
Pesta sudah usai, ibu-ibu dan anak-anak gadis mereka juga para pekerja peternakan sudah pulang ke rumahnya masing-masing termasuk King. Sebelum pulang, Rani mengingatkan King untuk menepati janjinya yang akan mengajaknya berkuda bersama.
“Oke, Nona. Setelah tanganku membaik, Aku akan membawamu berkuda bersama. Aku ingatkan Kau untuk memakai jeans dan sepatu bot!” ujar King balas mengingatkan, dan Rani tertawa mendengarnya.
Rani mengantar King sampai ke mobilnya, meski tangannya terluka King masih mampu menyetir sendirian. “Aku pulang.”
Sebelum pergi King menatap Rani untuk sesaat lamanya, “Aku mau Kau tahu, Aku menyanyikan lagu tadi khusus untukmu. Ingatlah untuk membuka hatimu, dan Kau bisa mulai membuat hari-harimu lebih baik lagi.”
King pulang ke rumahnya, meninggalkan Rani yang masih terpaku di tempatnya mengingat kata-kata King padanya. Apa maksud semua ucapannya tadi, Rani bertanya dalam hati.
Sentuhan lembut dibahunya menyadarkan Rani, ia memalingkan wajahnya. Rey berdiri menatapnya, “Apa Kau akan terus berdiri bengong di sini, sementara masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan?”
Rani memaksakan senyumnya, “Kenapa Kau masih di sini?”
“Aku hanya ingin membantu nyonya Maggie membereskan sisa-sisa pesta di rumahnya,” jawab Rey.
Rani mengembuskan napas, sepertinya ia harus menyingkirkan pikirannya tentang ucapan King untuk sementara waktu. Ada yang lebih penting untuk dilakukan sekarang. “Baiklah, mari kita melakukannya.”
Rumah mulai tampak lengang, hanya beberapa orang saja yang memilih untuk tinggal dan membantu membereskan sisa-sisa pesta, termasuk Rey. Kesempatan itu digunakan Rey untuk kembali mendekati Rani.
Meja dan kursi sudah dibersihkan dan kembali ke tempat semula, tinggal membereskan bekas peralatan makan dan minum para tamu saja. Rani menuju dapur, tak tinggal diam saja.
Rani segera memasang celemek dan menggulung lengan sweternya, lalu mulai menuangkan sabun cuci piring ke dalam wadah. Tumpukan piring kotor menunggu untuk segera dibersihkan.
“Perlu bantuan?” Rey tiba-tiba muncul di dekatnya lagi, mengejutkan Rani. Lelaki itu datang membawa alat panggangan yang sudah dibersihkan. “Aku letakkan di sini saja, ya.” Ucapnya lagi sambil meletakkan panggangan di sudut ruangan bersama alat masak lainnya.
Rani melirik sekilas pada tumpukan piring kotor di dekatnya, sebenarnya akan lebih menyenangkan bila ada yang membantunya. Tapi itu tak mungkin dilakukannya bersama laki-laki itu, yang sepertinya tak menyerah untuk terus mendekatinya.
Rani mencoba tersenyum, “Terima kasih, Rey. Tapi, Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Baiklah, kalau begitu.” Bukannya menjauh, Rey justru berjalan mendekat dan berhenti sejenak di dekat bak cuci piring. “Biar kutemani Kau di sini.”
Rani mengedikkan bahunya, “Terserah Kau saja.”
Rey menyandarkan punggungnya di tembok, kedua tangannya dilipat di dada. Matanya tak pernah beralih, terus menatap Rani. Rani tak bisa berbuat apa-apa alih-alih mengusir Rey pergi, ia membiarkan saja lelaki itu berdiri di dekatnya dan mengawasinya bekerja.
“Berapa lama Kau akan menetap di sini?” tanya Rey kemudian, mencoba mencairkan suasana. Sudah hampir sepuluh menit menemani Rani di sana, tapi wanita itu terus mengacuhkannya dan lebih fokus dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Rani menuangkan sabun cuci ke dalam wadah, busa sabun memenuhi tangannya yang dibalut sarung tangan. Ia memalingkan wajah sejenak, menatap Rey sesaat.
“Dua Minggu, tapi bisa juga lebih tergantung keadaan. Aku berencana membantu pembukuan nenekku di sini,” jawab Rani.
“Hem, lumayan lama.” Rey mengusap-usap dagunya, terlihat memikirkan sesuatu. “Apa Kau punya rencana lain di sini selain membantu pekerjaan nyonya Maggie di peternakan?”
Rani teringat rencana King yang akan mengajaknya berkuda, ia tersenyum dan menganggukkan kepala. “Ya, King mengajakku berkuda. Dan Aku senang sekali, sudah lama Aku tak pernah melakukannya.”
“King? Kalian berencana berkuda bersama?” Rey mengulang ucapan Rani, raut wajahnya tiba-tiba berubah.
“Yuhuu!” sahut Rani disertai tawa kecil, tapi tetap saja tak membuat hati Rey tenang mendengarnya.
Tak lama terdengar bunyi langkah kaki terburu-buru di tangga yang terletak di ujung lorong rumah. Rani menjulurkan lehernya dan maju beberapa langkah, busa sabun jatuh mengenai kakinya dan Rani tak memperhatikan.
“Hei, Nona. Perhatikan langkahmu. Kau bisa terpeleset kalau seperti itu!” tegur Rey mengingatkan.
Rani melepas sarung tangannya, mengusap telapak tangannya yang lembap ke celemek yang dipakainya. Ia berjalan ke lorong dan melihat seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun, sedang memeluk boneka beruang kecil dan berdiri dengan ragu-ragu di beberapa anak tangga di atasnya.
Rani ingat, itu boneka beruang miliknya. Hadiah dari almarhum papanya karena Rani suka tertawa setiap melihat boneka beruang yang mirip dengan milik mister Bean itu. Di kamar loteng rumah neneknya, Rani banyak menyimpan boneka-boneka kecilnya.
Apa dia anak pekerja peternakan yang sedang bermain di loteng rumah neneknya, atau anak warga desa ini yang tersesat dan tiba-tiba saja berada di rumah ini? Rani menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya.
“Halo, cantik.” Rani tersenyum ramah, tiba-tiba saja ia teringat pada keponakan kecilnya. Rani menyibakkan rambut panjangnya yang sebagian jatuh di pipinya dan menyelipkan di balik telinganya. “Aku Rani, nama Kamu siapa?” tanya Rani dengan logat bicara anak-anak seusia gadis kecil di hadapannya itu.
“Halo,” jawab anak itu malu-malu, menutupi wajahnya dengan boneka di tangannya. “Namaku Anna,” jawabnya pelan.
“Waow, namamu cantik sekali. Secantik orangnya,” ujar Rani, lalu melangkah naik dan duduk di anak tangga di sebelah Anna. “Boleh Aku tahu, apa yang Kamu lakukan di rumah ini?”
Anna menurunkan boneka di wajahnya, ia menundukkan wajah menatap Rani lalu duduk di sampingnya. “Aku tertidur saat bermain boneka, dan mama meninggalkanku untuk bekerja membersihkan rumah oma.”
“Oh ya? Siapa nama mamamu, kita bisa pergi menemuinya kalau Kau mau.”
Tak lama kemudian, Lucy pengurus rumah neneknya datang tergopoh-gopoh. Ia terkejut melihat Rani duduk bersama Anna, yang langsung berlari turun dan memeluk Lucy saat melihat kehadirannya di tempat itu.
“Mama!” teriak Anna berhambur memeluk mamanya.
“Anna, maafkan Mama.” Lucy mengusap punggung Anna. “Saya meninggalkan Anna di kamar loteng saat dia tertidur tadi sore. Saya baru ingat kalau hari sudah malam, dan Anna belum makan.” Kata Lucy pada Rani.
__ADS_1
Rani berjalan turun dan berdiri tepat di hadapan ibu dan anak itu. “Sudah malam, lebih baik Ibu segera bawa Anna untuk makan. Setelah itu, Ibu bisa pulang.”
“Tapi Non, Saya harus membereskan rumah ini. Masih banyak pekerjaan ...”
“Biar kami yang membereskannya, sekarang lebih baik bawa Anna untuk makan malam. Kasihan dia, Anna pasti lapar.” Rey tiba-tiba berada di antara mereka dan memotong ucapan Lucy.
“Tapi Tuan ...”
“Tidak ada tapi-tapian.” Rani menggeleng tegas.
“Terima kasih, Nona. Kalau begitu Saya permisi dulu,” pamit Lucy sambil menggandeng Anna.
Rani mengedipkan matanya pada Anna yang melihatnya dengan wajah tersipu-sipu, ia mempererat pegangan tangannya di lengan ibunya. “Besok main ke sini lagi ya, kita main boneka bareng.”
“Apa tante tinggal di rumah ini?” Anna balik bertanya.
Gadis cilik ini memanggilnya tante? Baiklah, Aku toh memang pantas di panggil dengan sebutan itu karena sudah memiliki tiga keponakan yang lucu-lucu.
“Ya,” jawab Rani dengan hangat. “Tante akan tinggal sementara di rumah ini. Dan selama Tante di sini, Kau bebas bermain boneka apa saja yang Tante Rani punya di kamar loteng.”
“Benarkah?”
Rani mengangguk cepat, Anna tertawa senang. Ia melompat kegirangan. “Terima kasih Tante.”
Anna berbisik pada mamanya sebelum meneruskan langkahnya. Mereka menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dinding dapur rumah.
“Kamu kelihatan sangat menyukai anak-anak?” tanya Rey, sedari tadi ia tersenyum memperhatikan interaksi antara Rani dan Anna.
“Aku punya tiga keponakan kecil, anak kakakku. Dua laki-laki dan satu perempuan, mereka suka sekali bermain tanah dan setelah itu menempelkannya di bajuku. Kalau Aku kesal, mereka menangis kencang dan muntah di bajuku lagi.”
Rani tersenyum mengingat tingkah laku keponakan kecilnya, ia sudah kembali berkutat di depan bak cuci piring lagi. Tanpa terasa suasana mencair di antara mereka berdua. Rani mulai banyak bicara, dan Rey senang mendengarnya.
“Menarik sekali!” seringai nakal tampak di wajah Rey. Ia menarik tali celemek Rani, berniat menggodanya.
“Hei, jangan macam-macam ya!” Rani mendelik, mengingatkan. Dan Rey tertawa melihatnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1