
Kepalang tanggung, Rani mengumpat dalam hati dan meneruskan langkahnya berlari kecil menuju tempat King berada. Ia tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap King yang melompat turun dari traktornya, dan kini berdiri dengan bertelan jang dada menyambut kedatangannya.
“Aku membawakan bekal makan siang untukmu.”
Sepasang mata biru itu berkilat-kilat menatapnya saat Rani tiba di depannya dan mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan bekal makanan yang dibawanya.
“Kau tidak perlu repot-repot mengantarkannya untukku,” sahut King tanpa ekspresi.
“Aku hanya tidak ingin melihatmu kelaparan dan kehausan di cuaca terik seperti ini. Sekuat apa pun tubuhmu, akan mudah kalah oleh penyakit. Jadi jangan menolaknya, karena Aku yang datang mengantarkannya untukmu.” Balas Rani cepat. “Bukan hanya nenekku saja yang khawatir kalau Kau sampai jatuh sakit nanti, tapi semua orang di peternakan ini akan merasakan hal yang sama.”
“Apa itu termasuk dirimu?” sahut King, menatap Rani tajam.
“Tentu saja, Kau tahu Aku menyayangimu dan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Jawab Rani yang hanya terucap dalam hati.
King tersenyum miring, “Aku lupa sesuatu, Kau lebih mencemaskan tunanganmu ketimbang diriku yang bukan siapa-siapa bagimu.”
Rani hanya diam, tak berniat membalas ucapan King padanya. Lelaki itu telah termakan ucapan Andre dan percaya pada apa yang dilihat oleh matanya.
Andai saja King tahu perasaan apa yang kini bersemayam di hatinya, ia telah jatuh cinta pada King tanpa laki-laki itu menyadarinya. Kedekatan mereka selama masa liburannya di tempat ini, sangat mempengaruhi Rani. Ia bahkan tidak pernah menyangka akan jatuh cinta lagi secepat ini pada King.
Rani hanya berharap, kalau ucapan nenek padanya benar adanya. King marah padanya karena merasa Rani memberinya harapan palsu, dan cemburu pada Andre karena mengira ia masih mencintai tunangannya itu. Tepatnya mantan tunangan, bisik hatinya keras.
“Sudah lewat waktu makan siang, akan lebih baik jika Kau makan sekarang.” Kata Rani kemudian.
“Apa Kau yang memasaknya?” tanya King sembari mengelap keringat yang mengucur di wajahnya, dan jatuh membasahi dadanya yang terbuka.
Rani membuang pandangannya ke samping, pada rumput luas di sekitarnya. Berusaha tak terbius pesona yang dihadirkan oleh pemandangan dada bidang laki-laki di hadapannya itu, dan mengusir bayangan yang tiba-tiba melintas di kepalanya untuk menyapukan jemarinya di sana.
__ADS_1
Tiba-tiba saja udara sekitarnya terasa gerah, tapi bukan karena terik matahari penyebabnya. Rani membayangkan hal-hal gila yang ingin dilakukannya bersama King seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Berada dalam dekapan hangatnya, menelusuri garis wajah King yang tegas, dan merasakan saat bibir King mencium bibirnya.
OMG! Tanpa sadar Rani menggeleng kuat, namun bayangan bibir King justru semakin nyata tampak di depan mata.
“Hei, Kau belum menjawab pertanyaanku?” suara King yang berteriak padanya, menyadarkan Rani.
“Apa yang Kau tanyakan barusan?” Rani balik bertanya, pesona King benar-benar membuatnya lupa.
“Sudahlah, lagi pula Aku juga sudah tahu jawabannya. Bukan Kau yang memasak makanan ini,” cetus King menunjuk kotak makanan di tangan Rani.
“Nyonya Mala yang memasaknya, Aku hanya membantunya sedikit.” Kata Rani berterus-terang, ia berusaha terlihat wajar meski jantungnya tak berhenti terus saja berdegup kencang. Rani mengulurkan tangannya, menyerahkan bekal makan siang untuk King.
“Sudah kuduga, Kau tak mungkin bisa melakukannya sendiri.” Sindir King. Ia meraih bekal makanan dari tangan Rani dan tersenyum samar saat menyadari tangan wanita itu bergetar ketika tanpa sengaja jemari mereka saling bersentuhan.
Rani menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak terpancing emosi. Ia cukup peka merasakan kalau King masih marah dan kecewa padanya. Lagi pula ia sadar ucapan King ada benarnya, ia memang tidak pandai memasak dan tidak terbiasa melakukannya. Hanya sesekali saja ia menemani mamanya saat butuh bantuannya di dapur, itu pun Rani lakukan dengan sedikit paksaan dari mamanya.
“Duduklah di dekatku, jangan bertingkah seperti seorang bocah yang sedang dihukum orang tuanya karena ketahuan mencuri mangga milik tetangganya.” Tegur King melihat Rani yang terus saja berdiri di dekatnya, dengan pandangan lurus ke depan.
Rani melengos mendengarnya, ia menoleh dan terpana sesaat lamanya. King sedang meneguk minumannya, jakunnya bergerak turun naik dengan cepat. Otot lengannya yang kuat terlihat jelas saat ia mengangkat tangannya, menampilkan tubuh ramping dan dada liat yang tercetak nyata.
Rani dapat merasakan tatapan King tertuju padanya. Rani menelan ludah, air yang diminum King merambat turun melewati lehernya. Lelaki itu terlihat begitu menarik saat melakukan hal sederhana seperti itu. Rani cepat-cepat memalingkan mukanya, tak ingin King melihat wajahnya yang kembali merona.
“Aku sedang memperhatikan burung-burung di sana,” tunjuk Rani ke arah kumpulan burung yang beterbangan di padang rerumputan, sesekali menukik tajam lalu kembali terbang menjauh setelah berhasil mendapatkan mangsanya.
Mata King menyipit, mengikuti arah tangan Rani. “Burung-burung itu sedang berlomba memburu mangsanya, tikus tanah yang kerap mengganggu tanah pertanian milik warga.”
“Aku tahu,” sahut Rani tanpa menoleh pada King, ia masih terus berdiri tanpa mengindahkan ajakan King untuk duduk di dekatnya.
__ADS_1
“Makanannya tidak enak, datar, sama sekali tidak ada rasanya.” Kata King, lalu terdengar bunyi kotak makanan saling beradu.
Seketika Rani menolehkan wajahnya, dan langsung mendelik sebal melihat seringai di wajah King. Kotak makanan di depannya sudah bersih dan hanya menyisakan tulang sapi yang tak dapat dikunyah. “Kau katakan makanan ini tidak enak, lalu kenapa yang tersisa hanya tinggal tulangan saja?!”
Seringai di wajah King berubah menjadi tawa, apalagi saat wajah Rani kembali merona. King semakin tergelak melihatnya. Topi lebar yang dipakai Rani tak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.
“Kau kenapa, dari tadi kulihat wajahmu terus memerah?” tanya King kembali menatap Rani yang sedari tadi terus memalingkan wajahnya, menolak beradu pandang dengannya.
King meneguk habis minumannya hingga tandas tak bersisa, menutup kembali botol minuman di tangannya dan menaruhnya kembali dekat wadah makanan di depannya.
“Kalau Kau sudah selesai, Aku akan segera kembali pulang.” Rani berjalan mendekat, dan berjongkok di dekat King membereskan bekas makannya.
King mengernyit, menatap tangan Rani yang gemetar saat berada di dekatnya. Lalu sebuah kesadaran baru menyentaknya, ia tersenyum mengetahui Rani sangat terpengaruh dengan tampilan dirinya yang bertelan jang dada.
Satu sentakan kuat membuat Rani oleng dan memaksa tubuhnya masuk ke dalam dekapan King. Tangan yang memegang lengannya itu tiba-tiba saja mengetat di pinggangnya.
Rani mendongak menatap King, ia melihat sesuatu yang berbeda di sana. Mata biru itu menatapnya lekat, “Aku harus membuktikannya sendiri.”
King bergumam tak jelas sebelum menundukkan wajah dan melabuhkan bibirnya di kelembutan bibir ranum Rani, memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya. Mata Rani melebar, namun hatinya bersorak senang. King melakukan apa yang sempat terbayang di benaknya siang itu.
Rani mengalungkan lengannya melingkari leher King yang kokoh, menyisir rambut tebal itu dengan jemari tangannya. Matanya meredup perlahan merasakan sensasi menyenangkan yang timbul akibat perlakuan King padanya.
“Aku tidak tahu apa yang kulakukan padamu ini salah, tapi Aku tidak bisa menahan diriku lagi.” King mengusap lembut bibir Rani yang bengkak akibat ulahnya. “Kau miliknya, tapi Aku tak bisa melihatmu bersamanya.”
Mereka berpandangan beberapa saat, lalu Rani meletakkan tangannya di tengkuk King dan menariknya turun.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1