
Rani tersenyum menatap punggung King yang berlalu dari hadapannya, ia menarik kopernya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Bagaimana pendapatmu tentang King?” nenek menggandeng lengan Rani, menuntunnya berjalan menuju kamar yang akan ditempatinya.
Rani mengedikkan bahunya, menjawab sambil memindai sekeliling ruangan. “King baik, dia pria yang bertanggung jawab.”
Nenek berdecak pelan, seraya menggelengkan kepalanya. “Ck, King memang baik. Tapi dia juga laki-laki yang cepat sekali naik darah. Jangan coba-coba memancing emosinya, dia pasti langsung bertindak dan menyelesaikannya saat itu juga.”
Rani melipat bibirnya, teringat kejadian siang tadi. Ia sudah membuktikan ucapan neneknya, bagaimana ia harus terlibat sandiwara dengan laki-laki itu.
Tanpa sadar tangannya terangkat menyentuh bibirnya, Rani masih bisa merasakan sentuhan bibir laki-laki itu di sana.
Astaga! Rani menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan saat King menyentuh bibirnya.
Mereka sudah sampai di depan pintu kamar Rani, nenek menghela napas melihat Rani menggelengkan kepalanya. “Nenek sudah menyiapkan kamar ini untukmu, tapi kalau Kamu tidak suka dengan warna cat dindingnya. Nenek akan segera menyuruh orang untuk mengecat ulang.”
Rani menatap ruangan kamar di hadapannya itu. “Siapa bilang Rani tidak suka dengan warna catnya?”
Rani memutar tubuhnya, mulutnya tak berhenti berucap kagum. Seluruh lantai rumah itu terbuat dari kayu, termasuk di dalam kamarnya. Dindingnya terbuat dari batang-batang kayu yang dibelah, sofa di dalam kamarnya dilapisi kulit asli. Jendelanya besar dan menghadap langsung ke tanah lapang, dari sana Rani bisa melihat para koboi melatih kuda-kuda mereka.
“Apa Kau menyukai kamarmu?”
“Bangeet! Kamar ini indah sekali.” Rani melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, benda di bawahnya itu langsung melesak dan membumbung lagi. Rani terpekik senang.
“Hei, Kau harus segera membersihkan diri sebelum merebahkan tubuhmu di sana!” Tegur neneknya dengan nada sayang, ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang menatap Rani yang mulai memejamkan matanya perlahan.
“Sebentar, Nek. Lima menit saja. Hmm, rasanya menyenangkan sekali bisa kembali ke tempat ini lagi.” Rani tersenyum, melebarkan tangannya seraya mengusap-usap seprai lembut di bawah tubuhnya itu.
Nenek tertawa melihatnya, wanita itu pun merebahkan tubuhnya dan berbaring miring di sebelah Rani. “Nenek senang melihatmu muncul di rumah ini lagi, sudah lama sekali. Terakhir kalinya saat Kalian berlibur kemari tiga tahun lalu, saat itu Kau mengatakan pada Nenekmu ini kalau Kau diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta ternama.”
Rani membuka matanya, menatap langit-langit kamarnya. “Ya, Aku ingat. Nenek langsung memberiku sebuah hadiah keberuntungan, dan Aku masih memakainya sampai sekarang.”
Rani meraih ke balik lehernya dan mengeluarkan seuntai kalung dengan bandul liontin berbentuk hati di mana di dalamnya terdapat foto almarhum ayahnya. “Setiap menatap liontin ini, Aku merasakan sepertinya ayah sedang memelukku.”
Rani mengecup bandul di tangannya itu, tindakannya itu membuat nenek terharu. “Itu kenangan terakhir dari ayahmu sebelum dia meninggal. Nenek sengaja memberikannya padamu, karena Nenek tahu Kamu yang paling dekat dengan ayahmu.”
“Ayah laki-laki terhebat yang pernah ada, tidak ada yang bisa menggantikan dirinya di hati ini.”
__ADS_1
“Suatu hari Kamu akan bertemu dengan lelaki baik yang akan menjaga dan menyayangimu sama seperti ayah menjagamu.”
Nenek mengusap pipi Rani, wanita itu merapatkan tubuhnya dan menyusupkan kepalanya di kehangatan dada neneknya. Seperti kucing kecil yang manja, Rani meringkuk sambil memeluk pinggang neneknya.
Beberapa saat lamanya keduanya berpelukan, Rani memang cucu yang paling dekat dengan neneknya. Bungsu dari tiga bersaudara itu paling manja pada neneknya.
“Apa Kau ingin Nenek kenalkan pada seseorang, ada insinyur pertambangan putra nyonya Tessa yang baru saja kembali dari luar negeri. Sepertinya ia masih sendiri saat ini,” ucap nenek merenggangkan pelukannya dan menangkup wajah Rani.
Rani memutar bola matanya, “Jangan coba-coba berniat menjodohkanku dengan putra kenalan Nenek. Saat ini Aku tidak butuh lelaki dominan dalam hidupku, Aku hanya ingin menikmati liburan di tempat ini dengan tenang.”
“Terserah Kau saja, sayang.” Nenek menjawil hidung Rani, “Tapi jika Kau berubah pikiran, Nenek siap membantu.”
“Itu tidak akan pernah terjadi,” bantah Rani lagi, dan neneknya hanya tertawa mendengarnya.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka berdua, “Astaga, hampir saja Nenek lupa!”
Rani mengernyit, menatap neneknya yang bergegas bangkit dan tergesa berjalan membuka pintu.
“Maaf mengganggu kalian, para pekerja sudah selesai menyiapkan meja. Mereka menunggu perintah Nyonya selanjutnya.”
Nenek berpaling menatap Rani, lalu mengarahkan telunjuknya keluar pintu. “Nenek harus keluar sekarang, sebaiknya Kau segera mandi dan bersiap-siap. Kami mengadakan pesta kecil untuk menyambut kedatanganmu di sini.”
“Oh ya? Nenek melakukannya untukku?”
Nenek mengangguk kecil, Rani menegakkan punggungnya. Ia turun dari ranjang dan menatap keluar jendela kamarnya. Ia menyibak tirai korden dan membuka daun jendela lebar. Tampak kesibukan para pekerja yang menata meja bersiap memasak hidangan makan barbekyu di halaman rumah neneknya.
Sepeninggal neneknya, Rani segera membongkar pakaiannya dan menatanya di laci-laci rak lemari. Ia menyisakan salah satu pakaiannya untuk ia kenakan malam itu.
Sebuah gaun cantik warna biru tanpa lengan miliknya yang bermotif bunga-bunga kecil sepanjang lutut, Rani mematut diri dan tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.
Rani segera membersihkan diri, air hangat yang merendam tubuhnya perlahan membuatnya segar kembali. Satu jam kemudian ia sudah selesai dengan dirinya. Aroma wangi masakan yang menguar dari luar jendela kamarnya yang terbuka, menggelitik perutnya.
Kesibukan tampak di dapur rumah peternakan Maggie, para tetangga terutama ibu-ibu datang membantu setelah mendengar wanita itu akan mengadakan pesta kecil untuk menyambut kedatangan cucunya.
Nenek memperkenalkan Rani pada mereka semua, dan Rani langsung turun tangan ikut membantu meski ibu-ibu di sana mencegahnya dan menyuruhnya untuk duduk manis saja. Sayang semuanya tidak diindahkan Rani, ia langsung saja mencuci tangan dan duduk di lantai seperti yang lain.
Akhirnya mereka membiarkan saja Rani membantu, “Nah, begini kan lebih enak.”
__ADS_1
Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, saat berkumpul bersama seperti saat ini, mereka langsung menanyakan pada Rani tentang statusnya.
“Saya masih jomblo Bu Ibu, baru saja ditinggal pergi sama tunangan Saya. Sekarang lagi menepi sementara di tempat ini, itung-itung kali aja ada jodoh yang nyantol di hati.”
Rani menanggapi pertanyaan ibu-ibu di sana sambil bercanda, ia tak merasa penting untuk menyembunyikan status dirinya yang baru saja putus cinta. Hal itu membuatnya dengan mudah membaur dan diterima oleh mereka.
“Ember! Eh, serius Neng cantik baru putus cinta?”
“Ember,” sahut Rani.
Suasana jadi riuh, sikap Rani yang ceria dan gaya bicaranya yang santai mengikis rasa sungkan di hati orang sekitarnya. Mereka semua tahu bagaimana suksesnya peternakan yang dikelola nyonya Maggie nenek Rani, tapi keluarganya tetap rendah hati dan selalu mau berbagi.
Suara derap langkah kaki kuda mengalihkan perhatian Rani, ia menghentikan gerakannya mengupas kentang dan berlari melihat keluar rumah.
King melompat turun dari kudanya diikuti dua orang anak buahnya, wajahnya terlihat meringis menahan sakit. Mereka berjalan beriringan menuju teras rumah peternakan.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Rani mendekati tempat duduk King.
King mendongak dan terdiam sejenak menatapnya, ia meringis sambil memegangi lengan kirinya.
“Apa Kau terluka?” mengikuti nalurinya, Rani spontan menyentuh lengan King.
“Demi Tuhan, hentikan!” sentak King seraya mencengkeram lengan Rani, mengejutkan Rani.
Lelaki itu menatapnya gusar. “Lenganku masih bengkak, dan Aku tidak bisa melanjutkan pekerjaanku di sini untuk beberapa hari.”
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan lenganmu?” tanya Rani lagi.
“King habis digigit ular, tidak berbisa tapi cukup membuat tangannya bengkak dan ia juga terjatuh dari kudanya.” Jelas seorang anak buahnya.
“Kasihan,” ucap Rani terlontar begitu saja, ia langsung menutup mulutnya cepat ketika melihat tatapan tajam King padanya.
“Kau tak perlu menatapku kasihan seperti itu, Aku masih bisa berjalan seperti biasa. Tapi Aku harus meminta izin pada nyonya Maggie untuk beristirahat selama beberapa hari,” ujar King sebelum dirinya masuk ke dalam rumah dan menemui neneknya.
Rani menghela napas, menatap punggung King yang menjauh berjalan memasuki mobilnya. Pesta kecil untuknya pasti akan terasa berbeda tanpa kehadiran King di sana.
🌹🌹🌹
__ADS_1