
Rani berdiri gelisah, menatap King dan Andre yang berada di sudut lapangan sedang berbicara dengan Leo, salah satu mandor dan penjinak kuda yang akan menjadi juri di pertandingan pagi hari itu.
Di sebelahnya Gaby berdiri sambil terus menggenggam erat tangannya, sepertinya tahu jika ia melepaskan pegangannya maka Rani akan melesat pergi dan berlari melihat King dari jarak dekat.
“Kau harus percaya pada King, ia pasti mampu mengatasinya. Setiap hari King selalu melakukannya, meski si hitam dikenal sebagai kuda pemberang.” Kata Gaby tersenyum menenangkan Rani.
Rani mengesah pelan, dan balas tersenyum. Ia sangat percaya King memiliki kemampuan menjinakkan kuda dan bisa dengan mudah mengalahkan lawannya.
Tapi yang membuatnya penasaran hingga kini, kenapa Andre yang tidak memiliki keahlian apa-apa dalam hal menjinakkan kuda justru dengan berani menantang King melakukannya. Hal gila apa yang sedang direncanakan laki-laki itu, membuat Rani berpikir keras.
King yang mendapat giliran pertama, tengah bersiap dan mulai mengenakan sarung tangannya. Riuh suara para pekerja peternakan, berteriak mengelu-elukan nama King. Sementara Andre, berdiri menunggu giliran ditemani salah seorang pekerja.
“King!” Rani berteriak tak sabar, melihat King yang berjalan memasuki lapangan dan hanya menatapnya sekilas. Ia percaya laki-laki itu mendengar suaranya.
Leo bersiap di sisi lapangan, tak jauh dari kuda hitam ditambatkan. Tali kekang kuda sudah dilepas, Leo berdiri mengawasi dengan gulungan tali di tangan.
King berjalan mendekat, si hitam sedang menunduk lalu terdengar mendengus saat merasakan kehadiran orang asing di dekatnya. Kuda itu terlihat mulai gelisah, ia mengibaskan ekornya ke sembarang arah.
“Ssshhhh!” King mengajak bicara sembari mengulurkan tangannya perlahan hendak memegang telinga si hitam berusaha menenangkan. Tapi si hitam memutar tubuh ke arahnya dan malah menyerang tangannya.
“Wooo!” King mengelak dan berhasil menghindar dari serangan si hitam, meski harus terjatuh ke tanah. Tak berhenti sampai di situ, si hitam tiba-tiba melonjak-lonjakkan bo kongnya dan mengangkat kaki depannya tinggi berusaha menendang King yang masih terduduk di tanah.
“King!” Rani terkesiap dan berteriak kencang melihat King bergerak mundur dengan cepat. Ia menyentak genggaman tangan Gaby, membuat wanita itu meringis sambil memegangi tangannya.
“Maaf,” kata Rani dengan wajah dipenuhi rasa bersalah. “Aku ...”
“Aku mengerti,” sahut Gaby maklum. Ia tak lagi memegang tangan Rani dan hanya berdiri diam di sampingnya, pesan King padanya untuk menahan Rani agar tetap berada bersamanya sepertinya tidak mudah untuk dilakukan.
__ADS_1
Leo pun bergerak mendekat, bersiap melemparkan simpul tali di tangannya pada King. King menyambarnya dengan satu tangannya, dan simpul tali itu sudah berpindah ke tangannya.
“King!” Rasa cemas menguasai hati Rani melihat si hitam hampir saja mencelakai King, ia berlari melintasi pinggir lapangan sambil berteriak-teriak seraya melambaikan tangannya hingga sesaat si hitam lengah dan King dengan cepat melompat naik ke atas punggung kuda itu.
“Rani!” teriak Gaby, tak kalah cemas melihatnya berlari mengitari lapangan. “Hary, cegah Rani segera!” serunya pada Hary yang berada di sisinya.
“Hei! Turun dari sana, Nona. Kau bisa terjatuh dan celaka!” kata Hary tak kalah lantang, berteriak mengingatkan Rani yang berusaha memanjat pagar lagi.
Tapi Rani tak menggubris teriakan Hary, fokusnya tertuju pada King seorang yang tengah memeluk leher si hitam dan berbisik lembut di telinganya. Perlahan kuda itu mulai tampak tenang, dan King terus mengusap-usap badan si hitam.
Rani mengembuskan napas lega melihat King berhasil menjinakkan si hitam. Kuda itu kini sedang berlari mengitari lapangan bersama King, dan suara teriakan para pekerja di pinggir lapangan kembali bergemuruh.
“Nona, silah kan turun.” Leo tiba-tiba sudah berada di dekatnya, Rani menoleh dan bergegas turun ketika melihat King turun dari kudanya dan berjalan ke arahnya.
“King, Kau berhasil melakukannya.” Rani tersenyum lebar, menyambut kedatangan King. Namun hanya sesaat, senyum di wajahnya sirna begitu King berjalan melewatinya dan tak menoleh sedikit pun padanya. Lelaki itu langsung bergabung dengan para pekerja dan duduk di atas rumput tebal di bawahnya.
“King!” teriaknya lantang, kali ini berbalut nada kesal yang terdengar jelas. Tapi King benar-benar tak peduli padanya, dan semakin tak peduli begitu Andre datang mendekat dan dengan santainya memeluk bahu Rani dari belakang.
“Silah kan saja, dan Aku akan berdiri paling depan untuk berteriak jika Kau terjatuh dari kuda itu dan tangan sial lan mu ini terkena tendangan kakinya!” balas Rani sengit.
Rani menyentak kuat lengan Andre yang melingkar di lehernya, namun gerakannya kalah cepat. Andre justru memutar tubuhnya dan kini mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak sangat dekat. Andre menundukkan wajahnya, kedua tangannya berada di bahu Rani.
“Aaargrk!” Andre mengibas-ngibaskan lengan kanannya yang digigit Rani, bekas giginya cukup dalam dan mengeluarkan darah.
“Rasakan akibatnya!” Kata Rani dengan mata melotot dan bergegas pergi dari sana dengan langkah lebar. Ia hanya ingin kembali ke kamarnya dan bergelung di sana, menumpahkan keresahan hatinya atas sikap tak peduli King padanya.
“Hei, Bro. Sebentar lagi giliranmu menjinakkan kuda!” teriak salah satu pekerja.
__ADS_1
“Tenang, Aku pasti akan melakukannya. Tapi sebelum itu terjadi, Aku harus menjinakkan hati tunanganku terlebih dahulu.” Katanya diiringi senyum lebar.
Rani merasa wajahnya memanas, ia ingin sekali menyarangkan tinjunya ke bibir lemas Andre saat itu juga. Tapi sepertinya hal itu tak mungkin dilakukannya, mengingat semua mata tengah menatap ke arah mereka.
Rani berusaha tak peduli, meski semua mata para pekerja menatap ke arahnya dan berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum. Ia hanya peduli pada satu orang yang duduk di sana, yang hanya diam menatap sekilas padanya lalu membuang muka.
“Rani, tunggu!” seru Andre, dan berlari mengejar Rani. Ia berhasil menangkap pergelangan tangannya dan menghentikan langkahnya.
“Apa, sih maumu! Belum puas Kau mempermalukan Aku di hadapan semua pekerja di peternakan ini?” cetus Rani dengan mata yang mulai berkabut.
“Kau menangis?” Andre balik bertanya dengan satu alis terangkat, tangannya terulur begitu saja menyentuh sudut mata Rani yang berembun.
“Kau benar-benar menyebalkan!” Balas Rani, menepis tangan Andre di wajahnya.
“Maaf!”
Rani mengangkat wajahnya, setengah tak percaya mendengar kata maaf terucap dari mulut Andre. “Apa Kau bilang, apa Aku tidak salah dengar?”
“Maaf.” Andre mengulang ucapannya. “Aku berhutang permintaan maaf padamu. Satu hal yang harus Kau tahu, Aku hanya ingin mendapatkan kesempatan kedua darimu dan memastikan tidak ada orang lain yang boleh memilikimu sebelum Aku mendapatkan kesempatan kedua itu lagi darimu.”
“Kau hanya membuang-buang waktumu saja, tidak ada kesempatan kedua, ketiga, keempat. Hubungan kita sudah berakhir,” tegas Rani.
“Aku tidak bisa membohongi diriku kalau Aku masih mencintaimu hingga saat ini,” kata Andre menghela napas berat.
Rani menggeleng kuat, “Kau sendiri yang menyebabkan semuanya, dan Aku berharap ini terakhir kalinya kita bertemu.”
“Rani ...”
__ADS_1
“It’s over, kita bukan siapa-siapa lagi.” Rani berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Andre yang berdiri gontai menatapnya hingga pintu di belakangnya menutup kembali.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎