadapnya. Ia mengusap luka di sudut bibirnya yang berdarah. Sementara laki-laki satunya berdiri membelakanginya dan terlihat mengepalkan tangannya.


“Apa yang Kau lakukan di sini?!” teriak Parker marah melihat kehadiran King di tempat itu.


Lelaki di hadapan Parker berbalik. Bola mata King langsung melebar, terkejut melihat pemuda itu. Yang lebih mengejutkan King lagi, Gaby tiba-tiba muncul dari balik dinding rak dengan lengan baju koyak dan mata sembab.


“King,” ucapnya dengan nada lemah.


King melangkah maju, ia mendekati Hary dan mencengkeram kerah leher pemuda itu dan bersiap melancarkan tinjunya.


“King, bukan dia!” jerit Gaby.


Hary berdiri dengan wajah murka, ia menantang mata King dan menunjuk marah pada Parker dengan ujung jarinya. “Laki-laki itu yang melakukannya, Aku memergoki dia sedang berusaha melecehkan Gaby!”


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

__ADS_1


__ADS_2