My Beloved Cowboy

My Beloved Cowboy
Bab 35. Bertemu lagi


__ADS_3

Rani tersenyum lebar, berdiri memeluk tas kecil berisi ponsel hadiah yang baru saja ia terima. Di sebelahnya, King berjalan sambil membawa dua cup besar es krim sebagai hadiah tambahan.


“Selamat, ya.” Kata pasangan lawan mainnya, menjabat tangan Rani dan King.


“Terima kasih,” jawab Rani, dan pasangan itu pun pergi dan sempat melirik es krim di tangan King.


“Bagaimana menurutmu, kalau satu cup es krim ini Aku beri pada mereka?” tanya King meminta pendapat Rani.


Rani tidak langsung mengiyakan, ia menarik lengan King menuju bangku panjang kosong yang ada di pinggir lapangan.


“Apa es krim kesukaanmu. Kalau Aku paling suka coklat,” kata Rani mengangkat cup es krim di tangannya.


“Aku juga.”


Rani tersenyum mendengarnya, “Benarkah?”


Dan King tersenyum menangguk, lalu Rani menyerahkan cup es krim warna merah muda padanya. “Kita sudah dapat solusinya, Kau bisa berikan yang ini pada mereka.”


“Oke.”


King berjalan menemui pasangan tadi dan memberikan es krim di tangannya, yang menerimanya dengan mata berbinar. Sang wanita melambaikan tangan pada Rani, ketika King menunjuk ke arahnya. Dan Rani balas melambaikan tangan padanya.


Rani pikir King akan langsung kembali padanya, sayang ada dua orang pemuda yang memanggil King dan meminta waktu bicara dengannya. Sepertinya serius, dan King setuju lalu mengajak kedua pemuda itu untuk bicara di salah satu meja yang kosong.


Sambil menunggu King kembali, Rani menikmati es krim di tangannya seorang diri. Begitu asyiknya hingga tak sadar King sudah duduk di sampingnya.


“Enak?” tanya King, lalu mengambil sendok dari tangan Rani. Satu suapan lolos masuk ke dalam mulutnya. King memejamkan mata sesaat, merasakan sensasi dingin dan manis kacang coklat bercampur jadi satu.


Rani menolehkan wajahnya, menatap King dengan bibir tersenyum. Cup es krim di depannya hanya bersisa setengahnya saja.


“Bibirmu,” kata Rani menahan senyum.


“Apa?” King mengernyit, balas menatap Rani.


“Bentar, biar Aku bersihkan. Aku yang makan, yang belepotan malah bibir Kamu.” Rani berdeham sejenak. “Tolong, pegang dulu. Tapi jangan dimakan lagi, ya.” Rani menyerahkan cup es krim di tangannya pada King.


“Hei, bukankah es krim ini milikku juga. Kenapa Aku tidak boleh memakannya?” Protes King.


Rani tertawa, merasa lucu melihat bibir King yang mencebik. Laki-laki itu tidak menyadari, ada sisa es krim yang menempel di sudut bibirnya. “Es krim itu milikku, milikmu sudah Kau berikan pada orang lain. Kau yang mengantarnya ke sana.”

__ADS_1


Rani merogoh sebungkus kecil tisu dan mengeluarkan dari dalam tasnya, lalu menariknya beberapa lembar.


“Bukannya tadi Kau yang menyuruhku memberikannya pada mereka?”


Tak peduli pada Rani yang melotot padanya, King melahap es krim di tangannya dalam suapan besar dan setelah itu ia mengangkat jempolnya. “Enak.”


“King!”


King tergelak, Rani berusaha merebut es krim di tangannya. Tapi, King tak memberikannya begitu saja. Ia mengangkat tinggi-tinggi, dan Rani melompat berusaha meraihnya.


Bukan Rani namanya kalau ia tak bisa mendapatkan kembali miliknya. Rani berdiri di atas bangku dan langsung merangkul leher King, meraih kembali es krim miliknya.


“Dapat!”


Gemas, King menyambar bibir Rani cepat membuat Rani terkesiap dan terdiam beberapa saat lamanya. Kedua tangannya masih memegang bahu King, dan lelaki itu menatapnya lekat.


“King, kenapa Kau senang sekali menggodaku?”


“Aku tidak sedang menggodamu, Aku tidak pernah bersikap seperti itu pada wanita lain seumur hidupku. Kau membuatku lemah,” ungkap King.


Rani tersenyum malu, tangannya terulur menyentuh sudut bibir King dan mengusapnya pelan dengan ujung jarinya. “Ada sisa es krim di bibirmu.”


King menurunkan Rani yang berada dalam pelukannya, dan kembali menikmati es krim di hadapannya. Rani terdiam cukup lama dan baru bicara setelah mendengar ponsel miliknya berbunyi.


Matanya menatap layar ponselnya dan merasa heran melihat nama neneknya tertera di sana. Rani menoleh pada King, sebelum menempelkan benda pipih itu di kupingnya.


“Siapa yang menelepon?” tanya King.


“Nenek,” jawab Rani singkat, dengan kening berkerut.


“Apa katanya?” tanya King lagi.


Rani mendengarkan neneknya bicara, untuk beberapa saat ia hanya diam mendengarkan. “Ini bahkan belum jam sembilan malam, Nek?”


Rani melirik arloji di tangannya, kerutan di keningnya semakin dalam ketika mendengar ucapan nenek berikutnya.


“Bukankah ia datang ingin bertemu dengan tuan Philips, lalu apa hubungannya dengan kami?” tanya Rani sambil melirik pada King yang serius mendengarkan.


“Kira-kira satu jam lagi Kami pulang,” sahut Rani lagi, tapi sepertinya nenek memintanya pulang saat itu juga.

__ADS_1


“Oke, kami pulang sekarang.” Rani tak membantah ucapan neneknya lagi, dan langsung menutup sambungan teleponnya begitu neneknya selesai bicara.


King menelan suapan terakhirnya, lalu membuang cup es krim di tangannya ke tong sampah. Rani melirik sekilas, tiba-tiba saja selera makannya lenyap entah ke mana. Rani bahkan tak protes saat King menghabiskan es krim miliknya.


“Ada apa, kenapa keningmu berkerut seperti itu?” tanya King menatapnya penuh selidik.


“Nenek meminta kita pulang sekarang. Ada tamu dari luar kota yang ingin bertemu dengan tuan Philips, dan nenek meminta kita untuk mendampingi beliau.” Jawab Rani.


“Tamu dari luar kota, datang dan ingin bertemu dengan tuan Philips?” King mengulang kata-kata Rani, mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Apa dia orang yang sama dengan orang yang ingin membeli lahan peternakan milik tuan Philips?”


“Aku tidak tahu.” Rani mengedikkan bahunya, lalu menatap King lagi. “Sebaiknya kita pulang sekarang, Aku tak ingin membuat nenek khawatir dan menunggu kita lama.”


“Baiklah, kita pulang sekarang.” King menurut.


Satu jam kemudian mereka sampai di rumah peternakan, King membukakan pintu untuk Rani dan menggandeng tangannya memasuki halaman rumah.


Pintu depan terbuka saat mereka sampai di beranda rumah, nenek keluar dan berseru lega. “Akhirnya kalian datang juga.”


Rani melirik jam tangannya, “ Ini baru pukul sepuluh malam, Nek.”


“Aku tahu, tapi tuan Philips butuh orang yang mengerti tentang masalah lahan peternakan seperti King untuk mendampinginya.” Kata nenek.


King mengangguk, “Apa Nyonya mengenalnya, apa dia orang yang sama yang ingin membeli lahan peternakan tuan Philips dulu?”


“Ya, dia orangnya. Kali ini dia datang sendiri dan sekarang sedang bersama tuan Philips. Katanya ia akan tinggal beberapa hari di tempat ini sambil melihat-lihat lokasi tanah peternakan warga lainnya,” sahut nenek lagi.


“Sepertinya orang ini memiliki banyak uang.” King bersiul, dan nenek terkekeh melihatnya. “Aku akan menemui mereka segera.”


Mereka menuju belakang rumah utama di mana Gaby dan tuan Philips tinggal, di teras rumah Gaby menyambut mereka.


“Papa, King sudah datang.” Kata Gaby, menepi memberi jalan saat King memasuki ruang tamu rumahnya. Sementara Rani dan nenek berada di belakangnya.


Senyum tuan Philips mengembang, ia mempersilahkan King duduk dan mengenalkannya pada tamunya. Sementara Gaby yang melihat kehadiran Rani bersama dengan neneknya langsung memeluknya dan menariknya masuk ke dalam rumah.


“Kingstone Hardy.” King mengulurkan tangannya, dan lelaki di hadapannya itu menyambut uluran tangannya.


“Andre Hutama.” Lelaki itu menyebutkan namanya.


Lelaki itu berbalik, seketika langkah Rani terhenti. Tubuhnya membeku di tempatnya berdiri saat itu, mata lelaki di hadapannya itu terkejut melihat kehadirannya di sana. Sorot mata itu menatapnya penuh rindu. “Rani?” sapanya pelan. “Akhirnya kita bertemu lagi di sini.”

__ADS_1


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎


__ADS_2