
Waktu rasanya seperti berjalan merangkak. Jarum jam di dinding seolah tak bergerak dan terus menempel di angka 3, sementara pekerjaannya masih banyak dan menumpuk di meja. Rani berusaha sekuat tenaga, tapi rasanya terlalu sulit untuk memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya lagi. Huruf-huruf di komputer seperti barisan semut yang bertumpuk di matanya.
Rani bangkit dari kursinya, meraih ponselnya dan menyambar cepat tasnya yang berada di rak. Ia butuh udara segar dan memutuskan untuk keluar dari ruangannya. “May, Lo di mana? Gue pengen ketemu Lo sekarang.”
Dilambaikannya tangannya pada anak buahnya yang datang dengan tumpukan berkas di tangan, yang menatapnya bingung dan bahu tertunduk lesu.
“Letakkan saja di atas meja kerjaku, Aku akan memeriksanya nanti.” Kata Rani sambil lalu, berjalan cepat menuju parkir mobilnya dan langsung melesat pergi meninggalkan area gedung kantornya menuju rumah kediaman Maya. Saat pintu di depannya itu terbuka, Rani langsung menghambur ke pelukan sahabatnya itu.
Rani menumpahkan semua resah hatinya selama sebulan ini pada Maya, dan sahabatnya itu menjadi pendengar yang baik kali ini. Saatnya serius, Rani sedang membutuhkan dukungannya.
“Aku mencintainya, dan seperti gila rasanya karena terus merindukannya. Berharap setiap hari bisa mendengar suaranya dan melihatnya lagi,” kata Rani dengan mata berkaca-kaca.
Satu bulan berlalu sejak kepulangan dirinya dari rumah peternakan neneknya, selama itu pula Rani tak pernah mendengar kabar dari King lagi. Lelaki itu tak pernah bisa dihubungi, ponselnya selalu tidak aktif. Rani mencoba bicara pada Gaby dan neneknya, dan mereka semua mengatakan hal yang sama kalau laki-laki itu tengah sibuk dengan semua pekerjaannya dan tak bisa diganggu.
“Kau bahkan menangis untuknya.” Maya mengusap sudut mata Rani yang berembun dan beralih memeluknya, mengusap punggungnya dan membisikkan kata-kata penyemangat agar sahabatnya itu kuat dan terus berjuang demi rasa cintanya pada King yang sudah merebut seluruh hati dan pikirannya.
Rani pulang dengan hati yang jauh lebih tenang, setelah bicara dengan Maya. Ia kembali ke kantornya dan bekerja lembur hingga malam, menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda.
Beberapa hari berikutnya berlangsung cepat, bahkan di akhir pekan seperti saat ini Rani terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Malam harinya ia tertidur kelelahan dan seperti biasanya kembali memimpikan King. Lelaki itu hadir dalam mimpinya meski hanya sebuah bayangan tak nyata, lalu menghilang dengan cepat kala pagi menyapa di saat Rani terbangun dan membuka mata.
“King,” bibir Rani berbisik lirih menyebut nama King, tak terasa matanya menghangat. Bayangan wajah King kembali hadir dalam benaknya, Rani memejamkan matanya lagi.
Setiap detik, setiap hari, dilaluinya tanpa pernah bisa menghilangkan bayangan King dari pikirannya. Rani mengerjap dan bulir bening mengalir lagi di pipinya. Ia harus membiasakan diri tanpa kehadiran lelaki itu di dekatnya kini. Gara-gara King, dia jadi mudah menitikkan air mata.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Rani, ia mengusap pipinya yang basah dan terkejut melihat mama masuk membawa kue dengan banyak lilin menyala di atasnya. Lalu diikuti suara ramai dua keponakannya yang langsung menerobos masuk dan melompat naik ke atas ranjangnya.
“Ayo, tiup lilinnya Onty!” pinta Leon, si sulung anak Wilda kakaknya dengan tak sabar. Sementara Sandra adiknya, sudah sejak tadi terus memonyongkan bibirnya dan bergayut di lengan mama.
Rani mengernyit sambil mencoba mengingat-ingat sesuatu, lalu menangkup bibir dengan mata kembali berkaca-kaca saat teringat kalau hari Sabtu ini adalah hari ulang tahunnya.
__ADS_1
“Ayo kita nyanyi bareng buat Onty Rani,” ajak Yola kakak kedua Rani yang muncul bersama Wilda, ia sigap menahan tangan Sandra yang hendak menjawil kue di tangan mama.
“Selamat ulang tahun putri bungsu kesayangan Mama. Sehat selalu dan tercapai semua cita dan harapannya.” Mama duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan kue di tangannya ke hadapan Rani.
Rani meniup kue ulang tahunnya dan langsung memeluk erat mama, lalu beralih memeluk kedua kakaknya. Terakhir merangkul dua keponakannya yang langsung berontak melepaskan diri begitu melihat mama membawa kue keluar dari kamarnya.
“Rani, Kau harus keluar dari kamarmu sekarang. Karena nenekmu akan datang dan menginap di rumah kita nanti malam!” teriak mama, yang langsung membuat Rani tersentak.
“Benarkah, nenek akan datang menginap di rumah kita?” tanya Rani mengulang ucapan mama, hatinya tiba-tiba berdebar kencang. Apa King akan ikut dan datang bersama neneknya?
“Nenek akan datang bersama dengan Gaby dan suaminya, mama mengundang mereka semua menginap di rumah kita.” Jawab Yola, seolah bisa membaca pikiran Rani.
“Oh.” Rani mengangguk dan tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Ia tak melihat Yola tersenyum penuh arti dan mengedipkan matanya pada Wilda.
“Rasanya lama sekali Aku tidak bertemu dengan nenek, terakhir kali di rumah sakit saat Aku melahirkan Sandra.” Wilda menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, langsung menarik guling dan memeluknya sembari memejamkan matanya.
“Kenapa kalian semua masih di sini? Ayo, bantu Mama memasak di dapur!” teriak mama lagi, berkacak pinggang di depan pintu.
Saat sore tiba, tamu yang ditunggu pun datang. Suasana yang tadinya ramai semakin bertambah riuh dengan kedatangan nenek. Rani memeluk nenek yang berbisik di telinganya, “Karena ini hari ulang tahunmu, Nenek punya hadiah untukmu. Setelah makan malam, Nenek akan berikan padamu.”
Rani mengucap terima kasih, ingin sekali menanyakan kabar King pada neneknya itu. Tapi sepertinya nenek sedang ingin melepas kangen dengan mama dan kakaknya, jadilah Rani harus bersabar menunggu.
Rani mencoba bicara dengan Gaby, tapi Hary tak memberinya kesempatan untuk mendekat dan membiarkan istrinya itu jauh-jauh darinya. Rani heran, kenapa semua seperti menghindar bicara padanya.
Makan malam berlangsung akrab dan dipenuhi canda tawa, tapi tak ada satu pun orang yang menyinggung nama King dan bertanya tentang hubungan Rani dengannya. Mereka justru lebih banyak menggoda Gaby si pengantin baru yang terlihat masih malu-malu.
Nenek memanggilnya untuk duduk di dekatnya, nenek memberinya hadiah sekotak perhiasan lengkap dari emas untuknya. “Nenek sudah menyimpannya sejak lama, dan Nenek berikan padamu hari ini karena Nenek yakin Kau sudah menemukan jodohmu dan telah siap menikah dengannya.”
Rani menerimanya dengan suka cita. Ia sempat tercenung sesaat lamanya, mencoba mencerna ucapan neneknya. Apa itu artinya nenek percaya kalau ia telah bertemu dengan jodohnya? Rani berharap ucapan neneknya itu segera menjadi kenyataan. Dan lelaki yang akan menikah dengannya kelak adalah King.
__ADS_1
Gaby memberinya hadiah syal rajutan tangannya sendiri, ia ingin Rani memakainya malam itu. Rani menuruti permintaan Gaby dan melihat sahabatnya itu tersenyum padanya.
Malam bertambah larut, nenek dan Gaby sudah beristirahat sejak tadi. Mereka kelelahan setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Rani memilih untuk menyendiri di taman belakang rumahnya sambil menatap bulan, ia duduk di sana dan tak menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasi dari kejauhan.
Rani menegakkan punggungnya mendengar suara daun terinjak, ia menoleh cepat dan terkejut luar biasa melihat King berjalan ke arahnya sembari membentangkan kedua tangan lebar.
“King, Kaukah itu?” Rani sampai harus mengucek matanya, sempat tak percaya dengan penglihatannya.
“Heii, ini Aku.” Kata King tersenyum hangat menatap Rani.
“King!”
Rani langsung berlari dan memeluk King erat. Ia menangkup wajah King dan tanpa ragu mencium bibirnya penuh kerinduan, dan King membalasnya sama.
Butuh waktu hampir dua bulan lamanya bagi King mempersiapkan diri untuk datang dan menemui Rani. Ia harus lebih dulu menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan dirinya di peternakan.
King melepaskan tautan bibirnya, ia mengusap pipi Rani yang basah air mata. “Kau menangis lagi.”
“Aku menangis bahagia melihatmu datang menemuiku lagi, Aku pikir Kau sudah melupakanku.”
King mengecup kening Rani dalam dan lama, dan Rani memejamkan matanya. “Aku tidak suka melihatmu menangis, Aku pikir kedatanganku akan menjadi kejutan yang menyenangkan untukmu.”
“Tentu saja, Kau kejutan terindah dalam hidupku. Kau memberikan warna tersendiri dalam hidupku, Aku jatuh cinta setengah mati padamu dan ingin selalu bersamamu.” Rani mengungkapkan perasaan hatinya untuk yang ke sekian kalinya pada King.
King meraih tangan Rani dan mengecupnya pelan, ia menuntunnya ke tengah taman. King mengeluarkan kotak mungil dari dalam saku bajunya, lalu berjongkok dengan satu kaki menekuk di lantai. “Maharani Putri, bersediakah Kau menikah denganku?”
Rani terkesiap menatap kotak mungil yang berisi dua buah cincin emas dan berlian di dalamnya, lalu beralih menatap King. Wajahnya menghangat, sudut matanya berembun. “Aku bersedia.”
Lampu di sekeliling taman langsung menyala berbarengan, lalu semua orang muncul dari dalam rumah sambil bertepuk tangan dan tertawa bahagia. Rani berlari memeluk neneknya dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Nenek balas memeluknya erat sambil mengacungkan jempolnya pada King yang tersenyum mengangguk.
__ADS_1
Seminggu kemudian Rani dan King menikah, dan pesta pernikahan mereka dirayakan kembali di peternakan Maggie. Semua orang bergembira dan berdoa untuk kebahagiaan keduanya.
••••• Tamat •••••