My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 17. Bertemu sahabat mendiang ayah


__ADS_3

Rani mengatakan pada dirinya sendiri kalau badai sudah berlalu sepenuhnya. Ketakutan masih terbayang di wajahnya ketika ia melihat kerusakan yang terjadi di mana-mana, sepanjang jalan yang dilewatinya.


Rani ditemani Tony, pria paruh baya berbadan tinggi besar yang ahli dalam hal menjinakkan ternak, salah seorang mandor peternakan neneknya. Mereka berdua berkendara ke kota menggunakan mobil bak terbuka yang biasa dipakai untuk mengangkut ternak.


“Kau aman pergi bersama Tony, tidak ada yang akan berani menggodamu. Ia pandai berkelahi dan seorang penjinak ternak,” ucap neneknya saat Tony datang menjemputnya di depan beranda rumah.


Rani meringis mendengarnya, “Nek, Aku pergi menemui Gaby untuk bicara baik-baik padanya. Bukan untuk menghentikan amukannya,” bisik Rani sambil melirik Tony yang turun dari mobil dan berjalan ke arahnya.


Nenek tertawa, dan Tony mengerutkan keningnya. Ia sedang berada di tanah lapang menjinakkan sapi yang mengamuk karena tersesat ketika nenek menghubunginya. “Kita berangkat sekarang,” ucapnya tanpa basa-basi.


Lelaki itu sempat melirik pada pakaian yang dikenakan Rani, wanita itu memakai gaun panjang mencapai mata kaki yang melebar di bagian bawahnya. Cantik, tapi tidak pas untuk dipakai saat berada di tanah lapang. Itu menurut Tony, Rani pasti kerepotan merapikan gaunnya jika angin nakal menerpanya.


Rani banyak bertanya, dan Tony hanya menjawab seperlunya. Lelaki itu begitu pendiam, tapi masih suka tersenyum ketika mendengarkan Rani bicara.


“Pasti tidak mudah tinggal di tempat seperti ini. Jika badai itu datang lagi dan mereka semua harus tetap bertahan hidup di rumahnya masing-masing, tanpa ada alat penerangan yang berarti karena pemadaman listrik terjadi di mana-mana.” Rani menyampaikan pendapatnya, menatap miris pada mereka yang berkumpul di luar rumah.


“Mereka sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini, Nona. Paling lama satu hari penuh pemadaman dan listrik akan kembali menyala,” sahut Tony tersenyum menanggapi ucapan Rani.


“Syukurlah, mereka tidak harus berlama-lama merasakan pemadaman. Pasti banyak sekali pekerjaan yang harus tertunda jika keadaan tak segera membaik.”

__ADS_1


Rani ingat genset besar yang dimiliki neneknya, ada dua alat besar seperti itu berada di sana. Jika pemadaman total terjadi, mereka semua tidak perlu khawatir karena alat itu akan mampu mengatasi keadaan di sana.


Pandangan Rani menyapu sekitarnya, mobil yang mereka lewati sudah melewati aspal terakhir dan kini memasuki jalan tanah. Mereka hampir sampai di tujuan, hanya tinggal satu tanjakan lagi dan tanah lapang di balik bukit itu akan jelas terlihat.


Para ibu sibuk mengumpulkan potongan-potongan kayu dan ranting dari pohon yang tumbang di sekitar rumah, sementara anak-anak kecil tampak berlarian dan tertawa riang ketika salah satu dari mereka terpeleset dan wajahnya terkena percikan lumpur di bawahnya.


Mau tidak mau Rani ikut tertawa melihatnya. Lumpur akibat banjir masih terlihat jelas, jalanan becek dan kalau tak hati-hati ban mobil akan mudah tergelincir saat melewatinya. Tapi anehnya, warga di sana terlihat biasa-biasa saja dan masing-masing sibuk bekerja membetulkan kerusakan rumah mereka.


“Kita sudah sampai,” ucap Tony menepikan mobil ketika mereka tiba di depan sebuah rumah sangat sederhana. Suasana terlihat sepi, hanya terlihat dua ekor anak ayam yang sedang berkeliaran di depan rumah.


Tony menjepit turun pinggir topi yang dikenakannya dengan kedua ujung jarinya, lalu keluar dari mobil setelah sebelumnya mematikan mesin mobilnya. Ia berjalan memutar dan bergegas membuka pintu mobil untuk Rani. “Silah kan turun, Nona.”


“Sebentar!” Rani bergeming di tempatnya, ia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. “Apa Kau yakin kita tidak salah alamat?” Rani menoleh pada Tony dan beralih menatap rumah itu lagi.


“Tapi kenapa berbeda sekali, rumah ini tampak lebih buruk dari yang kulihat sebelumnya.” Kata Rani setengah bergumam, ia meraih gambar di dalam tasnya dan mencoba memastikan.


Rumah itu, yang dilihat Rani dari foto yang diberikan neneknya benar-benar jauh berbeda. Lebih buruk dan boleh dikatakan bobrok. Seperti tidak terawat selama bertahun-tahun oleh pemiliknya.


Suara bunyi besi berputar keras mengalihkan perhatian Rani, ia mendongak mengangkat wajahnya dan tertegun menatap sosok lelaki tua yang duduk di balik kursi roda yang sudah usang.

__ADS_1


“Tuan Philips,” sapa Tony ramah, berjalan mendatangi lelaki pemilik rumah. Ia membuka topinya dan menaruhnya ke atas meja yang ada di sana, berjabat tangan dan tertawa sambil memutar kursi roda itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Rani bengong, ia tak tahu harus melakukan apa. Tak pernah terbayang dalam benaknya ia akan melihat pemandangan rumah tua seperti ini. Ia terdiam cukup lama di dalam mobil sampai suara Tony berteriak memanggilnya.


“Nona Rani, tuan Philips ingin bicara denganmu!”


“Ya!”


Rani terkejut dan tersadar, lalu cepat-cepat turun dari mobil dan berhati-hati berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Tony dari belakang. Gambar rumah Gaby masih berada dalam genggaman tangannya.


Tuan Philips terus menatapnya sambil sesekali mengusap jenggotnya yang panjang. Lelaki itu terlihat lebih tua dari usia sebenarnya, Rani bisa membandingkan dengan foto yang ada di tangannya. Di sana Tuan Philips terlihat jauh lebih muda meski tetap berada di atas kursi Roda.


Rani tertunduk tak sanggup membalas tatapannya, ia terus menatap lantai di bawahnya. Dan Rani mencatat banyak terdapat lubang di lantai yang dipijaknya, ia tidak yakin rumah itu akan kuat bertahan lama menahan terpaan badai angin yang kerap datang melanda kawasan itu.


“Mendekatlah,” terdengar lelaki itu bicara padanya. “Siapa namamu?” suara itu terdengar bergetar di telinga Rani, seperti menahan haru.


Rani mengangkat wajahnya, dan ia terkejut. Tuan Philips meneteskan air mata, lelaki itu menangis melihatnya.


“Kau cantik seperti ibumu, dan Kau memiliki mata seperti Simon.” Tuan Philips menyebut nama ayahnya, sepertinya kedatangannya ke rumah itu mengingatkan lelaki itu pada sosok almarhum ayahnya. “Boleh Aku memelukmu?”

__ADS_1


Dan sesudahnya, Rani hanya ingat ia sudah berada dalam pelukan laki-laki tua sahabat mendiang ayahnya itu yang memeluknya dengan erat.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2