
Rani mematut diri di cermin, tersenyum puas melihat penampilan dirinya. Gaun motif bunga tanpa lengan sebatas lutut yang dikenakannya melekat pas di tubuhnya yang ramping berisi.
“Cantik, dan Kau terlihat lebih fresh dengan gaun itu!” Di ambang pintu, nenek yang berdiri memperhatikan tersenyum memuji.
Rani tertawa, ia memegang ujung gaunnya dan mulai melakukan gerakan memutar hingga bagian bawah gaunnya terlihat mengembang. “Apa Nenek ingin menari denganku?”
Nenek terkekeh mendengar, “Aku sudah tua, tubuhku sudah tidak selentur dulu saat usiaku masih muda.”
“Aku dengar Nenek melakukannya, menari di depan kakek saat pesta kelulusan sekolah dan membuat kakek tak bisa berkedip.” Rani masih berputar-putar sambil berjinjit seperti penari balet.
“Itu kenangan paling indah dalam hidupku, sejak saat itu Aku dan kakekmu menjadi dekat.” Kenang nenek, tersenyum dengan pandangan mata menerawang. Selalu seperti itu, setiap teringat kenangan bersama almarhum kakek Rani hati nenek menjadi melankolis.
Rani menghentikan gerakannya, bersamaan dengan terdengarnya suara klakson mobil King. Rani berjalan mendekat dan langsung memeluk nenek. “Aku pun akan menari di depannya, tapi Aku tak yakin King akan terkesan melihatnya.”
Nenek tertawa, ia menangkup wajah Rani dan mencium keningnya. “Kau tak harus menari di depannya hanya untuk membuatnya terkesan. King bukan lelaki yang mudah luluh hanya dengan rayuan, banyak wanita muda yang berusaha menarik perhatiannya di luar sana.”
“Aku akan mengingat semua ucapan Nenek tentangnya, Aku pergi dulu ya, Nek.” Pamit Rani balas mencium pipi neneknya. Ia berlari ke luar rumah dan tersenyum lebar melihat King berjalan menaiki anak tangga.
“King!”
“Hai.” King mengangkat wajahnya, menatap Rani untuk sesaat lamanya.
“Selamat bersenang-senang,” kata nenek muncul di belakang Rani.
King menganggukkan kepala, tatapannya terpusat pada Rani yang terlihat cantik dengan gaun yang dipakainya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menyentuh bahu dan lengannya yang terbuka.
Rani sendiri tidak bisa memalingkan wajahnya dari King, laki-laki itu terlihat tampan dengan kemeja polos warna biru lengan panjang dan celana jeans yang dikenakannya.
“Apa kalian akan terus berdiri di sini dan saling pandang satu sama lain?” tegur nenek berdiri di anak tangga di antara Rani dan King, yang langsung menyadarkan keduanya.
Rani tersipu dengan pipi merona, sementara King hanya tersenyum sambil mengusap dagunya. Keduanya segera berpamitan dan di antar nenek sampai di depan mobil.
King membukakan pintu untuk Rani tanpa menyentuhnya, dan Rani bersyukur karena kedekatan mereka kali ini mampu membuat jantungnya berdesir.
“Cantik sekali,” bisik King saat mereka sudah berada di dalam mobil, dan Rani baru selesai memasang sabuk pengaman dan melambaikan tangan pada neneknya.
Rani menolehkan wajahnya, mata keduanya bertemu. Jantung Rani tiba-tiba saja berdebar kencang, mata King tampak melembut saat menatapnya.
“Tentu saja, Aku memang cantik sejak lahir.” Jawab Rani seraya mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha tampil ceria seperti biasanya meski jantungnya serasa akan melompat keluar dari sarangnya.
__ADS_1
King tertawa mendengarnya, “Kau tampak percaya diri sekali.”
“Itu harus!” jawab Rani dengan bibir tersenyum. “Kau juga terlihat tampan malam ini,” puji Rani.
King menghidupkan mesin mobilnya, menoleh sejenak dan tersenyum menatap Rani. “Terima kasih, Aku tahu sekali kalau Aku tampan.”
King balas mengerjapkan matanya. Alis tebalnya bergerak-gerak, wajahnya terlihat menggemaskan dan Rani harus menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan dan menyentuhnya.
Sepanjang perjalanan diisi dengan percakapan ringan, dan tanpa terasa mereka sampai di tempat tujuan. King menepikan mobilnya di dekat pohon besar, sedikit menjauh dari tempat acara berlangsung karena di pinggir jalan sudah dipenuhi banyak kendaraan pengunjung yang datang.
King turun dari mobil, berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Rani. Tangannya terulur meraih lengan Rani, membantunya turun. Rani menerima uluran tangan King, dan membiarkan laki-laki itu terus menggenggam tangannya berjalan menuju keramaian acara.
“Ramai sekali, King.” Kata Rani memutar badannya melihat keramaian di sekelilingnya.
“Pesta seperti ini selalu diadakan setiap setahun sekali. Banyak pedagang dadakan dari warga sekitar yang menjual barang-barang mereka di sini, dan penyelenggara acara memang memfasilitasi mereka semua secara cuma-cuma untuk membantu perekonomian warga setempat.” Jelas King.
Rani bisa melihat dengan jelas bagaimana lapangan terbuka di alun-alun kota dihias sedemikian rupa, hingga terlihat begitu menarik dengan banyak lampu warna-warni yang mengelilinginya.
Di setiap sisi lapangan kiri dan kanan terdapat banyak tenda-tenda kecil yang menjual berbagai macam makanan juga barang-barang lainnya. Tak ketinggalan wahana permainan untuk para pengunjung yang ingin bermain.
Tempat itu mengingatkan Rani pada pasar malam yang sering dikunjunginya saat ia masih kecil. Di bagian tengah lapangan terdapat panggung besar dengan band pengiring lengkap dengan alat musiknya.
Rani juga mencoba berbagai macam makanan yang dijual di sana. Sepanjang jalan King terus menggenggam tangannya, hanya sesekali melepasnya saat Rani harus mencicipi makanannya.
“King!”
Serombongan wanita muda berlarian menghampiri King dan tersenyum menggodanya. King balas menyapa, dan mengajak mereka bicara. Seperti sedang bertemu idolanya, mereka tampak antusias mendengarkan saat King bicara.
Rani yang sedang mencicipi makanan di dekatnya, duduk memperhatikan. Mereka sama sekali tidak melirik pada Rani dan mengabaikannya, sampai King memeluk bahunya dan mengenalkan dirinya pada mereka semua sebagai tunangannya.
Sikap mereka langsung berubah manis, dan Rani hanya menjawab sesekali pertanyaan mereka dan lebih memilih menikmati makanannya.
“Kau punya banyak penggemar di tempat ini,” kata Rani ketika King harus membalas sapaan wanita-wanita muda yang berpapasan dengan mereka, saat King mengajaknya berkeliling kembali. “Dan hampir semuanya wanita muda.”
“Bagaimana caranya agar Aku bisa meredam pesonaku, Aku sadar Aku tampan dan membuat banyak wanita terpesona.” Sahut King sambil mengangkat kedua tangannya.
Plak! Rani mengeplak lengan King kuat, “Sombong!” cibir Rani, yang sukses membuat King tertawa lepas.
“King!”
__ADS_1
“King.”
Rani menoleh, sementara sang empunya nama hanya diam di tempat sambil mengembuskan napas. Lagi-lagi seorang wanita muda berteriak memanggil King, bersamaan dengan Rani yang juga memanggil namanya.
“Kau sapa saja wanita itu, Aku akan ke sana sendiri.” Kata Rani langsung berlari kecil menuju kerumunan orang yang sedang menyaksikan satu permainan menarik.
Rani tidak peduli King berteriak memanggil namanya, ia lebih fokus melihat permainan di depannya.
“Ayo, ayo. Dua pasangan lagi, kita akan segera melanjutkan permainan ini!” terdengar suara pembawa acara dari alat pengeras suara yang terpasang di setiap sudut area permainan.
“Dua cup besar es krim sebagai hadiah tambahan, satu ponsel pintar merek Sowemi edisi terbaru sebagai hadiah buat pemenang permainan ini!” lanjutnya lagi.
“Tertarik untuk mencoba?” King tahu-tahu sudah berada di dekatnya.
“Siapa takut,” sahut Rani, langsung mengangkat tangannya tinggi. Ia meraih tangan King dan membawanya berlari, bergabung dengan pasangan peserta lainnya.
“Yeaa, kita sudah menemukan dua pasangan lagi. Silah kan para peserta bersiap-siap!”
“Peserta pria akan menggendong pasangan wanitanya sambil melakukan gerakan berjongkok lalu kembali berdiri dalam waktu sepuluh menit. Yang jatuh langsung dianggap gugur dan tidak bisa mengulang permainan lagi. Kalian siap?”
Rani mengulum senyum saat mendengarkan instruksi dari pembawa acara, apa saja yang harus dilakukan setiap pasangan peserta. Sementara King menggerakkan bahunya melakukan pemanasan.
Peluit sudah ditiup, para peserta mulai menunjukkan kekompakannya. Banyak sorakan penonton memberi semangat, suasana bertambah riuh saat salah satu peserta tidak kuat menggendong pasangannya dan jatuh tertindih tubuh wanitanya.
Banyak peserta yang gugur, hingga tersisa dua pasangan dan salah satunya King dan Rani. Pembawa acara memperlihatkan cup es krim di tangannya yang terlihat menggiurkan.
Aarrgk!
Terdengar teriakan kecewa, peserta lawan sudah terjatuh dan waktu masih tersisa dua menit.
“Ayo, sayang. Semangat buat dapat es krim,” bisik Rani sambil mengusap kening King yang berembun dengan ujung jarinya.
King menatap mata Rani, wanita itu mengalungkan lengannya di lehernya. Jarak mereka begitu rapat, King bisa merasakan jantung Rani berdetak kencang.
Ia mengembuskan napas panjang lalu mengayunkan tubuh Rani dalam gendongannya, lututnya mulai terasa pegal karena harus berulang kali jongkok sambil menggendong Rani.
“Kita hitung mundur sekarang, lima, empat ... dan pemenangnya adalah King dan Rani. Selamat untuk kalian berdua!”
Rani tertawa senang, ia langsung mencium pipi King untuk meluapkan kegembiraannya. Dan King tidak langsung melepaskan pelukan Rani, ia balas mengecup bibir Rani cepat hingga membuat semua penonton bersorak melihat mereka.
__ADS_1
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎