
Rani berdiri menonton di pinggir jalan, sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Sepertinya sandiwara ini akan menjadi lebih menarik lagi jika ia ikut serta di dalamnya secara total.
Tentu saja Rani dengan senang hati akan melakukannya jika dirinya tidak melihat sendiri bagaimana raut terluka di wajah Kyla. Kasihan, biar bagaimana ia juga wanita dan tahu bagaimana rasanya berpisah dengan lelaki yang kita cintai.
Wanita itu menangis mengiba seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya, dan itu membuat King geram.
“Kau yang berkhianat dan Kau juga yang meninggalkanku pergi demi laki-laki itu, lalu kenapa sekarang Kau datang dan mengatakan penyesalanmu. Apa lelaki itu pun sudah pergi meninggalkan dirimu? Apa Kau pikir dengan caramu menangis seperti ini Aku akan menerimamu lagi?” cecar King dengan suara tinggi.
Rani tersentak, memasang mata dan telinganya baik-baik. Ia baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan King dan Kyla.
“King, maafkan Aku. Aku menyesal sudah meninggalkanmu, Jeff pergi dengan wanita lain. Ia meninggalkanku begitu saja, mengatakan padaku kalau Aku terlalu mengekang dirinya dan banyak maunya. Dia mengatakan hal-hal buruk tentang diriku,” balas Kyla, menangkup tangan King dan menempelkannya di dadanya.
King berusaha menarik tangannya, tapi Kyla berkeras menahannya. Andai King menariknya lebih kuat, Rani yakin wanita itu akan jatuh terpental dan bergulingan mengenai anak tangga di bawah mereka.
“Hentikan Kyla, Aku sudah punya kekasih dan akan segera menikah dengannya!” sentak King.
“Kau bohong!” teriak Kyla marah, dan hal itu menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka yang melihat. Kyla menoleh dan menatap Rani dengan sinis, seolah tak rela King berpaling darinya dan memilih wanita lain selain dirinya.
Rani yang merasa diperhatikan, balas menatap. Jika Kyla pikir Rani akan mundur menghadapi kemarahannya, ia salah besar. Ia belum mengenalnya dengan baik, Rani berdiri menantang siap bertarung. Pengkhianatan adalah hal yang paling dibencinya saat ini. Matanya berkilat-kilat mengingat akan hal itu.
Gara-gara pengkhianatan mantan tunangannya, rencana pernikahan dirinya berantakan. Dan sekarang, di depan matanya ia melihat dan mendengar hal itu terjadi lagi. Tentu saja hatinya tergerak untuk memberi pelajaran pada si pengkhianat cinta, julukan yang pantas diberikan untuk orang-orang macam Andre dan Kyla.
King tersenyum menatapnya, Kyla sudah melepaskan pegangan tangannya hingga tak ada yang menghalangi laki-laki itu lagi untuk bergerak. Ia berjalan mendekati Rani dan meraih tangannya.
“Aku bertanya padamu sekali lagi, apakah Kau mau menikah denganku Nona Maharani Putri?”
__ADS_1
Rani tidak perlu meminta persetujuan orang-orang sekitarnya untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan King padanya, ia juga tidak perlu melihat ekspresi rasa ingin tahu orang-orang atas jawaban pertanyaan King padanya.
Saat ini ia hanya ingin mengikuti irama permainan yang dilakukan King, dan membuat sandiwara yang mereka lakukan lebih menarik dan meyakinkan. Hanya itu saja yang diinginkan Rani saat ini. “Dengan sepenuh hatiku, tentu saja Aku bersedia menikah denganmu.”
Jawaban Rani yang tegas dan lugas itu membuat Kyla tercengang. Tak lama terdengar sorakan di sekitar mereka. Bahkan ada yang bersiul dan menggoda mereka berdua.
“Akhirnya, Aku lega mendengarnya.” King menatap mesra Rani, “Kita berdua sudah sepakat tentang hal ini.”
Tanpa aba-aba, King mencium Rani. Menyentuhkan bibirnya sekilas pada bibir wanita itu. Rani ternganga dibuatnya, apa yang dilakukan King itu mengejutkan dirinya. “Apa yang Kau lakukan, King?”
“Aku perlu meyakinkan mereka satu hal atas hubungan kita, pertunjukan kecil akan membuat mereka percaya pada kita.” Ujar King berbisik pelan.
“Apa ini salah satu caramu untuk mengusir mantan kekasihmu agar menjauh dari kehidupanmu?” Rani memegang erat lengan King, tubuhnya seakan limbung. Apa yang dilakukan laki-laki itu membuatnya hilang keseimbangan.
King tersenyum, ia mencium Rani lagi. Kali ini lebih lama dan lebih mesra. Rani mengalungkan lengannya di leher King. Ini memang bukan ciuman pertamanya, tapi rasanya sungguh memabukkan. Tubuhnya tak mampu menolak, dan justru menerima King dengan pasrah.
Rani tak mampu mengatakan apa-apa, tak juga mampu melakukan apa-apa. Hanya pupil matanya saja yang bergerak melebar, juga tubuhnya yang gemetar yang menunjukkan kalau ia terpengaruh dengan apa yang dilakukan King padanya.
“K-king,” ucap Rani gugup, bibirnya bergetar menyebut nama laki-laki itu. Untuk beberapa saat ia lupa sakit hatinya, lupa pada seseorang yang pernah singgah di hatinya.
King tersenyum, ujung jemarinya menyentuh bibir Rani yang bengkak. Mata itu menyiratkan penyesalan juga rasa bangga yang kentara. “Sekarang mereka percaya pada hubungan kita.”
Omg!
Rani termangu mendengar ucapan King. Belum sehari ia berada di tempat ini, ia bahkan belum bertemu dengan neneknya tapi banyak sekali kejadian menakjubkan yang dialaminya. Lelaki bernama King itu bahkan sudah berhasil mencuri ciuman darinya.
__ADS_1
Satu-persatu orang-orang pergi meninggalkan mereka berdua, Kyla bahkan sudah tidak terlihat lagi di sana. Wanita itu pergi dengan hati kesal karena tak bisa meraih hati King lagi, apa yang dilihatnya barusan sudah cukup sebagai bukti kalau laki-laki itu tak lagi mencintainya.
King menuntun Rani ke mobil, sepanjang perjalanan wanita itu lebih banyak terdiam. Tampak larut dalam pikirannya sendiri. Hanya sesekali saja ia menjawab pertanyaan King padanya, selebihnya ia menatap ke samping jendela melihat pemandangan sekitarnya.
“Apa Kau ingin singgah sebentar di sana?” King menepikan mobilnya di pinggir jalan, bertanya pada Rani sambil menunjuk ke arah sebuah toko yang menjual banyak makanan ringan. “Aku akan menurunkanmu di sana sebentar, sementara Aku mengisi bensin mobil ini.”
Rani menatap ke arah toko yang ditunjuk King, ia menggeleng cepat. “Aku ikut denganmu saja, lagi pula tasku sudah tidak muat lagi diisi camilan.”
King tersenyum mendengarnya, “Baiklah kalau begitu.”
King menaruh tangannya di atas sandaran kursi di belakang leher Rani. Ia memutar tubuhnya dan menatap ke arah belakang sambil terus memutar setir mobilnya dengan gaya luwes. “Oke, kita mundur sekarang.”
Rani tersenyum dan melipat tangan di dada, apa yang dilakukan King sudah sering dialaminya. Khas laki-laki untuk menarik perhatian teman wanitanya saat menyetir mobil.
Beberapa saat kemudian mobil melaju menuju jalan menanjak lalu berhenti pada sebuah dataran luas di mana terdapat banyak rumput di sekitarnya. Pemandangan alam yang luar biasa terhampar di hadapannya.
“Kita sudah sampai, welcome home Rani. Selamat datang di peternakan Maggie O’Neil," ucap King ketika mereka tiba di tempat yang dituju.
Rani terpekik senang, melihat keindahan alam di hadapannya. Ia turun dari mobil dan berlari menuju rumah neneknya. "Nenek, Rani datang!"
Pintu terbuka lebar, seorang wanita paruh baya merentangkan tangannya lebar menyambut kehadiran cucu tersayang. "Rani!"
Keduanya berpelukan meluapkan rindu karena sekian lama tidak bertemu. King menurunkan koper milik Rani dan menaruhnya di depan pintu, sejenak menatap punggung wanita itu sebelum pergi meninggalkan rumah peternakan.
Ada hal yang harus dilakukannya, toh nanti malam mereka akan bertemu lagi. Para pekerja sudah diminta untuk tinggal lebih lama di rumah Maggie, karena ada pesta kecil untuk menyambut kedatangan cucunya.
__ADS_1
🌹🌹🌹