My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 38. Kecewa


__ADS_3

Rani sudah siap dengan dirinya pagi itu, ia berdiri sejenak di depan kaca untuk memastikan penampilannya. Rani memakai celana kain warna abu-abu dan kemeja putih lengan panjang yang bagian sebelah kiri dimasukkan, sementara bagian sebelah kanan ia biarkan menjuntai keluar. Terlihat santai tapi tetap modis. Rambut panjangnya diikat ekor kuda, hingga menampakkan leher jenjangnya


Gaby sudah pergi sejak tadi, dan mengatakan akan menunggunya di meja makan untuk sarapan pagi bersama. Rani segera menuju dapur rumah neneknya yang luas, tak menyangka masih ada beberapa pekerja peternakan yang berada di sana duduk berbincang sembari menikmati kopinya.


“Selamat pagi, Nona.” Sapa para pekerja, mengangguk hormat saat melihat kedatangan Rani.


“Pagi,” balas Rani seraya tersenyum, ia lalu menarik salah satu kursi dan duduk berhadapan dengan Gaby yang tengah mengolesi beberapa lembar roti dengan selai coklat kacang kesukaannya.


“Aku pikir mereka semua sudah berada di lapangan,” kata Rani dengan suara berbisik, lalu mengucap terima kasih ketika Gaby menyodorkan piring berisi roti yang sudah diberi selai padanya.


Gaby melirik arloji di tangannya, “ Satu jam lagi, sekitar pukul sembilan pagi ini.” Jawab Gaby, lalu menawarkan minum untuk Rani. “Kopi atau ...”


“Teh hangat saja,” sahut Rani cepat, dan dengan cekatan Gaby menyiapkan untuknya.


"Terima kasih," Rani mulai melahap sarapannya, selembar roti sudah masuk ke dalam perutnya. Rani meneguk tehnya dan tersenyum pada Gaby teringat rencananya pada King pagi itu.


Hari Minggu sebenarnya waktunya libur untuk para pekerja, makanya nenek memilih untuk beristirahat sepanjang hari di kamarnya dan membebaskan para pekerjanya untuk melakukan kegiatan apa saja di rumah peternakan miliknya.


Para pekerja bebas bereksperimen di dapur, memasak atau mengolah bahan makanan karena semua sudah tersedia di sana. Hanya saja mereka harus melakukan semuanya sendiri tanpa melibatkan pengurus rumah tangga peternakan.


Seperti saat ini, mereka sarapan bersama di dapur rumah utama peternakan. Hari itu mereka semua sepakat datang dan berkumpul di sana dan bersenang-senang bersama. Setelah mengetahui akan ada adu ketangkasan menjinakkan kuda antara King dan Andre, mereka semakin bersemangat dan ingin memberi dukungan pada King.


“Di sini Kau rupanya, sedari tadi Aku mencarimu ke mana-mana.” Andre tiba-tiba saja sudah duduk di seberangnya, persis di sebelah Gaby. Matanya tak lepas menatap Rani yang terlihat cantik pagi itu.


“Uhuk!” hampir saja Rani tersedak minumannya sendiri, ia mendelik gusar dan segera bangkit berdiri hendak pergi dari hadapan laki-laki itu. Tapi cekalan tangan Andre di lengannya membuat langkahnya terhenti.

__ADS_1


“Aku perlu bicara denganmu,” pinta laki-laki itu menatapnya dengan sinar mata memohon. “Aku perlu menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi di antara kita.”


“Oh, ya?” Rani menatap dingin, Andre belum melepaskan pegangan tangannya “Lepaskan!” desis Rani tajam, seolah jijik saat kulitnya disentuh tangan Andre.


Bersamaan dengan itu, King muncul di dapur dan langsung menuju mesin pembuat kopi. Ia meracik minumannya sendiri dan tak sedikit pun menoleh pada Rani, lalu melangkah ke meja paling ujung dan mulai menikmati kopinya.


“Aku tak akan melepaskan pegangan tanganku sebelum Kau kembali duduk dan mendengarkan Aku bicara padamu,” sahut Andre, membuat Rani bertambah kesal padanya. Dan Gaby di sana juga tidak banyak membantunya.


“Maaf, Aku harus mengantar sarapan buat ayahku dulu.” Gaby tersenyum pada Rani, mengabaikan matanya yang melotot padanya. Ia melirik sekilas pada Andre, dan cepat-cepat berlalu dari sana sebelum Rani membuka mulut dan melontarkan protes padanya.


“Silah kan,” sahut Andre tersenyum senang, ia jadi lebih leluasa untuk bicara karena para pekerja sudah mulai beranjak meninggalkan mereka berdua.


“Rani, please! Suka tidak suka, Aku tamu di rumah ini. Dan sebagai tuan rumah yang baik, sudah sepatutnya Kau memperlakukan tamumu dengan baik dan ramah.” Ia menoleh sejenak pada King yang terlihat acuh di mejanya, Andre tersenyum samar. Seringai tipis tampak di wajahnya.


“Aku tidak ada urusan lagi denganmu, hubungan kita sudah lama putus. Dan Kau tahu sekali apa masalahnya,” kata Rani mengingatkan.


“Maaf,” sela King, ia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. “Kalau Kau sudah selesai bicara dengan tunanganmu, setengah jam lagi Aku tunggu di lapangan.” Kata King lalu melangkah keluar dari sana dengan sikap tak peduli, senyum kemenangan tampak di wajah Andre mengiringi langkahnya.


Rani mengesah pelan, siapa yang bisa menebak apa yang dipikirkan King tentangnya setelah mendengar semua pengakuan Andre. Yang Rani tahu, King percaya apa yang didengarnya dari mulut Andre kalau dirinya masih berstatus tunangan laki-laki itu dan hanya karena cemburu buta begitu saja pergi meninggalkan tunangannya.


“Berhari-hari Aku mencarimu ke mana-mana, Kau langsung menghilang begitu saja dan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan padamu. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahan kita ...”


King bersandar di dinding rumah, mendongak menatap langit pagi. Apa yang didengarnya barusan cukup menyakitkan hati, ia pikir Rani wanita bebas tanpa ikatan dengan pria lain. Tapi ia salah, wanita itu sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah.


Ia harus membuang jauh-jauh perasaan hatinya dan mulai menjaga jarak, biar bagaimana ia tak ingin menjadi pengganggu hubungan orang lain.

__ADS_1


“Apa begitu sulit bagi kalian menjaga sebuah kesetiaan pada pasangan,” gumam King, lalu melangkah pergi.


Andai saja ia lebih lama sedikit lagi di sana dan mendengarkan Rani bicara, mungkin kesalah pahaman dengan Rani tak akan berlarut-larut nanti.


Rani yang berang, matanya berkilat-kilat marah. Ia benci pada apa yang telah dilakukan Andre padanya, benci pada kebohongannya yang disengaja. Karena ingin merusak hubungannya yang baru terjalin dengan King.


“Apa selama ini Kau pikir mataku buta dan telingaku tuli hingga tidak bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang telah kalian lakukan di tempat itu!” Teriak Rani.


“Terserah Kau saja, apa pun penilaianmu padaku tidak akan bisa mengubah perasaanku padamu.” Sahut Andre, “Jika Aku gagal menikah denganmu, Aku pastikan Kau pun tak akan bisa menikah dengannya.”


“Are you crazy, apa yang ada di kepalamu itu. Kau pikir Kau siapa bisa mengatur-atur hidupku?” sergah Rani.


“Apa Kau lupa siapa Aku, hem? Apa Aku harus melakukan ini agar Kau bisa mengingatku lagi?” Andre menyergap tubuh Rani dan meraihnya dalam pelukannya. Ia mendekap Rani erat dan tak membiarkan Rani lolos dengan mudah.


“Apa yang Kau lakukan, breng sek!” Rani meronta berusaha melepaskan diri, rasa takut muncul di benaknya. Lelaki ini sedang tidak waras, dan ia kalah tenaga. Andre juga menangkap pergelangan tangannya dan menelikung lengannya, sementara sebelah tangannya menyangga punggungnya dan menekan ke dadanya memeluk Rani paksa.


“Seharusnya sejak dulu Kau membiarkan Aku melakukannya padamu, dengan begitu Aku tidak akan melakukannya pada wanita lain.” Andre memaksa Rani menatapnya.


Rani berusaha keras melepaskan diri, ia memalingkan wajah saat lelaki itu mencoba mencium bibirnya. Justru kulit lehernya yang terbuka membuat Andre dengan mudah mendaratkan bibirnya dan membuat tanda kemerahan di sana.


Suara langkah kaki yang bergerak cepat menghentikan gerakan Andre, ia menoleh cepat dan tersenyum sembari menyugar rambutnya dengan jemarinya. "Kau tahu, Aku selalu saja lupa diri saat sedang bersamanya."


“Kau terlambat sepuluh menit dari waktu yang sudah ditentukan!” kata King dengan wajah kaku, ia menatap Rani yang masih berada dalam pelukan Andre dan bisa melihat dengan jelas tanda kemerahan di lehernya yang terbuka.


“King.” Lidah Rani terasa kelu, sorot mata King menampakkan rasa kecewa yang begitu kentara.

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2