My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 22. Berkuda bersamamu


__ADS_3

Sabtu pagi, Rani sedang menikmati sarapan seorang diri di dapur rumah ketika King datang dan langsung menarik kursi di hadapannya. Ia menurunkan gelas minumnya tanpa melepasnya, menatap King dengan sorot mata penuh tanya.


King melepaskan topinya dan menaruhnya ke atas meja. Rambutnya yang masih setengah basah, ia sapu ke belakang. Wajahnya terlihat lebih segar. Dagunya licin dan tampak samar kehijauan, sepertinya King baru saja bercukur pagi itu.


“Selamat pagi, sayang.”


Rani hampir tersedak minumannya sendiri mendengar kata sayang terucap dari bibir King.


“Pagi juga,” sahut Rani tanpa menambahkan kata sayang di belakangnya. Ia menatap King dan laki-laki itu tersenyum padanya.


“Ada apa, kenapa Kau terus saja menatapku?”


“Aku merasa ada yang aneh denganmu hari ini.” Rani meraih selembar tisu dan mengusap bibirnya. “Kau tampak terburu-buru, dan tidak biasanya datang pagi lalu menemuiku.”


King meringis, tanpa sungkan meraih gelas minum Rani yang berisi coklat hangat dan menyeruputnya dengan cepat. “Sudah kukatakan padamu semalam, Aku butuh tambahan energi untuk penyemangatku setiap harinya.”


King menatapnya lembut, Rani tersipu dengan pipi merona. Ia balas menatap King dan baru menyadari sesuatu saat melihat sudut bibir laki-laki itu basah kecoklatan.


“King, Kau menghabiskan minumanku!” Rani mengangkat gelas kosongnya dengan bibir cemberut, lelaki itu tertawa. King menghabiskan minumannya dengan sekali teguk.


“Mana yang lainnya?” tanya King mengabaikan protes Rani padanya, matanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari-cari keberadaan orang-orang di rumah itu.


Rani berdiri dan mulai membuat minuman lagi untuk mereka berdua, King juga menyukai minuman manis selain kopi.


“Nenek sedang berbelanja bahan masakan diantar Tony, hari ini Gaby kembali bekerja di peternakan ini dan rencananya besok ia akan pindah kemari menempati rumah peternakan bersama ayahnya.” Rani menaruh gelas minum untuk King ke hadapannya, matanya seketika melebar melihat King kembali menghabiskan sarapannya.


“Baguslah, jadi dia tidak perlu lagi harus berhadapan dengan Parker breng sek itu. Dan nyonya Maggie bisa mengurus peternakan ini dengan tenang,” sahut King sambil terus mencomot kentang goreng dari piring makan Rani.


“King, apa Kau belum sarapan? Aku bisa membuatkannya untukmu,” tanya Rani melihat King yang lahap memakan sarapannya.


“Aku sudah sarapan,” jawab King ringan, ia menyorong piring makan Rani yang sudah kosong ke tengah meja.


“Lalu kenapa Kau habiskan sarapanku? Aku bahkan baru memakannya beberapa potong,” kata Rani heran.


“Entah lah, tiba-tiba saja Aku ingin makan dari piring yang sama denganmu.”

__ADS_1


Dan jawaban itu sukses membuat pipi Rani kembali merona. “Tapi Aku masih lapar, King.”


“Kau bisa membuatnya lagi, Aku akan menunggumu di sini.”


Rani mengernyit, ia menatap King lama. “Maksudmu?”


“Hari ini Aku sengaja datang pagi-pagi untuk mengajakmu berkuda. Aku perlu meminta izin nyonya Maggie terlebih dulu, sayang dia tidak ada di sini.” Jelas King.


“Tentu saja nenek akan mengizinkan kita melakukannya,” sahut Rani bersemangat, “Aku sudah pernah bicara sebelumnya dengan nenek, dan beliau mengizinkan Aku berkuda bersamamu.”


“Baiklah, kalau begitu Kau segera bersiap-siap. Aku akan menunggumu di luar sambil melihat keadaan ternak di kandangnya,” kata King, lalu memakai topinya lagi dan berjalan keluar. Di ambang pintu ia berhenti sejenak dan berbalik. “Satu hal yang harus Kau ingat, pakai bot dan celana jeans agar memudahkanmu menunggang kuda.”


“Oke, King.”


Rani membereskan sisa sarapannya dan segera bersiap-siap untuk berganti pakaian. Beruntung malam itu ia menemukan celana jeans lamanya yang masih muat dan tersimpan rapi di lemari kamar loteng, Rani segera memakainya.


“Rasanya sudah lama sekali Aku tidak melakukannya,” kata Rani seraya mengembuskan napas, sedikit ragu menatap ke arah kuda betina coklat yang sudah diberi sadel itu.


“Tenang, kuda ini jinak dan akan menjadi temanmu hari ini. Kau hanya perlu berbisik lembut padanya dan ia akan melakukan perintahmu,” ujar King menenangkan.


King menatap tampilan Rani, jaket jeans warna biru senada dengan celana jeans yang dikenakannya. Rani mengikat rambutnya ekor kuda dan menyelipkannya di antara topi yang dipakainya.


Celana jeans ketat yang dipakainya memperlihatkan bentuk pinggulnya yang ramping juga kakinya yang panjang. Wanita itu terlihat berbeda, tampak muda dan bergairah penuh semangat.


Rani naik dengan mudah ke atas kudanya, menggenggam tali kekang dengan erat dan tersenyum lebar. Ia menepuk leher kudanya perlahan dan berbisik lembut di telinganya.


Angin kencang memainkan rambut Rani, beberapa kali ia harus membetulkan letak topinya yang hampir terlepas.


Rasanya sangat menyenangkan berkuda bersama King dan menikmati alam bebas di bawah sinar matahari. Rani tak berhenti terus tersenyum.


King melambatkan laju kudanya, bersisian bersama kuda yang dinaiki Rani. Ia membawa Rani melintasi dataran luas, menyusuri padang rumput bersemak.


“Apa Kau lelah? Kita bisa beristirahat di bawah pohon sana,” kata King melihat Rani terus menyeka keringat yang menetes di wajahnya.


“Aku haus, King.” Rani meneguk liur, panas matahari terasa menyengat kulitnya.

__ADS_1


King meraih tasnya dan mengeluarkan botol minuman lalu memberikannya pada Rani. Rani meneguknya dengan cepat, sebagian tumpah dan membasahi pakaiannya.


King tertawa melihatnya, ia memutar kudanya dengan luwes dan menuntun Rani untuk beristirahat di bawah pohon. “Kau tunggu di sini, Aku akan melihat mereka.”


King meninggalkan Rani sejenak, ia memacu kudanya mendatangi beberapa koboi yang sedang menghalau sapi-sapi dari tempat persembunyiannya lalu menggiring hewan-hewan ternak itu ke kandang-kandang yang sudah disiapkan sebelumnya.


Rani mengawasi dari kejauhan, angin yang berembus kencang membuat matanya mengantuk. Ia membuka kancing jaketnya, melepaskan keluar dari tubuhnya dan menaruhnya di atas tanah berumput dan menjadikannya sebagai alas tidurnya.


Tak butuh waktu lama, matanya mulai terpejam. Rani tak tahu berapa lama ia terlelap, hingga sesuatu yang merayap di dekat lehernya menyentakkan kesadarannya dan membuatnya terbangun dengan tiba-tiba.


“Aaargh!” Rani menjerit kencang, dan refleks menjauhkan binatang melata itu dari lehernya. Ular kecil berwarna kehijauan itu terempas dari lehernya dan merayap di bawah kakinya.


“Kiingg!” Rani menendang dengan membabi-buta, berusaha menjauhkan binatang itu darinya.


“Tenang, sayang. Aku sudah mendapatkannya.” King memegang bawah mulut ular kecil itu, dan binatang melata itu melilitkan tubuhnya di seputar tangan King. “Kau menakuti wanitaku!”


Rani merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, King melepas ular kecil itu menuju semak di bawah mereka.


“Aku takut, King. Tiba-tiba saja hewan itu menyentuh leherku,” kata Rani dengan mata berkaca-kaca.


King mendekat dan langsung memeluk tubuh Rani yang gemetar, wanita itu menahan isaknya.


“Apa yang terjadi, King?”


Salah seorang koboi datang melihat keadaan mereka setelah mendengar teriakan Rani. King memberi isyarat dan sepertinya koboi itu langsung mengerti.


“Kami akan pulang terlebih dahulu, biar kuda coklat itu bersama kalian.” Ucap King.


“Oke, King.” Koboi itu menarik tali kekang kuda coklat dan menuntunnya menuju rekannya yang menunggu di kandang.


“Kita pulang sekarang.” King menghela bahu Rani dan menuntunnya menuju kudanya.


Rani menurut, King membantunya menaiki kudanya. Setelah itu King melompat naik dan duduk di belakang punggungnya. Dengan satu tangan King memeluk erat pinggang Rani, dan sebelah tangan memegang tali kekang kuda memacunya pulang menuju peternakan Maggie.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

__ADS_1


__ADS_2