My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 41. Siapa cepat dia dapat


__ADS_3

Rani berdiam diri di kamarnya, tak tertarik lagi untuk melihat bagaimana Andre melakukan aksinya. Meski hubungan mereka telah berakhir, Rani berharap laki-laki itu tidak mengalami nasib naas jatuh dari kuda dan menderita patah kaki seperti bayangan dirinya sebelumnya.


Memilih berleha-leha di kamarnya, Rani memutar musik kencang dari ponselnya. Berjoget-joget seorang diri mengikuti gaya sang penyanyi asli, melompat-lompat di ranjang sambil memutar-mutar kepalanya hingga rambut panjangnya berkibar berantakan. Lalu terkapar kelelahan di atas ranjang dengan napas tersengal.


“Oh My God! Rani, apa yang Kau lakukan?”


Itu suara neneknya, Rani bergegas bangun dan mematikan ponselnya lalu duduk manis melipat kaki di hadapan sang nenek yang mendelik menatap tampilan dirinya juga tempat tidurnya yang acak-acakan.


“Aku hanya ingin beristirahat dan menikmati musik sesuai seleraku.” Jawab Rani, sembari merapikan rambut panjangnya dan menggelungnya tinggi.


“Leo bilang, di lapangan sedang ada adu ketangkasan menjinakkan kuda antara King dan tuan Hutama.” Nyonya Maggie melangkah ke dekat jendela, menyibak kain korden yang menutup sebagian jendela kamar Rani. Hawa sejuk seketika memenuhi ruangan. “Apa Kau tidak tertarik melihat mereka bertanding?”


“Aku sudah melihatnya, dan King hampir saja celaka ditendang kuda.” Sahut Rani, tanpa menceritakan bagaimana ia menaiki pagar dan berlari mengitari lapangan sambil berteriak memanggil nama King.


“Oh, ya?” Nyonya Maggie menaikkan satu alisnya. “Setahu Nenek, King seorang penjinak kuda yang andal. Ia pasti bisa dengan mudah mengatasi masalahnya.”


“Tak semudah yang Nenek kira.” Rani bergumam tak jelas, teringat bagaimana khawatirnya ia ketika melihat King terjatuh ke tanah dan kuda itu hampir saja menendangnya.


“Ada apa, tidak biasanya Kau seperti ini. Sedari pagi Nenek perhatikan wajahmu tampak tegang. Apa Kau bertengkar dengan King?” Nyonya Maggie berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di sebelah Rani.


Rani menggeleng, “Kami baik-baik saja, Aku hanya ingin menyepi di kamarku. Itu saja.”


“Rani, jawab pertanyaan Nenek dengan jujur. Apa Kau bahagia tinggal di peternakan ini?”


Rani mengangguk, ia tahu saatnya kini mereka bicara serius. “Aku senang tinggal di sini, tempat ini sangat nyaman dan tenang. Aku juga bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan.”


“Jika Nenek memintamu untuk terus tinggal selamanya di sini, apa Kau bersedia?”


Rani tertegun sesaat lamanya, “Apa maksud Nenek?”


“Nenek hanya ingin mendengar jawaban jujur darimu, itu akan menentukan langkah Nenek selanjutnya.”


“Apa semua ini ada hubungannya dengan lahan peternakan tuan Philips yang akan dibeli Andre?” tanya Rani hati-hati.


“Nenek tidak ingin menambah masalahmu, Nenek tahu Kau mencintai King. Dan harapan Nenek, melihatmu bisa melanjutkan usaha ini bersama dengan orang yang Kau cintai yang akan mendampingi hidupmu sampai akhir usia.”


“Oh, Nenek. Tentu saja Aku mau, Aku bersedia tinggal di sini bersamanya dan melanjutkan usaha Nenek.” Jawab Rani yang membuat lega hati sang nenek.


“Sekarang, ceritakan masalahmu pada Nenek. Kita bicara santai, dan Nenek akan mendengarkan semua keluhanmu tentang King.”

__ADS_1


Sepertinya tak ada yang bisa ditutupi Rani dari mata jeli sang nenek. Ia mengembuskan napas panjang, tertunduk lesu menatap lantai di bawahnya. “King melihat Andre memeluk dan menciumku di dapur pagi tadi.”


Plak!


“Aduh!” Rani mengaduh dan spontan menarik tubuhnya sedikit menjauh, meringis memegangi lengannya yang dikeplak sang nenek. “Kenapa Nenek malah memukulku?”


“Apa Nenek harus tertawa senang mendengar laki-laki itu berhasil mencium cucuku?” balas nyonya Maggie sambil mendelik. “Lalu kenapa Kau biarkan dia melakukannya padamu, bukankah Kau katakan kalian sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Atau jangan-jangan Kau memang masih cinta pada mantanmu itu?”


“Oh My God! Nenek, bukan seperti itu ceritanya.” Rani beringsut mendekat, lalu menceritakan kejadian sebenarnya pada neneknya itu. “Andre memaksa menciumku tepat pada saat King masuk untuk mengingatkan tantangannya, dan dia mengarang cerita bohong pada King kalau kami sedang melepas rindu. Tanda merah di leherku ini juga akibat ulahnya.”


Rani menunjukkan sisi lehernya, bekas jejak bibir Andre yang kini berwarna kebiruan tampak jelas di sana.


“Dan King percaya padanya.” Nyonya Maggie menghela napas, menatap Rani sesaat lamanya. “Sekarang Nenek tahu kenapa sikap King berubah padamu, dia marah padamu dan cemburu pada Andre.”


“King, cemburu pada Andre?” Rani menoleh cepat, itu artinya lelaki itu pun memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Rona merah menjalar di pipi Rani. Ia tersenyum malu-malu membayangkan kenangannya bersama King saat laki-laki itu mencium bibirnya untuk pertama kalinya di hadapan mantan pacarnya, berdalih ingin meyakinkan semua orang tentang hubungan mereka berdua. Tanpa sadar tangannya terangkat dan menyentuh bibirnya.


“Kalian tidak bisa menipu mata tua ini, Nenek tahu kalian saling suka. King yang acuh, mendadak berubah sejak kedatanganmu di peternakan ini.” Nyonya Maggie merapikan helai rambut di pipi Rani dan menyelipkannya di balik telinganya.


“King sangat perhatian padamu, dan dia selalu mengawasi ke mana pun langkahmu. Andai Andre tidak datang malam itu, Nenek yakin saat ini King sudah menyatakan cintanya padamu.” Lanjut nyonya Maggie lagi.


“Sejak awal Nenek sudah bisa merasakan gelagat aneh laki-laki itu saat melihat keberadaanmu di rumah ini, ia tahu kedekatanmu dengan King dan berencana ingin memisahkan kalian.”


“Dia berhasil mengacaukan hubungan manis kami yang baru saja berjalan,” kata Rani menambahkan ucapan sang nenek dengan wajah nelangsa.


“Sepertinya Nenek harus turun tangan meredakan kekacauan ini.” Nyonya Maggie bangkit berdiri, ia mengulurkan tangannya pada Rani.


“Apa yang akan Nenek lakukan?” tanya Rani seraya menyambut uluran tangan neneknya.


“Sebentar lagi jam makan siang tiba, kita harus masak sesuatu untuk menyambut sang juara.” Kata nyonya Maggie mengerling penuh arti, sembari menggandeng tangan Rani melangkah menuju dapur rumahnya.


Rani menurut meski hati diliputi tanda tanya, sepertinya neneknya mengirim sinyal akan membantu masalahnya. Tapi kenapa malah mengajaknya memasak untuk sang juara, apa King yang neneknya maksudkan?


Ternyata di sana sudah ada Gaby yang menunggu, bersama dengan pengurus rumah tangga neneknya. Keduanya tengah sibuk menyiapkan berbagai bahan masakan, sepertinya menu kali ini dibuat dalam jumlah besar.


“Bukankah saat Aku kembali ke rumah, Kau masih berada di lapangan?” tanya Rani, berbisik pada Gaby yang tengah membersihkan sayuran.


“Iya, tapi Hary memintaku untuk mengikutimu sambil ia mengawasi.” Sahut Gaby.

__ADS_1


Rani mengernyit, “Sejak kapan Kau menuruti perintah Hary?”


Wajah Gaby bersemu merah, “Itu tidak penting, sekarang yang terpenting bantu kami menyiapkan makan siang untuk para pekerja.”


“Yuhuu, ternyata ada yang sudah jadian. Nenek, ada kabar gembira. Sebentar lagi akan ada pesta di rumah ini,” goda Rani, sambil berteriak memanggil neneknya.


“Ssttt, berisik!” Gaby menutup mulut Rani dengan ujung jarinya. “Nyonya Maggie tidak akan mendengarnya.”


“Ish!” Rani celingukan, mencari-cari sang nenek. “Bukannya barusan nenek ada, dia yang mengajakku ke sini untuk membantu memasak?”


“Nyonya Maggie pergi menemui ayah di rumah, sepertinya ada hal penting yang mereka bahas.” Sahut Gaby menjawab pertanyaan Rani.


“Apa Kau tahu hal penting apa yang mereka bahas?” tanya Rani.


Gaby tersenyum penuh arti, “Sesuatu yang menyangkut masa depan kami di tempat ini.”


“Maksudmu?”


Sementara di ruang tamu rumah Gaby, tuan Philips sedang bicara serius dengan nyonya Maggie membahas tentang penjualan lahan peternakan miliknya. Ia sempat terkejut mendengar nenek Rani itu memutuskan untuk membeli lahan peternakan miliknya itu.


“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin membeli lahan milikku, Kau akan semakin sibuk dan tidak memiliki waktu banyak untuk bersantai dan menikmati hari tuamu?” tanya tuan Philips.


Nyonya Maggie terkekeh, “Jangan salah, sebentar lagi Aku punya seseorang yang akan mengurus semua lahan peternakan milikku ini. Tunggu saja.”


“Siapa yang Kau maksud, apa dia King? Bukankah dia hanya kepala mandor di peternakanmu?”


“Dia akan menjadi bagian terpenting dalam keluargaku,” jawab nyonya Maggie.


“Apa Kau berniat menjodohkan King dengan cucumu, Rani?”


Nyonya Maggie kembali terkekeh. “Aku tidak perlu susah payah menjodohkan mereka berdua, karena mereka sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk bersama.”


Tuan Philips ikut tertawa mendengarnya, “Aku mengerti, Kau tidak ingin lahan peternakan ini jatuh ke tangan tuan Hutama. Apalagi lelaki itu pernah dekat dengan cucumu.”


“Bukankah kesempatan terbuka luas untuk siapa saja yang memiliki uang tunai, dan Kau pun tidak terikat janji dengan anak muda Hutama itu.” Kata nyonya Maggie mengingatkan.


Tuan Philips mengangguk, “Aku memberinya waktu dua Minggu untuk menyelesaikan pembayaran secara tunai, tapi tidak menutup kemungkinan untuk pembeli lainnya.”


“Baiklah, siapa cepat dia yang dapat!” kata nyonya Maggie penuh semangat.

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2