
“Apa yang akan dilakukan Rani?” Gaby bertanya pada King yang berdiri mengawasi di depan pintu, dan ia kembali mengintip dari balik korden jendela.
Rani melarang King untuk ikut dengannya, khawatir terjadi keributan karena King mudah sekali terpancing emosinya saat berhadapan dengan Hary.
“Kita lihat saja,” sahut King tanpa melepaskan pandangannya dari Rani.
“Apa para pekerja sudah benar-benar membubarkan diri?” Tanya Gaby lagi, dan ia langsung mengangkat tangan ke bibir, terkejut begitu melihat para pekerja perlahan membubarkan diri mereka meski ada satu dua orang yang masih tetap berjaga di dekat Rani.
“Dia melakukannya, Rani membuktikan ucapannya.” Kata Gaby menggeleng tak percaya.
King mendengkus, rasanya sudah tak sabar ingin turun dan bicara langsung dengan Hary. Tapi Rani melarangnya, dan anehnya lagi ia dengan begitu mudahnya menuruti keinginan wanita itu.
Tidak berapa lama kemudian dilihatnya Hary bicara dengan nada tinggi pada Rani, dan King bersiap untuk melompati tangga rumah. Tapi sejurus kemudian terdengar nada suara Hary yang melemah. Dari beranda rumah, King bisa mendengar dengan jelas pembicaraan antara Rani dan Hary.
Sudut bibir King melengkung membentuk sebuah senyuman, ia tidak pernah menyangka Rani berhasil membuktikan kata-katanya. Wanita itu tidak hanya bisa meredam emosi para pekerja terhadap Hary, tapi juga berhasil membuat laki-laki itu tak berkutik karena kesepakatan yang ditawarkan Rani padanya.
“Sepuluh menit?” Hary mengerutkan keningnya. “Ayolah, Nona.” Hary merentangkan kedua tangannya tak percaya. “Kau tidak bisa melakukan ini pada kami.”
‘Kami’ katanya, Rani melirik sebal. Gaby bahkan tidak tahu kalau laki-laki itu akan datang menemuinya lagi.
“Terserah Kau mau terima atau tidak, itu aturan yang harus Kau taati di tempat ini. Berkunjung di jam kerja untuk urusan pribadi, Kau hanya diberi waktu selama sepuluh menit untuk menemui pekerja kami.” Tegas Rani.
“Apa Kau sedang bercanda? Aku menempuh perjalanan selama hampir dua jam lamanya untuk sampai di tempat ini, lalu ketika sampai di sini para pekerja menghadang langkahku untuk bertemu dengan Gaby. Dan Kau memberiku waktu hanya sepuluh menit?” protes Hary.
Rani mengangkat tangannya, melirik arloji di tangannya lalu beralih menatap lelaki di hadapannya itu lagi. “Waktuku tidak banyak, katakan ya atau tidak!”
“Oke, fine! Sepuluh menit.” Hary menyerah.
“Baiklah, Kau bisa bertemu Gaby sekarang. Silah kan naik ke beranda dan kalian bisa bicara berdua di sana,” kata Rani mempersilahkan Hary naik, sementara ia berjalan mendahului di depan dan langsung berteriak lantang memanggil Gaby.
King menarik lengan Rani yang berjalan melewatinya tanpa melihat ke arahnya, dan menahannya untuk tetap berada di dekatnya. “Sejak tadi Aku berdiri di sini mengawasimu, dan Kau malah mengabaikanku.”
“Aku harus memanggil Gaby, sepertinya ia melarikan diri.” Rani celingukan mencari-cari bayangan Gaby yang mendadak menghilang dari balik korden jendela.
__ADS_1
“Dia bukan menghilang, tapi sedang menyiapkan senjata untuk berjaga-jaga.” Sahut King, dan benar saja. Tak lama kemudian Gaby muncul dari dalam rumah dengan membawa sekop di tangan.
Rani membelalakkan mata, dan King mengulum senyum. Gaby mengangkat sekop di tangannya, “Aku yakin sekali, benda ini akan membuatnya lebih berhati-hati dan tidak berani macam-macam lagi denganku.”
Gaby menemui Hary di beranda rumah, diikuti tatapan mata Rani yang tak berhenti menatapnya. Gaby terlihat berbeda kali ini, terlihat bersemangat dan tidak ketakutan seperti biasanya.
“Semangatmu menular padanya, keberanianmu menghadapi Hary dan caramu menenangkan emosi para pekerja membuat Gaby jadi lebih berani.” Jelas King menjawab tanya di mata Rani.
“Kau tahu apa yang dikatakan Hary saat Aku bertanya padanya, apa tujuannya datang menemui Gaby di tempat ini?” Rani menoleh pada King, dan lelaki itu hanya menggelengkan kepala.
“Apa?”
“Kangen!” jawab Rani singkat. Seketika tawa King pecah, dan Rani hanya mengedikkan bahunya. “Kau boleh tidak mempercayainya, tapi memang itu alasannya datang menemui Gaby.”
“Aku percaya,” sahut King sambil meraih tangan Rani, dan mengusapnya perlahan. “Hary jatuh cinta pada Gaby, sayangnya ia tidak tahu cara yang benar untuk mengungkapkan rasa cintanya dan malah membuat Gaby menjauh dan membencinya.”
“Bagaimana Kau mengetahui kalau Hary serius dengan ucapannya?” tanya Rani, ia menarik tangannya, lalu bersandar ke dinding rumah dengan melipat kedua tangannya di dada.
“Tidak, dia tidak mengatakannya padaku.” Jawab Rani.
“Sekarang Kau sudah mengetahuinya.”
Rani meringis, “Iya, tapi tetap saja ia hanya punya waktu sepuluh menit untuk melepas rasa kangennya pada Gaby.”
Sepuluh menit berlalu, Hary benar-benar menepati janjinya. Ia pamit pulang dan berjanji akan datang lagi malam harinya.
“Untuk apa?” tanya Gaby terlihat gelisah. “Aku tidak suka melihat Kau sering-sering datang ke rumah ini. Kau tahu, ini rumah nyonya Maggie. Ada aturan yang berlaku di sini, dan Kau tidak bisa seenaknya saja datang dan pergi kapan pun Kau mau.”
“Aku akan bicara pada nyonya Maggie dan nanti malam Aku akan meminta izin padanya untuk mengajakmu keluar rumah,” sahut Hary.
Hary balik badan dan pergi meninggalkan Gaby yang menatapnya kesal. Ia mengempaskan sekop di tangannya yang sedari tadi terus berada dalam genggaman tangannya.
“Aku benci laki-laki itu!” adunya pada Rani yang langsung merentangkan tangan memeluk Gaby, mencoba menenangkan dengan mengusap-usap punggungnya.
__ADS_1
“Jangan terlalu membenci seseorang, karena biasanya orang itu akan terus hadir dalam pikiranmu.” Kata King mengingatkan.
Gaby melepaskan pelukan Rani, dan menoleh pada King. “Aku akan berusaha keras mengusirnya dari pikiranku. Terima kasih karena sudah membuatku punya keberanian untuk menghadapi Hary lagi.”
Gaby kembali ke meja kerjanya lagi, meninggalkan King dan Rani yang masih berdiri di luar.
“Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu, King. Dan Aku akan kembali ke kamarku,” kata Rani lalu berbalik hendak masuk ke dalam rumah.
King menarik lengannya, menahan langkahnya. Lelaki itu membawanya duduk dan tak melepaskan pegangan tangannya.
“Kau mau apa, King?” tanya Rani.
“Aku ingin mengajakmu pergi nanti malam, Aku akan meminta izin pada nyonya Maggie.”
Rani menautkan alisnya, rasanya baru saja ia mendengar kalimat itu terucap dari mulut Hary.
“Kau akan mengajakku ke mana?” Tanya Rani sambil berpikir, mereka mungkin bisa pergi berempat nanti malam jika Gaby menerima ajakan Hary.
“Hanya kita berdua, Aku tidak ingin bergabung dengan yang lain.” Kata King seolah bisa membaca pikiran Rani.
Rani tertawa mendengarnya, “Kau seperti ingin mengajakku berkencan nanti malam.”
“Ada pesta kembang api di alun-alun kota, banyak atraksi juga wahana permainan yang disuguhkan di sana. Kalau Kau setuju, Aku akan datang menjemputmu jam tujuh nanti malam.” Sahut King, mengabaikan ucapan Rani saat menyinggung kata kencan.
Sepertinya menyenangkan pergi berduaan lagi dengan King, meski bukan sedang berkencan.
“Haruskah Aku memohon padamu? Pestanya hanya tinggal malam ini, dan Aku ingin sekali mengajakmu pergi bersamaku.”
Sudut bibir Rani melengkung menjelma menjadi sebuah senyuman. Sebelum ia menjawab ucapan King, suara nenek terdengar dari balik pintu. “Kalian berdua tidak perlu minta izin dariku jika ingin pergi berkencan.”
Nenek mengedipkan matanya pada Rani, lalu menatap King serius. “Aku titip cucuku, jaga dia baik-baik. Jika terjadi sesuatu padanya, maka sekop ini yang akan bicara.”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1