
Ada satu kalimat bijak yang pernah dibaca Rani dan terus diingatnya sampai kini, dan itu memacu semangat Rani untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk peternakan neneknya. Jangan buang waktumu, tenaga, dan pikiranmu untuk hal yang sia-sia. Fokuslah pada hal yang menjadikan dirimu bernilai, karena waktu tak bisa diulang.
Rani ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat orang yang disayangnya merasa senang dan bahagia, ia ingin kehadirannya di peternakan neneknya itu bisa membantu mengatasi masalah yang dihadapi neneknya yang terjadi beberapa minggu belakangan ini.
Rani meregangkan pelukannya, ia tersenyum menatap wajah neneknya. Garis wajah itu mengingatkannya pada almarhum ayahnya, Rani mengerjapkan matanya. Setiap kali mengingat ayahnya, matanya kembali menghangat.
Nenek menangkup wajah Rani dan mengusap pipinya dengan ibu jarinya, mata itu menatapnya penuh sayang. “Nenek senang, Kau mau datang menemui Nenek di tempat ini.”
“Aku juga senang bisa kembali ke tanah ini, bertemu Nenek lagi dan banyak orang di tempat ini.” Rani tersenyum menanggapi ucapan neneknya, lalu terdengar helaan napasnya. “Aku berharap tak ada lagi badai yang terjadi seperti malam tadi.”
Nenek tertawa mendengarnya, “Badai seperti itu selalu saja terjadi setiap tahunnya, dan kami di sini sudah terbiasa menghadapinya. Jika Kau lebih lama sedikit saja tinggal di tempat ini, maka Kau tidak akan pernah merasa panik lagi saat badai itu datang lagi.”
“Aku ingat, King mengatakan hal yang sama semalam. Ia bilang persis seperti yang Nenek ucapkan.”
“Oh, ya?”
Rani mengangguk, nenek mengusap pundaknya. “Tunggu sebentar, Nenek punya sesuatu untukmu.”
__ADS_1
Nenek berjalan memutar menuju meja kerjanya yang persis berada di samping jendela besar, ia menarik laci kedua di bagian paling bawah dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
“Apa ini, Nek?” tanya Rani menatap selembar kertas tebal bergambar yang diberikan nenek padanya, di mana di dalamnya terdapat sebuah foto rumah sangat sederhana dengan tanah peternakan yang luas sebagai latar belakangnya dan tiga orang yang sedang duduk di beranda rumah.
“Bukankah Kau ingin segera menemui Gaby dan berjanji pada Nenek untuk membawanya kembali bekerja di peternakan kita?” kata nenek mengingatkan. “Nenek pikir Kau membutuhkan gambar ini, paling tidak bisa membantumu bicara pada Gaby nanti.”
“Nenek pernah bilang padanya akan membantu membiayai uang kuliahnya jika ia ingin menyelesaikan pendidikannya lagi. Nenek juga pernah memintanya untuk tinggal di pondok para pekerja kita bersama ayahnya selama ia bekerja di sini, tapi Gaby menolak karena tak ingin merepotkan.” Imbuh nenek lagi.
“Sepertinya Nenek sangat menyayangi Gaby seperti keluarga sendiri.”
“Nenek sudah lama mengenal keluarganya, Philips ayah Gaby itu adalah sahabat ayahmu sejak kecil. Saat ia dewasa, Philips memilih tetap tinggal di tempat ini mengurus peternakan orang tuanya sementara ayahmu belajar di kota,” ungkap nenek.
“Philips menikah dengan gadis pilihannya dan setahun kemudian Gaby lahir. Tiga tahun lalu kecelakaan itu terjadi, ibu Gaby meninggal dunia dan Philips harus berakhir di kursi roda. Kecelakaan itu membuat kakinya lumpuh total.”
“Tragis sekali nasib keluarganya.” Rani mengangkat lembar kertas di tangannya itu, dan mengamatinya dengan cermat. Sepertinya ada yang menarik perhatiannya, Rani menatap satu persatu ketiga orang di dalam foto.
“Meski kehidupan mereka sulit, Gaby tetap menolak bantuan Nenek dan lebih memilih tinggal di rumah lamanya bersama ayahnya yang sakit-sakitan.”
__ADS_1
“Maksud Nenek, Gaby tinggal di tempat ini?” Mata Rani melebar seketika dan alis matanya berdenyut-denyut. “Apa Nenek punya kaca pembesar, Aku hanya ingin memastikan sesuatu?”
Sepertinya Rani butuh benda itu sekarang, apa yang dilihatnya itu kini cukup membuatnya tak berhenti bertanya-tanya dalam hati. Ada hubungan apa ketiga orang yang ada di dalam foto itu?
Kening nenek berkerut, menatap heran pada Rani untuk sesaat lamanya. “Nenek tidak ingat pernah menyimpan benda itu. Tapi kalau Kau butuh, Nenek akan suruh orang untuk mencarinya.”
“Apa wanita di dalam foto ini Gaby, dan lelaki tua di sampingnya itu ayahnya. Lalu siapa pria muda yang berdiri di sebelah ayah Gaby ini?” Rani mengabaikan ucapan neneknya, dengan tangan bergetar ia mengarahkan ujung jemarinya pada sosok pria muda yang ada di dalam foto.
“Namanya Andrean, pengusaha muda yang rencananya akan mengambil alih tanah peternakan milik keluarga Gaby.” Jawab nenek, sejenak menatap Rani. Terkejut melihat perubahan di raut wajah cucunya itu. “Ada apa, apa Kau mengenal laki-laki itu?”
Deg!
Tidak salah lagi, jadi benar memang dia orangnya. Selama ini Andre tak pernah bicara terus-terang dengan menceritakan hal itu padanya, ia hanya bilang akan pergi ke sebuah tempat untuk melakukan negosiasi dengan sang pemilik lahan. Dan ia pergi selama beberapa hari bersama Indah sekretaris pribadinya.
Persetan semuanya kini, Rani tak peduli lagi dengan lelaki itu dan kisah cintanya yang sudah kandas. Ia hanya ingin membantu Gaby dan membuat wanita itu mau menerima uluran tangan neneknya. Bila perlu ia akan bicara pada Gaby untuk membatalkan rencana penjualan tanah peternakan milik keluarganya pada Andre, dan membujuk wanita itu untuk mau menjualnya pada neneknya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1