
“King,” panggil Rani dengan suara bergetar, ia mendorong kuat dada Andre dan berhasil melepaskan diri dari pelukannya. Lututnya gemetar, ikatan rambutnya terlepas dan membuat rambutnya berantakan akibat ulah paksa tangan Andre saat mencoba menciumnya.
King menatap sekilas pada Rani, sorot matanya menampakkan rasa kecewa yang begitu kentara. “Kalau kalian berdua sudah selesai melepaskan rindu, Aku tunggu segera di lapangan.”
Andre meringis mendengarnya. Ia merapikan kemejanya, mengancingkan kembali bagian atas kemejanya yang terbuka. Ia menyugar rambutnya, seringai kemenangan tampak jelas di wajahnya. “Kau tahu, kami sudah lama tak bertemu. Apa yang barusan Kau lihat tadi, adalah wujud ungkapan rasa rindu kami selama ini.”
“Kau!” Rani berteriak dengan suara bergetar, matanya berkilat-kilat marah. Ia menggeleng tak percaya mendengar Andre mengarang cerita dusta, dan ia bisa melihat perubahan di wajah King dan tahu kalau laki-laki itu percaya sepenuhnya dengan semua ucapan Andre padanya
Wajah King berubah kaku, ia perlahan berjalan mendekati Andre. “Aku ingatkan padamu, Kau hanya punya waktu empat puluh delapan jam berada di rumah peternakan ini dan waktu dua Minggu untuk menyelesaikan semua urusanmu di tempat ini. Jadi, pergunakan waktumu sebaik mungkin jika Kau memang benar-benar ingin memiliki lahan peternakan tuan Philips.”
Andre mengerut, ia bisa melihat kemarahan di mata King. Tapi ia tak ingin mengalah begitu saja, ia tahu laki-laki di hadapannya itu sedang terbakar api cemburu. Ia mengangkat bahu dan tersenyum penuh arti pada Rani. “Aku mengingatnya dengan baik, Tuan Hardy. Justru Aku sedang menyempatkan waktuku yang sangat singkat ini untuk melepaskan rasa rinduku bersama dengan tunanganku Rani.”
King mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri. “Terserah Kau saja, Tuan Hutama. Tapi Aku ingatkan sekali lagi padamu. Di sini kami tinggal di lingkungan yang masih kolot dan sangat memegang aturan moral yang tinggi. Jika kulihat lagi Kau bermesraan dengan tunanganmu di tempat umum seperti ini, Aku tidak segan-segan akan menghajar kalian berdua.”
“King!” seru Rani tak percaya, terkejut mendengar ucapan King.
Laki-laki itu tak menoleh sedikit pun pada Rani, wajahnya datar dan kaku. Sebelum Rani sempat membalas ucapannya, King langsung balik badan keluar dari tempat itu begitu ia selesai bicara dengan Andre.
“Oke, terserah Kau saja Tuan Hardy. Kalau tahu seperti ini, Aku tentu akan mencari tempat yang aman untuk berduaan dengan tunanganku.” Kata Andre sembari mengangkat bahunya. Ia pun berlalu dari hadapan Rani dan mengikuti langkah King di belakangnya.
Rani menatap keluar jendela, dan melihat Andre mengedipkan sebelah mata padanya. Muak dan rasa terhina melingkupi hati Rani, ia tak bisa mencegah Andre melakukan hal gila padanya. Dan sedihnya lagi, Rani tahu dengan pasti King mempercayai semua ucapan Andre. Apa yang terjadi di depan matanya sudah cukup sebagai bukti baginya. Tak terasa sudut matanya berair.
“Rani, apa Kau baik-baik saja?” Gaby muncul di dekatnya, dan menyentuh lembut bahunya.
Rani menoleh, mengangguk pada Gaby dan berusaha menampilkan senyumnya. Ia berjalan kembali ke mejanya dan meraih gelas minumnya. Mati-matian Rani berusaha untuk bersikap tegar, menahan diri agar tidak sampai menitikkan air mata.
“Tehnya panas,” kata Rani sambil tertawa, ia menurunkan gelas minumnya lalu meraih beberapa lembar tisu dan segera mengusap bibirnya yang tampak bergetar.
__ADS_1
Gaby menarik napas, dan menoleh keluar ruangan. Dan kesempatan itu Rani gunakan untuk menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya.
“Aku sudah bicara pada ayah, tapi ayah juga tidak bisa berbuat apa-apa jika dalam waktu dua Minggu ini lelaki itu berhasil menepati janjinya dan membayar tunai lahan peternakan kami sesuai kesepakatan.” Kata Gaby menangkup tangan Rani dan menepuknya pelan.
“Aku mengerti,” sahut Rani, ia tak bisa menyembunyikan air matanya lagi yang kini mengalir tanpa dapat dicegah. “Aku pikir Aku sudah berhasil menyingkirkan laki-laki itu dari hidupku, tapi ternyata Aku salah. Dia justru datang kembali dan muncul saat Aku mulai membuka hati dan mencintai laki-laki lain. Dia benar-benar telah mengacaukan hidupku.”
“Gaby, Aku datang!”
Tak lama terdengar suara seseorang berteriak memanggil Gaby, dan wanita itu tersenyum kecut pada Rani. Ia melepaskan pegangan tangannya di tangan Rani.
“Sepertinya kita ditakdirkan bernasib sama hari ini.” Gaby beranjak berdiri, “Kau tahu, hari ini kita dihadapkan pada dua orang lelaki paling menyebalkan di tempat ini.”
“Tapi, Kau lebih beruntung dari pada Aku. Meski Hary bersikap menyebalkan, tapi dia tidak berselingkuh darimu. Dan dia berjuang keras untuk mendapatkan cintamu,” sahut Rani dengan senyum sedih. “Sementara Aku, diselingkuhi tunanganku dengan sahabatku sendiri. Dan sekarang hubungan manis bersama King yang baru saja terjalin di tempat ini, mungkin hanya akan jadi kenangan saja.”
“Hei, Nona Maharani Putri. Jangan pesimis seperti itu, semangat! Rani yang kukenal tidak mudah menyerah seperti itu. Kau harus buktikan pada King kalau apa yang terjadi padamu dan Andre itu hanya rekayasa laki-laki itu saja untuk menghancurkan hubungan manis kalian saat ini, bila perlu Kau harus katakan pada King kalau Kau mencintainya.” Kata Gaby memberi semangat sembari memeluk bahu Rani.
Gaby mengulum senyum, ia kembali duduk berhadapan dengan Rani. “King tak akan mungkin melakukannya padamu, ia sangat menyayangimu. Aku bisa melihatnya setiap kali kalian bersama. Dan Aku percaya, Kau pun akan mampu menaklukkan hati King dan membuatnya percaya padamu lagi.”
“Andai bisa semudah itu meyakinkan hati King,” kata Rani, menghela napas dalam.
“Hei, di sini kalian rupanya?” Hary tiba-tiba muncul dan berdiri di dekat meja Gaby dan Rani, menyangga kedua tangan ke atas meja dan menatap Gaby dengan mesra.
“Bagaimana Kau bisa masuk ke dalam rumah ini?” tanya Gaby, melihat keluar ruangan. Ia heran mendapati Hary dengan mudahnya masuk ke sana tanpa ada keributan yang terjadi seperti sebelumnya dengan para pekerja.
Hary menarik kursi di sampingnya, lalu duduk dengan manis tanpa melepaskan pandangannya sedikit pun pada Gaby. Hal itu membuat Gaby salah tingkah dengan pipi yang tiba-tiba merona.
“Maaf, Nona Rani. Bisakah Kau membiarkan Aku berduaan saja dengan Gaby di tempat ini, sekarang?” kata Hary tanpa menoleh pada Rani.
__ADS_1
“Tidak!” jawab Rani singkat, lalu meraih lengan Gaby dan membawanya berjalan keluar dari ruangan itu. “Kecuali Kau mau dihajar sekop oleh King!”
“Hei, King tak mungkin melakukannya padaku lagi. Aku kemari justru atas perintah darinya,” sahut Hary.
Rani berbalik, dan menatap Hary tajam. Tapi laki-laki itu tetap tak bisa mengalihkan pandangannya dari Gaby. “Kau memang menyebalkan. Tatap Aku jika Kau bicara denganku, dan berhenti menatap Gaby!”
Gaby mengulum senyum lagi, melihat Hary menggaruk tengkuknya. “Apa yang King katakan padamu?” tanyanya kemudian, yang membuat wajah Hary berbinar.
“Dia bilang, Aku harus menjauhkan Nona Rani darinya dan mencegahnya melihat pertandingan menjinakkan kuda antara dirinya dan tuan Hutama.” Jawab Hary.
"Lalu, mengapa Kau meminta Rani pergi agar bisa bicara berdua denganku?" kata Gaby kesal.
Mendengar hal itu, sontak saja Rani langsung menarik lengan Gaby dan membawanya pergi dari sana. Tak dihiraukannya teriakan Hary di belakangnya. “Kita harus segera ke sana, Aku takut terjadi sesuatu pada mereka berdua dan King tak bisa mengendalikan emosinya.”
“Hei, jangan bilang padanya kalau Aku tidak memperingatkan kalian untuk tidak datang ke sana!” seru Hary, berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Tapi tak urung ia berlari dan mengikuti langkah Rani dan Gaby dari belakang.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di sana. Para pekerja peternakan sudah ramai berkumpul di lapangan, tanah kosong yang biasa dipakai para pekerja peternakan untuk berlatih menjinakkan kuda. Tempat luas yang dikelilingi pagar dari potongan kayu mahogany di mana sebentar lagi King dan Andre akan bersaing menjinakkan kuda dalam hitungan menit.
Ada satu kuda yang sudah disiapkan oleh Leo, salah satu mandor pekerja yang juga ahli menjinakkan kuda. Kuda warna hitam yang diikat tali kekang yang ditambatkan di pagar, akan menjadi tunggangan mereka berdua.
“King!” teriak Rani. Ia berlari dan memanjat pagar, tapi langsung dicegah Hary. Dilihatnya King dan Andre sedang bicara bertiga dengan Leo dan tidak mendengar teriakan Rani.
Para pekerja yang melihat kedatangan mereka bertiga di sana, segera memanggil mereka dan mengajak untuk berdiri menonton di luar pagar lapangan. Tak lama kemudian King dan Andre berjalan masuk ke lapangan.
“King!” teriak Rani lagi. King menoleh sesaat, lalu kembali fokus pada kuda di depannya. Ia mendapat giliran pertama dan bersiap memakai sarung tangan.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
__ADS_1