
Rani beristirahat di kamarnya sementara Gaby memilih untuk bekerja. Sesekali Rani mengintip keluar menanyakan pada Gaby jika wanita itu membutuhkan bantuannya, dan Gaby hanya tersenyum mengiyakan.
“Aku akan memanggilmu jika Aku butuh bantuanmu,” kata Gaby.
“Oke.”
Rani duduk di dekat jendela kamarnya, menatap pemandangan di luar sana. Sebagian pekerja tampak sibuk dengan ternak-ternak mereka, sebagian lain berada di kandang kuda.
Mata Rani mencari-cari sosok lelaki tampan yang semalam memijat kakinya, dan ia menemukan King berada di antara para pekerja sedang memandikan kudanya.
“King!” Teriak Rani, lalu tersadar kalau laki-laki itu tak akan mendengar panggilannya karena jarak mereka cukup jauh. Rani harus puas dengan hanya menatap punggung lebar King yang kini berjongkok di dekat kaki kudanya.
Bosan di dalam kamar, Rani menyambar bungkusan coklat di atas rak lemari dan berjalan keluar menemui Gaby di meja kerjanya.
Rani berdiri di tepi meja kerja Gaby, sambil mengunyah permen coklat dari dalam kantong plastik di tangannya. Ia merendahkan tubuhnya sejenak, menatap layar komputer di depannya. Bibirnya tersenyum lebar, Rani sudah menduga Gaby akan mampu dengan mudah menyelesaikan tugas yang diberikan nenek padanya.
“Hebat, Kau bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari dua jam.” Rani menegakkan tubuh dan mengacungkan jempolnya. “Kau memang layak untuk diandalkan, pantas saja nenek merasa begitu kehilangan saat Kau mengundurkan diri dari peternakan ini.”
Gaby tersipu, wajahnya menghangat. Ia merasa senang dan tersanjung mendengar pujian Rani yang tampak tulus itu. “Kau terlalu memujiku, Aku hanya menyelesaikan apa yang sudah Kau kerjakan terlebih dahulu. Terima kasih, karena Kau sudah banyak sekali membantuku selama ini.”
“Kau ini sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, dan sebagai sesama saudara sudah sewajarnya saling membantu.”
Gaby tersenyum mendengarnya. “Iya, Aku tahu itu.”
“Jika Kau mendapatkan tawaran dan kesempatan bekerja di salah satu perusahaan besar di kota dengan nominal gaji tinggi, apa Kau mau menerimanya dan meninggalkan tempat ini?” tanya Rani serius, ia ingin sekali mendengar jawaban Gaby setelah melihat kemampuan kerja gadis itu.
“Kau ingin tahu jawabanku?” Gaby balik bertanya, dan Rani mengangguk penasaran.
Gaby menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Rani, “Aku akan tetap tinggal di sini dan bekerja di peternakan ini. Aku punya ayah yang butuh pengawasan dariku, dan Aku punya pekerjaan yang menyenangkan di sini dengan jumlah gaji yang sangat layak. Selain itu Aku juga diperlakukan dengan sangat baik oleh pemilik peternakan tempatku bekerja.”
“Kau memiliki kemampuan yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar di kota, Aku melihat caramu bekerja dan bagaimana Kau menyelesaikannya.”
“Jika diberi kesempatan, Aku justru ingin melanjutkan kuliahku kedokteranku lagi. Tapi kondisi ayah tidak memungkinkan Aku untuk pergi jauh darinya,” kata Gaby berubah sendu.
“Heii, Kau harus tetap semangat. Pasti akan datang kesempatan itu lagi padamu. Hanya soal waktu saja,” kata Rani menyemangati Gaby.
“Aku akan menunggu saat itu tiba. Aku ingin sekali menjadi dokter agar bisa mengobati sakit ayahku dan membantu warga di daerah ini.” Kata Gaby dengan pandangan menerawang.
“Cita-cita yang mulia sekali, Aku percaya Kau akan mendapatkan kesempatan itu.” Rani memeluk bahu Gaby. “Aku bangga sekali bisa memiliki saudara perempuan seperti Kamu. Apa Kau mau coklat?”
__ADS_1
Rani menyodorkan bungkusan permen coklat di tangannya dan memberikannya pada Gaby. “Rasanya manis, lapisan coklat tebal di luarnya begitu lumer di lidah. Nikmat sekali.”
“Permen coklat?” Gaby mencomotnya satu, dan mengunyahnya perlahan. Ia pun mengangguk setuju, “Enak.”
“Kau tahu, Aku harus menyimpannya di tempat rahasia. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan nenek harus merayuku dulu untuk mendapatkannya. Khusus untukmu, pengecualian. Kau tidak perlu bersusah payah merayuku, karena ini hari pertamamu bekerja kembali di peternakan Maggie.” Rani terkekeh, ia menuang segenggam ke tangannya dan memberikan bungkusan di tangannya pada Gaby.
“Untukku?” kata Gaby, menatap bungkusan plastik di tangannya.
Rani mengangguk, terus asyik mengunyah. “Kalau Kau mengira coklat di rumah ini bisa bertahan lebih dari lima menit, Kau salah besar.”
Gaby senyum dikulum, ia mengerti maksud ucapan Rani. “Untuk coklat seenak ini, Aku rasa Kau benar. Ngomong-ngomong, apa nyonya Maggie tahu tempat rahasiamu itu?”
Rani menarik kursi dan duduk di sebelah Gaby. “Dulu, saat liburan sekolah Aku datang ke rumah ini. Aku menaruh permen coklatku di rak atas kulkas. Aku pikir aman di sana, dan tidak ada yang akan mengganggunya. Tapi Aku salah. Malamnya saat Aku ingin mengambilnya, kotak itu sudah berpindah tempat dan Aku kehilangan banyak permen coklatku.” Kata Rani dengan bibir mengerucut.
Gaby menahan tawanya, “Kau tahu siapa pelakunya?”
Rani merengkuh bahu Gaby, menatap ke arah pintu ruang kerja neneknya lalu berbisik di telinga Gaby. “Wanita yang Kau panggil dengan sebutan nyonya Maggie, dia pelakunya.”
Tawa Gaby pecah sampai bahunya terguncang, “Bagaimana bisa, apa Kau melihat ia melakukannya?”
“Siapa lagi kalau bukan dia, Aku menemukan nenek menonton acara televisi sambil mengunyah permen coklatku.” Kata Rani dengan bibir mencebik.
“Hahaha, aduh keram pipiku.” Gaby tertawa sambil memegangi pipinya. “Lalu apa yang terjadi setelah itu?”
Senang rasanya bisa bicara banyak dengan Gaby, Rani jadi tahu apa yang menjadi impian gadis itu. Hanya soal waktu, Rani yakin Gaby bisa mencapai cita-citanya. Lagi pula nenek sudah berniat membantu biaya sekolah Gaby.
Suara dering telepon mengalihkan perhatian Rani, ia berlari ke kamarnya dan langsung tertawa senang begitu mendengar suara lucu keponakannya.
“Gaby!” seru Rani. Ia muncul di ambang pintu dan memberi kode pada Gaby sambil mengarahkan ponsel di tangannya, dan Gaby mengangguk mengerti. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tersisa.
Belum lama rasanya Gaby melanjutkan pekerjaannya, suara riuh dan teriakan dari beranda rumah peternakan mengalihkan perhatiannya.
Penasaran, Gaby mengintip dari balik korden jendela dan terkejut melihat kemunculan Hary di sana. Laki-laki itu hendak masuk ke dalam rumah peternakan, tapi para pekerja yang melihatnya menghadang langkahnya dan mengusirnya pergi dari sana.
“Ada apa?” Rani tiba-tiba muncul, mengejutkan Gaby yang sedang tegang melihat keadaan di luar. “Bukankah laki-laki itu Hary, pria yang ...”
“Ya, Hary yang menolongku waktu itu. Aku pikir dia tak akan berani datang menemuiku lagi setelah Aku menolak dan memintanya untuk menjauhiku,” sahut Gaby.
“Sepertinya dia datang memang ingin menemuimu,” balas Rani. “Aku penasaran, apa yang akan dia lakukan dengan para pekerja yang mencoba menghalanginya.”
__ADS_1
“Mereka pasti mengira dia datang ingin mengacau lagi di tempat ini.” Rani mencengkeram kain korden, wajahnya terlihat cemas. Kejadian memalukan kemarin di toko pakan masih membekas dalam benaknya, dan tidak begitu saja terhapus dalam ingatannya.
“Aku datang dengan niat baik, ingin bertemu Gaby. Bukan untuk berbuat ulah dan mengacau di tempat ini!” terdengar suara Hary, ia mengarahkan tangannya ke dalam rumah. “Aku tahu Gaby bekerja di peternakan ini.”
“Kau datang hanya ingin mengganggu Gaby dan menyakitinya lagi, kami tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“King! Kau bisa katakan pada mereka semua, Aku tidak akan menyakiti Gaby.” Hary berteriak memanggil King, lelaki itu datang dan langsung berdiri berhadapan dengan Hary.
“Kami tidak bisa mempercayainya, King. Kau tahu apa yang dilakukannya pada Gaby waktu itu,” balas salah satu pekerja, yang langsung mendapat persetujuan rekan-rekannya yang lain.
“Aku datang hanya ingin bertemu dan bicara dengannya. Kalau kalian tidak percaya padaku, kalian boleh melihat dan mendengarkan pembicaraanku dengan Gaby. Tapi sebelum itu terjadi, kalian harus membiarkan Aku bertemu dengannya.”
King memijat pelipisnya, ia menoleh ke dalam rumah dan langsung mengernyitkan keningnya begitu melihat bayangan tubuh Rani dan Gaby mengintip dari balik korden jendela.
“Kau tunggu di sini, jangan bergerak sampai Aku yang memintamu datang menemui Gaby di sini.” Perintah King pada Hary.
“King, bagaimana bisa Kau memberikan kesempatan pada laki-laki ini untuk mengacau di tempat ini?” protes para pekerja.
“Aku tahu apa yang harus Aku lakukan!” balas King. “Kalian tahan dia, jangan bergerak sebelum Aku perintahkan bergerak.”
“Baiklah.”
King berjalan masuk ke dalam rumah, berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Ditatapnya kedua wanita muda di hadapannya itu, “Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Aku sedang bekerja, dan mampir sejenak untuk melihat keadaan di luar.” Kata Gaby, ia langsung bergegas kembali ke meja kerjanya. Sementara Rani masih berdiri di hadapan King.
“Kau?”
Sebelum King sempat berpikir, Rani sudah berjalan keluar melewatinya.
“Biar Aku yang tangani,” kata Rani bergegas menuruni anak tangga dan berjalan menemui Hary dan para pekerja.
“Heii, apa yang akan Kau lakukan?” teriak King, berlari menyusul Rani dan berhasil meraih lengannya.
“Kau hanya perlu melindungiku bila mereka saling serang setelah Aku bicara,” sahut Rani, berbalik menatap mata King.
“Apa maksudmu?”
“Lihat saja apa yang akan kulakukan,” sahut Rani, menepis pegangan tangan King di lengannya.
__ADS_1
Ia memutar tubuhnya, menghela napas lalu berjalan ke depan. “Hei, kalian semua!” perintahnya dengan gaya pemimpin terbaik yang dimilikinya. “Perhatian!”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎