My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 23. Kolam pemandian warga


__ADS_3

Tak ada pilihan lain. Rani tak mungkin menunggang kudanya sendirian, sementara tubuhnya masih terasa lemas karena terkejut dengan kejadian yang dialaminya barusan.


Hari sudah beranjak siang, matahari bersinar cerah. King membawa Rani berputar, melalui jalan yang biasa ia lewati menuju satu tempat dan menunda kepulangan mereka kembali ke peternakan.


Tangan Rani terulur menyentuh kulit lehernya, lalu bergidik membayangkan andai hewan itu membelit lehernya. Akhirnya Rani hanya bisa menurut saja, ketika King mengangkat tubuhnya naik ke atas kuda bersamanya.


Rani memejamkan matanya, merasakan sapuan angin kencang menerpa kulit wajahnya. Rambut panjangnya tergerai lepas dari ikatannya. Topi yang dikenakannya hilang entah di mana, mungkin terjatuh di dekat pohon rindang saat kejadian tadi.


King memacu kudanya cepat, tubuh mereka begitu rapat. Sebelah tangan King memegang tali kekang kuda, sementara sebelah lainnya memeluk pinggang Rani erat.


Tubuh Rani menegang, punggungnya mendadak kaku. Napas King yang cepat, menyentuh wajah dan lekuk lehernya. Jarak yang begitu dekat, membuat Rani bisa merasakan detak jantung King di permukaan kulitnya tubuhnya.


“Kau tahu,” bisik King tepat di telinga Rani. “Aku seperti sedang memeluk sebuah tiang bendera, tegak dan kaku.”


Wajah Rani memerah, ia mengerti maksud ucapan King padanya. “Apa sebaiknya Aku bersandar dengan nyaman di dadamu, sementara Kau memacu kudamu. Apa itu yang Kau inginkan, King?”


“Aku rasa itu bukan ide yang buruk,” sahut King terkekeh, “Aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman saat berkuda denganku.” Imbuhnya lagi yang membuat wajah Rani kembali memerah.


“Apa Kau pikir Aku bisa sesantai itu menghadapimu, sementara jantungku berdetak tidak karuan saat berada di dekatmu?” bisik Rani dalam hati.


Mereka kini melewati jalan berbukit dan berbatu setelah menyeberangi sungai kecil, dan King sama sekali tak mengurangi kecepatan kudanya.


“Kalau Kau tidak keberatan, Aku ingin berhenti di dekat sungai kecil itu. Aku perlu sesuatu untuk menyegarkan diri,” pinta Rani pada King, dan laki-laki itu menghentikan kudanya di tepi sungai, dan membiarkan hewan itu beristirahat sejenak sambil meminum air sungai di sekitarnya.


Rani merasakan suara kulit bergesekan saat King melompat turun dari kudanya, lalu tangan kuat itu memeluk pinggangnya dan membantunya turun dari kuda.


Rani berjalan ke tepi sungai, airnya terlihat jernih. Rani membasuh mukanya dan menggosok lehernya perlahan. Bajunya basah terkena percikan air, dan Rani menarik keluar dan memeras ujung kain. Perutnya yang putih mulus terlihat jelas.

__ADS_1


“Ekhem!”


Rani mendongak, mengangkat wajah lalu memutar tubuhnya. Di sana King sedang mengamatinya sambil berdiri mengelus surai kudanya.


Sepertinya sudah cukup ia menyegarkan diri, Rani berjalan mendekat dan meminta King untuk membantunya naik. Mereka kembali lagi melanjutkan perjalanan.


“King!” Pekik Rani, ketika merasakan kuda yang mereka tumpangi hilang keseimbangan dan tergelincir di jalan lereng. Rani hampir terjungkal jatuh dan refleks memegang paha King .


Kuda itu meringkik keras, bergerak-gerak gelisah mencari pijakan kakinya tapi tak menemukannya.


“Sshhh!”


King menenangkan, tangan King yang memeluk pinggang Rani itu pun menegang ketika laki-laki itu berusaha menarik tali kekang kudanya secara perlahan-lahan hingga akhirnya kuda itu dapat berdiri seimbang lagi.


King mengendurkan pelukannya di pinggang Rani, dan gadis itu pun bisa menarik napas lega. Ia tak sempat mengembuskan napasnya tadi karena tangan King yang menekan perutnya.


“Aku ingin menunjukkan padamu satu tempat istimewa yang ada di daerah ini,” ajak King tanpa menyebutkan namanya. “Jangan khawatir, Aku sudah membawa bekal makan siang untuk kita berdua.” Imbuhnya lagi sambil menepuk tas ranselnya.


Rani tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Bukankah Kau yang jadi pemimpinnya, dan Aku hanya mengikutimu sejak tadi.”


“Kau bisa mengatakan tidak kalau tak setuju, dan kita bisa pulang ke peternakan sekarang.”


Rani menggeleng, mendongak menatap langit yang berwarna biru cerah. “Sesuatu yang istimewa sayang untuk dilewatkan.”


King tersenyum mendengarnya, ia membelokkan kudanya dengan luwes dan meminta Rani untuk lebih rileks. “Jalan yang akan kita lalui ini sedikit lebih sulit, Aku harap Kamu bisa membuat tubuhmu lebih santai dan tak perlu tegang lagi.”


Mereka melewati jalanan tebing lereng yang curam dengan berhati-hati, tubuh Rani merosot ke depan karena jalan menurun. King meraih pinggang Rani dan menariknya untuk mendekat padanya.

__ADS_1


“King!” Rani memalingkan wajahnya, dan menaruh kepalanya di dada King. Ia merasa ngeri membayangkan kaki kuda itu terluka dan mereka berdua terlempar jatuh dan terluka.


“Rileks, sayang. Buat dirimu senyaman mungkin.” Ucap King menenangkan,


Rani menurut, merapatkan tubuhnya ke dada King. Duduknya tak setegang tadi, dan Rani pun bisa kembali tertawa saat menanggapi ocehan King yang berniat menggodanya.


Teringat janjinya pada Gaby untuk membantu gadis itu, Rani menyampaikan niatnya itu pada King.


“King, apa Kau tahu apa yang dialami Gaby kemarin?” tanya Rani, memancing reaksi King. “Ia setuju mengundurkan diri dari tempat itu, dan Aku berniat membantu Rani untuk bicara pada atasannya.”


King menggeleng, mendekatkan wajahnya ke pipi Rani. “Biar Aku yang melakukannya, Aku harus memberi laki-laki itu pelajaran. Aku tidak ingin melihat bagaimana laki-laki itu berusaha menggodamu lagi. Dia tak akan berhenti hanya pada satu wanita. Dan wanita mana pun yang bekerja dengannya kelak akan tetap mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan darinya, sama seperti yang dialami Gaby.”


Rani tertawa mengingat kejadian kemarin saat berada di toko pakan, Tony membuat Parker tak berkutik. “Kenapa kalian senang sekali menggunakan sekop untuk menakut-nakuti lawan?”


King meringis, ia mencium gemas rambut kepala Rani. “Kami tak mungkin mencelakai orang lain dengan benda itu.”


Mereka tiba di sebuah tempat yang berada di balik bukit, menuruni jalan setapak untuk sampai di bawah sana. Pemandangan menakjubkan tampak di depan mata, air terjun jatuh dari kedua sisi bukit di mana di bawahnya terdapat tanah berbatu.


“Tempat apa ini, King?” tanya Rani tak dapat menyembunyikan rasa senangnya, tak sabar ingin segera turun ke sana.


“Ini kolam pemandian warga kami, di mana setiap orang bisa melepaskan penat setelah lelah bekerja. Kau akan merasakan sensasi seperti dipijat saat air terjun itu menyentuh kulitmu.”


King menuntun Rani turun, dan membimbingnya masuk ke dalam air. Baju yang dikenakannya langsung mengembang naik begitu Rani merendahkan tubuhnya.


Rani larut dalam kegembiraan, melupakan mata King yang terus mengamatinya. Tak sadar air di bawahnya sudah membuat tubuh bagian atasnya terbuka dan King yang tak bisa melepaskan pandangannya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

__ADS_1


__ADS_2